No Exit

No Exit
Menyelamatkan Salsa


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk mulai beraksi dengan di mulai dari daftar nama siswa dan juga siswi yang Mikaila lihat di map yang di berikan kepada Viola. Baik Ebra, Allen maupun Mikaila lantas sepakat untuk memulai aksi mereka setelah pulang sekolah. Setelah kelas selesai ketiganya memutuskan untuk berkumpul di tempat favorit mereka yaitu gudang bagian belakang dimana di sana mereka bisa terbebas dari kamera pengawas ataupun para guru yang berlalu lalang.


Ebra yang baru saja menyelesaikan kelasnya lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang mengendap-endap menuju ke arah gudang belakang, sambil menatap ke area sekeliling Ebra mencoba untuk memastikan situasi dan kondisinya aman saat ini dan tentunya agar ia tidak diikuti oleh siapapun ketika langkah kakinya yang bergerak menuju ke arah gudang bagian belakang.


"Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Ebra kemudian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam area gudang mendekat ke arah Mikaila dan juga Allen yang sudah lebih dulu sampai di tempat itu.


Sedangkan Allen dan juga Mikaila yang melihat kedatangan dari Ebra barusan lantas dengan spontan menggeleng dengan seketika. Membuat Ebra yang melihat jawaban dari kedua temannya itu kemudian mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah keduanya dan mengambil posisi duduk di dekat Allen dan juga Mikaila.


"Apa kamu sudah menghubungi Arhan?" tanya Allen kemudian yang di balas anggukan kepala oleh Ebra.


"Tentu, aku bahkan sudah memberitahunya untuk menyalin isi dari micro chip yang kita titipkan kepadanya dalam bentuk vidio." jawab Ebra sambil mengeluarkan beberapa hal yang ia perlukan.


"Lalu sekarang apa rencana kita?" tanya Mikaila kemudian dengan raut wajah yang penasaran menunggu aba-aba dari keduanya.


Mendengar pertanyaan dari Mikaila barusan membuat Allen dan juga Ebra langsung menoleh dengan seketika ke arah Mikaila kemudian tersenyum, membuat Mikaila kian tidak mengerti ketika mendapati ekspresi wajah keduanya yang seperti itu, sama sekali tidak menjelaskan apapun bagi Mikaila.


"Kamu akan tahu nantinya." ucap Ebra kemudian dengan nada yang datar namun berhasil membuat Mikaila mendengus dengan kesal ketika mendengarnya.


***

__ADS_1


Malam harinya


Suasana gudang bagian belakang yang gelap sama sekali tak menyurutkan niat Mikaila, Allen dan juga Ebra untuk beraksi. Yang ketiganya lakukan sedari tadi yaitu menunggu pihak lawan mulai bergerak terlebih dahulu. Hingga ketika sebuah suara notifikasi terdengar berasal dari Smartwatch milik Ebra, lantas membuat ketiganya saling berpandangan satu sama lain di dalam kegelapan begitu mendengar suara notifikasi tersebut.


Ebra yang mendengar suara notifikasi tersebut lantas langsung menekan ikon pada layar Smartwatch nya untuk mulai mendengarkan percakapan yang terjadi di sana.


**


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya sebuah suara yang jika di dengar dengan seksama sepertinya itu adalah Zaki.


"Tentu, aku bahkan sengaja meminta Ida agar membuat Salsa berada di luar lingkungan asrama putri hingga saat ini." ucap Rahmat menjawab pertanyaan dari Zaki barusan.


"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Zaki lagi dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Rahmat.


"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang!" ucap Zaki lagi memberikan perintah kepada Rahmat yang lantas di balas Rahmat dengan anggukan kepala.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut suara langkah kaki terdengar menggema pada Smartwatch milik Ebra yang nampaknya menandakan bahwa Zaki dan juga Rahmat sudah mulai bergerak saat ini. Ebra yang mengerti akan hal tersebut lantas mulai membagi tugas kepada Mikaila dan juga Allen, kemudian mulai bergerak detik itu juga. Mereka bertiga benar-benar tidak mau kecolongan sama sekali saat ini karena tujuan mereka adalah untuk menggagalkan rencana pembunuhan malam ini yang akan di lakukan oleh Zaki dan juga Rahmat.


**

__ADS_1


Setelah menyusun rencana secara singkat ketiganya lantas mulai bergerak sesuai arahan. Mikaila yang bertugas menuju ke arah perpus, lantas langsung bergerak dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah perpus mencoba untuk mendahului Zaki dan juga Rahmat. Apapun yang terjadi Mikaila harus berhasil mengamankan Salsa malam ini.


Mikaila terlihat menyusuri area lorong dengan langkah kaki yang bergegas, namun ketika dalam setengah perjalanan tanpa sengaja Mikaila malah berpapasan dengan dua pria bertudung hitam yang sepertinya saat ini juga tengah menuju ke arah perpustakaan.


"Itu pasti Rahmat dan juga Zaki, ah sial..." ucap Mikaila dalam hati sambil melipir ke arah samping bersembunyi agar tidak terlihat oleh dua orang tersebut.


Mikaila yang tidak ingin keduluan oleh keduanya lantas mulai memutar otaknya mencari jalan alternatif yang bisa ia gunakan untuk memotong jalan lebih cepat dari Zaki dan Rahmat. Hingga kemudian pandangannya lantas tertuju pada gang kecil di antara kelas-kelas yang bisa ia gunakan untuk jalan pintas menuju ke arah perpustakaan. Hanya saja jalanan nya yang tidak terdapat lampu penerangan di sana, membuat Mikaila sedikit ragu ketika hendak melangkahkan kakinya melewati area tersebut. Mikaila menggigit bibir bagian bawahnya mencoba menimbang keputusan mana yang akan ia ambil untuk tetap di sini dan pasrah begitu saja atau maju menerobos kegelapan.


"Ah bodo amat yang penting Salsa selamat!" ucap Mikaila pada akhirnya kemudian langsung berlari membelah kegelapan pada gang sempit di antara celah-celah kelas menuju ke arah perpustakaan.


Sambil berlari dan terus berlari tanpa memperhatikan sekitaran Mikaila terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kecil tersebut menuju ke arah perpustakaan. Mikaila benar-benar menegakkan pandangannya dan tak ingin sama sekali menoleh ke arah kanan dan kiri takutnya jika Mikaila menoleh ia malah menemukan sesuatu yang tidak ingin ia lihat di sana.


"Fokus Kai fokus...." ucap Mikaila secara berulang-ulang sambil mencoba untuk meneguhkan hatinya.


Hingga kemudian ketika langkah kakinya sampai tepat di sebelah perpustakaan. Mikaila nampak menarik napasnya perlahan kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah perpustakaan. Jika Mikaila melihat dari kondisinya sepertinya Rahmat dan juga Zaki belum sampai di perpustakaan, setidaknya dengan melewati jalan tersebut membuat Mikaila sampai lebih dulu di sana.


"Bagus mereka berdua belum sampai, setidaknya aku lebih dulu dari mereka." ucap Mikaila sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruangan perpustakaan yang saat itu masih terbuka dengan lebar pintu ruangan tersebut.


Dengan langkah kaki yang perlahan Mikaila mulai menyusuri rak-rak buku mencari keberadaan Salsa di sekitaran sana. Sampai kemudian Mikaila yang sudah hampir sampai di sudut perpustakaan ia melihat Salsa tengah sibuk menata buku di setiap raknya. Melihat hal tersebut membuat Mikaila langsung mempercepat langkah kakinya dan menghampiri keberadaan Salsa. Disaat langkah kaki Mikaila sudah mendekati Salsa dan berhasil menarik tangan Salsa mendadak suasana lampu di ruangan tersebut menjadi gelap gulita dan membuat keduanya terkejut, terlebih lagi Salsa yang mendapat tarikan dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Aaaaa"


Bersambung


__ADS_2