
Setelah mengatakan hal tersebut Fatur mulai mengambil langkah kaki mundur dengan perlahan, hingga tanpa sadar Fatur sudah keluar dari garis lingkaran. Dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya ia langsung jatuh terhuyung menyentuh tanah ketika peluru besi menembus tepat di area jantungnya.
Dor dor dor
"Tidak...." teriak Mikaila yang langsung lemas dan jatuh dalam posisi terduduk.
Mikaila benar benar bodoh karena hanya diam saja dan tidak mencegah Fatur agar tidak bertindak gegabah dan menyerahkan dirinya begitu saja. Mikaila menangis tanpa suara sambil menatap ke arah jasad Fatur yang kini sudah terbujur kaku di tanah. Di tatapnya Allen sekilas namun Allen malah memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain seakan enggan untuk menatap ke arah Mikaila saat ini.
Dor...
.
.
.
.
Satu persatu tembakan mulai terdengar menggema di area sekitaran tanpa henti. Mikaila yang masih terkejut akan kematian Fatur hanya bisa menangis sambil menutup kedua telinganya dengan rapat agar ia tidak mendengar suara tembakan demi tembakan yang menghilangkan nyawa teman temannya. Walau Mikaila baru mengenal mereka kemarin, namun entah mengapa Mikaila terasa sangat berat sekali kehilangan mereka apalagi setelah mendengar ucapan Fatur yang mengatakan semua ini karena Allen yang ingin menyelamatkan dirinya.
Jujur saja Mikaila sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi, jika saja Mikaila waktu itu mendengarkan Friska pasti hal ini tidak akan pernah terjadi padanya. Hanya saja apa yang telah terjadi sama sekali tidak bisa ia putar, sehingga menyesal pun itu tidaklah berguna.
Mikaila yang mendengar suara tembakan sudah tidak lagi terdengar, lantas perlahan lahan membuka matanya mencoba untuk melihat keadaan sekitar. Mikaila yang melihat Arhan, Allen, dan juga Ebra yang terlihat terdiam di tempat mereka dengan wajah yang sendu hanya bisa menangis tanpa suara, Mikaila yakin semua orang tengah terpuruk saat ini.
__ADS_1
Hanya saja mungkin itu tidak berlaku bagi peserta perempuan yang dengan teganya mendorong Andi keluar dari garis lingkaran. Perempuan itu nampak tersenyum dengan sinis menatap ke arah Mikaila, Allen, Arhan dan juga Ebra yang terlihat tengah memasang wajah yang sedih.
"Lebai amat... lagi pula untuk sampai sejauh ini sudah banyak korban yang berjatuhan, kalian pikir dengan kalian seperti itu semua orang bisa kembali bangkit? dasar bodoh." ucap perempuan itu dengan sinis.
Allen yang mendengar ucapan gadis itu hanya menolehnya sebentar kemudian membuang mukanya, Allen benar benar tidak ada tenaga untuk berdebat hal yang tidak penting dengan perempuan itu saat ini.
Selamat untuk kelima peserta yang berhasil di babak penyisihan ini, permainan selanjutnya adalah lorong kematian. Hanya ada tiga peserta yang boleh tinggal dan otomatis memenangkan permainan kali ini, selamat berjuang anak anak ku....
Ucap sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas membuat mereka berlima menatap ke arah sekeliling mencoba mencari sumber suara, ada perasaan jengkel dan juga penuh amarah ketika kematian teman temannya saja baru berlangsung beberapa menit, namun suara tersebut malah menyuruh mereka untuk melanjutkan permainan.
"Dasar tidak punya hati!" ucap Mikaila dalam hati ketika mendengar suara tersebut menggema di telinganya.
**
Langkah demi langkah yang bergerak mundur mereka berlima ambil, hingga tanpa sadar kelimanya sudah berkumpul di tengah dan detik itu juga retakan tanah besar di sertai guncangan yang lantas membuat mereka terjatuh dan masuk ke dalam lubang tanah cukup besar yang terletak di balik semak belukar tak jauh dari mereka berlima.
Uhuk uhuk
Debu halus di sertai kerikil dan juga beberapa baru besar nampak berjatuhan dan ikut masuk ke dalam lubang besar di mana kelimanya jatuh dan tertutup tanah. Mikaila yang merasa badannya sakit semua, lantas perlahan lahan bangkit dari posisinya sambil membersihkan beberapa debu yang menempel di tubuhnya.
Mikaila kemudian melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke arah Ebra dan membantunya berdiri, membuat Allen yang ada di dekat Ebra dengan spontan langsung mengernyit dengan bingung karena tidak biasanya Mikaila hanya melewatinya saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"Apa dia masih marah karena kejadian tadi?" ucap Allen sambil bangkit berdiri dan membersihkan bajunya yang sedikit kotor terkena tanah.
__ADS_1
Mikaila memang sengaja melewati Allen karena ia sedikit kesal setelah mengetahui segalanya dari Fatur tadi. Dengan langkah kaki yang lurus Mikaila terus melangkahkan kakinya melewati Allen dan berhenti tepat di depan Ebra.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Mikaila kepada Ebra sambil membantu Ebra membersihkan kotoran di bajunya.
"Aku baik baik saja, tapi di mana kita saat ini?" tanya Ebra kemudian sambil menatap ke arah sekeliling.
Mikaila yang mendapat pertanyaan tersebut, tentu saja langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar mencoba untuk mencari tahu di mana mereka berada saat ini. Arhan yang terjatuh tidak jauh dari posisi Ebra, lantas mendekat ke arah Mikaila dan juga Ebra kemudian di susul Allen berikutnya. Sedangkan peserta perempuan itu yang seakan enggan bergabung dengan yang lainnya hanya berdiri seorang diri dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari sana.
Perempuan itu membuka telinganya lebar lebar mencoba mencuri dengar perkataan mereka berempat, setidaknya ia juga ingin keluar hidup hidup dari sini namun ia enggan untuk mendekat karena takut mereka akan menipunya dan malah membinasakannya.
**
"Aku yakin pasti ada maksud tersendiri di balik jatuhnya kita di dalam lubang ini, mengingat di sekitaran tanah yang kita pijak terdapat lubang yang sangat dalam, jadi aku yakin pasti ada jebakan lain yang menunggu kita di sini." ucap Allen sambil menatap ke arah sekeliling.
Ebra yang mendengar ucapan Allen barusan, kemudian dengan iseng melempar batu ke dalam lubang tersebut dan hasilnya suara batu tersebut tidak terdengar yang menandakan kedalaman lubang itu tidak ada satupun yang tahu.
"Apa kah kalian lupa jika suara tersebut mengatakan hanya ada tiga peserta yang bisa tinggal dan memenangkan permainan ini, jadi apa mungkin permainan kali ini sama dengan lima garis lingkaran sebelumnya?" ucap Mikaila kemudian yang lantas membuat semua orang menatap ke arah Mikaila dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Sedangkan peserta perempuan yang sedari tadi sudah menguping untuk mengetahui apa yang terjadi. Begitu mengetahui konsep dari permainan ini, lantas mulai merencanakan sesuatu.
"Setidaknya aku akan bergerak lebih dulu daripada mereka." ucap perempuan itu sambil tersenyum dengan sinis.
Bersambung
__ADS_1