
"Vaaaaanya... kamu mau kemana? Apa kamu ingin bermain petak umpet dengan ku?" ucap sebuah suara pria yang terdengar begitu nyaring di ruangan tersebut, membuat Vanya dengan spontan menutup mulutnya rapat agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat pria itu menemukan tempat persembunyiannya.
Tak tak tak
"Vanya.... yuk keluar... tidakkah kamu lelah terus bersembunyi seperti ini? Kemarilah Vanya..." ucap pria tersebut dengan diselingi tawa membuat suasana kian bertambah mencekam di ruangan tersebut.
Derap langkah kaki yang terdengar beradu dengan lantai keramik ruangan tersebut, membuat jantung Vanya kian berdebar dengan kencang. Vanya benar-benar ingin kabur dari sini, namun ia tidak tahu harus bagaimana caranya agar bisa keluar dari tempat yang mengurungnya selama beberapa hari ini.
"Mama..." ucap Vanya terus menyebut nama Ibunya di dalam hati berharap dengan begitu hidupnya akan lebih tenang.
Air mata Vanya tak kuasa jatuh dan membasahi pipinya secara perlahan, namun sebisa mungkin Vanya tahan agar isakkannya tidak terdengar oleh orang itu. Hening sesaat, membuat Vanya yang tidak lagi mendengar suara pria tersebut lantas mengira pria itu sudah pergi dari sana, hingga kemudian sebuah tarikan tangan yang cukup kuat mengejutkan Vanya yang sedari tadi bersembunyi di sana berharap pria itu tidak bisa menemukannya tapi sayangnya prediksi Vanya salah besar, pria yang mengurungnya malah dapat dengan mudah menemukannya pada tempat persembunyiannya.
"Kamu pikir bisa lolos begitu saja dariku? tentu saja tidak!" ucap pria tersebut dengan tawa yang menggema.
Pria itu yang berhasil mendapatkan Vanya, lantas langsung menyeret tubuh Vanya keluar dari sana membawanya kembali ke kamar dan melemparnya ke lantai begitu saja.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" ucap Vanya sambil menahan rasa sakit di punggungnya akibat terbentur ranjang kayu barusan.
Mendengar pertanyaan dari Vanya barusan membuat pria itu langsung mengambil posisi berjongkok kemudian mengambil dagu Vanya menatap dalam dalam manik mata Vanya walau tanpa penerangan cahaya di ruangan tersebut. Diusapnya air mata Vanya dengan lembut, membuat Vanya semakin merasakan kebencian terhadap pria yang ada di hadapannya ini karena tingkah lakunya yang selalu berubah-ubah.
"Mengapa kamu menangis? Justru akulah yang menyelamatkan hidup mu dari Reno, kau beruntung karena aku yang menemukan mu terlebih dahulu. Jika saja Reno yang mendapatkan mu, aku berani jamin kalau kamu saat ini mungkin sudah berada di atas sana." ucap pria itu dengan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Sedangkan Vanya yang mendengar ucapan dari pria dihadapannya ini tentu saja terkejut bukan main, sebuah nama yang sudah ia curiga keterlibatannya dengan pembunuhan Lita, membuat Vanya semakin yakin ketika ia mendengarnya langsung dari pria ini.
Vanya menatap manik mata pria itu lebih dalam lagi, manik mata coklat tua yang begitu khas terlihat jelas walau tanpa adanya penerangan cahaya di dalam ruangan tersebut. Vanya yang selalu penasaran akan wajah di balik topeng hitam yang selalu bertengger di wajahnya, membuat tangan Vanya tanpa sadar mulai bergerak naik berusaha untuk membuka topeng tersebut.
Melihat gerakan tangan Vanya yang kian mendekat ke arah topeng yang ia kenakan, membuat pria itu langsung tersenyum seketika. Tanpa menghindar ataupun menjauhkan wajahnya, pria itu membiarkan Vanya melepaskan topengnya dengan perlahan.
"Kamu..." ucap Vanya yang terkejut begitu melihat wajah asli pria di balik topeng yang selama ini mengurungnya.
Bruk...
Tubuh Vanya mendadak jatuh dan terkulai lemas dengan manik mata yang masih terbuka dan perlahan lahan menutup tepat setelah pria itu menyuntikkan sesuatu ke leher Vanya. Diangkatnya tubuh Vanya dengan hati-hati kemudian membaringkannya ke ranjang yang terletak tepat di tengah ruangan tersebut.
"Tenanglah Van.. kamu aman bersama ku..." ucap pria itu sambil membenarkan posisi rambut Vanya dan memberinya kecupan singkat tepat di kening Vanya.
Resort Edelweis
Setelah perdebatan semalam, suasana yang terjalin diantara ketiganya begitu hening. Tidak ada lagi percakapan seperti biasa, masing masing dari mereka mencari ketenangan sendiri-sendiri tanpa ingin saling mendatangi antara satu dengan yang lainnya.
Mikaila yang merasa kesepian terus-terusan sendirian di dalam kamar, lantas memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke luar Resort dan mencari udara segar. Pikirannya benar-benar kacau ketika bingung harus mempercayai ucapan Fatur, Ebra atau bahkan Allen.
"Ah benar-benar menyebalkan! Mengapa jadi seperti ini sih?" ucap Mikaila dengan kesal sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
__ADS_1
Langkah demi langkah terus Mikaila susuri hingga tanpa sadar ia malah berakhir di dalam hutan rimbun di mana terdapat gua di dekat semak semak belukar tak jauh dari posisinya berada. Mikaila yang baru sadar ia terlalu jauh berjalan lantas berdecak dengan kesal sambil menatap ke arah sekeliling.
Niat hati ingin mencari udara segar malah terjebak terlalu jauh di sini, membuat Mikaila terus terusan merutuki kebodohannya karena selalu melamun di sepanjang langkah kakinya hingga sampai ke tempat ini.
Ketika Mikaila tengah sibuk merutuki kebodohannya kepalanya mendadak merasa seperti dilempar sesuatu dari arah belakangnya, membuat Mikaila dengan spontan berbalik badan sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit akibat lemparan batu krikil barusan. Ditatapnya ke dalam gua dengan raut wajah yang penasaran karena lemparan yang ia dapatkan berasal dari dalam sana.
"Siapa di sana? Jangan bercanda dan keluar sekarang!" ucap Mikaila dengan nada setengah berteriak.
Mikaila menatap semakin intens ke dalam mulut gua namun tidak ada yang Mikaila dapatkan selain hanya keheningan. Mikaila yang tak menemukan apapun lantas mendengus dengan kesal karena mengira ia gila karena menganggap sebuah benda jatuh yang mengenainya berasal dari makhluk lain yang berada di dalam gua. Hingga ketika sebuah bayangan terlihat melesat dibelakangnya, Mikaila lantas langsung kembali berbalik badan dan mencoba mencari tahu sosok apa yang baru saja melintas di belakangnya.
"Sepertinya aku sudah mulai gila... sebaiknya aku segera pergi dari sini sebelum imajinasi ku kian mengada-ada." ucap Mikaila bergidik ngeri sambil mulai melangkahkan kakinya hendak kembali menuju ke Resort.
Ketika langkah kaki Mikaila mulai menjauh sebuah suara menggema yang berasal dari dalam gua, lantas langsung menghentikan langkah kaki Mikaila disaat merasa suara itu seperti tidak asing di telinganya.
Kai...
Mendengar suara barusan tentu saja membuat Mikaila terkejut bukan main, dengan perasaan yang ragu Mikaila yang tadinya hendak menjauh, lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah mulut gua untuk melihat apakah suara barusan benar-benar seseorang yang ia kenal.
Mikaila menatap dan terus menatap ke dalam mulut gua, hingga kemudian sebuah bayangan putih yang kian terlihat jelas nampak mulai mendekat ke arah Mikaila dan membuatnya terkejut.
"Kamu!"
__ADS_1
Bersambung