
"Aku tidak bisa menggerakkan kaki ku!" ucap Vanya kemudian yang lantas membuat Arhan terkejut ketika mendengar ucapannya.
"Apa?" ucap Arhan dengan bingung.
Vanya yang mengatakan bahwa kakinya tidak bisa digerakkan, membuat Arhan lantas langsung menatap ke arah kedua kaki Vanya yang terlihat diam saja dan tak bergerak. Dengan langkah kaki yang perlahan Arhan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang Vanya dan mencoba untuk memegang kaki Vanya.
"Apakah kamu merasakannya Van?" tanya Arhan sambil sedikit menekan kaki Vanya.
Mendapat pertanyaan tersebut, Vanya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perlahan, membuat Arhan lantas terkejut seketika disaat melihat jawaban dari Vanya barusan. Sambil menatap dengan tatapan yang kasihan ke arah Vanya, Arhan nampak terdiam memikirkan sesuatu seakan tengah mencari solusi tentang apa yang akan ia lakukan disaat-saat seperti ini.
"Ayo kita pergi dari sini Van, biar aku yang akan menggendong mu hingga sampai ke mobil Pak Ardi." ucap Arhan kemudian mengajak Vanya agar segera bangkit dari posisinya.
Vanya yang mendengar ajakan dari Arhan barusan tentu saja tergiur, hanya saja ketika Vanya kembali mengingat tentang Riko, Vanya lantas terdiam di posisinya dan tidak bergerak sama sekali. Vanya takut jika sampai Vanya melarikan diri, maka Riko akan marah dan mencarinya hingga ke ujung dunia sekalipun. Arhan yang tak mendengar jawaban apapun dari Vanya, lantas langsung menatap tajam ke arah Vanya seakan mencari tahu apa yang tengah dipikirkan oleh gadis itu saat ini.
"Tak perlu banyak berpikir lagi, ayo cepat pegang tanganku dan ikutlah denganku. Percayakan semuanya kepadaku." ucap Arhan dengan nada yang yakin menatap ke arah Vanya.
Vanya yang melihat uluran tangan Arhan semula nampak ragu, namun detik berikutnya perlahan-lahan tangan Vanya mulai mendekat dan menerima uluran tangan Arhan. Membuat Arhan lantas tersenyum ditengah gelapnya keadaan ruangan tersebut. Arhan yang menerima uluran tangan dari Vanya barusan, lantas dengan spontan langsung menggendong Vanya ala bridal style kemudian membawanya bangkit dari atas ranjang dan perlahan-lahan melangkahkan kakinya keluar dari bangunan pondokan tersebut.
__ADS_1
Sambil menatap ke arah kanan dan kiri Arhan memastikan keadaan di lingkungan sekitar yang ia lalui aman dan tidak ada seorangpun yang melihat keduanya keluar dari bangunan pondokan tersebut. Dengan langkah kaki yang bergegas, Arhan mulai membawa tubuh Vanya menuju ke arah parkiran dimana mobil Ardi telah menunggunya sedari tadi di sana. Arhan berharap Ardi belum pergi dan meninggalkannya mengingat Arhan yang tak kunjung datang juga sedari tadi.
Arhan membawa tubuh Vanya melewati beberapa semak belukar yang terlihat rimbun di sekitar area sekolahan menuju ke arah parkiran. Hingga ketika langkah kaki keduanya sampai di area parkiran, dari arah kejauhan Arhan melihat sosok Ardi tengah menatap ke arah kanan dan kiri. Sepertinya Ardi tengah mencari keberadaannya sedari tadi, membuat Arhan langsung mempercepat langkah kakinya dan mendekat ke arah di mana Ardi tengah berada saat ini. Sedangkan Ardi yang melihat kedatangan Arhan dengan membawa seorang wanita di gendongannya, lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung menatap ke arah keduanya, seakan tengah bertanya-tanya siapa sosok wanita yang saat ini tengah dibawa oleh Arhan sedari tadi.
"Siapa dia Ar?" tanya Ardi sambil menatap ke arah Vanya.
"Saya akan menjelaskannya nanti Pak, sebaiknya kita segera pergi dari sini." ucap Arhan sambil membawa tubuh Vanya masuk ke dalam mobil kemudian menutup pintunya dengan rapat.
Mendengar ucapan Arhan barusan, membuat Ardi langsung mengangguk kemudian ikut menyusul keduanya masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya membelah jalanan meninggalkan lingkungan sekolahan.
Keesokan harinya
Pagi itu Mikaila yang sengaja datang lebih awal ke area sekolahan, lantas langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke area taman sekolah. Mikaila berharap bisa menemukan Arhan di sana dan menanyakan lebih detail, tentang tujuan Arhan yang datang kembali ke sekolah kemarin padahal jelas-jelas ia sudah bebas dan tidak perlu lagi kembali ke sini.
Mikaila mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari keberadaan Arhan di sana, namun sayangnya Stan yang kemarin diisi oleh Arhan terlihat kosong dan tanpa ada seorangpun di sana. Membuat Mikaila lantas menghela napasnya dengan panjang karena kedatangannya kemari adalah sia-sia saja. Mikaila nampak mendengus dengan kesal ketika tidak mendapati Arhan di sana, padahal ia sengaja datang lebih awal untuk bertemu dengan Arhan. Namun nyatanya Arhan sama sekali tidak ada di sana.
"Apa Arhan sudah pulang ya? Mengapa stannya kosong?" ucap Mikaila bertanya-tanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar.
__ADS_1
Hingga kemudian ketika Mikaila tampak sibuk mencari keberadaan Arhan di sana, sebuah suara yang Mikaila sendiri tidak tahu siapa pemilik dari suara tersebut, lantas membuat Mikaila bertanya-tanya sekaligus penasaran akan siapa pemilik suara tersebut. Dengan raut wajah yang penasaran Mikaila mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah sumber suara dengan langkah kaki yang mengendap-endap berharap si pemilik suara tidak mengetahui keberadaannya saat ini.
Sambil menatap ke arah kanan dan kiri Mikaila mulai menyembunyikan tubuhnya di antara dedaunan dan juga tanaman hias yang ditanam di sana. Mikaila yang semula penasaran akan suara tersebut, lantas mulai mengintip ke arah sumber suara berharap ia bisa mengetahui siapa pemilik suara yang ia dengar barusan.
"Benar-benar sialan, kemana perginya Vanya? Aku bahkan baru meninggalkannya semalam, tapi dia sudah tidak ada di tempatnya. Siapa yang berani-beraninya membawa Vanya pergi dari sisiku." ucap Riko dengan nada yang kesal sambil berkacak pinggang menatap ke arah sekitaran.
Mikaila yang mendengar ucapan Riko barusan tentu saja terkejut bukan main. Mendengar nama Vanya disebut tentu saja langsung membuat mata Mikaila membulat dengan seketika. Mikaila saat ini seakan-akan bertanya apakah Vanya yang dimaksud oleh Riko adalah Vanya temannya atau bukan.
"Vanya?" ucap Mikaila dengan nada yang terkejut.
Mikaila yang benar-benar penasaran akan siapa sosok Vanya yang dimaksud oleh Riko barusan, sehingga membuat Mikaila tanpa sadar lantas melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah di mana Riko berada saat ini. Berharap dengan mengambil posisi mendekat Mikaila bisa mendengar dengan jelas siapa sosok Vanya yang tengah ia bicarakan sedari tadi.
Mikaila yang sudah terlanjur penasaran akan perkataan Riko barusan, lantas terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Riko berada hingga tanpa sengaja Mikaila malah menginjak sebuah ranting kayu dan menimbulkan suara yang lantas membuat Riko langsung menoleh ke arah belakang ketika mendengar suara pijakan tersebut.
"Dasar bodoh!" ucap Mikaila sambil merutuki kebodohannya.
Bersambung.
__ADS_1