No Exit

No Exit
Belum sempurna


__ADS_3

"Dasar bodoh!" ucap Mikaila sambil merutuki kebodohannya.


Mikaila yang sadar ia telah membuat Riko menyadari kehadirannya di sana, lantas mulai merutuki kebodohannya sambil menatap ke arah sekeliling mencoba mencari tempat teraman untuknya bersembunyi saat ini. Hingga kemudian pandangan mata Mikaila jatuh pada semak belukar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dengan langkah kaki yang bergegas namun juga secara perlahan Mikaila mulai melangkahkan kakinya ke arah semak belukar tersebut dan bersembunyi di sana. Mikaila berharap Riko tidak mengetahui tempat persembunyiannya saat ini.


Mikaila yang takut Riko melihatnya bersembunyi di sana, lantas mulai menundukkan kepalanya semakin masuk ke bawah berharap ia bisa tertutupi oleh semak belukar tersebut. Sedangkan Riko yang seperti mendengar suara ranting diinjak, lantas mulai menatap ke area sekitar mencoba untuk mencari tahu suara tersebut berasal dari mana. Riko yang yakin suara tersebut berasal dari pijakan kaki seseorang, lantas mulai membawa langkah kakinya perlahan-lahan menyusuri area taman di dekatnya. Riko yakin ada seseorang yang mendengar perkataannya sedari tadi, sambil terus mencari ke arah kanan dan kiri Riko mulai membawa langkah kakinya menyusuri area taman disekitarnya.


Hingga sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar memanggilnya, lantas langsung menghentikan langkah kaki Riko yang sedari tadi sedang mencari sosok dari seseorang yang tanpa sengaja menginjak ranting di dekatnya. Karena Riko yakin suara tersebut bukanlah berasal dari ranting yang jatuh ataupun terbang terbawa oleh angin.


"Kau dari mana saja Rik? Chef Reno mencari mu tuh dari tadi, kantin lagi rame sekarang." ucap Fadi dari arah yang tak jauh dari tempatnya berada saat ini.


Mendengar suara tersebut tentu saja lantas menghentikan langkah kaki Riko dan langsung membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Riko menghela napasnya dengan panjang ketika melihat Fadi tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya saat ini.


"Baiklah, ayo kita pergi ke sana sekarang jangan sampai Reno mengomel sebentar lagi." ucap Riko pada akhirnya mau tidak mau mengikuti langkah kaki Fadi yang mengajaknya kembali ke kantin.


Sedangkan Fadi yang mendengar perkataan Riko barusan, lantas langsung mengangguk seakan mengiyakan ajakan dari Riko barusan. Keduanya kemudian lantas melangkahkan kaki mereka meninggalkan area taman menuju ke arah kantin. Walau sebenarnya Riko masih penasaran akan suara ranting yang diinjak tersebut, namun apa yang dikatakan oleh Fadi barusan lebih penting jika dibandingkan dengan suara ranting yang diinjak tersebut.

__ADS_1


Setelah memastikan Riko dan juga Fadi pergi dari area taman tersebut, Mikaila lantas terlihat mulai mendongakkan kepalanya secara perlahan diantara semak belukar yang menjadi tempatnya bersembunyi untuk memastikan bahwa Riko dan juga Fadi benar-benar telah pergi dari sana. Mikaila yang melihat Riko dan juga Fadi tidak ada lagi di area taman, lantas pada akhirnya bisa menghela napasnya dengan lega kemudian mulai bangkit dari tempat persembunyiannya dan keluar dari sana.


Mikaila nampak membersihkan rok sekolahnya yang terkena ranting-ranting kecil ketika ia bersembunyi tadi, sambil terus memikirkan ucapan yang ia dengar keluar dari mulut Riko. Gerakan tangan Mikaila lantas langsung terhenti seketika disaat ia baru menyadari tentang seseorang yang sudah lama menghilang secara misterius di Sekolah ini.


"Tidak mungkin Vanya yang dimaksud Riko barusan adalah Vanya yang juga menyukai Allen bukan?" ucap Mikaila sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Hingga setelah beberapa menit berpikir dan berkutat dengan pemikirannya sendiri, pada akhirnya Mikaila memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke area ruang kelas dan memberitahukan kepada Alen apa yang baru saja ia dengar. Setidaknya jika Mikaila membaginya kepada orang lain, mungkin saja Mikaila lebih mudah untuk menemukan jawabannya.


***


Rumah sakit


Sebuah kondisi langka yang juga membuat Dokter tersebut kesulitan dalam mendiagnosis penyakit Vanya. Karena Arhan adalah seseorang yang ditunjuk sebagai wali untuk Vanya, membuatnya harus ikut membuat keputusan akan pengobatan yang tepat untuk Vanya terima.


"Apakah kondisi tersebut bisa terjadi begitu saja tanpa penyebab tertentu Dok? Saya kira Vanya adalah seseorang yang sehat dan tidak akan mungkin terkena penyakit langka seperti itu, apakah boleh saya meminta hasil rekam medianya untuk mengeceknya ulang?" ucap Arhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran karena menurutnya kondisi Vanya benar-benar ganjil baginya.

__ADS_1


Mendapat pertanyaan tersebut Dokter itu nampak terdiam sejenak seakan tengah memikirkan sesuatu, membuat Arhan lantas bertanya-tanya tentang maksud dari diamnya Dokter tersebut ketika ditanya perihal hasil rekam medis Vanya. Entah mengapa Arhan merasa seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Dokter itu saat ini.


"Jika memang anda menginginkan hal tersebut untuk ditinjau kembali, maka berikan saya waktu untuk membuat rekapannya. Nanti sore Anda bisa mengambilnya kembali ke sini, saya akan memberikannya kepada anda." ucap Dokter tersebut menanggapi pertanyaan dari Arhan barusan.


Arhan yang masih merasa aneh dengan Dokter tersebut lantas hanya berusaha mengiyakan saja perkataannya. Setelah menyelesaikan urusannya bersama dengan Dokter tersebut, Arhan kemudian berpamitan dan memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan Vanya. Arhan melangkahkan kakinya dengan perlahan melewati koridor Rumah Sakit menuju ruang perawatan Vanya, sambil memikirkan tentang bagaimana ucapan demi ucapan yang dikatakan oleh Dokter tersebut tentang kondisi Vanya saat ini. Arhan terlihat menghentikan langkah kakinya sambil memijat pelipisnya dengan pelan, tidak mungkin bukan Dokter tersebut tengah membohonginya saat ini?


Arhan yang tidak ingin hanya berkutat saja dengan pemikirannya sendiri tanpa adanya jawaban yang pasti, lantas memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya ke ruang praktek Dokter tersebut untuk menanyakan lebih lanjut perihal kondisi Vanya sejelas-jelasnya.


Arhan kemudian lantas memutar kembali tujuannya dan melangkahkan kakinya lagi menuju ruang praktek Dokter tersebut. Jika memang Dokter itu tidak beres maka Arhan akan memutuskan untuk membawa Vanya pindah ke Rumah sakit lainnya untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi.


**


Ruang praktek dokter


Arhan yang tadinya hendak mengetuk pintu ruang praktek Dokter tersebut. Ketika melihat pintu yang sedikit terbuka lantas hendak meraih gagang pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. Sampai kemudian sebuah percakapan yang sama sekali tidak Arhan duga lantas tiba-tiba terdengar di telinganya, membuat Arhan lantas langsung menghentikan langkah kakinya begitu mendengar percakapan kedua orang tersebut.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? Bukankah aku sudah mengatakannya secara berulang kali bahwa aku belum menyempurnakan obat tersebut. Aku bahkan masih menggunakannya untuk hewan, bagaimana bisa kamu memberikannya kepada seorang gadis? Kau benar-benar tidak waras ya?" ucap Dokter tersebut yang tak sadar bahwa Arhan mendengar segala ucapannya.


Bersambung


__ADS_2