
"Kau yang cobalah untuk mengerti Lin! apa kalian berdua juga berpikiran sama seperti Linda? Ebra dan yang lainnya bahkan percaya pada kita, apa kalian benar benar akan meninggalkan mereka?" ucap Allen dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah Mikaila dan juga Rama secara bergantian.
"Kami..." ucap yang lainnya bingung.
Ucapan Mikaila dan juga Rama tercekat tidak bisa keluar, mengambil keputusan seperti ini memanglah sangat sulit, membuat siapa saja yang di tanya pasti akan diam tidak bisa membuat pilihan yang tepat. Kedua duanya merupakan sebuah pilihan yang sulit, jika mereka memilih salah satu pun hasilnya akan tetap sama dan berakhir dengan penyesalan.
"Ayolah Kai... Ram.. katakan sesuatu! jangan hanya diam seperti ini! lihatlah perahu karetnya hampir habis... kita bisa mati di sini jika kita tidak bergerak sekarang!" ucap Linda mencoba untuk membuat Mikaila dan juga Rama ikut menyuarakan suara mereka dan tidak hanya diam seperti ini saja, seakan seperti sedang menunggu kematian datang tanpa bertindak sama sekali.
Linda yang tidak melihat Mikaila dan juga Rama menjawab pertanyaan Allen, lantas mendengus dengan kesal sambil menatap ke arah perahu karet yang kini hanya tersisa 5 buah saja, membuat Linda semakin di buat kesal karena Allen sama sekali tidak memikirkan nasib tim nya yang ada di sini.
Linda yang tak kunjung mendengar jawaban lagi dari Mikaila, Rama maupun Allen kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mikaila dan Rama seakan berusaha untuk membujuk mereka berdua sekali lagi agar ikut menyuarakan pendapat mereka. Linda memegang tangan Mikaila dengan erat, membuat Mikaila langsung dengan spontan menoleh ke arah Linda yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang penuh harap.
"Aku minta maaf Lin... tapi apa yang di katakan Allen adalah kebenarannya, kita tunggu saja sebentar lagi Lin.. aku yakin mereka pasti datang..." ucap Mikaila yang lantas membuat raut wajah Linda berubah seketika.
Linda yang mendengar penolakan dari Mikaila berusaha untuk meminta bantuan kepada Rama, namun baru saja hendak berkata Rama memberikan isyarat dengan anggukan kepala pelan yang berarti Rama mengikuti pendapat keduanya yang memilih tetap stay di sini menunggu kedatangan Arhan, Ebra, Fatur dan juga Emeli.
Allen yang mendengar ucapan Mikaila dan juga reaksi Rama barusan, lantas tersenyum karena tidak menyangka bahwa Mikaila dan Rama setuju dengan pendapatnya, padahal jika di pikir pikir lagi baik Mikaila, Rama, dan Linda bisa saja pergi meninggalkannya tanpa harus menunggu Allen dan mengikuti keputusannya. Meski Linda terang terangan mengatakan untuk meninggalkan Arhan dan yang lainnya, tapi Allen yakin di dalam hati kecil Linda tidak akan pernah tega meninggalkan mereka walau pikiran dan juga logikanya terus saja menolak dengan keras keputusan dari Allen.
__ADS_1
Setelah perdebatan yang terjadi suasana di area tepi sungai menjadi hening tanpa pembicaraan, selain suara riuh gemuruh peserta lainnya yang berlarian hendak mengambil perahu karet tersebut, satu persatu perahu karet kembali berkurang, hingga kini tersisa 3 perahu saja membuat Linda semakin di buat ketar ketir. Sebenarnya tidak hanya Linda yang ketakutan namun jauh di dalam hati kecilnya Allen juga merasa ketakutan bahwa penantiannya akan sia sia. Allen melihat ke arah arloji yang ia pakai dan waktu yang tersisa tinggal 15 menit lagi, membuat Allen merasa bahwa ia telah salah mengambil keputusan.
Satu menit berlalu...
Dua menit berlalu...
Hingga tidak lama kemudian suara teriakan seseorang membuat keempatnya menoleh secara langsung ke arah sumber suara. Raut wajah dari Ebra, Arhan, Fatur dan juga Emeli terlihat jelas di wajah mereka ketika melihat Allen dan yang lainnya masih setia menunggu kedatangan mereka di sana.
Allen yang melihat keempatnya kini tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka, lantas memerintahkan Linda dan juga Rama untuk bergerak mengamankan perahu karet agar mereka tidak kehabisan. Sedangkan Linda dan juga Rama yang mendengar perintah tersebut, dengan spontan langsung berlarian menuju perahu karet yang waktu itu kebetulan masih tinggal 3 dan masih tersisa satu buah lagi.
Allen kemudian menarik tangan Mikaila dan mendekat ke arah Arhan dan yang lainnya dengan langkah kaki yang bergegas.
Allen kemudian mengajak Arhan, Fatur, Ebra dan juga Rama untuk mendekat ke arah perahu karet, sedangkan Mikaila tak pernah lepas dari genggamannya karena Allen benar benar trauma akan kehilangan sosok Mikaila yang mungkin sama seperti kejadian sapi di awal event.
Allen melirik sekilas ke arah arloji di pergelangan tangannya yang kini menunjukkan waktu yang tersisa tinggal lima menit lagi, dengan gerakan secepat mungkin Allen mulai membantu yang lainnya naik ke perahu karet, setelah memastikan semuanya sudah naik, barulah Allen menggenggam tangan Mikaila dengan erat dan mulai naik ke atas perahu karet dengan bantuan Akila.
Boom.....
__ADS_1
Suara ledakan yang sangat keras mendadak terdengar di sertai dengan kepingan bebatuan dan juga debu yang nampak berterbangan mengenai kelompok Allen dan juga Arhan yang sedang menaiki perahu. Suara dengingan yang begitu panjang, terdengar menggema di telinga mereka berdelapan tepat ketika suara bunyi ledakan itu terjadi.
Allen memukul kepalanya perlahan, mencoba untuk menyadarkan dirinya dari pandangan yang menggelap. Hingga ketika kesadarannya sudah benar benar kembali, Allen dengan spontan melirik ke arah belakang dan yang ia lihat tepat di bagian pohon besar tempat perahu karet tersebut di letakkan, kini sudah hangus dan rata dengan tanah.
Rupanya hal ini lah yang di maksud dengan dieliminasi secara langsung, dengan kata lain di bumi hanguskan mungkin lebih tepatnya. Allem menghela nafasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah teman temannya yang nampak baik baik saja dan berhasil lolos dari ledakan tersebut. Allen bersyukur teman temannya tidak ada yang berkurang satu pun, itu artinya tinggal satu hari lagi baginya untuk mampu bertahan dari event gila tahunan sekolahnya ini.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Mikaila ketika melihat Allen hanya diam saja tanpa berbicara dan hanya menatap ke arah sekeliling.
"Iya aku baik baik saja" ucap Allen sambil mengangguk seakan mencoba untuk menenangkan Mikaila yang saat ini terlihat seperti tidak tenang.
Pada akhirnya mereka berlayar dengan tenang menyusuri aliran sungai dengan perlahan, tanpa kendali ataupun dayung yang bisa mereka gunakan untuk berlayar, yang bisa mereka lakukan saat ini hanya mengikuti kemana arus air membawa dua perahu karet yang mereka naiki saat ini.
Mikaila yang melihat sekitaran aman untuk sementara waktu, lantas menyenderkan punggungnya pada perahu karet sejenak sekedar melepaskan penat dan juga pikirannya yang penuh.
"Ini bukanlah akhir Kai jadi kau harus semangat..." ucap Allen kemudian yang lantas membuat Mikaila langsung menatap manik mata Allen dengan dalam kemudian tersenyum.
"Terima kasih"
__ADS_1
Bersambung