
Malam harinya
Setelah satu persatu teman temannya pergi dari pondokan tersebut lewat jalan yang berbeda beda untuk menghindari kecurigaan peserta yang lainnya bahwa mereka kabur dari sana, dan kini saatnya giliran Mikaila yang bangkit dan hanya menyisakan Allen dan juga Ebra di dalam pondokan. Dengan langkah kaki yang perlahan dan santai Mikaila mulai melangkahkan kakinya melewati pintu belakang.
"Sepertinya mereka benar benar terkecoh... semoga saja tidak ada yang menyadari kepergian ku." ucap Mikaila pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya keluar dari pondokan.
Akila yang terus melangkahkan kakinya sedari tadi, lantas terlihat tersenyum karena merasa bangga bahwa ia berhasil kabur dari sana dan mengecoh peserta lainnya. Hanya saja Mikaila yang tadinya merasa ia aman dan berhasil mengecoh para peserta lain, rupanya nasib baik sama sekali tidak berpihak kepadanya. Mikaila yang baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah keluar dari pintu, lantas merasa ada yang menarik tangannya dengan kasar dan menyeretnya dengan paksa ke arah semak belukar yang rimbun di mana letaknya tidak jauh dari tempatnya keluar barusan.
"Aaa... apa yang kau lakukan ha? lepaskan aku! lepaskan..." teriak Mikaila sambil terus meronta ronta meminta untuk di lepaskan dan berusaha melihat siapa sebenarnya yang sedari tadi tengah menyeretnya hingga sampai kemari.
Mikaila yang tidak ingin pasrah saja berusaha dengan sekuat tenaga memberontak dan juga berteriak meminta tolong, namun nyatanya sekencang apapun Mikaila berteriak meminta tolong, seseorang yang menyeretnya sama sekali tidak menggubris Mikaila dan terus membawanya semakin masuk ke dalam semak semak, membuat Mikaila semakin menjadi jadi dan terus berusaha memberikan perlawanan.
Cukup jauh pemuda itu menyeret tubuh Mikaila dengan kasar, hingga ketika keduanya sudah sampai di antara rimbunnya semak belukar yang berdiri tegak dan menutupi area sekitaran, barulah sosok yang menyeretnya itu melemparkan tubuh Mikaila ke tanah begitu saja, membuat Mikaila lantas langsung meringis kesakitan begitu tubuhnya mengenai beberapa batu kerikil yang berserakan di tanah dan mengenai dirinya.
"Aw, apa mau mu sebenarnya sih? sakit tahu!" ucap Mikaila sambil merintih kesakitan dan mengusap tangannya yang terasa perih.
Mendengar ucapan Mikaila barusan pemuda di hadapannya ini hanya tersenyum dengan smirk dan menatap ke arah Mikaila dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, membuat Mikaila lantas bergidik ngeri ketika melihat pemuda dengan tubuh gempal dengan wajah sangar yang berdiri di hadapannya, kini sedang menatap ke arah Mikaila sambil tersenyum iblis. Entah apa yang kini tengah di pikirkan oleh pemuda itu hingga menatap Mikaila dengan tatapan yang seperti itu.
"Aku menginginkan kematian mu..." ucap pemuda itu dengan wajah yang mengerikan.
__ADS_1
Sedangkan Mikaila yang mendengar ucapan dari pemuda tersebut, tentu saja merasa kesal karena dengan seenak jidatnya mengatakan bahwa ia menginginkan kematiannya saat ini. Mikaila yang tidak ingin hanya pasrah lantas bangkit dari posisinya dan menatap tajam ke arah pemuda tersebut.
"He... kau pikir kau itu siapa? enak aja pingin aku mati!" teriak Mikaila yang lantas membuat pemuda itu terkejut bukan main ketika mendengar teriakan dari Mikaila barusan.
"Aku.... aku tidak perduli... yang terpenting kau harus mati sekarang agar aku bisa memenangkan event kali ini!" ucap pemuda itu tidak mau kalah dengan Mikaila.
Mikaila yang mendengar ucapan dari pemuda tersebut, tentu saja semakin di buat kesal dan juga marah hingga Mikaila kemudian lantas menatap tajam ke arah pemuda tersebut begitu pula sebaliknya.
"Kau...."
***
Baik Allen maupun Ebra terus melangkahkan kaki mereka melewati area dapur kemudian baru keluar dari pintu belakang. Allen menepuk bahu Ebra secara spontan begitu berhasil keluar dari pondokan, tinggal mengajak Mikaila yang sebelumnya Allen suruh menunggu di tempat yang tidak jauh dari posisi pintu keluar, sehingga setelah Allen dan Ebra keluar Mikaila bisa langsung bergabung bersama dengan mereka.
"Kita cari tempat aman untuk bersembunyi Al..." ucap Ebra kepada Allen yang lantas langsung di balas anggukan kepala oleh Allen.
"Iya, kau benar namun sebelum itu kita panggil dulu Mikaila agar bergabung bersama dengan kita." ucap Allen kemudian mengingatkan Ebra bahwa masih ada Mikaila yang harus keduanya ajak untuk bergabung dan mencari tempat sembunyi yang aman.
"Iya" jawab Ebra yang seakan setuju dengan usulan Allen barusan.
__ADS_1
Setelah membuat keputusan, Allen dan Ebra kemudian lantas mengedarkan pandangan mereka berdua dan menatap ke arah sekeliling mencoba mencari keberadaan Mikaila di sekitaran pintu keluar, hanya saja meski keduanya sudah celingukan ke kanan dan ke kiri Mikaila sama sekali tidak ada di manapun, membuat Allen dan Ebra lantas langsung menatap ke arah satu sama lain dengan tatapan yang penuh tanda tanya sekaligus penasaran kemana perginya Mikaila.
"Bukankah harusnya Mikaila berada di sekitar sini?" tanya Allen kemudian dengan raut wajah yang kebingungan ke arah Ebra.
"Iya kau benar, tidak mungkin dia tidak mendengar instruksi dari mu bukan? apa ia sebodoh itu?" ucap Ebra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan bercanda di saat saat seperti ini... sama sekali tidak lucu!" ucap Allen dengan raut wajah yang kesal, namun Ebra yang mendengar ucapan Allen barusan hanya bisa tersenyum dengan garing sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Keduanya kemudian lantas berpencar dan mulai mencari keberadaan Mikaila di sekitaran sana, Allen yakin Mikaila tidak akan jauh jauh dari tempat ini. Perasaan khawatir mendadak menyapa di hatinya ketika teringat tentang tatapan para peserta lain terhadap anggota kelompoknya, ketika mereka berdelapan baru saja sampai di pondokan.
Entah mengapa Allen merasa saat ini sedang terjadi sesuatu kepada Mikaila, namun sayangnya Allen sama sekali tidak tahu apa itu karena lagi lagi Allen kehilangan jejak Mikaila.
"Harusnya tadi Mikaila ku suruh tetap berada di samping ku saja dari pada keluar lebih dulu." ucap Allen dalam hati yang seakan menyesal dengan keputusannya yang menyuruh Mikaila untuk jalan lebih dulu.
Allen mengusap rambutnya dengan kasar ketika rasa frustasi tidak menemukan keberadaan Mikaila dimanapun juga. Hingga ketika Allen tidak tahu lagi harus mencari keberadaan Mikaila di mana, tidak jauh dari tempatnya berdiri Allen melihat semak semak di sekitaran sana bergoyang goyang seperti ada sesuatu, yang lantas membuat Allen langsung dengan spontan berlarian ke arah sana dan menyibak semak belukar di daerah tersebut.
"Kalian!"
Bersambung
__ADS_1