No Exit

No Exit
Zaki yang dulu telah tiada


__ADS_3

Ruangan Kepala Sekolah


Zaki yang baru saja mendapat laporan dari Hadi tentang jasad Arhan yang tidak bisa mereka temukan, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruang Kepala Sekolah. Diketuknya pintu ruangan Viola secara berulangkali sambil menunggu ijin dari Viola untuk diperbolehkan masuk ke dalam.


Tok tok tok


Hingga kemudian sebuah suara yang mempersilahkan Zaki untuk masuk ke dalam, lantas membuat Zaki langsung perlahan-lahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Viola.


Viola yang melihat kedatangan Zaki ke ruangannya, langsung bangkit dari posisinya dan berhenti tepat di depan meja dan bersandar di sana menanti kabar apa yang akan dibawa Zaki kali ini.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu mu? mengapa wajah mu kusut sekali?" tanya Viola kemudian setelah melihat raut wajah Zaki yang seperti itu.


Sedangkan Zaki yang mendapat pertanyaan dari Viola barusan langsung menghela nafasnya dengan panjang, Zaki benar benar bingung harus mengatakannya seperti apa kepada Viola. Membuat Viola lantas mengerutkan keningnya dengan bingung ketika melihat Zaki hanya diam saja seperti itu sedari tadi.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Jangan membuang waktu ku seperti ini." ucap Viola kemudian dengan nada yang kesal karena Zaki tak kunjung membuka suaranya juga.


"Jasad Arhan tidak di temukan, kami sudah menyisir setiap tempat yang diperkirakan anak itu akan jatuh ke dalamnya namun meski kami terus mencarinya, jasad Arhan tetap saja tidak di temukan keberadaannya." ucap Zaki kemudian melaporkan.


Viola yang mendengar laporan tersebut tentu saja terkejut, hal ini bahkan sudah kedua kalinya terjadi dan anehnya selalu saja berkaitan dengan Mikaila dan juga Allen, membuat Viola kian frustasi dan berpikir bahwa kedua anak tersebut mengetahui sesuatu tentang dirinya.


"Bagaimana bisa kita kembali kecolongan? ini sudah kedua kalinya... bahkan Vanya saja belum di temukan dan sekarang bertambah dengan Arhan, kerja kalian semua itu apa saja? hanya mencari jasad anak ingusan saja kau tidak bisa!" ucap Viola dnegan nada yang kesal, membuat Zaki langsung terdiam seketika di saat mendengar omelan dari Viola.


"Aku akan mengusahakannya dan terus mencari keberadaan jasad Arhan dan juga Vanya secepatnya." ucap Zaki kemudian berusaha untuk meyakinkan Viola.

__ADS_1


Sedangkan Viola yang mendengarkan janji yang keluar dari mulut Zaki barusan, langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zaki dan menatapnya dengan tajam.


"Temukan anak anak itu segera dan jangan hanya mengobral janji!" ucap Viola dengan nada yang penuh penekanan.


Setelah mengatakan hal tersebut Viola langsung membalikkan tubuhnya dan memunggungi Zaki, membuat Zaki kemudian mulai bergerak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kepala Sekolah.


**


Di luar Ruang Kepala Sekolah


Zaki yang baru saja keluar dari sana meluapkan kekesalannya dengan menendang tong sampah yang berada tidak jauh dari ruangan tersebut. Zaki benar benar kesal dengan tingkah Viola yang selalu saja semena-mena, padahal untuk urusan jasad Vanya yang hilang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya, namun pada akhirnya malah berimbas padanya karena jasad Arhan yang ikut tidak di temukan.


"Ah sial! gara gara ulah Reno aku juga ikut menanggung segalanya!" ucap Zaki pada diri sendiri sambil mengusap rambutnya dengan kasar.


"Apakah sesuatu telah terjadi pak? Saya lihat anda tidak cukup baik hari ini." ucap sebuah suara yang ternyata adalah Manda.


Manda yang hendak menuju ke ruang guru tanpa sengaja malah bertemu dengan Zaki dan melihatnya meluapkan kekesalannya pada sebuah tong sampah yang tentu saja sama sekali tidak bersalah dalam masalah yang di hadapi oleh Zaki saat ini.


"Ini bukan urusan mu jadi aku harap kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah ku!" ucap Zaki dengan nada yang ketus kepada Manda kemudian berlalu pergi meninggalkan Manda.


"Apakah semuanya belum cukup Za? kamu bahkan dulu tidak seperti ini, bukankah kita berjanji untuk menyelesaikan segalanya bersama? mengapa kamu malah berbalik dan menghampiri mereka?" ucap Manda yang lantas membuat langkah kaki Zaki terhenti seketika.


Mendengar ucapan dari Manda barusan, membuat sekilas bayangan tentang masa lalu mendadak terlintas di benak Zaki saat ini. Zaki yang tidak menginginkan ingatan itu kembali menyapanya lantas langsung menggeleng dengan kuat seakan mencoba untuk menepis segala hal yang berkaitan dengan masa lalunya.

__ADS_1


"Jangan pernah mengungkit masa lalu karena bagi ku Zaki yang dulu sudah tiada!" ucap Zaki dengan nada yang dingin kemudian kembali melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Manda seorang diri di sana dengan tatapan yang sendu.


Melihat Zaki yang seperti itu tentu saja membuat hati Manda sakit, Manda benar benar tahu bahwa Zaki melakukan hal ini karena terpaksa. Namun sayangnya Manda sama sekali tidak bisa membawa Zaki yang dulu kembali lagi.


"Semoga anak anak itu berhasil melakukannya." ucap Manda dengan nada yang lirih sambil masih memandangi punggung Zaki hingga tidak lagi terlihat pada pandangannya.


***


Sementara itu di sebuah ruangan yang gelap tanpa penerangan cahaya lampu sama sekali, terlihat seorang gadis yang tengah terkulai lemas dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Gadis itu nampak mengerjapkan kelopak matanya dengan perlahan sambil mencoba untuk mengembalikan kesadarannya.


Gadis itu merengkuh dengan pelan sambil berusaha mengambil posisi tengkurap dan mulai merayap secara perlahan karena kakinya yang lemas dan tidak mampu untuk bangkit dari posisinya saat ini.


"Mama.. tolong..." ucapnya dengan nada yang merintih sambil terus berusaha merayap dan kabur dari tempat tersebut.


Dengan gerakan yang perlahan gadis itu terus bergerak sambil sesekali mencoba untuk bangkit dan menapakkan kakinya, hanya saja sayangnya selalu saja gagal seakan otot otot kakinya sama sekali tidak bisa di gunakan seperti biasanya.


"Dasar kaki bodoh... akh...." ucap gadis itu dengan nada yang kesal sambil sesekali memukuli kakinya yang sama sekali tidak bisa diajak berkompromi disaat-saat seperti ini.


Bruk...


Sebuah suara pintu yang di buka dari luar lantas menghentikan gerakan tangan gadis itu yang sedari tadi memukuli kakinya yang tidak mau di gerakkan sama sekali. Melihat ada yang datang gadis itu kembali merayap dan mencari tempat tersembunyi agar orang tersebut tidak bisa menemukannya saat ini.


"Vaaaaanya... kamu mau kemana? Apa kamu ingin bermain petak umpet dengan ku?" ucap sebuah suara pria yang terdengar begitu nyaring di ruangan tersebut, membuat Vanya dengan spontan menutup mulutnya rapat agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat pria itu menemukan tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2