No Exit

No Exit
Temui dia!


__ADS_3

Ruang kelas


Di dalam ruang kelas Mikaila terlihat tengah duduk dengan termenung sambil memikirkan kembali ingatan tentang penjelasan demi penjelasan yang diberikan oleh Friska di lorong tadi. Sebuah penjelasan yang memunculkan fakta baru tentang pertanyaan demi pertanyaan yang selalu ada di kepalanya selama ini, membuat Mikaila lantas terdiam seketika. Sebuah bunga mawar putih yang menjadi simbol tentang kesucian, nyatanya malah berhasil merubah sudut pandang Mikaila selama ini sekaligus menjadi pintu gerbang akan berbagai tanda tanya yang ada di pikirannya selama ini tentang Rini.


Mikaila menghela nafasnya dengan panjang ketika memikirkan kembali tentang ingatan di mana ia yang bertemu dengan Friska di koridor kelas tadi pagi. Mikaila yang memang tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini lantas sedikit penasaran dengan arti dari bunga mawar putih yang menjadi hiasan di setiap lingkungan kelas. Friska yang sadar bahwa Edrea adalah salah satu murid pindahan disini, lantas langsung menarik tangan Mikaila dan membawanya menuju ke area mading untuk menunjukkan Mikaila sesuatu yang penting.


Mikaila yang ditarik dengan tiba-tiba hanya bisa mengikuti arah tarikan Friska, hingga ketika langkah kaki Friska berhenti tepat di area mading manik mata Mikaila lantas terhenti tepat di depan sebuah foto gadis belia cantik yang terlihat mengenakan pakaian seragam sekolah ini. Beberapa mawar putih terlihat menempel dan tertata rapi di sekitaran foto gadis tersebut, membuat Mikaila yang tahu dengan jelas siapa gadis di foto itu, lantas langsung terdiam mematung ditempatnya seakan tidak terlalu percaya akan fakta dan juga informasi yang baru saja ia dapatkan.


Mikaila yang tak ingin terus kepikiran tentang gadis di foto tersebut, lantas terlihat menyembunyikan kepalanya pada kedua lengan Mikaila yang ditekuk di atas meja. Hal ini benar-benar begitu terasa tidak masuk akal bagi Mikaila walau ia sudah memikirkannya secara berulang kali.


"Bagaimana bisa Rini yang menjadi teman sekamar ku adalah Rini putri dari Bu Viola yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena sebuah insiden?" ucap Mikaila yang masih tidak bisa mempercayainya.


Disaat Mikaila tengah sibuk memikirkan tentang Rini, Allen yang baru saja masuk dan mengambil duduk si sebelah Mikaila, lantas mengernyit dengan tatapan yang bertanya-tanya ketika melihat tingkah Mikaila yang seperti itu.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Kai?" tanya Allen kemudian.


Mendengar suara tersebut membuat Mikaila perlahan-lahan mulai mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Dalam tatapannya Allen terlihat begitu penasaran sekaligus menunggu jawaban dari Mikaila tentang perasaannya. Mikaila kemudian menghela napasnya dengan panjang sambil memutus pandangan keduanya. Mikaila bahkan saat ini tampak sedikit bingung antara menjelaskannya atau tidak mengatakan apapun kepada Allen. Hanya saja jika Mikaila menjelaskannya sekalipun, akankah Allen akan percaya kepadanya atau tidak?


"Kau benar tentang Rini Al..." ucap Mikaila pada akhirnya yang tahu lagi harus bagaimana saat ini.

__ADS_1


"Tentang apa ini Kai?" tanya Allen mencoba mencari tahu arah dari pembicaraan Mikaila barusan.


"Tentang Rini yang ternyata bukanlah manusia." ucap Mikaila yang lantas membuat Allen ikut terkejut seketika.


***


Kantin


Di salah satu meja yang terletak di sudut kantin terlihat Allen, Mikaila dan juga Ebra tengah duduk sambil menikmati makan siang mereka sambil mengobrol tentang beberapa hal. Allen yang memang sedikit penasaran akan cerita Edrea pagi tadi lantas terlihat sedikit mendekatkan kepalanya ke arah Mikaila hendak menanyakan lebih dalam lagi tentang apa yang tengah terjadi pada Mikaila, membuat Mikaila lantas menghela napasnya dengan panjang ketika mendengar kembali pertanyaan dari Allen. Sedangkan Ebra yang tidak tahu apa-apa tentang keduanya lantas terlihat menyimak dan ikut menanti jawaban dari Mikaila.


"Aku rasa ada alasan dibalik Rini yang terus memunculkan wujudnya kepadaku, hanya saja apa itu aku sungguh tidak tahu." ucap Mikaila kemudian.


Allen yang mendengar perkataan dari Mikaila barusan ada benarnya juga, lantas langsung terdiam seakan tengah berpikir alasan apa dibalik munculnya Rini yang secara terus-menerus itu. Hingga kemudian sebuah pemikiran yang entah benar atau entah tidak, lantas terdengar keluar dari mulut Ebra dengan entengnya, yang membuat Mikaila dan juga Allen langsung menatap ke arah Ebra dengan seketika.


Mikaila yang mendengar perkataan dari Ebra barusan tentu saja dengan spontan langsung menepuk bahu Ebra karena tidak menyangka bahwa perkataan spontan Ebra ada benarnya juga. Sedangkan Ebra yang ditepuk pundaknya tentu saja langsung terkejut dan langsung mendengus dengan kesal akan tingkah Mikaila tersebut.


"Jika memang benar apa yang dikatakan oleh Ebra, lalu kita harus bagaimana?" tanya Mikaila kemudian.


"Temui Rini kembali Kai hanya dia yang tahu segalanya!" ucap Allen kemudian yang lantas membuat Mikaila melongo seketika.

__ADS_1


"Apa kau gila Al? Enggak-enggak... Aku bahkan mau meminta untuk ganti kamar namun kamu malah menyuruh ku untuk bertemu dengannya, tidak bisa!" protes Mikaila tepat setelah mendengar perkataan Allen barusan.


"Ayolah Kai, hanya ini jalan satu-satunya." ucap Allen lagi kembali membujuk Mikaila yang disusul anggukan kepala oleh Ebra seakan tanda bahwa ia juga menyetujui usulan dari Allen barusan.


Sedangkan Mikaila yang melihat keduanya sama-sama mengusulkan hal yang serupa, membuat Mikaila langsung menggigit bibir bagian bawahnya sambil memikirkan langkah apa yang akan ia ambil di tengah situasi seperti ini.


"Tapi aku...." ucap Mikaila kemudian dengan raut wajah yang bingung namun Ebra dan juga Allen malah sebaliknya.


***


Malam harinya kamar asrama Mikaila


Mikaila yang sedari pulang sekolah sampai sore hari berada di kamar asrama Friska, ketika menjelang malam hari Mikaila memutuskan untuk kembali ke kamar asramanya. Mikaila yang baru saja masuk ke dalam kamarnya lantas terlihat menutup pintu kamarnya sambil menarik napas dalam-dalam seakan tengah bersiap untuk menghadapi sesuatu hal yang besar di hidupnya.


"Baiklah, aku siap dan aku bisa...." ucap Mikaila secara berulang kali sambil mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Dengan perlahan-lahan sambil menyiapkan mentalnya, Mikaila terlihat mulai berbalik badan dan bersiap menghadapi Rini teman sekamarnya yang ternyata adalah putri dari kepala sekolah di mana ia sudah meninggal lima tahun yang lalu dan saat ini adalah peringatan ke-6 tahun kematiannya.


"Apa kamu sedang mencari ku Kai?" ucap sebuah suara yang tak asing bagi Mikaila tepat ketika Mikaila berbalik badan barusan.

__ADS_1


"Astaga!" pekik Mikaila yang terkejut akan suara tersebut.


Bersambung


__ADS_2