
"Berhenti!" teriak Allen begitu melihat laju sepeda motor tersebut yang semakin mendekat ke arahnya saat ini.
Pengemudi sepeda motor tersebut yang melihat Allen berhenti secara mendadak tepat di hadapannya, tentu saja langsung mengerem secara mendadak membuatnya hampir terjatuh dari sepeda motornya jika saja ia tidak lebih sigap dalam menahan sepeda motornya agar tidak sampai terjatuh. Melihat laju motor Pria yang sedari tadi ia kejar berhenti, lantas membuat Allen langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana pengemudi motor tersebut berhenti saat ini.
"Apa kau sudah gila ha?" pekik Pria tersebut dengan nada yang kesal karena Allen yang tiba-tiba menghadangnya seperti ini tanpa penyebab dan alasan yang jelas.
"Maaf pak, saya benar-benar tidak berniat hanya saja ini benar-benar genting. Jika saya boleh tahu apa yang anda berikan kepada pak Zaki barusan?" ucap Allen kemudian mencoba untuk berunding dengan Pria tersebut.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Pria itu lantas langsung menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah Allen. Pria itu seakan penasaran akan sosok Allen yang mendadak menanyakan perihal tentang Zaki. Membuat Pria itu tidak terlalu percaya akan sosok Allen yang datang secara tiba-tiba tanpa diundang sama sekali.
"Kau anak kecil tidak perlu ikut campur akan urusan orang tua, lagi pula Zaki dan juga dirimu sama sekali tidak ada hubungan apapun. Jadi minggir lah karena aku sedang sibuk saat ini." ucap Pria itu sambil mencoba untuk mengusir Allen dari sana.
Si pengemudi sepeda motor yang tidak ingin Allen mengganggu jalannya, lantas kemudian menaiki kembali sepeda motornya dan bersiap untuk melajukan kembali sepeda motornya. Hanya saja ketika sebuah suara yang entah berasal dari mana berbunyi dan menyapa telinganya, membuat pengemudi sepeda motor tersebut lantas mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana.
"Apa kau sudah membawa semua pesanan ku?" ucap sebuah suara yang berasal dari Zaki.
"Tentu, aku membawakan khusus untuk mu 2 kantong darah tambahan sebagai stok asal kamu memberikan ku tips tambahan, bagaimana?" ucap sebuah suara lainnya yang menanggapi perkataan Zaki barusan.
"Kau benar-benar ya, baiklah baiklah aku akan mengambilnya asal kau cepat pergi dari sini sekarang juga!" ucap Zaki kemudian.
Mendengar sebuah percakapan singkat yang tidak asing di pendengarannya lantas langsung menghentikan laju pengemudi sepeda motor tersebut. Sambil kembali melangkahkan kakinya turun dari motornya, Pria itu lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Allen berada saat ini.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" ucap Pria itu kemudian dengan nada yang kesal sambil menatap tajam ke arah Allen saat ini.
"Bukankah sedari awal aku sudah mengatakannya kepadamu sedari tadi? Aku hanya ingin mengetahuinya tidak lebih, apakah perkataan ku kurang jelas?" ucap Allen dengan nada yang santai namun berhasil membuat Pria itu lantas berdecak dengan kesal.
Mendengar perkataan dari Allen barusan membuat pria itu lantas langsung terdiam seketika. Sambil menghembuskan napasnya dengan kasar pria itu kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Allen berada untuk membisikkannya sesuatu agar tidak ada seorang yang mendengarnya, meskipun sebenarnya di sana tentu saja tidak akan ada satu orang pun yang akan mendengar pembicaraan keduanya.
Allen yang baru saja mendapat bisikan dari Pria tersebut lantas langsung terdiam seketika seakan bertanya-tanya akan tujuan Zaki melakukan hal tersebut. Sedangkan Pria itu setelah mengatakan hal tersebut seperlunya kepada Allen ia kemudian langsung melakukan motornya meninggalkan Allen begitu saja dimana saat ini Allen masih termenung dengan pikiran yang melayang sambil memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Pria tersebut barusan.
"Ada apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa aku bukannya menemukan kunci jawaban atas permasalahan ini malah menemukan sebuah peta buram yang begitu sulit untuk di baca agar aku bisa sampai ke tempat tujuan." ucap Allen sambil menggaruk kepalanya dengan perlahan.
***
Sampai kemudian pandangan keduanya jatuh pada Salsa yang saat ini tengah bersembunyi diantara meja ruang baca sambil memasang raut wajah yang ketakutan di tengah kegelapan ruang perpustakaan tersebut.
"Bukankah itu Salsa?" ucap Ebra kemudian yang lantas di balas Mikaila dengan anggukan kepala seakan mengiyakan perkataan dari Ebra barusan.
Keduanya yang tidak lagi ingin menyianyiakan kesempatan yang ada lantas mulai mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah dimana Salsa berada saat ini. Namun sayangnya ketika langkah kaki keduanya hampir sampai ke tempat Salsa, sebuah tarikan tangan yang menjambak rambut Salsa dengan kuat membuat Ebra langsung menarik tangan Mikaila agar menunduk dan tidak menimbulkan suara berisik apapun atau mereka akan ketahuan.
"Aaa lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Salsa sambil berusaha memberontak dan terus mengatakan agar ia dilepaskan saat ini juga.
"Diam lah dan bersikap manis maka aku akan melakukannya tanpa rasa sakit." ucap Rahmat dengan nada suara yang di buat-buat.
__ADS_1
Mikaila yang mendengar perkataan dari Rahmat barusan tentu saja begitu kesal dan hendak bangkit dari posisinya namun di tahan oleh Ebra, membuat Mikaila hanya bisa mendengus dengan kesal sambil menatap ke arah Salsa tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
"Tenang lah jangan terlalu gegabah seperti ini." ucap Ebra memperingatkan Mikaila agar bersikap lebih tenang lagi.
Disaat suasana di dalam perpustakaan begitu tegang saat ini. Sebuah suara langkah kaki seseorang yang saat ini mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruangan tersebut, lantas membuat Rahmat langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara saat ini.
"Bagaimana? Apakah semuanya sudah siap?" tanya sebuah suara yang ternyata berasal dari Zaki.
"Tentu kita tinggal mengeksekusinya saja." ucap Rahmat dengan senyum yang mengembang.
"Baiklah kita lakukan saja di sini." ucap Zaki kemudian yang lantas membuat Salsa semakin di buat ketakutan karenanya.
"Apa kau yakin?" tanya Rahmat sekali lagi.
"Yap, lagi pula bukankah Dia membutuhkan darahnya untuk persembahan? Pergilah dan siapkan segalanya, biar aku yang mengeksekusinya sedangkan kau yang membersihkan sisanya." ucap Zaki kemudian memberikan perintah yang dibalas anggukan kepala oleh Rahmat.
Mendengar perkataan tersebut membuat Rahmat langsung bergerak saat itu juga, sambil melangkahkan kakinya keluar Rahmat mulai menutup pintu ruang perpustakaan. Sedangkan Zaki terlihat seperti mengeluarkan sebuah pisau berukuran besar dari kantong jaketnya. Hanya saja disaat semua mengira Zaki akan bersiap untuk membunuh Salsa saat itu juga sebuah perkataan yang keluar dari mulut Zaki, lantas membuat Ebra dan juga Mikaila yang hendak bangkit dari tempatnya lantas langsung terhenti seketika.
"Apa kau sudah meminum obat yang aku berikan kepadamu?" tanya Zaki kemudian kepada Salsa sebelum memulai aksinya, membuat Ebra dan juga Mikaila langsung saling pandang satu sama lainnya.
Bersambung
__ADS_1