
Suara pintu yang dibuka dari arah luar perlahan-lahan mulai terdengar di pendengaran ketiganya, namun baik Allen maupun Ebra sebisa mungkin untuk menutup matanya dan tidak bergerak sama sekali. Sedangkan Mikaila, Mikaila memilih untuk masuk ke dalam lemari dan bersembunyi di sana karena hanya lemari satu-satunya tempat yang cukup longgar namun tidak kelihatan dari arah luar yang cocok sebagai tempat bersembunyi.
Mikaila menutup mulutnya dengan rapat agar tidak mengeluarkan suara dan di dengar oleh Fahri. Sambil mengintip dari balik celah-celah lemari pakaian Ebra, Mikaila melihat Fahri menyenteri area kamar Ebra dan sekeliling seperti tengah mengecek sesuatu.
"Bagaimana pak sudah aman?" tanya Rahmat sambil menghampiri Fahri.
"Sudah, ayo kita berkeliling lagi." ucap Fahri sambil melangkahkan kakinya ke luar dari kamar Ebra dan menutup pintu kamar tersebut.
Setelah Fahri dan juga Rahmat pergi dari kamar Ebra, Mikaila membuka pintu lemari secara perlahan kemudian keluar dari sana sambil melihat keadaan sekitar.
"Aman?" tanya Ebra kemudian.
"Aku rasa sudah" ucap Mikaila kemudian.
"Sebaiknya kita pergi beristirahat sekarang, kita lanjut besok saja." ucap Allen yang lantas di balas keduanya dengan anggukan kepala.
"Lalu bagaimana kita tidur?" tanya Mikaila kemudian.
"Ya disinilah bersama-sama, dimana lagi memangnya?" ucap Ebra sambil menunjuk ke arah ranjangnya itu.
Mendengar ucapan Ebra barusan membuat Mikaila langsung menatap tajam ke arah Ebra sambil berkacak pinggang, namun sayangnya Ebra yang ditatap seperti itu sama sekali tidak mengerti apa maksud dari tatapan Mikaila kepadanya. Hingga kemudian Allen mengisyaratkan Ebra untuk bangkit dari posisinya dan meminta Mikaila untuk naik dan tidur di atas ranhang.
__ADS_1
Ebra yang mendengar perintah dari Allen tentu saja melongo dan tidak percaya, ia bahkan tuan rumah disini tapi malah disuruh tidur di bawah yang hanya beralas karpet dan juga selimut. Allen yang tahu Ebra hendak protes akan keputusannya, lantas langsung menarik tangan Ebra dan mengajaknya tidur di bawah bersama.
"Sudahlah, Mikaila kan perempuan biarkan saja dia tidur di atas, kita sebagai laki-laki harusnya mengalah." ucap Allen dengan nada yang lirih.
"Bagaimana bisa begitu Al? Aku bahkan pemilik kamar ini tapi malah aku yang tidur di bawah" ucap Ebra menggerutu.
"Sebaiknya kau tidur saja tak perlu terus menggerutu seperti itu." ucap Allen sambil merebahkan tubuhnya di karpet dan bersiap untuk pergi tidur.
Ebra yang kembali mendengar ucapan Allen barusan pada akhirnya hanya bisa menghela napasnya dengan panjang sambil ikut merebahkan tubuhnya di sana dengan wajah yang ditekuk kesal. Sedangkan Mikaila yang sebenarnya mendengar percakapan keduanya hanya bisa menahan tawanya saat ini sambil memunggungi keduanya. Mikaila benar-benar yakin bahwa Ebra saat ini pasti sangat kesal kepadanya karena tidak mau mengalah sama sekali padahal ini adalah kamar asrama Ebra.
"Hanya malam ini saja, biarkan aku tidur dengan nyenyak...." ucap Mikaila dalam hati sambil mulai memejamkan matanya dan berlayar menuju ke pulau impiannya.
***
Arhan terbangun dengan raut wajah yang lesu dan juga badan yang remuk semua. Sepertinya karena terlalu terkejut akan masalah celananya kemarin Arhan malah berlari dengan serampangan dan tanpa hat-hati, yang menyebabkan beberapa tulangnya yang sedikit bergeser karena terjatuh waktu itu kini terasa pegal dan juga sedikit ngilu.
Arhan mengusap rambutnya dengan kasar sambil menghela napasnya begitu saja. Arhan benar-benar bingung harus bagaimana lagi untuk menjelaskannya kepada teman-temannya akan hal ini. Sebuah deringan ponsel miliknya lantas membuyarkan lamunan Arhan, dengan gerakan yang sedikit malas Arhan mulai mengambil ponselnya dan melihat siapa yang saat ini tengah menghubunginya.
Melihat nama Ardi tertera pada layar ponselnya, membuat Arhan sedikit mengernyit dengan raut wajah yang bertanya-tanya akan alasan Ardi yang menghubunginya padahal keduanya baru bertemu semalam. Dengan raut wajah yang penasaran Arhan mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo pak" ucap Arhan setelah menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Nak Arhan maaf bapak mengganggu pagi mu seperti ini." ucap Ardi yang terdengar basa-basi.
"Tidak perlu terlalu formal begitu pak santai saja, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Arhan kemudian karena ia yakin Ardi pasti menelponnya karena ada maksud tertentu.
Ardi yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung tersenyum sekilas yang pastinya tidak akan bisa dilihat oleh Arhan saat ini. Membuat Arhan yang tak kunjung mendengar jawaban dari Ardi diseberang sana, semakin dibuat penasaran akan apa yang sebenarnya hendak di sampaikan oleh Ardi saat ini. Hingga sebuah pertanyaan yang mengejutkan Arhan tentang ajakan Ardi yang memintanya untuk kembali ke sekolahan tersebut, membuat Arhan langsung terdiam seketika.
Bayangan bagaimana ia sebelum pada akhirnya bisa keluar dari sekolahan tersebut, bahkan masih membekas di ingatannya hingga sekarang. Bagaimana mungkin Ardi dengan gampangnya malah mengajaknya untuk kembali ke sekolahan tersebut dengan entengnya seakan kejadian kemarin bukanlah apa-apa.
Ardi yang tak kunjung mendengar jawaban dari Arhan lantas tersenyum, Ardi benar-benar tahu setrauma apa Arhan untuk kembali menginjakkan kakinya ke sekolah. Hanya saja Ardi benar-benar membutuhkan Arhan agar semua rencananya yang sudah disusun sejak lama dapat segera terlaksana dan selesai dengan cepat.
"Tak perlu terburu-buru dalam memutuskan, saya benar-benar tahu apa yang kamu rasakan. Hanya saja dengan kamu terus bersembunyi seperti ini sama sekali tidak akan berhasil. Yang harus kita lakukan adalah bergerak dan menyusup ke kandang lawan, bukankah dengan begitu keinginan kita semua akan tercapai dengan cepat?" ucap Ardi karena tak kunjung mendengar jawaban apapun dari Arhan sedari tadi.
"Berikan saya waktu sampai nanti malam pak, saya akan mencoba untuk memikirkannya." ucap Arhan pada akhirnya, dalam masalah ini ia harus menentukannya dengan kepada yang jernih dan tidak terburu-buru.
***
Sementara itu karena hari ini adalah weekend, setiap siswa diwajibkan untuk melaksanakan lari pagi setiap hari weekend yang tujuannya untuk menciptakan siswa dan siswi lingkungan Enigmatis high school sehat jasmani dan rohani. Sambil menggerakkan kakinya menyusuri area taman sekolah, Mikaila terlihat terus melangkahkan kakinya untuk berlari-lari kecil memutari area taman selama beberapa kali.
Puas berkeliling area taman, Mikaila terlihat melipir ke arah tenda yang menyediakan minuman dan meminta satu botol air mineral kepada penjaga stand tersebut.
"Apa kamu ingin lagi?" tanya sang penjaga yang lantas membuat Mikaila langsung terkejut seketika disaat ia mengenali suara penjaga stand tersebut.
__ADS_1
"Kamu..." ucap Mikaila dengan raut wajah yang bingung sambil menerka-nerka menatap ke arah penjaga stand minuman di area taman.
Bersambung