
Kamar Mikaila
Setelah perdebatan kecil yang terjadi ketika ketiganya sama-sama tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini baik Mikaila, Allen dan juga Ebra terlihat tengah terduduk dengan ekspresi wajah serius memikirkan sesuatu yang terjadi kepada mereka baru saja.
Mikaila yang merasa tidak tahu menahu akan kehadiran Allen dan juga Ebra yang mendadak berada di dalam kamarnya, lantas mulai menatap ke arah Allen dan juga Ebra secara bergantian seakan seperti tengah meminta penjelasan kepada keduanya.
Ebra yang ditatap seperti itu tentu saja menghela nafasnya dengan panjang kemudian mulai membuka suara dan menjelaskan segalanya tentang maksud kedatangannya hingga sampai ke kamar Mikaila. Mendengar cerita Ebra yang mengatakan bahwa kedatangan Ebra ke kamar Mikaila untuk meluruskan sikap aneh Mikaila kepada Allen, kemudian membuat Allen mengerutkan keningnya dengan bingung karena Ebra malah membawa bawa dirinya, meskipun apa yang di katakan oleh Ebra juga sempat terbesit di pikirannya namun Allen tepis jauh-jauh karena Allen pikir perubahan sikap Mikaila kepada dirinya hanyalah perasaannya saja.
"Lalu apa kamu tidak mempunyai alasan di balik sikap mu itu Kai? Mumpung kita berkumpul di sini mari kita selesaikan secara kekeluargaan." ucap Ebra kemudian diakhir penjelasannya.
Mendapat pertanyaan tersebut Mikaila Langsung terdiam sejenak, bayangan tentang bagaimana Fatur mengatakannya tepat sebelum kematian Fatur kemarin mendadak terlintas dibenaknya, membuat Mikaila seakan kembali teringat kenangan pahit tersebut dimana ia harus menyaksikan teman-temannya satu persatu pergi dengan cara yang tidak wajar.
Mikaila menghela napasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah Allen dan juga Ebra, raut wajah Allen kini bahkan sudah berubah dengan raut muka yang penasaran seakan ia tengah menanti jawaban dari Mikaila.
"Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak hanya saja sebelum kematian Fatur... Fatur sempat mengatakan bahwa apa yang terjadi semua ini memang sudah di rencanakan dan Allen sudah mengetahui segalanya, mengorbankan mereka demi menyelamatkan aku itu adalah hal yang buruk! Apa yang kau lihat pada diriku Al? Sehingga kau lebih memilih ku daripada semua teman teman mu yang sudah bersama mu lebih lama dari ku." ucap Mikaila panjang kali lebar.
Sedangkan Allen dan juga Ebra yang mendengar ucapan Mikaila barusan mendadak terdiam seketika, apa yang di ucapkan oleh Mikaila barusan Ebra juga mengetahuinya karena memang inilah yang mendasari dirinya sampai hingga ke titik ini. Memang tidak ada unsur paksaan dari Allen karena memang kedatangan mereka berenam dalam event ini murni karena keinginan mereka sendiri yang ingin terbebas dari segala kegilaan yang ada di sekolahan ini.
"Kau salah Kai, keikutsertaan kami..." ucap Ebra hendak menjelaskan namun terhenti ketika tangan Allen menyentuh pundak Ebra seakan mengisyaratkan untuk tidak melanjutkan ucapannya.
Ebra yang mengerti akan isyarat tersebut lantas langsung terdiam sambil menatap ke arah Allen mencoba mencari jawaban lewat sorot mata Allen yang kini tengah menatap ke arahnya.
"Apa yang dikatakan oleh Fatur adalah kebenarannya, aku bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi kepada Arhan, Fatur, Rama, Emeli, dan juga Linda. Aku akui bidikan ku tidak tepat pada sasaran sehingga menewaskan beberapa merpati yang bukan buruan ku. Akulah penyebab masalah ini terjadi." ucap Allen yang tentu saja membuat Ebra dan juga Mikaila terkejut ketika mendengarkannya.
__ADS_1
Ebra yang merasa ucapan Allen barusan tidaklah benar kemudian bangkit dari posisinya bersiap untuk melayangkan protes kepada Allen.
"Apa-apaan kau Al? Jangan membuat cerita yang bukan-bukan Al!" protes Ebra yang lantas membuat Mikaila kembali terkejut.
"Sebaiknya kita tidur saja ini sudah malam!" ucap Allen sambil menarik tangan Ebra agar keluar dari sana.
"Lepaskan aku Al.. kita harus membereskan masalah ini terlebih dahulu!" ucap Ebra sambil berusaha melepas tarikan tangan Allen yang terus menariknya keluar dari kamar Mikaila.
Sedangkan Mikaila yang melihat segalanya hanya bisa diam terpaku seakan bingung antara percaya akan ucapan Allen atau percaya kepada ucapan Ebra. Dua orang yang berbeda pendapat membuat kepala Mikaila kian berdenyut karena tidak tahu harus percaya kepada siapa.
"Ah terserah mereka lah!" ucap Mikaila dengan nada yang kesal.
***
Ebra yang sedari tadi di tarik paksa keluar dari kamar Mikaila, lantas menghempaskan tangan Allen begitu saja ke udara. Ditatapnya manik mata Allen dengan tatapan yang tajam karena Ebra merasa tidak terima Allen hanya menanggung semuanya sendiri padahal kenyataannya sama sekali tidak seperti itu.
"Apa yang mau kau katakan sekarang?" ucap Ebra dengan nada yang ketus.
Sedangkan Allen yang mendapat pertanyaan tersebut tidak tahu mau mengatakan apa, pikirannya kini bahkan terasa blank. Entah mengapa mendengar Fatur mengatakan hal demikian membuat hatinya merasa tercubit walau Allen tidak mendengarnya secara langsung. Perasaan bersalah itu seakan kembali datang dan memenuhi hatinya ketika Allen mengetahui isi hati Fatur terhadapnya.
Allen benar benar tidak menginginkan hal ini terjadi, kebodohan terbesarnya yaitu mengajak teman-temannya untuk ikut bergabung dalam event ini meski ia tahu kesempatan untuk kembali bersama-sama sangatlah tipis.
Helaan nafas terdengar berhembus kasar dari mulut Allen, membuat Ebra kemudian ikut menghela napasnya dengan panjang dan menurunkan sedikit emosinya.
__ADS_1
"Perlu aku tekankan sekali lagi padamu Al, bahwa aku datang karena niat ku sendiri, bukan karena paksaan atau bahkan ancaman darimu!" ucap Ebra dengan nada penuh penekanan.
"Oke memang itu pendapat mu, tapi bagi yang lain? kenyataannya tidak semudah itu karena memang aku yang mempelopori segalanya." ucap Allen tidak mau kalah.
"Persetan dengan yang lainnya! lagipula Fatur sudah tidak ada di sini, jika memang Fatur menganggap demikian maka biarkan saja, tapi yang jelas pemikiran ku dan pemikirannya berbeda!" ucap Ebra sekali lagi dengan nada yang kesal kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Allen seorang diri.
**
Di sebuah tempat tanpa penerangan cahaya sama sekali, beberapa pria dengan pakaian jas hujan nampak berkeliling menyusuri setiap area tempat tersebut yang mungkin hampir mirip seperti saluran bawah tanah atau sejenisnya.
Salah seorang dari mereka nampak berlarian mendekati pemimpin mereka.
"Mayat gadis itu sudah di temukan pak, ada di sebelah sana." ucap pria tersebut memberikan laporan.
"Lalu apakah mayat yang satunya sudah di temukan?" tanya ketua beberapa pria tersebut.
"Saya belum menemukannya di manapun pak." jawab pria tersebut sambil menundukkan kepalanya.
"Cari jasad pemuda itu sampai ketemu, bahkan kalau perlu sampai ke lubang semut sekalipun!" ucap ketua tersebut dengan nada yang meninggi membuat beberapa orang yang tengah mencari sedari tadi lantas terdiam seketika karena terkejut.
"Baik pak"
Bersambung
__ADS_1