
Rumah sait
Setelah mendapat kabar dari Dokter yang tanpa sengaja memeriksa pasien dengan gejala yang hampir mirip dengan efek samping racikan dari obatnya, membuat Riko yang memang sedari semalam tengah mencari keberadaan dari Vanya lantas langsung menyempatkan diri untuk melajukan mobilnya ke kota dan menghampiri salah satu Rumah sakit dimana tempat Dokter tersebut bekerja.
Dengan langkah kaki yang bergegas dan terburu-buru, Riko terlihat melangkahkan kakinya menyusuri area koridor Rumah sakit menuju ke arah Ruang praktek Dokter tersebut. Riko yang tidak sabaran, begitu langkah kakinya sampai di ruangan Praktek Dokter tersebut lantas langsung membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hingga membuat Dokter tersebut yang sedang berkonsultasi dengan seorang pasien, melihat pintu ruangan yang langsung di buka begitu saja tentu saja terkejut dan dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Katakan dimana ruang perawatannya Gilang!" ucap Riko secara langsung tanpa basa-basi dengan nada yang meninggi, membuat Dokter tersebut yang dipanggil Gilang oleh Riko lantas menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar perkataan Riko barusan.
Gilang yang mendapat pertanyaan tersebut bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Riko melainkan malah mengarahkan kepada pasiennya untuk meninggalkan ruangannya terlebih dahulu dengan sopan, membuat Riko yang melihat hal tersebut tentu saja kesal bukan main. Baru setelah kepergian pasien tersebut dari ruangannya, Gilang yang tak ingin siapapun mendengar pembicaraannya lantas langsung mengunci pintu ruangannya dari dalam.
"Katakan dimana ruangannya ku bilang? Apa kau tidak mendengar ku ha?" ucap Riko sekali lagi yang kali ini dengan nada sedikit menukik tajam.
"Dia sudah pergi" ucap Gilang dengan nada yang santai.
Sedangkan Riko yang mendengar perkataan dari Gilang barusan tentu saja terkejut bukan main, bagaimana bisa Gilang sesantai itu mengatakan bahwa pasien tersebut sudah pulang. Sedangkan ia bahkan jauh-jauh dari Sekolahan langsung mengendarai mobilnya kemari hanya untuk bertemu dengan orang tersebut. Riko yang sudah terlanjur kesal akan tingkah dari Gilang yang terlewat santai itu, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Gilang dan mencengkram dengan erat kerah baju Gilang, membuat Gilang langsung terkejut seketika disaat mendapat perlakuan tersebut dari Riko barusan.
"Apa kau sedang mempermainkan ku ha? Jangan coba-coba melakukan hal itu Lang!" ucap Riko memperingati Gilang.
__ADS_1
"Untuk apa aku bermain dengan mu? Bukankah ini semua salah mu karena kau yang bertindak ceroboh? Lalu mengapa kau malah menyalahkan ku?" ucap Gilang sambil tersenyum tipis ke arah Riko saat ini.
"Kau..." ucap Riko hendak melayangkan sebuah pukulan ke arah Gilang namun terhenti di udara ketika Riko menyadari bahwa apa yang ia lakukan saat ini hanyalah sia-sia saja karena kenyataannya Vanya sudah tidak lagi ada di Rumah sakit ini.
***
Sementara itu di sebuah rumah milik Ardi, terlihat Arhan tengah melangkahkan kakinya seperti setrikaan ke kanan dan ke kiri selama beberapa kali. Membuat Ardi yang melihat tingkah laku Arhan tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke ara dimana Arhan berada kemudian menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah Arhan.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan nak Arhan? Duduklah... Tidak baik jika kamu terus mondar-mandir seperti itu sedari tadi." ucap Ardi kemudian memberikan nasihat kepada Arhan agar duduk terlebih dahulu dan berpikir dengan jernih.
"Apa Bapak sudah mengetahui semua ini?" tanya Arhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Ardi, namun berhasil membuat Ardi langsung menatap ke arahnya ketika mendapat pertanyaan tersebut.
"Tentang apa ini nak?" tanya Ardi kemudian
"Tentang Vanya, tentang sekolah, dan tentang semua hal gila yang terjadi selama ini." ucap Arhan dengan nada yang sedikit pasrah.
Entah mengapa semakin kesini Arhan merasa permasalahan yang dihadapi dan berusaha dibereskan oleh mereka, lantas menjadi kian besar dan terjalin antara satu dengan yang lainnya, membuat Arhan semakin kebingungan harus menyelesaikan yang mana dulu tentang permasalahan ini. Sedangkan Ardi yang mendengar perkataan dari Arhan barusan lantas tersenyum, membuat Arhan menjadi bertanya-tanya akan maksud dari senyuman tersebut.
__ADS_1
"Semua sudah terjadi cukup lama nak dan Bapak sendiri bahkan tidak tahu awal mula dari segalanya. Bapak, Manda dan juga Zaki hanyalah murid biasa yang menginginkan kedamaian serta keselamatan teman-teman Bapak di kala itu." ucap Ardi sambil memutar kembali ingatannya tentang masa sekolahnya dulu.
Mendengar perkataan dari Ardi barusan tentu saja membuat Arhan menjadi bertanya-tanya. Sebuah nama yang keluar dari mulut Ardi membuat rasa penasaran dalam diri Arhan menjadi bertambah, mengingat apa yang diucapkan oleh Ardi barusan sungguh berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada kenyataannya. Ardi yang seakan tahu arti dari tatapan Arhan kepadanya lantas kembali tersenyum menatap ke arah Arhan, membuat Arhan semakin dibuat tidak mengerti karena Ardi selalu saja memberikan sebuah penjelasan yang bersifat teka-teki, terasa begitu ambigu ketika perkataan Ardi dicerna oleh Arhan.
Ardi yang tidak ingin menambah rasa penasaran dari Arhan kian memuncak, membuat Ardi pada akhirnya mulai bercerita dan memutar kilas balik masa lalunya ketika bersama Manda dan juga Zaki saat itu.
Awalnya semua penelitian mereka tentang sekolah tersebut berjalan dengan lancar, hanya saja ketika sebuah peristiwa penculikan Manda saat itu membuat tingkah laku Zaki lantas berubah 360 derajat dari biasanya. Zaki yang semula paling semangat mengumpulkan setiap clue yang mereka temukan untuk membuktikan bahwa ada yang tidak beres di Sekolahan tersebut. Semenjak kejadian malam itu perlahan-lahan semuanya mulai berubah.
Tidak hanya sikap Zaki saja melainkan tutur kata dan juga perilakunya yang dominan membela ke arah yang salah, membuat hubungan ketiganya menjadi merenggang dan tidak seperti dulu lagi. Tidak ada yang pernah tahu apa yang terjadi dengan Zaki malam itu
Arhan yang sedari tadi mendengarkan cerita dari Ardi tentang kejadian di masa lalu, lantas membuat Arhan terdiam seketika. Entah mengapa Arhan yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Zaki setelah kejadian malam itu. Hanya saja apa yang disembunyikan oleh Zaki, Arhan sama sekali tidak mengetahuinya.
Ardi yabg melihat Arhan hanya terdiam saja tanpa menanggapi ceritanya, lantas mulai menatap bingung ke arah Arhan seakan sedang bertanya-tanya apa yang sedang Arhan pikirkan saat ini.
"Apa yang membuat mu terdiam?" tanya Ardi kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Bersambung
__ADS_1