
"Hei kau!" pekik sebuah suara yang lantas menghentikan langkah kakinya.
Arhan terdiam ditempatnya sambil memikirkan sebuah cara agar bisa terhindar dari seseorang di belakangnya atau jika tidak ia pasti akan di antar kembali ke Sekolah dan semuanya pasti akan runyam.
Tak tak tak
Sebuah suara langkah kaki yang beradu dengan lantai lantas terdengar semakin mendekat ke arah Arhan, sedangkan Arhan masih tetap sama di posisinya. Jika Arhan lari saat ini sekalipun, ia tetap akan kalah mengingat kakinya yang dalam kondisi terkilir tidak akan mungkin bisa berlari dengan cepat. Arhan yang tidak punya pilihan lain selain menghadapi orang tersebut, lantas perlahan-lahan mulai berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.
"Siapa kamu?" tanya seorang pria yang menatap dengan tatapan menelisik ke arah Arhan dari atas hingga bawah.
Penampilan Arhan yang sedikit pucat di sertai beberapa luka pada sekujur tubuhnya, membuat pria tersebut lantas terlihat mengernyit sambil terus menatap ke arah Arhan saat ini.
"Saya..." ucap Arhan bingung menjelaskannya.
"Apa kamu murid dari Enigmatis high school?" tanya pria tersebut dengan raut wajah penasaran.
Arhan yang mendengar pertanyaan tersebut tentu saja semakin dibuat serba salah. Arhan takut jika ia mengatakan yang sebenarnya, pria ini akan membawanya kembali ke Sekolah padahal Arhan sudah dinyatakan meninggal oleh pihak Sekolah. Entah akan jadi seperti apa Arhan jika ia tiba-tiba muncul kembali di Sekolah.
"Sial, apa aku akan dikembalikan ke Sekolah?" ucap Arhan dalam hati.
Ketika Arhan tengah dilanda perasaan yang penuh kekhawatiran, seulas senyum malah terlihat dari wajah pria itu begitu melihat raut wajah yang di tunjukkan oleh Arhan saat ini.
"Tak perlu takut, aku tidak akan membawa mu kembali ke Sekolah terkutuk itu." ucap pria tersebut yang kali ini dengan memasang raut wajah yang lebih ramah kepada Arhan.
__ADS_1
Sedangkan Arhan yang mendengar ucapan dari pria itu tentu saja terkejut bukan main karena tidak menyangka akan perkataan pria itu yang mengatakan tidak akan pernah mengantarnya kembali ke sana.
"Apa itu benar pak?" tanya Arhan kemudian.
****
Di sebuah mobil yang sedang melaju membelah jalanan Ibu kota, terlihat Arhan tengah duduk di kursi penumpang sedangkan seseorang yang menyetir di sana adalah pria yang tadi ia temui di garasi yang mengaku bernama Ardi.
Setelah aksi Arhan diketahui oleh Ardi, Arhan yang mengira bahwa Ardi akan mengantarkannya kembali ke Sekolah tapi nyatanya malah menawarkan Arhan untuk mengantarkannya pulang. Arhan yang mendapat tawaran tersebut tentu saja awalnya sedikit ragu, namun ketika Arhan benar-benar masuk ke dalam mobil dan mulai mengambil jalan pulang ke rumahnya, membuat Arhan yakin bahwa Ardi bukanlah orang yang jahat.
"Apa sebenarnya alasan bapak menolong saya? Bukankah bapak juga bekerja untu Bu Viola?" ucap Arhan dengan nada yang ragu-ragu namun juga penasaran akan maksud dan tujuan dari Ardi yang menolongnya itu.
Mendengar pertanyaan dari Arhan barusan, membuat Ardi lantas menepikan mobilnya dan berhenti di bahu jalan, membuat Arhan lantas mengerutkan keningnya dengan tatapan yang bingung ke arah Ardi saat ini.
Arhan yang mendengarkan ucapan dari Ardi barusan tentu saja langsung setuju, hanya saja ada satu hal yang mengganjal dalam diri Arhan ketika Ardi mengatakan hal tersebut dengan lantangnya.
"Jika memang bapak tidak menyukainya, lalu alasan apa yang mendasari bapak bekerja untuk Sekolahan terkutuk itu?" tanya Arhan dengan raut wajah yang penasaran sambil terus menatap ke arah manik mata Ardi mencoba mencari kebenaran di sana.
***
Enigmatis high school
Zaki yang memang sudah tidak sabaran, lantas terlihat turun dari mobil dengan langkah kaki yang tergesa menuju ke rumah singgah bagi para pengajar di Sekolah ini. Di Langkahkan kakinya secara perlahan namun lebar menuju ke suatu rumah seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah ia kunjungi selama beberapa tahun belakangan ini, walau keduanya bekerja di satu yayasan.
__ADS_1
Zaki mengetuk pintu rumah salah satu kenalannya itu dengan cukup kerasa selama berulang kali, berharap ia akan langsung keluar dan membukakan pintu untuknya. Zaki benar-benar butuh penjelasan saat ini juga, hingga kemudian tidak berapa lama suara pintu yang di buka dari luar lantas membuat Zaki langsung menatap dengan tajam tepat ke arah pintu masuk rumah tersebut.
"Untuk apa kau datang kemari?" ucap sebuah suara yaitu Manda yang terkejut akan kedatangan Zaki setelah sekian lama tidak pernah lagi datang kemari untuk mengunjunginya.
Mendengar pertanyaan tersebut Zaki bukannya menjawab malah mendorong tubuh Manda masuk ke dalam rumahnya kemudian menutup pintunya dengan keras, membuat Manda yang melihat tingkah Zaki seperti itu lantas langsung menatap tajam kepada Zaki.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan ha?" pekik Manda yang tidak mengerti akan tingkah Zaki kepadanya.
Zaki yang mendengar teriakan dari Manda lantas tersenyum dengan sinis kemudian mendorong tubuh Manda ke sudut tembok. Manda yang mendapat serangan tiba-tiba tentu saja sama sekali tidak bisa memberontak selain merasa terkejut akan kelakuan Zaki yang semakin gila. Seulas senyuman yang licik terbit dari wajah Zaki sebelum pada akhirnya dengan ganasnya Zaki m*l**at begitu saja bibir ranum milik Manda dan menghisapnya cukup kuat, membuat Manda langsung melotot ketika mendapat serangan yang mendadak dari Zaki.
Sambil meremas kedua gunung kembar milik Manda dengan kasar, Zaki terus melancarkan aksinya dan bermain dengan arogan menjelajahi bibir Manda.
"Ada apa dengannya?" ucap Manda bertanya tanya akan tingkah Zaki yang tiba-tiba seperti orang kerasukan.
Hingga ketika Manda merasa ada yang salah dengan Zaki, Manda kemudian langsung menggigit bibir bagian bawah milik Zaki dan langsung mendorong tubuhnya agar menjauh dari dirinya.
Disaat tautan keduanya terlepas, baik Zaki maupun Manda langsung mengambil nafas dalam-dalam sambil saling menatap ke arah satu sama lain dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Diusapnya sedikit noda darah yang terlihat pada bibir bagian bawah Zaki karena gigitan yang berasal dari Manda baru saja.
"Apa kau itu sudah gila? Sebenarnya kau itu kenapa sih? Datang-datang main nyosor seperti itu!" pekik Manda dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah Zaki yang terlihat menatapnya dengan tatapan yang ingin.
"Bukankah ini yang kau inginkan? Ayolah Nda... berhenti ikut campur dalam pekerjaan ku dan aku akan memberikan apa yang kau mau." ucap Zaki sambil tersenyum meremehkan kepada Manda.
"Apa maksud ucapan mu?"
__ADS_1
Bersambung