No Exit

No Exit
Meminta bantuan


__ADS_3

Kantin


"Sekarang kamu harus ceritakan padaku apa yang terjadi kepadamu, hingga kamu begitu ketakutan ketika melihat pak Rahmat yang tengah melintas di depan kelas kita tadi." ucap Allen dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Mikaila sambil mulai menyendok makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.


Mikaila yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja bingung harus menjelaskannya bagaimana. Masalahnya Mikaila belum terlalu yakin jika yang mengejarnya kemarin adalah pak Rahmat, meskipun jelas-jelas Mikaila melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika pak Rahmat membuka tudung kepala yang ia kenakan malam itu.


Allen yang tak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaannya, lantas menghentikan gerakannya dan menatap Mikaila dengan tatapan yang menelisik. Dalam manik mata Mikaila, Allen melihat gurat wajah penuh kegelisahan yang bercampur dengan rasa takut akan sesuatu hal yang membuat Allen kian menjadi penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi kepada Mikaila.


Helaan nafas terdengar berhembus dari mulut Mikaila, membuat Allen lantas menatap ke arah Mikaila dengan tatapan yang penuh penasaran.


"Aku tidak tahu apakah kamu akan percaya atau tidak, tapi yang jelas aku benar-benar melihatnya semalam." ucap Mikaila yang lantas membuat Allen kian mengernyit dengan tatapan yang bingung.


Hingga kemudian Mikaila kembali membuka suaranya dan menceritakan apa yang terjadi kepadanya semalam. Mikaila menceritakan kejadiannya dengan runtut tepat ketika dirinya dan juga Allen berpisah kemarin malam. Sebuah suara langkah kaki yang mendadak terdengar membuat Mikaila mulai berlarian menghindari suara derap langkah kaki itu dengan langkah kaki yang ketakutan. Hingga sebuah tangan yang entah datang dari mana menarik Mikaila hingga jatuh dan menggelinding ke bawah.


Mikaila menarik nafasnya sebentar kemudian kembali melanjutkan ceritanya. Mikaila mengatakan bahwa ia juga benar-benar terkejut ketika mengetahui bahwa yang menariknya ternyata adalah Rini. Tidak sampai di sana saja keterkejutan Mikaila bertambah dua kali lipat, ketika ia mengetahui ternyata yang sedari tadi mengikutinya adalah pak Rahmat penjaga sekolahnya sendiri.


Sedangkan Allen yang mendengar kisah Mikaila hingga akhir nampak berpikir dengan keras, bagaimana bisa ia tidak mendengar apapun saat itu, padahal jelas-jelas selang waktu ketika keduanya berpisah kala itu tidaklah lama. Bukankah seharusnya Allen mendengar sesuatu jika memang Mikaila dikejar oleh seseorang?


Allen yang mendengar segalanya mendadak merasa bersalah karena kemarin Allen tidak mengantar Mikaila hingga ke asrama. Mikaila yang melihat raut wajah Allen lantas menatap dengan bingung sekaligus bertanya-tanya akan perubahan raut wajah Allen setelah mendengarkan ceritanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Kai, harusnya aku mengantar mu hingga ke asrama kemarin malam." ucap Allen dengan raut wajah yang merasa bersalah.


"Jangan menyalahkan dirimu Al, yang terpenting sekarang bukanlah itu melainkan kita yang sudah mendapatkan clue penting dalam segala hal yang sedang kita selidiki bersama selama ini." ucap Mikaila.


"Kau benar Kai, setidaknya kita bisa memulai apa yang seharunya kita selesaikan." ucap Allen dengan nada yang yakin, membuat Mikaila lantas tersenyum ketika mendengar hal itu seakan setuju akan perkataan dari Allen barusan.


***


Kediaman keluarga Arhan.


Terlihat Arhan tengah menatap ke arah pintu masuk mansion milik Ayahnya. Ada sedikit perasaan ragu yang memenuhi hati Arhan ketika ia bersiap melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion tersebut. Hingga setelah beberapa menit Arhan terus menatap ke arah pintu utama, pada akhirnya Arhan memilih untuk masuk ke dalam dan bertemu dengan ayahnya yang mungkin saat ini ia sedang ada di rumah.


Dengan langkah kaki yang perlahan Arhan mulai masuk ke dalam rumah sambil mengedarkan pandangannya menatap ke arah sekitar mencoba mencari seseorang di sana.


"Mama..." panggil Arhan kemudian.


Arhan benar-benar bahagia bisa melihat Ibunya setelah 2 tahun lebih lamanya Arhan tidak pernah bertemu sekalipun dengan Ibunya. Melihat hal tersebut Arhan lantas mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah Alin kemudian memeluknya dengan erat seakan melepaskan rasa kangen yang sudah selama ini ia pendam.


Alin yang melihat putranya datang bukannya senang malah langsung melepas pelukannya dengan erat dan langsung memukul punggung putranya itu. Membuat Arhan tentu saja langsung terkejut ketika menerima pukulan tersebut.

__ADS_1


"Apa kamu kabur dari sekolah? Dasar anak nakal, bukannya belajar malah melarikan diri. Jika sampai Ayahmu tahu dia pasti akan..." ucap Alin namun keburu kepotong ketika sebuah suara yang menggelegar memenuhi telinga keduanya.


"Apa yang dilakukan anak itu disini?" ucap sebuah suara yang berasal dari anak tangga.


Baik Arhan dan juga Alin dengan spontan menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara menggelegar yang pasti berasal dari Baskara, seseorang yang sedari tadi tengah diperbincangkan oleh keduanya. Alin yang melihat Baskara nampak memasang wajah datar lantas berusaha untuk mendorong anaknya agar meminta maaf kepada Ayahnya dan memberikan alasan agar Baskara tidak salah paham kepadanya.


Arhan yang tentu mengerti akan kode yang di berikan oleh Alin, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Baskara, hari ini Arhan akan menjelaskan segalanya hanya saja bukan tentang sesuatu yang disuruh oleh Alin, melainkan mengeluarkan semua isi hati dan unek-uneknya yang sudah ia tahan selama 2 tahun lebih belakangan ini.


Sambil menghela nafasnya dengan panjang Arhan terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Baskara berada dengan langkah kaki yang yakin, membuat Baskara yang melihat anaknya itu datang mendekat hanya memperhatikannya saja tanpa berniat merubah ekspresi wajahnya yang datar.


"Apa yang kau lakukan disini Ar, bukannya kau harusnya masih di sekolah?" tanya sebuah suara yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat begitu mendengar suara ribut-ribut di bawah.


"Ada sesuatu yang harus aku katakan kepada Ayah saat ini juga." ucap Arhan sambil menatap lurus ke arah Baskara seakan tidak memperdulikan pertanyaan yang berasal dari Ibu tirinya barusan.


Melihat tingkah Arhan yang begitu angkuh membuat raut wajah Fara langsung berubah memerah seakan ia tak suka akan sikap yang di tunjukkan oleh Arhan kepadanya barusan.


"Anak dari hasil selingkuhan saja belaguknya minta ampun!" gerutu Fara dalam hati ketika melihat tingkah Arhan yang semakin menjadi-jadi walau sudah tidak pernah bertemu selama 2 tahun lamanya.


"Ada yang tidak beres dengan sekolah itu Yah, bahkan aku hampir mati terbunuh dalam permainan gila mereka. Aku berharap kepada Ayah agar mau membantu teman-teman ku keluar dari sekolah terkutuk itu jika tidak mereka semua akan mati...." ucap Arhan namun terhenti ketika sebuah tamparan mendarat tepat pada area pipinya ketika Arhan berusaha untuk meminta pertolongan kepada sang Ayah untuk menyelamatkan teman-temannya dari sana.

__ADS_1


Plak...


Bersambung


__ADS_2