
Malam itu suara jeritan yang terdengar melengking berasal dari arah pondokan di mana tempat perjamuan besar terjadi tadi siang. Satu persatu suara teriakan kesakitan serta erangan tidak ada satu pun yang luput dari pendengaran mereka berdelapan malam itu.
Setelah Ebra yang melihat senjata tajam melayang malam itu, ketiganya kemudian memutuskan untuk secara perlahan lahan bergerak dan bersembunyi di antara rerumputan yang tinggi di mana mungkin mereka bertiga tidak akan pernah di temukan oleh peserta lainnya.
Satu persatu suara alarm panjang mulai terdengar bersahutan yang menandakan banyaknya peserta yang gugur malam itu, membuat Mikaila yang tidak tega mendengarnya hanya bisa menutup telinganya dengan erat. Tidak ada waktu untuk sekedar menyelamatkan mereka yang terlibat aksi saling membunuh, karena apabila kita masuk ke dalamnya sudah bisa di pastikan bahwa kita lah yang mungkin akan terbujur kaku menggantikan mereka semua.
Di bawah semak semak yang rimbun, Mikaila hanya bisa meringkuk sambil memeluk lututnya dengan erat seakan berusaha menenangkan dirinya sendiri, yang tentu saja merasa ketakutan akan satu persatu teriakan yang terdengar menggema di telinga Mikaila berbarengan dengan suara bunyi alarm panjang yang lantas semakin membuat suasana kian mencekam malam itu.
Allen yang tahu Mikaila sedang tidak baik baik saja lantas menggenggam dengan erat tangan Mikaila, membuat Mikaila langsung menoleh dengan seketika ke arah Allen. Mikaila yang merasakan ketakutan perlahan lahan mulai mendekat dan bersembunyi di dalam pelukan hangat milik Allen, Allen menutup dengan erat kedua telinga Mikaila agar tidak bisa mendengar suara jeritan di malam itu, Mikaila yang merasakan ketenangan lantas semakin masuk ke dalam pelukan hangat milik Allen dan bersembunyi di sana.
Sedangkan Ebra yang melihat kelakuan kedua temannya itu, hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang sambil memutar bola matanya dengan jengah karena muak melihat keromantisan keduanya itu.
"Tidak bisakah kalian lihat situasi? jika ingin bermesraan seharusnya di hotel bukan di tengah hutan begini!" ucap Ebra dengan nada yang menyindir, membuat Allen langsung menatap tajam ke arah Ebra ketika mendengar ucapannya barusan.
"Diam dan jangan berisik, lakukan dua hal itu maka kita akan selamat." ucap Allen kemudian dengan nada bicara yang dingin.
"Iya iya terserah apa kata baginda Raja dan Ratu saja deh..." ucap Ebra dengan raut wajah yang malas.
Sedang Allen yang mendengar ucapan Ebra barusan, tidak lagi menggubrisnya dan hanya menatap kosong ke arah depan sambil masih menutup kedua telinga Mikaila, meski aksinya yang menutupi kedua telinga Mikaila agar tidak bisa mendengar suara jeritan itu, namun kenyataannya hanya dengan menutup kedua telinga saja tidak akan bisa meredam suara tersebut. Mikaila diam bukan karena ia tidak lagi mendengarnya, melainkan karena sikap Allen yang begitu perhatian membuat Mikaila merasa lebih aman berada di dekapannya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya
Sinar mentari pagi itu begitu terasa menusuk dan memaksa kelopak mata Allen agar bangun dari tidurnya. Allen yang tidak sadar ia ketiduran sampai pagi, lantas langsung terkejut dan menatap ke arah sekeliling mencoba memastikan keadaan sekitar, gerakan Allen yang tiba tiba tentu saja membuat Mikaila dan juga Ebra terkejut karena memang posisi mereka yang sedang tidur sambil bersandar di tubuh Allen.
"Ada apa sih Al? ini masih pagi buta... setidaknya berikan aku waktu untuk beristirahat sebentar!" ucap Ebra dengan nada yang kesal.
"Tidur? buka mata mu lebar lebar dan lihat kita ada di mana sekarang? bisa bisanya kau mengatakan untuk tidak mengganggu mu?" ucap Allen dengan kesal yang lantas membuat Ebra dengan spontan menatap ke arah sekeliling dan menyadari bahwa mereka masih berada di tengah tengah hutan hingga detik ini.
Mikaila yang melihat keduanya emosi, lantas berusaha menjadi penengah dan menepuk bahu Allen seakan mengisyaratkan agar Allen tidak lagi mengedepankan emosi di keadaan mereka saat ini.
Kring........
Selamat bagi kesepuluh peserta yang berhasil selamat dari event ini, tugas kalian selanjutnya adalah kembali ke tempat kalian semula datang dan masuk ke dalam sebuah lingkaran yang sudah tergambar jelas di tengah tengah hamparan tanah yang membentang luas di sana. Instruksi akan di berikan setelah kalian semua sampai di sana.
Mendengar suara tersebut baik Mikaila, Allen dan juga Ebra saling pandang satu sama lain, entah mengapa perasaan mereka tiba tiba saja tidak enak tepat setelah pengumuman tersebut terdengar di telinga mereka.
"Apa yang lainnya selamat?" tanya Allen kepada Ebra dan juga Mikaila yang tentu saja langsung di balas keduanya dengan anggukan kepala karena memang baik Mikaila maupun Ebra sama sama tidak mengetahui apakah yang lainnya selamat dari kejadian semalam.
__ADS_1
"Sebaiknya kita cari mereka sambil melangkah menuju ke tempat pertama kali kita datang atau lokasi ketika kita di kejar sapi kemarin." ucap Ebra yang lantas di balas anggukan kepala oleh Mikaila dan juga Allen.
Sesuai kesepakatan, ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke arah tempat di mana mereka pertama kali masuk dan terjadi insiden di kejar sapi kemarin. Dengan langkah yang perlahan namun pasti baik Allen, Ebra maupun Mikaila terlihat melangkahkan kaki mereka sambil mengedarkan pandangannya mencari teman temannya sekaligus bergerak menuju tempat sesuai arah yang di berikan oleh suara dari drone tadi.
Ketiganya terus melangkahkan kaki mereka melintasi daerah yang sepanjang langkah kaki mereka hanya terlihat pohon pohon besar dan juga semak belukar di sekitar mereka. Tidak ada kata kata mengeluh di antara ketiganya, bukan karena mereka tidak lelah hanya saja mereka bertiga ingin segera menyelesaikan permainan gila ini dan kembali ke sekolah, setidaknya di sana lebih aman walau setiap saatnya kematian mengancam mereka tanpa tahu siapa yang akan menjadi korban selanjutnya.
.
.
.
Setelah hampir 2 jam lebih berjalan, ketiganya sampai kembali di tempat pertama mereka datangi kemarin. Pintu gerbang bahkan hingga kini masih terlihat tertutup dengan rapat, membuat Mikaila hanya bisa mendengus dengan kesal ketika ternyata mereka masih terkurung di dalam hutan ini.
Allen, Ebra dan Mikaila kemudian lantas menghentikan langkah kaki mereka ketika melihat Arhan, Fatur, Emeli, Linda, dan juga Rama sudah sampai lebih dulu di area ini dan langsung melambaikan tangan begitu melihat Mikaila, Ebra dan juga Allen melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka.
"Kalian semua berhasil selamat?" ucap Allen dengan wajah yang berbinar.
"Iya kami berlima berhasil selamat, hanya tinggal selangkah lagi kita bisa pulang." ucap Linda dengan raut wajah yang bahagia.
__ADS_1
"Tapi tunggu sebentar... jika kita berdelapan selamat, lalu siapa dua orang lagi? bukankah tadi suara itu mengatakan kesepuluh peserta?" ucap Mikaila kemudian yang lantas membuat raut wajah yang lainnya berubah seketika.
Bersambung