
Ditengah hingar bingar euforia bazar kala itu, dibelakang panggung terlihat Mikaila dan juga Ebra tengah sibuk dengan hal lain di dalam kelas. Ebra dan juga Mikaila yang curiga gerak-gerik mereka di awasi lantas membuat keduanya berjaga-jaga di sana. Sambil menunggu Ebra mempersiapkan segalanya Mikaila terlihat menjaga pintu masuk ruang kelas agar tidak ada siapapun yang masuk ke dalam selain mereka berdua.
"Apa masih lama Ebra? Keburu ada orang yang mendekat nih!" ucap Mikaila dengan nada yang berbisik membuat Ebra yang mendengar perkataan Mikaila barusan lantas langsung berdecak dengan kesal.
"Diam lah dan jangan berisik Kai! Tugas mu hanya cukup mengawasi area sekitar saja." ucap Ebra dengan nada yang terdengar kesal karena Mikaila sedari tadi sangat berisik dan mengganggu konsentrasinya.
"Cepatlah sedikit!" ucap Mikaila kemudian yang lantas membuat Ebra langsung mendengus dengan kesal begitu mendengar kembali rengekam Mikaila barusan.
Cukup lama Mikaila menunggu proses editing dan juga upload yang di lakukan oleh Ebra. Sampai kemudian Mikaila yang mulai merasa jenuh lantas terlihat mengintip sedikit ke area luar. Mikaila yang semula hanya menganggap remeh sesuatu, begitu mengintip ke arah luar ia sedikit terkejut ketika melihat bahwa Rahmat dan juga Zaki tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah ruang kelas dimana tempatnya berada.
"Mati aku!" pekik Mikaila yang terkejut akan kedatangan keduanya.
Mikaila yang tidak tahu harus bagaimana kemudian mulai mengambil langkah kaki bergegas mendekat ke arah dimana Ebra berada. Dengan gerakan yang tiba-tiba Mikaila yang dalam posisi terburu-buru lantas langsung menarik baju Ebra sembarangan. Membuat Ebra yang di tarik begitu saja tentu terkejut, namun tidak bisa apa-apa selain hanya mengikuti arah tarikan Mikaila yang membawanya untuk turun dan bersembunyi di bawah kolong meja.
"Apa yang kau..." ucap Ebra hendak protes namun tangan Mikaila sudah lebih dahulu membekap mulutnya dengan rapat membuat Ebra tidak lagi bisa mengucapkan sepatah kata apapun juga.
"Ssttt jangan berisik ada yang datang." ucap Mikaila kemudian memberikan isyarat agar Ebra diam dan jangan membuka suaranya kembali.
Hingga kemudian tidak beberapa lama setelah keduanya bersembunyi terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras, membuat Ebra dan juga Mikaila lantas langsung saling pandang antara satu sama lain dalam keadaan terdiam tanpa suara.
__ADS_1
Tak tak tak
Suara derap langkah kaki terdengar menggema di ruang kelas kala itu, membuat Ebra dan juga Allen lantas menelan salivanya dengan kasar karena takut bahwa keduanya terciduk sedang berada di sini sedari tadi.
"Bagaimana keadaannya? Apa ada siswa yang berada di dalam kelas?" ucap sebuah suara yang keduanya yakini bahwa itu adalah Zaki.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Rahmat yang sedari tadi fokus menatap keadaan ke arah sekitar di kelas tersebut, lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Rahmat yang melihat Zaki berhenti di ambang pintu kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zaki dan berhenti tepat di hadapannya.
"Saya rasa kelas ini sudah kosong, kita cari di kelas yang lain saja." ucap Rahmat kemudian.
"Bagus, pastikan semua siswa ikut dalam acara kali ini dan jangan sampai ada yang tinggal di kelas ataupun di asrama." ucap Zaki kemudian memberikan perintah kepada Rahmat yang lantas dibalas Rahmat dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Rahmat dari ruang kelas tersebut, Zaki nampak mengedarkan pandangannya ke arah sekitar untuk mengecek kembali keadaan di sana. Zaki yang tadinya mengira ruangan kelas tersebut kosong begitu ia memutuskan untuk menyusul langkah kaki Rahmat, Zaki kemudian lantas langsung menghentikan langkah kakinya ketika ia melihat sebuah bayangan yang berada di bawah kolong meja. Zaki yang melihat hal tersebut dan tentu saja tahu jika ada seseorang di ruangan ini, lantas hanya tersenyum dengan tipis dan detik berikutnya berlalu pergi begitu saja meninggalkan bayangan tersebut tanpa menangkap seseorang yang tengah bersembunyi di sana saat ini.
"Apa pun yang akan kalian lakukan aku berharap semua akan berjalan dengan semestinya." ucap Zaki dalam hati sambil melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kelas tersebut.
Setelah memastikan bahwa Zaki dan juga Rahmat sudah pergi dari ruangan kelas tersebut, perlahan-lahan kepala keduanya mulai muncul ke permukaan untuk mengecek apakah suasana saat ini benar-benar telah kosong dan juga aman. Baik Mikaila maupun Ebra yang melihat suasana sudah aman, lantas langsung bisa bernapas dengan lega dan mulai bangkit dari tempat persembunyiannya.
"Apakah masih lama? Bukankah katamu tadi sebentar? Mengapa lama sekali?" ucap Mikaila kemudian dengan nada yang kesal membuat Ebra langsung memutar bola matanya dengan jengah.
__ADS_1
"Sebentar, hanya tinggal menunggu 5 persen lagi untuk sukses. Lagi pula mengapa kau disini? Bukankah aku meminta mu untuk berjaga tadi?" ucap Ebra kemudian dengan raut wajah yang bertanya-tanya membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Mikaila saat ini.
Ketika keduanya sedang asyik berdebat dan tidak ada yang mau mengalah antara satu dengan yang lainnya pintu ruang kelas yang semula tertutup mendadak terbuka kembali, membuat Mikaila yang mengetahui hal itu lantas dengan spontan kembali menarik bahu Ebra agar bersembunyi di sana.
"Apa lagi sekarang?" tanya Ebra tanpa suara yang terlanjur kesal akan Mikaila.
Keduanya kembali terdiam di tempatnya berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun juga. Sampai kemudian ketika keheningan terjadi di ruangan tersebut sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas terdengar dengan jelas, membuat Mikaila dan juga Ebra langsung bangkit dari tempat persembunyiannya.
"Apa kalian berdua ada di sini? Ebra... Mikaila...." ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Allen.
"Allen kau mengejutkanku tahu tidak?" ucap Mikaila dengan nada yang kesal ketika melihat Allen tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
"Aku minta maaf, lagi pula untuk apa kalian duduk di bawah seperti itu? Apa kelas ini sudah kehabisan bangku?" ucap Allen dengan nada yang menyindir padahal jika di lihat secara kasar pun tetap saja nampak begitu banyak kurai dan meja di ruangan kelas tersebut.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Mikaila langsung memutar bola matanya dengan jengah, namun malah berhasil membuat Allen tersenyum karenanya. Sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya, Allen kemudian berhenti dan mengambil posisi duduk tepat di tengah-tengah antara Mikaila dan juga Ebra.
"Terserah!" ucap Mikaila kemudian yang sudah malas untuk berdebat saat ini.
"Sudah selesai!" pekik Ebra kemudin membuat Mikaila dan juga Allen lantas langsung menatap ke arahnya.
__ADS_1
Bersambung