Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Menunggu mobil


__ADS_3

Sinar matahari pagi menerpa kulit wajah Raina yang sedang duduk di kursi teras depan. Dia terus memperhatikan jalanan yang mulai ramai dengan orang-orang yang berolahraga raga.


Weekend memang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk berolahraga dan berjalan-jalan bersama dengan keluarganya disekitar kompleks perumahan.


Mama Indi berjalan keluar rumah, seperti biasa dia akan menyiram tanaman yang ada didepan rumahnya setiap pagi.


"Ngapain kamu duduk sendiri? mana Suamimu?" tanya mama Indi sambil melihat sekeliling mencari keberadaan Raihan.


"Mas Rai mungkin lagi berolahraga, tadi waktu bangun dia sudah tidak ada dikamar" jawab Raina.


"Mungkin saja karena mobilnya masih ada" sahut mama Indi. "Jadi kamu menunggu suamimu pulang?"


"Tidak" jawab Raina singkat.


"Terus nungguin apa?" tanya mama Indi penasaran karena sejak tadi dia melihat pandangan Raina tidak pernah beralih dari jalanan.


"Aku nunggu apa yang dijanjikan mas Rai" jawab Raina.


Tak lama muncul Raihan sambil berlari mendekati Raina. Melihat pakaian olahraga milik suaminya membuat Raina memalingkan wajahnya yang memerah melihat bentuk tubuh yang tercetak dengan jelas karena memakai pakaian ketat.


"Kenapa disini? ayo kedalam, disini sudah panas" tanya Raihan sambil berjongkok di depan istrinya.


"Mas kenapa pakai pakaian seperti itu? mau menggoda gadis-gadis kompleks ya?" Raina marah melihat pakaian olahraga yang dikenakan oleh suaminya.


"Emang kenapa sayang? ini kan pakaian olahraga yang biasa aku pakai" tanyanya heran.


"Ketat begitu sampai menonjolkan otot-otot, mas Rai pasti sengaja ya biar bisa dilihat oleh gadis-gadis cantik ya"


"Bukan begitu sayang"


"Pokoknya mas dilarang pakai pakaian seperti itu. sana mandi dan ganti pakaian"


"Baiklah tapi ayo kita kedalam"


"Nanti saja, aku mau nunggu mobilku datang"


"Akh ****, mobil lagi. kirain dia sudah lupa dengan mobilnya" umpatnya dalam hati.


"Mobilnya masih lama datangnya, tunggu didalam saja" bujukannya.


"Aku mau nunggu disini, nanti mas ingkar janji" tolak Raina.


"Ya sudah, aku mandi dulu. kalau ada apa-apa panggil mas ya"


"Ada mama kok disini, mas mandi sana. bau keringat begitu"


Raihan kemudian beranjak meninggalkan Raina sambil mendengus. Raina yang keras kepala memang susah untuk dibujuk Jika sudah ada yang diinginkan. Sesampainya di kamar dia segera menghubungi sopir yang ada dimansion untuk segera mengantarkan mobil Raina.


Raihan kini telah berganti pakaian rumahan berjalan menuruni tangga menuju teras rumah dimana istrinya masih duduk di sana bersama dengan papa Chandra dan mama Indi.


Tampak raut bahagia diwajah istrinya. Kebiasaan bercanda dan saling melempar candaan mewarnai kebersamaan mereka.


Raihan hanya tersenyum memperhatikan dari ruang tamu. Dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan yang sudah beberapa Minggu belakang tidak melihatnya.

__ADS_1


"Mah, apa mama bahagia mengetahui tentang kehamilan Raina?"


"Sangat bahagia, ketika kamu masuk rumah sakit mama sempat khawatir tapi ketika dokter mengatakan jika kamu hamil seketika mama bahagia bercampur sedih melihat keadaanmu. apalagi setelah operasi kamu sempat koma" jawab mama Indi.


"Pah, apa tidak ada pengobatan alternatif yang dapat digunakan untuk mengembalikan ingatan yang hilang?" tanya Raina.


"Ada saraf yang rusak akibat kecelakaan itu. Dokter tidak bisa menjamin ingatan yang hilang dapat dikembalikan lagi. Tapi papa akan terus berusaha untuk membantumu mengembalikan ingatan walau kemungkinan akan memakan waktu yang lama" jawab papa Chandra.


Tampak raut sedih diwajah Raina. Dia ingin mengingat kebersamaan dengan suaminya seperti yang diceritakan oleh sahabatnya tapi tidak bisa.


Disaat Raina sedang berwajah sedih muncul mobil memasuki halaman rumahnya. Sebuah mobil BMW I8 Coupe yang masih baru dengan warna berbeda dengan sebelumnya.


Raut wajah yang awalnya sedih langsung ceria kembali setelah melihat mobil tersebut. Sopir yang membawa mobil itu mendekati Raina dan menyerahkan kunci mobil lalu pamit meninggalkan mereka.


Raihan mendekati Raina yang masih berdiri diam diteras rumah.


"Sekarang sudah senang kan?"


Raina hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Maaf warnanya tidak sama seperti sebelumnya"


"Tidak apa-apa yang penting modelnya sama. ini mobil impian ku sejak lama" jawabnya dengan sumringah.


"Mah, tadi perasaan wajahnya sedih sekali tapi sekarang entah kemana kesedihan itu menghilang" bisik papa Chandra kepada istrinya.


"Hust.. diam.. tadi mama bingung harus bagaimana menenangkan dirinya tapi Raihan punya cara sendiri untuk menenangkannya" mama Indi berbisik kepada suaminya.


"Kan sudah lihat Mobilnya, sesuai janji ayo kita masuk kedalam. aku belum sarapan sayang"


*****


"Sayang kamu kenapa?"


"Huekkk.. Hueekkk.."


"Sayang kamu tidak apa-apa?" Anton langsung bergegas masuk kekamar mandi.


"Keluar, badanmu sangat bau" usirnya. Suaminya ingin masuk kamar mandi tapi terus didorong keluar oleh istrinya.


"Aku sudah mandi sayang, sudah pakai parfum"


"Pokoknya keluar.. Huekkk.. Huekkk.. " Aulia terus memuntahkan cairan kuning karena makanan yang tadi dimakan sudah keluar semua. Badannya langsung melorot kebawah karena sudah lemah dan tak mampu menahan bobot badannya.


"Kamu apain menantuku?" tiba-tiba mama Arini datang memarahi anaknya karena mendengar ribut-ribut dikamar anaknya.


"Dia tiba-tiba muntah-muntah ma, aku mau bantu tapi katanya badanku bau" sahut Anton.


"Sini mama bantu sayang. Ayo kembali ke tempat tidur, mama panggilkan dokter ya" ucap mama mertuanya lalu memapah tubuhnya kembali ke tempat tidur.


"Ngapain kamu berdiri saja disitu, cepat panggil dokter. istrimu sudah lemah begini masih saja tinggal diam" omel mamanya.


Setelah 15 menit dokter datang memeriksa keadaannya. Dia hanya menatap dari luar kamar karena setiap dia mendekat akan langsung diusir oleh istrinya.

__ADS_1


"Tuan muda, maafkan saya.."


"Jangan lanjutkan kata-katamu kalau masih mau hidup" Anton langsung memotong ucapan dokter.


"Tapi tuan nona harus diperiksa oleh dokter spesialis..


"Diam jangan katakan lagi.. Sayang, aku akan berusaha untuk memanggil dokter spesialis terbaik untuk mengobatimu. kamu jangan sedih ya.." Bentak Anton. menurutnya jika sudah ditangani oleh dokter spesialis maka penyakit istrinya sangat parah.


"Tapi tuan nona harus..


"Pergi kau, kau kupecat karena tidak becus menangani penyakit istriku."


Plaakk..


"Aduh mama kok nabok sih" protesnya kepada mamanya.


"Kamu itu goblok atau bodoh sih. Dokter belum selesai bicara main potong saja. silahkan dokter lanjutkan apa yang mau dikatakan" sahut mama Arini.


"Aku tidak mau dengar tentang penyakit istriku dari mulutnya, dia bukan dokter spesialis" Anton kembali menyela perkataan dokter.


Plaakk.


Mama Arini kembali memukul kepala anaknya karena jengkel.


"Katakan dokter"


"Nona harus diperiksa oleh dokter spesialis kandungan nyonya. kalau menurut prediksiku nona saat ini sedang hamil" jawab dokter itu.


"Apa hamil?" ucap Anton kaget.


"Makanya dengar dulu perkataan dokter sampai selesai jangan main potong saja" omel mama Arini.


Sementara Aulia yang masih lemas hanya diam menutup matanya karena malu dengan kelakuan suaminya itu. apalagi dikamar bukan hanya mereka berempat tapi ada pembantu dan perawat yang datang bersama dengan dokter.


"Sayang" ucap Anton mendekati istrinya.


"Hueekkk.. Hueekkk.. Mas jangan mendekat. aku tidak suka dengan bau parfum mas Anton" ucap Aulia sambil menutup hidungnya dengan tangan.


"Huft.. Nasib, padahal tadi aku sudah mandi" gumahnya.


"Kamu keluar dulu, biarkan mama yang disini menjaganya" mama Arini mengusir anaknya keluar dari kamar.


"Nyonya bagaimana dengan nasibku? apa saya jadi dipecat?" tanya dokter.


"Kamu tidak akan dipecat, saya akan mengirimkan bonus untuk kamu" sahut Anton sambil berjalan meninggalkan kamarnya.


To Be Continued.


🎉Hai readers..🎉


Bagaimana dengan puasanya? semoga masih belum ada yang bolong.


Untuk mendukung author dalam menulis novel jangan lupa Vote, like'dan Komentar ya.

__ADS_1


Terima kasih dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan


__ADS_2