
Raina berjalan memasuki perusahaan Buana Group. Lestari yang melihat Raina masuk langsung mendekatinya “Selamat siang nona” sapanya.
“Direktur ada diruangannya? Tanya Raina.
“Ada nona, Direktur sedang menerima tamu perwakilan dari Grahadi Properti Nona” jawab Lestari.
“Kenapa wajahmu seperti menyembunyikan sesuatu?” tanya Raina curiga dengan ekspresi Lestari yang tidak seperti biasanya.
“Maaf nona, Perwakilan dari Grahadi properti memaksa menemui Direktur namanya Renata, sepertinya ingin menggoda Direktur dengan pakaian seksinya” Lapor Lestari.
“Antarkan aku kelift khusus” perintah Raina langsung diangguki oleh Lestari. Dia melangkah dengan anggun menuju lift khusus untuk menuju ruangan Direktur, karyawan yang melewatinya menunduk hormat. Setelah pintu lift terbuka Raina masuk dan Lestari menempelkan kartu khusus lalu memencet tombol angka 20 menuju lantai ruangan direktur. “Terima kasih, kamu kembali ketempatmu” ucap Raina dan lestari menunduk memberi hormat.
Lift bergerak naik kelantai 20 ting. Pintu lift terbuka, Raina melangkah keluar dari lift dia melihat meja kerja Anya kosong. Dia melangkah dan langsung membuka pintu ruang kerja Raihan dengan kasar membuat orang yang ada didalam ruangan sontak melirik kepintu.
Raihan yang duduk dimeja kerjanya juga ikut melihat siapa yang membuka pintu dengan kasar. “Kami sedang rapat, tidak punya sopan santun langsung masuk tanpa mengetuk pintu” sahut Renata yang melihat Raina.
Anya dan Ivan langsung tersenyum melihat Raina dibentak “Sepertinya akan ada korban berikutnya” Bisik Anya ditelinga Ivan.
“Kita nikmati pertunjukan ini sayang” Ivan ikut berbisik. Renata yang melihat orang didepannya berbisik sontak melirik kearah Raina yang sudah memasang wajah sangarnya.
“Ivan, Anya. Apa pembahasan penting sehingga saya menggangu meeting kalian?” tanya Raina dingin.
“Bukan Nona, dia memaksa masuk jadi kami hanya menjaga jangan sampai ada hal yang tidak diinginkan” jawab Ivan.
Raina langsung melirik kearah Raihan yang tersenyum kecut “Kenapa tidak diusir saja? Apa gunanya sekuriti ada diperusahaan ini? mereka hanya pajangan” sahut Raina yang membuat Raihan sontak berdiri. “Duduk kamu, siapa yang suruh berdiiri” bentak Raina lalu melirik Renata dan mendekatinya.
“Kamu siapa? Berani membentak Direktur” tanya Renata.
Raina masih berdiri sambil menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki “Begini kualitas berpakaian pegawai Grahadi yang seperti wanita panggilan” sahut Raina yang langsung membuat Renata berdiri karena tersinggung dan hendak melayangkan tamparan diwajah raina namun langsung ditahan oleh Raina. “Jangan sampai tangan indahmu ini tidak bisa kamu gunakan lagi jika menyentuh kulit pipiku” ancam Raina lalu menghempaskan tangan Renata. Raihan, Ivan dan Anya hanya diam melihat adegan itu. Mereka ingin tahu sampai mana Raina akan bertindak.
“Kamu berani menghinaku? Siapa kamu sebenarnya?”
“Ivan, jelaskan siapa saya” sahut Raina.
“Nona bernama Raina Chandra mahasiswa kedokteran..
“Aisss.. Gak usah dijelasin begitu. Saya siapa disini maksudku Ivanovic” Potong Raina sambil mendelik menatap Ivan.
“Nona Raina Calon istri dari Tuan Raihan yang sebentar lagi akan menikah” sahut Ivan.
Renata langsung kaget, ternyata Raihan sudah punya calon istri “Cuma gadis biasa yang menjadi calon istri Raihan, cara berpakaiannya pun biasa” ejek Renata.
__ADS_1
“Apa mesti berpakaian seperti wanita penghibur baru dikatakan cantik, sungguh rendah jika tubuhmu dilihat semua lelaki yang bukan suamimu” balas Raina.
“Kau berani menghinaku” Bentak dan mencoba menapar Raina dan tangannya langsung ditangkap oleh Raina dan memutarnya kebelakang punggungnya. “Akkhhh, lepasin brengsek” teriak Renata.
“Kan sudah saya katakan tanganmu tidak akan berfungsi jika menyentuh pipiku tapi karena belum menyentuh jadi cukup sedikit rasa sakit yang saya berikan” sahut raina yang masih memelintir tangan Renata.
“Aduhh lepasin gak” teriak renata kesakitan.
“Sepertinya tulangnya belum berbunyi, Anya kamu dengar suara bunyi tulang bergeser?” tanya Raina santai.
“Saya belum mendengarnya nona”
“Hei. Dasar sekertaris sialan, awas kau” bentak Renata.
“Nona. Saya dibentak, tidak ada yang pernah bentak saya” ucap Anya mendramatisir keadaan. Raina tambah memutar tangan renata “ Gretek .. Aakkk…. Suara bunyi tulang dan teriakan renata bersahutan. Raina kemudian
melepaskan puntiran tangannya. Renata langsung terduduk menahan sakit dilengannya yang terkilir.
“Ivan, panggilkan ambulans supaya dia bisa langsung dibawa kerumah sakit” sahut Raihan. Ivan kemudian memanggil Ambulans untuk datang menjemput Renata yang sudah pucat.
“Kenapa gak dibawa kedukun sayang? Tanya Raina.
“Maksudku tukang urut” ucap Raina santai lalu duduk disofa kosong dekat Anya. ”Ada air gak haus nih” ucapnya. Anya langsung berdiri menuju kulkas untuk mengambilkan Air minum
“Aku akan menuntutmu. Akhh” ancam Renata. “Silahkan, emang ada gitu saksi yang mengatakan saya menganiaya kamu? Ada bukti atau apa saja yang bisa menuntutku?” tanya Raina.
“Mereka melihat kamu memelintir tanganku” ucapnya sambil meringis menahan sakit dilengannya.
“Ivan, Anya, kamu melihatnya? Tanya Raina.
“Maaf nona, kami sibuk pacaran jadi tidak sempat melihatnya” ucap Anya langsung.
“Tuh mereka tidak melihatnya. Mas Raihan pasti sibuk jadi tidak sempat menengok, jadi saksimu mana? Kau sendiri yang mencari masalah dikandang singa” Raina mengatakan dengan tegas dan penuh penekanan sehingga membuat Renata sedikit takut.
Tok. Tok.
“Masuk” sahut Raihan. Muncullah sekuriti dan 2 orang perawat pria beserta seorang dokter.
“Bawa dia kerumah sakit nanti tangannya tak bisa digunakan jika terlambat” perintah Raina membuat dokter memeriksa lengan Renata dan memberikan pertolongan pertama lalu membawanya kerumah sakit.
Setelah team ambulans membawa Renata, Ivan dan Anya juga ikut meninggalkan ruangan itu. Tinggalah Raina dengan muka masamnya sambil menatap kosong kedepan.
__ADS_1
Raihan mendekati Raina yang sejak tadi diam saja “Ada apa sayang, kenapa diam saja?” tanya Raihan sambil meraih tangan Raina.
“Mas pasti senang kan melihat wanita berpenampilan seperti itu mendatangimu?” jawab Raina yang masih bermuka masam.
“Manalah mungkin mas suka sama cewek itu jika masa depan mas akan didampingi wanita yang paling cantik” gombal Raihan
Dia melirik Raihan yang terus menggenggam tangannya “Tapi aku tidak ada anggun-anggunnya yang ada cewek bar-bar seperti teman-temanku katakan” ucapnya lagi.
“Sepertinya ada yang cemburu” Goda Raihan.
Raina melengos “ Siapa yang cemburu sama nandini?” ucapnya .
“Namanya Renata bukan Nandini sayang” sahut Raihan.
“Nandini itu nama perempuan jelmaan Ular di film india”
“Hahahaha. Kamu nonton india atau telenovela sih sayang? Sepertinya umurmu bukan 20an deh karena itu tontonan ibu-ibu” ejek Raihan.
“Hei Fulgoso, berani kamu ngatain aku sudah tua begitu? Sudah ibi-ibu ya” Raina langsung menatap Raihan denga tajam seperti singa yang ingin menerkam, Raihan bergidik ngeri melihatnya.
“Bukan begitu sayang maksudku..
“Fulgoso, kamu menyalahkan aku?” Raina berdiri sambil berkacak pinggang.
“Sayang. Tapi Nandini di film kuch kuch hota hai itu nama ibunya Rahul dan Rohan sayang bukan difilm india yang ada ularnya” elak Raihan.
“Iya ya, kenapa aku lupa” sahut Raina sambil berfikir.” Ah aku ingat bukan Nandini tapi Nagin sayang” sahut Raina sambil duduk kembali seraya tersenyum bahagia karena mengingat nama di film india.
“Alamat gue bakal dapat drama india tiap hari kalau begini, mending kalau drama korea romantis kalau drama india masa tiap lihat pohon mesti nyanyi” gumah Raihan dalam hati.
“Kalau gitu aku mau ganti tontonan ah jadi drama korea biar dikatakan muda sama kamu” sahut Raina.
“Dia bisa baca fikiran gak ya? Kok jadi serem kalo ngumpat dalam hati” batin Raihan.
“Ya udah selesaikan kerjamu baru kita kecafe buat ketemu sama yang lain”
“Baik sayang, kamu disini dulu ya, mas lanjutin kerjaan dulu” ucap Raihan sembari mengecup kening Raina dan melangkah kemeja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu Raina menjadi topik hangat pembicaraan di grup karyawan tentang bagaimana calon istri direktur mampu membuat tangan Renata terkilir karena dipelintir gara-gara ingin menggoda direktur. Berita itu tersebar karena karyawan melihat Renata dibawah oleh ambulans dengan tangan yang dipakaikan penyangga, mereka kemudian menanyakan hal tersebut kepada Anya sekertaris direktur.
To be continued
__ADS_1