Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Raina Kembali Dioperasi


__ADS_3

Rahmat berjalan memasuki lobby perusahaan Citra Properti, dia langsung menuju ruangan wakil direktur tempat Anton berada.


"Hai Nyonya Anton. Apa suamimu ada diruangannya? tanya Rahmat kepada Aulia yang terlihat duduk di meja sekertaris.


"Iya, Dia ada didalam. Kamu ada urusan apa dengannya? tanya Aulia.


"Ada deh, eh sekalian panggilkan Satrio dong" ucapnya lagi.


"Tunggu saja didalam, nanti aku panggilkan" ucap Aulia.


Rahmat kemudian membuka pintu ruangannya Anton lalu masuk kedalam.


"Kirain siapa berani masuk tanpa mengetuk pintu. Duduklah dulu, aku selesaikan dulu pekerjaanku" ucap Anton mempersilahkan Rahmat duduk.


Anton kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Rahmat yang tampak seperti orang lagi galau duduk termenung di sofa.


Rahmat menghentikan pekerjaannya lalu beranjak mendekati sahabatnya itu "Lo kenapa lagi? Tidak biasanya kacau seperti orang kurang istirahat" tanya Anton setelah duduk didepan Rahmat.


Rahmat mengangkat kepalanya dan menatap Anton "Gue memang kurang istirahat. Lo tau, tiap malam gue harus bangun untuk memenuhi keinginan Tina, kalau tidak dipenuhi dia akan menangis" Ucap Rahmat.


"Sorry bro, gue gak bisa ngasih saran atau pendapat karena gue gak pernah ngerasain apa yang Lo rasain. lebih baik panggil gue bang Satrio kemari. dia lebih berpengalaman dalam urusan menghadapi ibu hamil" ucap Anton.


"Gak perlu dipanggil, dia sudah datang" ucap Aulia yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu.


"Bagaimana kabar bang?" tanya Rahmat.


"Baik, kamu kenapa sampai kucel begitu?" tanya Satrio.


"Biasa bang, dia lagi galau menghadapi istrinya yang sedang hamil muda" seru Aulia.


"Emang apa keinginan istrimu sampai kamu kacau begitu?" Tanya Satrio.


"Tiap malam gue harus bangun masak buat dia, malah pernah gue dikunciin diluar karena lupa kalo gue ikut dengannya keluar kamar" ucap Rahmat.


"Ow. hanya itu saja permintaannya?"


"Iya bang. Kalau gue tidak penuhi dia bakalan nangis" jawab Rahmat.


"Sabar saja, Memang begitu kalau istri lagi hamil di usia tiga bulan pertama"


"Kalau udah lewat gak begitu lagi kan bang?" tanya Rahmat..

__ADS_1


"Makin kacau bro. hahahaha" jawab Satrio.


"Eh, Lo itu harusnya bersyukur karena istrimu hamil. nah gue yang ingin istriku hamil tapi belum dikasi, sabar saja" ucap Anton.


"Jadi nanti kalau aku ngidam kamu bakalan penuhin mas? tanya Aulia.


"Pasti dong. kan namanya ikut menikmati kehamilan istrinya" jawab Anton.


"Permintaan Istrimu belum seberapa dibandingkan dengan permintaan istriku" sahut Satrio.


"Emangnya dia minta apa bang?


"Banyak, minta mangga muda padahal bukan musimnya dan saya harus kelilingi semua penjual buah sampai ketemu mangga. Pernah juga minta saya panjat pohon hanya karena dia ingin tahu saya bisa manjat apa tidak. pernah juga mau makan ikan tapi harus mancing sendiri disungai. Andaikan mau ditempat pemancingan ikan gampang, ini mintanya disungai. di sini mana ada sungai yang bersih terpaksa saya harus ke Bogor untuk mancing." Satrio menceritakan semua pengalaman yang dialaminya selama kehamilan istrinya.


"Hahahaha ternyata yang kualami belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang bang Satrio alami" seru Rahmat kembali tersenyum.


"Istri sebenarnya bukan mau menyiksa kita tapi dia ingin kita belajar dan mengetahui kalau hamil bukan hanya istri tapi suami juga ikut merasakan kehamilan itu. Nikmatilah, karena suatu saat kamu akan mengerti" ucap Satrio.


"Terima kasih bang atas sarannya" ucap Rahmat.


"Ini juga jadi pelajaran buat gue siapa tau nanti Aulia hamil jadi harus siap-siap" sahut Anton.


"Makasih bang, Oh iya Abang sudah jenguk Raina dirumah sakit?"


"Udah pernah waktu baru masuk rumah sakit. Besok pagi rencananya mau nganterin Rindi kesana. katanya kangen dengan Raina" ucapnya.


"Bagaimana kabarnya Ervin Ton?" tanya Rahmat.


"Kacau, wajah tampannya sudah hilang tinggal menyisakan luka-luka karena dia tiap hari dipukuli sama anggota dan Lo tau kalau mama Indi yang datang, dia akan memukulnya sampai pingsan" seru Anton.


"Mama Indi sadis juga ya?" sahut Rahmat.


"Gimana gak sadis, ini yang jadi korban anak tunggalnya yang sangat disayanginya. dia sampai ngajarin gue sama Raina beladiri agar tidak diganggu sama orang jahat. Dulu waktu masih muda dia atlet taekwondo." sahut Aulia..


"Bagaimana kondisi Nona Raina sekarang?" tanya Satrio.


"Masih stabil dan terus menunjukkan perkembangan yang cukup baik. hanya saja dokter terus memantau perkembangan kesehatan janinnya karena takutnya mempengaruhikesehatan Raina" jawab Anton.


"Kamu masih tiap hari kesana? tanya Satrio.


"Iya, gue masih tiap hari kesana bang" jawab Anton.

__ADS_1


***


Sementara itu di Rumah sakit, mama Indi sedang ditemani oleh kedua sahabatnya mama Arini dan mama Dira. Setiap hari pasti akan ada yang datang menemaninya kadang Mamanya Aulia atau mamanya Kristina yang datang menemaninya di rumah sakit.


Mama Dira sedang asyik menceritakan tentang kelakuan menantunya yang menurutnya sangat lucu dan unik. apalagi ketika melihat Rahmat tidur di sofa ruang keluarga karena kamar dikunci oleh Kristina dari dalam.


"Hahaha, menantunya ternyata lucu juga" sahut mama Arini.


"Kristina memang dari dulu paling polos diantara ketiganya. paling lambat berpikir dan lemot" ucap Mama Indi.


"Tapi aku suka dengan kepolosan menantuku, dia jujur dan gak banyak tingkah" sahut mama Dira.


Tiba-tiba alat Monitor EKG berbunyi nyaring membuat mama Indi segera mendekati Raina yang mulai kejang-kejang. Mama Indi segera memencet tombol untuk memanggil dokter dan Tak lama rombongan spesialis berlari mendekati Raina dan meminta mama Indi dan yang lain untuk menjauh dari ranjang pasien.


Dokter Chandra juga datang setelah mendengar panggilan istrinya ditelpon sambil menangis. Dokter masih terus memberikan suntikan dan CPR. Mereka tidak berani menggunakan defibrilator atau alat pacu jantung karena nanti mempengaruhi janinnya. Tak lama kemudian Suara nyaring monitor EKG berhenti dan tampak dimonitor grafik jantung kembali normal.


"Bagaimana dok, Kenapa bisa terjadi?" tanya dokter Chandra.


"Maaf sebelumnya, kami harus kembali mengoperasi untuk mengeluarkan darah yang ada dikepala Nona Raina karena pendarahan kembali menekan sistem saraf kepalanya yang membuat aliran oksigen di otaknya berkurang." ucap dokter spesialis saraf.


"Segera lakukan dok, kami tidak mau terjadi apa-apa pada anak kami" ucap mama Indi..


"Kami harus meminta tanda tangan suaminya Bu"


"Lakukan saja saya yang bertanggung jawab, suaminya masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. jika menunggunya nanti terlambat menangani Raina" ucap dokter Chandra.


"Baik dok, kami akan laksanakan" dia kemudian memerintahkan kepada perawat untuk membawa pasien keruang operasi.


Mereka kemudian membawa Raina keruang operasi untuk menghentikan pendarahan dan mengeluarkan darah yang menekan sistem saraf kepalanya.


Sudah 30 menit mereka menangani Raina diruang operasi, mama Indi masih terus terisak dipelukan mama Arini. tampak Raihan berlari diikuti oleh asisten Ivan mendekati mereka.


"Mah, Raina kenapa mah, pah. Raina kenapa pah? tanya Raihan.


"Terjadi pendarahan dikepalanya jadi dokter kembali harus melakukan operasi untuk menghentikan pendarahannya dan mengeluarkan darah yang menekan sistem saraf otak" ucap papa Chandra.


"Harusnya hari ini saya tidak meninggalkan dia pah, ini salahku karena pergi kekantor" ucapnya prustasi sambil menyalahkan diri sendiri.


To Be Continued..


Maaf jika telah update. dari kemarin jaringan disini drop dan kadang muncul kadang hilang. dan paling menjengkelkan jika pas muncul dan mau update eh dia hilang lagi. jadi untuk para pembaca sabar ya.

__ADS_1


__ADS_2