
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan. Raina membuka pintu kamarnya "Ada apa bi? tanya Raina ketika melihat pembantunya berdiri didepan pintu kamarnya.
"Nyonya memanggil untuk makan malam bersama" ucap Bi Nur pembantunya.
"Baiklah, nanti aku akan turun. bibi duluan saja" ucap Raina.
"Baiklah nona. tapi jangan lama-lama dikamar sama suaminya. Nanti setelah makan malam baru dilanjutkan" goda bik Nur.
"Bibi apa-apaan sih. Belum bisa ngapa-ngapain soalnya lampu merah masih menyala" elak Raina sambil meninggalkan bik Nur yang masih berdiri sambil tertawa.
"Dasar bibi sukanya godain orang aja" gerutu Raina.
"Ada apa sih? Kok kelihatan kesal begitu." tanya Raihan sambil tersenyum.
"Itu si bibi sukanya godain melulu" ucap Raina yang masih cemberut.
"Emang bibi bilang apa?" tanya Raihan.
"Dia bilang makan malam dulu nanti setelah makan malam baru dilanjutkan"
"Loh kan kata-katanya bukan bermaksud menggoda sayang" ucap Raihan.
"Tapi Ekspresinya itu loh kayak gimana gitu. Lagian emang mau ngapain kan lagi datang bulan" ucap Raina ceplas-ceplos.
"Trus bibi ngapain tadi kesini? gak mungkin kan mau godain kamu sayang" tanya Raihan.
"Ah iya lupa. Mama nunggu kita untuk makan malam bersama" ucap Raina "Ayo turun makan malam nanti mama lama lagi nunggunya" ajaknya kemudian menarik tangan suaminya.
Mereka berjalan menuruni tangga sambil bergandengan tangan menuju ruang makan. Mama Indi dan papa Chandra sudah lebih dulu duduk menunggu kedatangan anak dan menantunya itu.
Mama Indi tersenyum melihat tingkah keduanya "Gandengan aja terus kayak mau nyebrang jalan" ejeknya.
"Mama iri dengan kemesraan kami kan? Namanya juga pengantin baru. Kalau mama mau nikah aja lagi" goda Raina.
"Eh apa kamu bilang? nikah lagi, trus papa mau dikemanakan? protes papa Chandra mendengar ucapan Raina.
"Ya papa juga nikah lagi dong" sahut Raina.
"Enak aja nyuruh suami mama nikah lagi, mau tak potong-potong nanti jika berani nikah lagi" omel mama Indi.
"Siapa yang mau nikah lagi sih? tanya pap Chandra.
"Papa kan mau nikah lagi" sahut mama Indi sambil cemberut.
__ADS_1
"Kamu sih sembarangan ngomong. Gak baik ngomong gitu sama orangtua. Tuh mereka jadi bertengkar kan" ucap Raihan menasehati istrinya "Mama papa jangan dengerin kata Raina. dia cuma becanda kok" lanjutnya.
"Biarin aja bentar lagi juga mereka mesra-mesraan. Mana piringnya" ucap Raina lalu mengambil piring dari tangan suaminya lalu mengisinya. "Segini cukup?" tanya Raina.
"Cukup apanya, Itu kayak porsi kuli bangunan sayang. Mau buat suamimu ini gendut ya?" protes Raihan melihat piringnya yang penuh dengan makanan.
"Mas harus makan banyak" sahut Raina.
"Tapi gak gitu juga sayang. Aku kan bukan kuli bangunan yang perlu tenaga banyak jadi harus makan banyak" elak Raihan.
"Hahaha. Mungkin dia masih menganggap kamu tukang ojek" celetuk mama mertuanya.
"Sepertinya Raina lebih suka jika perutku gendut ma kayak bos gangster di film India" ucap Raihan
"Enak aja ngomong gitu. mana mau aku melihat suamiku kayak gangster India. sudah hitam gendut pula. iiihhh" ucap Raina bergidik ngeri membayangkan suaminya seperti itu. Dia kemudian memindahkan sebagian makanan itu kepiringnya. "Segini aja sayang? tanyanya lagi sambil memperlihatkan piring yang dipegangnya.
"Nah gitu baru pas" ucap Raihan.
"Silahkan makan suamiku tercinta" ucapnya dengan senyum manis.
"Palsu sekali gombalannya" ejek papa Chandra.
"Kedengarannya seperti orang jengkel ya pa" mama Indi ikut mengejek anaknya.
"Hahaha papa sama mama kalo ngeledekin suka bener ya" sahut Raina.
"Kenapa senyum-senyum sendiri sayang? ada yang aneh? tanya Raina yang melihat suaminya senyum-senyum sendiri.
"Aku bahagia bisa masuk ke dalam keluarga ini" ucap Raihan.
"Kirain ngetawain aku"
"Ya enggak dong sayang. masa ngetawain istri sendiri." sahut Raihan.
Mereka melanjutkan makan malam dengan saling melempar candaan dan godaan sementara Raihan sebagai anggota baru keluarga itu hanya tersenyum saja.
Setelah makan malam kini Raihan dan Raina duduk di ruang keluarga sambil menikmati sinetron di televisi. Tak lama mama Indi ikut bergabung dengan mereka.
"Kalian berdua nonton apa? tanya mama Indi
"Ini sinetron gak jelas ma. makanya aku malas banget nonton sinetron lagian kalo nonton paling FTV aja" jawab Raina.
"Kalian berdua tidak pergi berbulan madu begitu?" tanya mama Indi.
"Ngapain juga pergi sekarang. Gak bisa ngapa-ngapain ma" jawab Raihan.
__ADS_1
"Maksudnya apa? Kenapa kamu menolak untuk melayani suamimu? Dosa sayang menolak keinginan suami" cerocos mama Indi.
"Bukannya menolak mamaku sayang tapi kan lampu merah lagi menyala jadi gak bisa dong" jawab Raina.
"Mama kira kamu menolak keinginan suamimu. kapan mama dapat cucu kalau kamu nolak" Ucap mama Indi.
"Mama ih. bahas cucu sekarang, nanti aja setelah Raina wisuda" ucap Raina.
"Jadi kamu mau nunda kehamilan begitu?" tanya mama Indi sambil melotot.
"Mas gak setuju loh jika kamu menunda kehamilan" protes Raihan mendengar ucapan mama Indi.
"Masa aku hamil sementara kuliah sih"
"Itu lebih baik dari pada kamu hamil pas lagi coas" sahut Raihan.
"Benar juga Nana, kan kalo kamu coas pasti akan lelah karena full time di Rumah Sakit. Kalau hamil sekarang umur anakmu sudah beberapa bulan ketika kamu coas" ucap mam Indi.
"Nana? siapa Nana ma?
"Hehehe mama lupa, itu nama kecil Raina dan hanya mama yang memanggilnya begitu tapi karena dia lebih suka dipanggil Raina karena artinya hujan yang memberikan kesejukan dan kehidupan" mama Indi menjelaskan.
"Mas jangan ikut-ikutan ya manggil Nana ya, Aku gak suka" sahut Raina memberi peringatan suaminya.
"Eits. Suka-suka aku dong manggil kamu apa. Atau manggil Rai saja kayak namaku begitu kita bisa jadi duo Rai. Ha-ha-ha" Ucap Raihan diselingi tawa khasnya.
"Coba saja kalau berani, mas akan aku ber hukuman" ucap Raina penuh penekanan.
"Ada apa nih? Kenapa papa dengar ada yang mau dihukum segala." tanya Papa Chandra yang baru bergabung dengan mereka diruang keluarga.
"Ini anakmu melarang suaminya untuk memanggilnya Nana." Ucap mama Indi.
"Oww. Rai, ikuti saja mau istrimu. Kita suami bukan takut tapi menghargai jadi nurut sajalah" ucap papa Chandra menasehati.
"Harus itu, Rai dengar ya. Kami kaum perempuan itu harus dilindungi dan di sayang. Kami tidak lemah hanya saja perempuan itu lebih perasa sehingga lebih menggunakan perasaan daripada logika" ucap mama Indi "Tugas utama kami sebagai istri berlaku dari bangun tidur sampai tidur lagi jadi sudah sewajarnya kalian harus menghargai kami" nasehat mama Indi.
"Terimakasih atas nasehat bijak mama. Aku juga akan menyayangi istriku karena ada papa yang jadi panutanku" sahut Raihan.
"Makasih loh sudah jadikan papa panutan."Ucap papa Chandra.
"Papamu kamu jadikan panutan? Mama mau ngakak dengarnya, kamu baru mengetahui luarnya saja belum mengetahui dari dalam siapa papamu sebenarnya" ucap mama Indi.
"Emangnya papa kenapa ma?
"nanti juga kamu akan tau gimana dia" ucap mama Indi.
__ADS_1
"Udah ah. Aku ngantuk, kami kekamar dulu ya ma" ucap Raina lalu menarik tangan suaminya meninggalkan kedua orangtuanya.