
Raina telah selesai dengan urusan kuliahnya, dia kemudian berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana. Dengan santai dia memasuki mobilnya dan mengendarainya menuju mansion keluarga Buana.
Dilampu merah mobilnya berhenti menunggu lampu hijau menyala. Lalu lintas Jakarta lumayan padat sehingga membuat dia mengemudi dengan kecepatan sedang.
Karena mansion keluarga Buana terletak dipinggiran kota membuat perjalanan menuju ke sana lumayan memakan waktu. rencananya mereka akan menginap di mansion karena sudah beberapa hari terakhir mereka menginap di rumah Raina.
Ketika lampu hijau menyala dia kembali melanjutkan perjalanannya Tampa dia sadari sebuah mobil truk melaju kencang menabraknya dengan keras. Mobilnya terlempar dan berguling beberapa kali baru berhenti setelah menghantam trotoar.
Dengan cepat pengawal bayangan yang mengikutinya menolong Raina dan sebagian lagi mengamankan supir truk tersebut. Dengan cekatan pengawal tersebut mengeluarkan Raina yang sudah tidak sadarkan diri dari dalam mobil yang sudah ringsek itu dan melarikan kerumah sakit.
Raihan yang sedang rapat dengan menager membahas pembangunan perumahan baru tidak menyadari kejadian tersebut karena ponselnya dia simpan di ruangannya. Ivan menerobos masuk kedalam ruangan meeting.
"Tuan ada berita penting" teriak Ivan
"Ada apa?" jawabnya santai.
"Nyonya kecelakaan dan sekarang sedang dibawa menuju rumah sakit"
Brakk.. Raihan menggebrak meja.
"Kamu jangan asal bicara Van" bentak Raihan yang tidak percaya dengan berita yang baru saja didengarnya.
"Pengawal menelpon dari tadi di nomer tuan tapi tidak diangkat jadi mereka meneleponku" ucap Ivan..
"Segera kerumah sakit. hubungi dokter Chandra" ucapnya lalu berlari menuju lift sementara Ivan menyuruh Anya mengambil HP Raihan dan mengantarkan kerumah sakit lalu berlari mengejar tuannya itu.
Mereka kini telah berada di dalam mobil menuju rumah sakit. Ivan yang mengemudi seperti orang kesetanan karena bosnya selalu menganggap laju mobil pelan.
"Cepetan Van. lelet amat Lo bawa mobil"
"Ini sudah kencang tuan" jawab Ivan.
Beberapa kali terdengar umpatan dari mulut Raihan yang prustasi karena tidak sampai-sampai dirumah sakit.
__ADS_1
Sementara itu pengawal yang membawa Raina tiba dirumah sakit. Tampak dokter Chandra dan beberapa dokter serta perawat sudah menunggu kedatangan mereka. Pengawal mengangkat tubuh Raina yang masih tidak sadarkan diri keatas brangkar rumah sakit. perawat segera mengambil alih mendorongnya kedalam ruangan tindakan untuk memeriksa keadaan Raina.
Ivan yang mengendarai mobil seperti pembalap menghentikan mobilnya didepan UGD rumah sakit. Raihan turun dari mobil dan berlari menuju ruangan tindakan, disana sudah ada pengawal yang berdiri tegap didepan pintu masuk.
Bugh.. Bughh..
"Apa kerja kalian sampai istriku kecelakaan? Jawab bangsat" teriak Raihan.
"Tuan sabar, mereka juga pasti tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadian begitu cepat" Ivan berusaha menenangkan tuannya yang masih emosi.
Terlihat mama Indi berlari mendekati mereka dengan derai air mata yang mengalir di pipinya "Bagaimana bisa terjadi Rai?" tanyanya setelah berada di depan Raihan.
"Maaf nyonya, mobil pengawal berada sekitar 10 meter dibelakang mobil nyonya, ketika lampu hijau menyala nyonya melajukan mobilnya tapi tiba-tiba muncul dari samping mobil truk dengan kecepatan tinggi menabraknya sampai mobilnya terpental. kami dengan cepat menyelamatkan nyonya dan membawanya kerumah sakit sementara yang lain mengamankan sopir truk itu" jawab pengawal itu.
"Dimana sekarang sopir truk itu?" tanya Raihan.
"Sementara dibawah ke markas tuan" jawab pengawal.
"Hubungi kapten untuk menyelidiki kasus tabrakan ini. saya curiga ini ada unsur kesengajaan. Kalian kembali ke markas dan minta pengawal yang lain menggantikan kalian" seru Raihan.
Pintu terbuka dan tampak dokter Chandra keluar dari ruangan itu "bagaimana keadaan Raina pah?" tanya Raihan.
"Kami harus segera melakukan operasi karena benturan dikepalanya mengakibatkan pendarahan dan harus segera ditangani. Dokter sedang berkonsultasi dengan dokter kandungan mengenai anestesi yang tepat untuk menjaga janinnya tetap aman" ucap dokter Chandra.
"Raina Hamil pah?" tanya Raihan.
"Belum jelas apakah hamil atau tidak karena belum tampak di USG hanya saja menurut pemeriksaan darah kadar hCG meningkat dan biasanya menandakan sang ibu sedang hamil. untungnya benturannya beranda di sebelah kiri sehingga badannya aman dari benturan dan hanya lecet pada tangan dan kaki, hanya saja mungkin waktu mendarat kepalanya terbentur atap mobil yang ringsek." ucap papa Chandra
"Lakukan yang terbaik pah, aku gak mau anakku kenapa-kenapa" ucap mama Indi sambil memeluk tubuh suaminya.
"Pasti dokter akan terus berusaha untuk menyelamatkan anak kita. kamu disini dulu ya, papa urus persiapan operasinya" ucap dokter Chandra.
"Pah, boleh saya lihat istri saya dulu sebelum operasi" tanya Raihan.
__ADS_1
"Masuklah, mama juga boleh masuk tapi jangan mengganggu dokter yang menanganinya" ucap dokter Chandra kemudian membuka pintu ruangan itu, mereka berjalan menuju tempat dimana Raina berbaring.
Dari jauh Raihan melihat istrinya yang menggunakan alat bantu pernapasan dan beberapa alat lain yang menempel di badannya. terlihat mesin mengukur jantung terus menunjukkan angka-angka yang Raihan tidak mengerti.
Kepala Raina tampak dibalut dengan perban untuk menahan agar menghentikan pendarahan pada luka dikepalanya. Raihan mendekati brangkar itu kemudian meraih tangan Raina dan menciumnya.
"Sayang, bertahanlah demi aku, papa, mama kakek dan calon anak kita menurut perkiraan dokter sudah ada didalam kandunganmu. Aku tau istriku wanita yang kuat dan mampu melewati segala macam cobaan. Love you always" Raihan menitikan air mata melihat keadaan istrinya itu.
Mama Indi tak mampu berkata-kata melihat keadaan putri tunggalnya yang sangat dia sayangi. dia berjalan keluar dari ruangan itu karena tak mampu menahan tangisnya. dia tidak mau menangis didepan anaknya.
Rahmat dan Anton yang baru datang bersama istrinya segera menghampiri mama Indi yang duduk sambil menangis. "mama, bagaimana keadaan Raina?" tanya Aulia yang berjongkok di depan mama Indi.
Mama Indi mengangkat kepalanya lalu segera memeluk tubuh Aulia "Kepalanya harus segera dioperasi karena terjadi pendarahan, untung kandungannya kuat jadi anaknya tidak apa-apa"
"Mobil yang dikemudikan oleh Raina memiliki keamanan Yang tinggi sehingga meminimalkan terjadinya benturan. Hanya saja atapnya yang mendarat duluan sehingga membuat kepalanya terbentur" ucap Raihan yang baru keluar dari ruangan itu.
"Rai ikut gue dulu, ada yang harus gue sampaikan" ajak Anton yang diangguki Rahmat.
"Kalian disini dulu ya temani mama" ucap Raihan. mereka kemudian berjalan keluar dari gedung menuju taman depan rumah sakit.
"Gue udah suruh anggota untuk meretas CCTV tempat kejadian dan sepertinya kecelakaan itu disengaja karena sebelum kecelakaan mobil truk berhenti 100 meter dari lampu merah" ucap Anton.
"Paksa sopir truk itu mengaku, minta anggota menyelidiki anggota keluarganya dan gunakan untuk mengancamnya agar dia mengaku" Perintah Raihan.
"Rai, Raina mau dibawa keruangan operasi, Lo mau ikut" teriak Aulia yang berlari dari dalam gedung.
Mereka kemudian berlari menuju ruangan tindakan, tampak beberapa perawat mendorong brangkar yang ditempati oleh Raina menuju ruang operasi khusus penanganan syaraf dan otak dilantai 2. Raihan ikut mendorong brangkar itu kedalam lift sembari memegang tangan istrinya.
Mereka kini berada di depan ruangan operasi khusus. "Pak sampai di sini saja, keluarga pasien tidak boleh masuk" ucap perawat itu.
"Dok lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istriku" ucap Raihan memohon kepada dokter.
"Kami akan berusaha yang terbaik, babak berdoa untuk keselamatan istrinya" ucap dokter lalu berjalan memasuki ruangan operasi.
__ADS_1
To Be Continued