
Weekend tiba dan disambut dengan gembira oleh semua orang tapi tidak dengan kedua gadis yang tengah termenung dikursi masing-masing sambil mengaduk minuman yang sudah dipesannya.
Raina hanya memperhatikan dari tadi tanpa menggubrisnya karena sudah capek dengan keluhan keduanya.
"Ra gimana dong?" tanya Aulia.
"Gue bingung apalagi sekarang mama-mama gaul itu kompak bersekongkol dengan mama kalian" jawab Raina.
Mereka masih membahas tentang teror Mama Dira dan mama Arini dan Sekarang ditambah lagi dengan dukungan dari mamanya Aulia dan mamanya Kristina.
"Gara-gara nyokap loe tuh yang nyebarin. Sekarang mereka pada kompak nyuruh nikahnya barengan. Mentang-mentang mereka sahabatan masa anaknya nikah harus barengan jadi nanti lahiran juga barengan gitu? Dimana serunya" omel Aulia panjang lebar.
"Seru kali kalau lahirannya barengan kan anak-anak kita juga sahabatan dong" celetuk Kristina.
"Ini juga boncel bukannya bantuin mikir malah mau lahiran barengan" protes Aulia.
Tak lama muncullah 3 pemuda tampan mendekati mereka bertiga. Lalu duduk di kursi kosong.
"Kok pada kusut gini sih?" tanya Anton yang duduk disamping Aulia.
"Iya nih pacar gue juga kayak lagi stress gitu" sahut Rahmat yang berada didepan Kristina.
"Lihat dong calon istri gue ceria terus" sahut Raihan lalu merangkul Raina.
"Ini semua gara-gara mama Arini yang sudah beberapa hari neror gue minta kawin sama loe" sarkas Aulia.
"Ya udah kita kawin aja" ucap Anton santai.
"Enak loe ya main kawin saja. Gue belom mau kawin" bentak Aulia.
"Tapi mami juga neror gue suruh cepat datang melamar, loe juga kan mat?" sahut Anton
"Iya gue juga" balas Rahmat.
"Jadi mami nyuruh buat secepatnya datang melamar? Mampus gue" ucap Aulia sambil menepuk jidatnya.
"Dan loe mau tau konspirasi mereka berlima?" tanya Raina sambil tersenyum?
"Apa yang direncanakan mama gaul itu? tanya Anton.
"Mereka berencana menikahkan kita semua secara bersamaan" ucap Raina yang membuat Aulia dan Kristina kaget dan tertunduk lemas.
"Ini gak bisa dibiarkan" ucap Aulia.
"Kalian gak bisa nolak. Gue kemarin sore pergi mancing sama papa Chandra katanya papa kalian mendukung rencana itu malah tante Arini sama Tante Dira sudah menyiapkan seserahan buat lamaran" ucap Raihan
"Aich papi gak kompak lagi sama gue" ucap Aulia. "Kris gimana nih?" tanyanya lagi.
"Ya pasrah saja. Mau menghindar juga gak bisa kan?" sahut Kristina pasrah.
"Dan papa Chandra sudah bicara sama kakek gue, dan kakek setuju. Dia yang akan nyiapin tempatnya" sahut Raihan.
"Wah kalau Tuan besar sudah setuju mau gimana lagi" ucap Rahmat senang.
"Kok kakak senang sih?" tanya Kristina.
"Siapa sih yang nolak kalau nikahnya sama kamu sayang" gombal Rahmat.
"Udah kalian nyerah saja, toh ini demi kebahagiaan kalian juga kan?" ucap Raina.
"Kak Anton sendiri gimana?" tanya Aulia.
"Aku mah dengan senang hati menerimanya" jawab Anton.
"Tapi kita kan gak pacaran" sahut Aulia.
"Tapi cintaku hanya untukmu dan kamu tahu itu" gombal Anton.
"Sudahlah kita nikah barengan ini jadi deg-degan juga barengan dan malam pertama juga hahahaha" sahut Raihan yang langsung mendapat cubitan dari Raina.
"Aduh kenapa nyubit sih sayang?" ringis Raihan.
__ADS_1
"Mas pikiran mesum" sahut Raina dibarengi dengan mata yang melotot melihatnya.
Aulia dan Kristina pasrah dengan kenyataan yang mereka terima. Mau menolak juga tidak bisa karena sudah disetujui keluarga.
Setelah hari menjelang sore mereka kemudian pulang kerumahnya dengan diantar pasangan masing-masing dengan muka masih ditekuk.
Aulia memasuki rumahnya dengan berjalan gontai tanpa semangat disambut dengan wajah ceria mamanya.
"Anak gadis mama pulang" sambut mama Rani dengan senyuman.
"Kok kayak bahagia banget mah?" tanya Aulia.
"Sini duduk disamping mama" ajak mamanya. " Tadi Arini nelpon katanya Rabu depan akan datang melamarmu dan mama sudah iyakan" sahut mama Rani.
"Ih mama kok main setuju saja tidak nanya Aulia dulu" protes Aulia.
"Mama kan mau cepat nimang cucu, nungguin kamu setuju keburu mama tua nanti" sahut mamanya.
"Papa bilang apa?" tanya Aulia.
"Papamu senang sekali karena bisa besanan sama sahabatnya" ucap mamanya.
"Papa sama Mama jahat tidak nanya dulu lagian Aulia sama kak Anton tidak pacaran kami cuma teman" protes Aulia.
"Tapi kamu suka kan sama Anton?" pancing mamanya.
"Iya sih eh tidak" ceplos Aulia.
"Pokoknya kamu tidak bisa nolak, kalian akan menikah bersamaan dengan Raina" ucap mamanya tidak bisa dibantah.
Aulia yang moodnya hancur berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju kamarnya dilantai 2.
Kristina pun sama dia juga sudah dipaksa menikah dengan Rahmat kekasihnya karena mama Dira sudah menghubungi mama Stella untuk memberi kabar jika hari Minggu mereka akan datang melamar anak gadisnya.
Ini tidak mengherankan karena orangtua mereka saling mengenal. Papa Rahmat yang pengusaha restoran sudah berteman lama dengan papa Kristina yang pengusaha textile sedangkan papanya Anton pengusaha konstruksi bersahabat dengan papanya Aulia yang pengusaha otomotif. Hanya papa Chandra yang bukan pengusaha dia seorang dokter bedah dan direktur Buana hospital tapi istri mereka bersahabat. Ketika mendengar rencana istri mereka ingin menikahkan anaknya mereka langsung setuju karena sudah saling mengenal keluarga masing-masing.
Sementara itu Raihan sudah pindah kemansion Kakek Cakra yang ada di Jakarta setelah dipaksa oleh kakeknya dengan ancaman kakeknya tidak akan menghadiri pernikahan cucunya jika tidak ingin pindah. Dengan terpaksa Raihan menyetujui usulan kakeknya tersebut.
Wacana pemindahan kantor pusat Buana Group ke Jakarta juga sedang berjalan karena asisten Bobi sudah ingin pensiun dan kakeknya yang usianya sudah kepala tujuh tidak sanggup lagi menangani perusahaan.
Kakek juga setuju untuk pindah dan tinggal bersama cucunya dijakarta setelah Raihan menikah.
- - -
Pagi menyapa ummat manusia dengan sinar matahari yang cerah secerah hati orang-orang yang mulai beraktivitas kembali setelah weekend. Tapi berbeda dengan suasana hati Ivan, sudah seminggu ini Anya bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal.
Ivan pernah tidak sengaja bertemu dengan Anya bersama teman-temannya disebuah restoran. Ivan yang menegurnya kecewa karena Anya bersikap seperti orang yang tidak mengenalnya.
Memang seminggu ini Anya menggunakan trik yang diberikan oleh Raina untuk memikat hati Ivan dan trik itu berhasil membuat Ivan yang suka berdekatan dan kadang berdebat dengan Anya menjadi uring-uringan memikirkan apa salahnya sehingga Anya menjauhinya.
Ivan sudah berada dilantai 20 dimana ruangannya berada. Dia melihat Anya sudah berada dimeja sekertaris dengan serius. Ivan kemudian mendekatinya. "Pagi Anya" sapa Ivan.
"Pagi" balas Anya tanpa menoleh dan hanya melihat berkas yang ada dihadapannya.
"Bos sudah datang?" tanyanya basa basi.
"Belum" jawab Anya singkat.
Ivan yang jengah dengan sikap Anya lalu berjalan memutari meja Anya kemudian menarik paksa tangan lalu mengajak Anya masuk kedalam ruangannya.
"Apaan sih lepasin gak" tolak Anya.
"Ikut saya keruanganku" bentak Ivan.
"Tidak mau. Lepas gak" Anya meronta mencoba melepaskan cekalan tangan Ivan.
Ivan lalu mengangkat tubuh Anya seperti memanggul karung beras menuju ruangannya.
Brak. Pintu dibanting Ivan lalu menurunkan Anya.
"Loe kenapa sih maksa?" tanya Anya dengan kasar.
"Kamu yang kenapa? Apa salahku sehingga seminggu ini kamu nyuekin aku?" bentak Ivan.
"Loe cari tau sendiri sana" ucap Anya lalu berjalan menuju pintu. Tapi tangannya kembali ditarik sehingga membuat Anya terhuyung ke belakang dan kepalanya membentur dada Ivan dan langsung dipeluk oleh Ivan.
"Aduh.. Loe kasar banget sih. Lepasin" emosi Anya sambil meronta mencoba melepaskan pelukan Ivan.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu panggil pakai kata informal aku kan hukum kamu" ancam Ivan yang masih memeluk Anya.
"Lepasin gak atau gue teri... Hmmppp.." belum selesai Anya berbicara bibirnya sudah dibungkam dengan ciuman dari Ivan. Anya langsung diam menahan nafasnya karena kaget dengan serangan itu. Jantungnya berdegup dengan kencang.
Anya mulai kehabisan nafas lalu mendorong dan memukul dada Ivan. "Hosh.. hosh.. Kamu mau bunuh saya ya?" teriak Anya yang dibalas senyuman manis Ivan.
"Kamu kurang ajar berani nyuri first kiss ku." ucap Anya dengan muka memerah.
"Itu juga ciuman pertama buatku" balas Ivan yang masih memeluk Anya.
"Lepasin dulu. Sesak nafas nih" ucap Anya.
"Tidak akan nanti kamu kabur" sahut Ivan.
"Lepas dulu aku tidak akan kabur" ucap Anya lagi
"Saya lepas kalau kamu mau jadi pacarku" sahut Ivan.
"Apaan sih nembak kok maksa" protes Anya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Jawab dulu, mau atau tidak?" tanya Ivan lagi.
"Iya aku mau" jawab Anya dan Cup. Anya langsung mendapat ciuman dari Ivan tapi kali ini dibalas oleh Anya tangannya melingkar dileher Ivan.
"Ciumannya nanti saja setelah Anya membacakan jadwalku" ucap Raihan yang hanya kepalanya muncul dari balik pintu.
Ivan dan Anya langsung saling menjauh karena digrebek sama direktur.
"Anya sama Ivan. keruanganku sekarang" perintah Raihan.
Ivan dan Anya kini sudah berada didalam ruangan Direktur. Mereka berdua berdiri mematung tanpa berani untuk berbicara.
"Anya" panggil Raihan.
"I-iya pak" jawabnya gugup.
"Gimana rasanya dicium manusia triplek ini?" tanya Raihan yang membuat Anya melongo mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut direktur.
"Jawab" bentak Raihan.
"Enak pak. Ups" ceplos Anya karena kaget lalu menutup mulutnya.
"Hahahaha. Selamat untuk kalian karena sudah resmi menjadi sepasang kekasih" ucap Raihan. "Kalian bisa pergi makan malam di restoran mahal dengan memakai kartu kredit perusahaan" ucap Raihan kembali.
"Tidak usah Tuan" tolak Ivan.
"Hei berani kau menolaknya kau akan berhadapan dengan bosnya Anya" ucap Raihan.
"Kan bos kami sama-sama yaitu tuan muda" jawab Ivan.
"Kau belum tahu ya? Saya bukan bosnya Anya tapi calon nyonya muda" ucap Raihan.
"Maksudnya?" Ivan tidak mengerti.
"Ya karena yang bisa memecat Anya ya hanya Raina" sahut Raihan.
"He-he-he. Belum tahu ya?" ledek Anya.
"Kamu tau kenapa sikap Anya berubah seminggu terakhir?" tanya Raihan.
"Tidak Tuan" jawab Ivan.
"Itu karena perintah bosnya dia" jawab Raihan. Ivan kemudian melirik Anya yang hanya tersenyum melihatnya.
"Terus gimana dong Tuan" ucap Ivan memelas karena sudah paham lalu dirinya dijebak.
"Mau gimana lagi, kamu jalani saja. Emang kamu mau dapat hukuman dari kelompok mereka? Saya sih gak mau lagi" ucap Raihan.
"hahahaha. Kamu tidak bisa lolos sayang, nikmati saja kebersamaan kita" sahut Anya dengan senyum devilnya.
"Arghhhh....." Ivan berteriak dalam hati. Dia pasrah karena Sudah masuk jebakan mereka susah untuk melawan apa lagi kalau nonanya ngehukum pakai hukuman yang tidak pernah terpikirkan.
To Be Continued.
__ADS_1