
Pagi ini Raihan meluncur menuju markas Darkside setelah sebelumnya dia mendapat kabar jika semua keluarga Ganendra dan asistennya telah berada di markas.
Flashback on.
"Bagaimana dengan CCTV? kalian sudah meretasnya?" tanya Kapten dibalik topeng yang dia kenakan
"Beres kapten, CCTV akan normal kembali setelah 15 menit" ucap hacker yang ditugaskan untuk meretas CCTV.
"Kalian berdua lumpuhkan penjaga itu lalu buka pintu gerbangnya" perintah Kapten kepada anak buahnya.
Kedua anggota Darkside mendekati gerbang kediaman Asisten pribadi Ganendra.
Syutt.. Syutt..
Keduanya menembakkan senapan dengan peluru bius tepat dileher penjaga. Kedua penjaga terlihat meraba lehernya masing-masing lalu jatuh terkapar di depan pos jaga.
Mike bersama anggotanya berjalan mendekati gerbang rumah itu. mereka berjalan menuju pintu utama rumah itu. dengan keahliannya yang dimiliki oleh anggotanya, mereka tidak mengalami kesulitan untuk membuka pintu rumah.
"Sisir setiap ruangan, bawa Yoga Tirtayasa tangkap Yoga Tirtayasa" ucap Mike.
Semua anggotanya bergerak menyisir seluruh ruangan yang ada dirumah itu. tak sampai 5 menit mereka datang menyeret Yoga Tirtayasa bersama dengan keluarganya.
"Auchh.. Kalian siapa? bentak Yoga sambil meringis menahan sakit setelah tubuhnya dihempaskan di depan kapten. Sementara istri dan anak-anaknya hanya terdiam karena mereka masih kaget dengan kejadian itu dimana mereka sedang tidur dengan nyenyak tiba-tiba diseret dengan paksa.
"Kalian tidak perlu tau, Bawa mereka!!" perintah kapten kepada anggotanya lalu berjalan lebih dulu. Sebelum mereka membawa keluarga Yoga, terlebih dahulu menyuntikkan obat bius dosis tinggi agar lebih memudahkan dalam membawa ke markas.
Setelah berhasil menangkap keluarga Yoga Tirtayasa, mereka kemudian berangkat menuju kediaman keluarga Ganendra untuk menangkap keluarga tersebut.
Penjagaan dikediaman Ganendra lebih ketat dibandingkan dengan kediaman Yoga Tirtayasa. Setelah berhasil melumpuhkan semua penjaga, mereka memasuki rumah tersebut. Ganendra dan keluarganya yang masih berada di ruang keluarga tampak terkejut dengan kedatangan orang-orang berpakaian hitam-hitam dan menggunakan topeng.
"Kalian siapa?" bentak Ganendra.
"Selamat malam tuan Ganendra, Saya datang untuk menjemput anda semuanya untuk menemui bos kami" Suara kapten menggelegar dalam ruangan membuat nyali yang mendengarnya sedikit menciut.
"Siapa bosmu? saya tidak pernah berurusan dengan penjahat seperti kalian"
"Pergi dari sini sebelum saya memanggil polisi" teriak anak Ganendra.
__ADS_1
"Polisi? Silahkan kalau mau menghubungi polisi atau saya bantu menghubunginya" ucap kapten lalu menekan nomer telpon kepala polisi daerah. Sebelumnya Iptu Faizal telah melaporkan kepada Mabes Polri terkait dengan kasus tersebut dan memberikan perintah kepada Kapolda untuk melakukan penangkapan orang yang terlibat dalam kasus penggelapan itu.
"Halo komandan, ada yang ingin berbicara dengan anda" ucap kapten seraya mengarahkan kamera ponselnya kepada anak Ganendra.
"Ikut saja dengan mereka, kami tidak bisa membantu karena ini perintah dari Mabes Polri" ucap Kapolda Irjen pol Djoko Kirmanto.
"Pak Djoko, Apa salah kami?" tanya Ganendra yang mengenal dekat dengan Kapolda.
"Kalian akan tau jika sudah tiba disana. Sampai jumpa" ucapnya lalu mematikan sambungan teleponnya. Ganendra terduduk lemah mendengar ucapan temannya itu. sekarang dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka.
"Bius mereka semua dan bawa kemarkas" ucap Mike. Mereka mencoba memberontak ketika anggota Darkside mendekati untuk menyuntikkan obat bius. tapi kekuatan anggota Darkside bukan lawan mereka sehingga dengan mudah mereka dilumpuhkan dan dibawa kemarkas.
Flashback end.
Raihan yang sedang mengemudi sambil memikirkan langkah selanjutnya yang harus diambil, memenjarakan keluarga sendiri walaupun dia tidak pernah bertemu akan tetapi dia masih saudara kandung kakek Cakra.
Tidak mungkin juga hanya memberikan peringatan saja tanpa efek jera karena ada kemungkinan mereka akan berulah lagi. Dia juga belum memberitahu Kakeknya tentang penangkapan dalang utama dibalik penggelapan besar-besaran yang terjadi di perusahaan.
Setelah menempuh perjalanan 40 menit, dia menghentikan laju mobilnya didepan markas Darkside. Dia melangkahkan kakinya memasuki bangunan itu sementara mobilnya dia serahkan kepada anggotanya untuk diparkirkan.
Didalam bangunan dia disambut oleh Kapten dan anggotanya.
"Dimana mereka?" tanya Raihan.
"mereka ditempatkan di ruang hukuman" jawab kapten. Raihan melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksud oleh kapten..
Sampai di dalam ruangan tampak mereka semua duduk terikat pada kursi kayu dan belum sadarkan diri.
"Pisahkan anak-anak itu bawa mereka kekamar tamu, jaga jangan sampai kabur, mereka tidak tau apa-apa tentang perbuatan orang tuanya dan tak perlu tau." ucap Raihan sambil menunjuk anak-anak Yoga dan cucu-cucu Ganendra yang masih kecil.
"Sampai kapan mereka akan tertidur?" lanjut Raihan setelah anggotanya membawa anak-anak itu keluar dari ruangan pengap itu.
"Mereka akan bangun beberapa menit lagi" jawab Kapten. Sebenarnya mereka sebelumnya telah sadar tapi karena memberontak jadi terpaksa dibius kembali.
Raihan kemudian berjalan mendekati mereka lalu duduk di kursi kosong yang disiapkan oleh anggotanya. tampak Yoga Tirtayasa mulai bergerak.
"Ughh.." Yoga melenguh karena merasakan sakit ditubuhnya. sembari mencoba bergerak dia membuka matanya dan melihat Raihan yang sedang duduk santai di depannya.
__ADS_1
"Yoga Tirtayasa, Selamat datang di markas Darkside" Ucap Raihan melihat Yoga yang menatapnya tajam seakan ingin menelannya.
"Apa yang kau lakukan bajingan? kenapa menangkapku?" teriak Yoga Tirtayasa.
"Hahahaha, Masih belum mengerti? setelah menikmati kekayaan hasil curian kamu masih berani bertanya? Kamu kira saya tidak tahu jika kamu memanfaatkan mereka dan mengambil uang proyek tanpa sepengetahuan mereka" suara tenang dan santai keluar dari mulut Raihan. dia kemudian berjalan mendekati Yoga lalu melayangkan pukulan kewajahnya beberapa kali membuat darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Akhh brengsek" umpatnya dengan keras.
"ughh.."
"Oh kakek sudah bangun? bagaimana tidurnya? pasti nyenyak karena mendapatkan layanan penerbangan terbaik dari kami" ucap Raihan sambil tersenyum.
"Dasar anak haram. Apa maumu sampai menangkap kami?" teriak Ganendra yang emosi melihat Raihan duduk dihadapannya. Teriakannya juga membangunkan yang lain.
"Pah dimana ini?" tanya istrinya yang bingung dengan sekelilingnya.
"Hai Nenek, om, Tante dan kalian sepupuku yang tercinta, oh ada kakak ipar juga ternyata. Selamat datang di markas Darkside. Nikmatilah pelayanan kelas VIP dari kami" ucap Raihan sembari menatap mereka bergantian.
"Dasar anak haram, kami tidak sudih mengakui kamu sebagai keluarga"
"Hahahaha, jadi kalian lebih memilih orang yang memanfaatkan kalian untuk menjadi keluarga? apa kalian tahu jika Yoga Tirtayasa mengambil uang lebih banyak dari kalian? dia berhasil mendapatkan uang perusahaan lebih dari 50 miliar dan kalian hanya mendapatkan 30 miliar." ucap Raihan sambil memperlihatkan print out rekening milik Yoga Tirtayasa.
Ganendra yang melihat kertas yang dipegang oleh Raihan langsung melirik kearah Yoga Tirtayasa.
"Bajingan kamu Yoga, berani kamu menipuku" bentak Ganendra.
"Hahaha, laki-laki tua yang bodoh. akhirnya kamu tau juga" seru Yoga Tirtayasa.
"Kubunuh kau Yoga." teriak salah seorang anak Ganendra.
"Hei tenang. kalian tidak perlu saling berteriak dan memaki. karena sebentar lagi kalian akan jadi orang miskin. Semua uang hasil curian akan dikembalikan ke perusahaan. oh iya kakekku yang tersayang. besok kakakmu akan datang, katanya dia merindukanmu" ucap Raihan.
"Hei bajingan, aku lebih berhak atas uang itu dari pada anak haram seperti kamu"
"Oh begitu? tapi ini adalah warisan dari nenekku bukan harta keluarga Buana. Sebagai anak dari mama Indah, saya lebih berhak daripada kalian" ucap Raihan sambil menatap tajam kearah Ganendra. "Oh iya, anak dan cucumu aman jadi tidak perlu mengkhawatirkan keadaan mereka"
"Kamu apakan anakku bajingan"
__ADS_1
"Mereka aman, Kapten tempatkan mereka semua di ruang tahanan, pisahkan jangan sampai mereka berkelahi" ucap Raihan lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.