Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Jatuhnya Riandy Group


__ADS_3

Pagi ini matahari bersinar dengan cerah, langit bersih tanpa awan yang menutupinya. Orang-orang menyambut hari ini dengan wajah ceria seperti matahari yang tidak malu menampilkan wujudnya.


Berbeda dengan keluarga Riandy. Pagi ini papa Erik dilarikan kerumah sakit karena terkena serangan jantung akibat mendengar berita dari sekertarisnya yang mengabarkan saham perusahaan anjlok dan semua investor menarik investasi mereka.


Ibunya tidak berhenti menangis didepan ruang IGD. Erik sedari tadi diam saja, dia mulai mengingat kata-kata dari Raihan dan hari ini kata-katanya terbukti dia tidak bisa lagi menikmati kekayaan orangtuanya.


"Ini pasti ulah Raihan, tapi bagaimana bisa tukang ojek itu melakukannya" gumah Erik yang sedikit didengar oleh ibunya.


"Kamu menyinggung siapa lagi nak sampai perusahaan ayahmu tiba-tiba seperti ini?" tanya ibunya, Erik diam saja tidak menjawab pertanyaan ibunya. muncullah sekertaris ayahnya ingin bertemu dengan mereka.


"Maaf nyonya, bisa berbicara sebentar" ucap sekertaris itu.


"Bicaralah" sahutnya.


"Nyonya, Saya dihubungi oleh Tuan Bobi asisten pribadi Tuan Cakra Buana" ucap sekertaris itu.


"Apa yang mereka katakan?" tanya ibunya Erik.


"Saham perusahaan jatuh karena Tuan muda Erik kemarin mengancam calon cucu menantu dari tuan Cakra Buana nyonya" Jawab sekertaris itu.


Erik yang mendengar menjadi terdiam mengingat-ingat kembali kejadian kemarin. Dia ingat hanya mengancam seseorang yaitu Raina.


"Raina" Teriak Erik karena berhasil mengingat siapa yang diancamnya.


"Betul Tuan anda telah mengancam nona Raina calon cucu menantu dari Tuan besar Cakra Buana sehingga membuat Tuan Cakra marah besar nyonya" sekertaris itu menjelaskan.


Plakk.. plakk..


Dua kali telapak tangan ibunya mendarat di pipinya. Sejak lahir dia selalu dimanjakan oleh ibu dan ayahnya baru pertama kali dalam hidup, ibunya mendaratkan tamparan dipipinya .


"Selama ini ibu terlalu memanjakanmu tapi tak pernah sekalipun ibu mengajarkan kamu untuk kurang ajar apalagi mengancam seorang perempuan" ucap ibunya sambil menangis.


"Ibu maafkan kesalahanku" ucap Erik sambil berlutut didepan ibunya.


"Maafku tak akan berguna" ucap ibunya sendu. "Apa permintaan Tuan Cakra?" tanyanya kemudian.


"Tuan Cakra akan mengembalikan keadaan perusahaan jika Tuan muda mau menemui Direktur Buana Group Jakarta untuk meminta maaf serta tidak boleh bertemu walau hanya kebetulan dengan nona Raina tapi masalahnya adalah Direktur Buana jadwalnya padat sampai kamis depan nyonya jadi saya sudah buatkan janji hari Jumat setelah makan siang" Sekertaris suaminya menjelaskan panjang lebar.


"Tapi saya sangat menyukai Raina, dia tidak boleh menikah dengan orang lain" protes Erik.


"Tuan muda, keadaan Sekarang tidak menguntungkan. Jika anda ingin hidup miskin tidak masalah, saya tidak bisa membantu" ucap sekertaris


"Kau jangan banyak tingkah, mulai sekarang semua fasilitas yang kau gunakan akan ditarik. Jika ingin uang kerja keraslah" sarkas ibunya.


Erik terdiam mendengar ucapan ibunya. Tidak pernah ada dalam bayangannya akan hidup miskin.


Berita tentang anjloknya saham Riandy Group membuat orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis kaget. perusahaan sebesar Riandy Group digadang-gadang akan bisa bersaing dengan Buana Group ternyata bisa jatuh hanya dalam satu malam.


Raihan yang sudah mendapat kabar dari asisten Bobi tersenyum. "Inilah akibatnya jika berani mengancam orang yang kusayangi" ucap dalam hatinya.


"Tuan"


"Akhh" Raihan terjatuh dari kursi karena kaget tiba-tiba melihat Ivan didepannya. Dia kemudian bangun sambil meringis menahan sakit dipinggangnya.


"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya Ivan yang lagi berusaha menahan tawanya.


"Kau bisa teleportasi?" tanya Raihan.


"Tidak tuan" jawab Ivan.


"Kamu kalau masuk ketok dulu supaya saya tidak kaget" seru Raihan.


"Saya sudah ketuk tapi tidak ada jawaban" ucap Ivan.


"Hei Ivanova, kenapa selalu ada saja jawabanmu?" tanya Raihan.


"Eits. Jangan dijawab, Mana laporan yang saya minta" ucap Raihan


"Maaf Tuan sudah ada didepan anda" jawab Ivan. Raihan lalu membaca laporan tersebut.


"Sudah berapa lama dia melakukannya?" tanya Raihan


"Sudah berjalan beberapa proyek Tuan dan rata-rata proyek jangka panjang." jawab Ivan.


"Dia ternyata berani juga jadi tikus kantor" ujar Raihan.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan Tuan" tanya Ivan.


"Bekukan semua rekeningnya, sita semua asetnya sampai uang yang diambil terganti" perintah Raihan.


"Satu lagi kirimkan surat pemecatan" lanjut Raihan.


"Baik Tuan" jawab Ivan lalu meninggalkan ruangan itu.


Raihan kembali disibukkan dengan banyaknya laporan keuangan.


 


Hari minggu telah tiba. Pagi ini Raihan tidak bisa tenang, dadanya terus berdebar. Rahmat dan Anton sudah berada dikost Raihan.


"Duduk dulu, dari tadi loe mondar-mandir kayak setrikaan rusak. Pusing gue ngeliatnya." ujar Rahmat.


"Loe baru lamaran udah kayak gini gimana nanti kalo loe nikah bisa pingsan sebelum akad dilaksanakan" sahut Anton.


"Apalagi kalo malam pertama, baru naik ketempat tidur udah tepar duluan. Ha-ha-ha" ledek Rahmat.


"Kalian bukannya bantuin malah ngeledekin" protes Raihan yang jengkel melihat tingkah sahabatnya.


"Gue mau bantuin loe tapi loe kayak gini" ucap Anton.


"Santai aja, masa kemarin baru kayak gini udah kayak mau mati aja" sahut Rahmat.


"Trus gimana dong?" tanya Raihan yang sudah duduk diantara dua sahabatnya.


"Gini, loe tarik nafas dari hidung terus buang nafas melalui mulut lakukan sebanyak tiga kali" saran Anton.


Raihan lalu melakukan apa yang disarankan oleh Anton. Sekarang dia mulai tenang dan tidak gugup lagi.


"Gimana perasaan loe?" tanya Anton.


"Udah mendingan tenang sekarang" jawab Raihan.


"Nah sekarang loe siap-siaplah sejam lagi kita berangkat kerumahnya Raina" ucap Rahmat.


"Apa cuma kita bertiga yang pergi kesana?" Tanya Anton.


"Gak, nanti akan ada paman dan Ivan yang nemenin kesana" ucap Raihan.


"Nanti juga loe akan tau" jawab Raihan.


"Main tebak-tebakan lagi ni bocah" celetuk Anton.


Sementara itu dirumah Raina telah ramai dengan kedatangan keluarga dekat dan sahabat terdekat Raina.


Dikamar Raina telah berkumpul sepupu perempuan dan sahabat Raina. Mereka masih asyik menggoda Raina yang sejak tadi sedang dirias oleh Aulia sahabatnya.


"Kakak cantik deh, jadi pengen juga" ucap Anita sepupu Raina.


"Eh kamu masih kecil, masih sekolah juga jadi belum boleh" Kristina menasehati.


"Ih kakak. Kan bukan sekarang tapi nanti" sanggah Anita.


"Kalian asyik berdebat saja, lihat bagaimana hasilnya" sahut Aulia.


"Wow emoji" sahut Kristina.


"Kakak bukan emoji tapi emezing" protes Anita.


"Ya itu maksud gue. Loe cantik banget kayak Bidadari turun dari langit-langit" ucap Kristina


"Cicak dong" celetuk Anita.


"Oke keris. Loe nyamain gue sama cicak?" protes Raina.


"Gak. Cuma kelebihan kata aja" bantah Kristina sambil nyengir.


"Gak usah berdebat, bentar lagi babang ojek datang buat meminang loe." sahut Aulia.


"Meminang, kata-kata kakak jadul banget" kali ini Anita yang protes.


"Hei bisa gak gak usah protes melulu" sahut Aulia.

__ADS_1


"Sorry kakak" ucap Anita sambil nyengir.


Sementara diruang keluarga rumah Raina, mama Indi lagi sibuk menata makanan yang disiapkan untuk tamu-tamu yang akan datang.


"Indi kamu istirahat dulu sebentar lagi tamunya akan datang" ucap saudara mama Indi Tante Indri yang tak lain mamanya Anita.


"Ini belum beres, masih banyak yang belum tertata" sahut mama Indi.


"Biarkan yang lain menatanya. Duduklah dulu" ucap mama Anita.


"Baiklah" sahut mama Indi lalu ikut bersama keluarga lain.


"Akhirnya anakmu dilamar juga" ucap Tante Cindy adik dari papa Chandra.


"Cindy, aku senang karena punya mantu sebentar lagi" ucap mama Indi.


"Anakmu tidak ikut?" tanya Tante Indri.


"Biasa anak cowok senangnya main sama teman-temannya, mana mau datang ke acara seperti ini" keluh Tante Cindy.


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja anakmu sama anaknya Indah" Celetuk mama Indi.


"Anakku baru SMA, biarkan dia mencari jodohnya sendirian" sahut Tante Indri.


"Anakku juga masih SMA, masih ingin hidup bebas." ujar Tante Cindy.


"Tapi anak gadismu harus kamu jaga baik-baik, jaman sekarang banyak kejahatan dimana-mana" mama Indi menasehati adiknya.


"Nyonya tamunya sudah ada di jalan depan komplek" lapor pelayan.


"Terimakasih bi, eh saya lihat dulu kedepan" ucapnya lalu berjalan menuju ke depan.


Mama Indi dan papa Chandra berdiri diteras menunggu calon menantunya. Tampaklah dua mobil mewah memasuki pekarangan rumah. Setelah mobil berhenti turunlah Anton dan Rahmat dimobil pertama sambil membawa bingkisan. Ivan turun dimobil kedua lalu membukakan pintu belakang.


Papa Chandra kaget melihat siapa yang turun dari mobil, dia sangat mengenal orang tua itu yang tak lain Asisten Bobi. Lalu disusul Raihan calon menantunya.


Papa Chandra langsung bergegas menyambut asisten Bobi.


"Selamat datang, sungguh suatu kehormatan bagi keluarga kami menyambut kedatangan asisten Bobi" sapa papa Chandra dengan menunduk memberi hormat.


"Dokter Chandra, lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" ucap asisten Bobi membalas sambutan papa Chandra.


"Alhamdulillah baik Tuan, silahkan masuk" papa Chandra mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk kedalam.


"Papa kenal dengan orang tua itu?" bisik mama Indi kepo.


"Dia asisten Tuan besar Cakra Buana pemilik Buana Group" Jawab papa Chandra berbisik ditelinga mama Indi.


"Ada hubungan apa Raihan sama asisten Bobi?" gumah mama Indi dalam hati.


Setelah semua tamu duduk diruang keluarga dan menyerahkan seserahan lamaran yang langsung diterima mama Indi. Mama Indi kemudian menyuruh adiknya untuk memanggil Raina yang masih berada didalam kamar.


Ceklek. Suara handle pintu diputar lalu muncul Tante Indri dari balik pintu.


"Ayo turun tamunya sudah datang" ajak Tante Indri.


"Gue gugup nih" ujar Raina.


"Santai sist. Kami temenin kok" ucap Aulia.


Mereka pun berjalan menuju tangga untuk turun kelantai satu. Raihan yang duduk menunggu kedatangan Raina makin berdebar tidak karuan.


"Kenapa loe?" tanya Anton.


"Gugup gue" jawab Raihan.


Raihan terpana melihat Raina berjalan ditangga bersama sahabatnya. Dia melongo melihat pemandangan itu. Raina terus berjalan kemudian duduk diantara kedua orangtuanya.


"Hei air liurmu menetes" canda Rahmat. Raihan yang tersadar langsung menyeka dengan tangannya.


"Bohongin gue ya" bisiknya.


"Assalamualaikum, Terimakasih kepada keluarga Raihan yg sudah berkenan datang berkunjung di kediaman kami yang sederhana ini. Selamat datang juga kepada Tuan Bobi, sudah lama kami baru dipertemukan kembali, perkenalkan saya Chandra Adinata ditemani istri saya satu-satunya dan tidak akan ada duanya Indi Rahayu bersama putri saya yang juga satu-satunya Raina Chandra. Serta adik saya Cindy bersama suaminya dan adik ipar saya Indri bersama suaminya. Terimakasih" papa Chandra memulai perkenalan.


Asisten Bobi kemudian berdiri "Assalamualaikum. Saya Bobi Satria, mungkin banyak yang bertanya apa hubungan Raihan dengan saya? Saya adalah teman dekat dari kakek Raihan. Saya diminta untuk menggantikan beliau karena faktor kesehatan jadi beliau tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Adapun tujuan kami kesini akan disampaikan oleh ananda Raihan" Asisten Bobi memberikan sambutan.

__ADS_1


Raihan masih diam belum ada pergerakan. dia masih berusaha mengontrol nafasnya.


To be continued.


__ADS_2