
Seperti hari sebelumnya diperusahaan Buana Group, Anya membacakan jadwal kegiatan Direktur. Ivan yang mendapat laporan dari keamanan dilobby.
"Sepertinya Erik terus memaksa untuk bertemu Tuan, sekarang dia buat lagi keributan dilobby perusahaan" lapor Ivan.
"Sudah kamu panggil dia kemari, saya ingin lihat maunya apa? Serta sebesar apa nyalinya?" sahut Raihan.
Ivan langsung bergegas ke lobby perusahaan untuk memanggil Erik keruangan Direktur. sampai dilobby Erik masi terus memaksa untuk bertemu dan membentak resepsionis perusahaan.
"Seperti ini kelakuan Tuan Erik jika ingin bertamu? Dimana sopan santun anda sebagai tamu diperusahaan kami?" Ucap Ivan.
"Anda Direktur Buana Group?" tanya Erik.
"Perkenalkan saya Ivan asisten pribadi Direktur" ucap Ivan.
"Saya ingin bertemu dengan Direktur" sahut Erik.
"Ada hal penting apa sehingga anda ingin bertemu dengan Direktur?" tanya Ivan.
"Nanti saya sampaikan sendiri" ujarnya.
"Baiklah silahkan ikuti saya" ucap Ivan lalu melangkah menuju lift khusus untuk Direktur.
Setelah sampai dilantai 20 pintu lift kembali terbuka. Ivan melangkah keluar diikuti Erik dibelakangnya.
Ivan kemudian mengetuk pintu lalu membukanya kemudian mempersilahkan Erik masuk kedalam ruangan Direktur.
"Silahkan duduk" Ivan mempersilahkan Erik duduk dikursi tamu. "Tuan, tamu sudah datang saya permisi" ucap Ivan.
Anya membawa minuman untuk tamu Direktur dan meletakkan didepannya.
"Ivan, bawa pacarmu keluar saya ingin berbicara berdua dengan tamunya" ucap Raihan yang masih berdiri menghadap ke jendela dan membelakangi tamunya.
"Baik tuan kami permisi" ucap Ivan.
"Erik Riandy. Saya harap kamu menemui saya untuk membicarakan hal penting" ucap Raihan.
"Maaf tuan karena sudah mengganggu waktunya. Saya ingin anda membantu perusahaan keluarga kami agar terhindar dari kebangkrutan" Sahut Erik.
"Kamu tahu kenapa perusahaan keluargamu bisa bangkrut, karena saya yang menginginkan seperti itu" ucap Raihan yang masih membelakangi tamunya.
"Maafkan kesalahan saya Tuan, Saya tidak akan mengulangi lagi" Erik memohon.
"Kamu tahu, kamu itu terlalu sombong. Menganggap semua bisa dibeli dengan kekayaanmu. Saya hanya ingin memberi pelajaran kepada kamu agar tidak membangga-banggakan kekayaan orangtuamu. Sekarang apa masih bisa kamu menikmati kekayaan itu? Tidak kan?" sahut Raihan.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk" ucap Raihan.
"Sayang, katanya mau ngajakin jalan?" ucap Raina yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Raihan dari belakang.
"Saya masih ada tamu sayang. Kamu tidak lihat dia?" tanya Raihan. Raina langsung berbalik menghadap kearah kursi tamu.
"Kak Erik. Ngapain loe disini?" tanya Raina.
"Saya memintanya untuk mengembalikan keadaan perusahaanku seperti sebelumnya" ucap Erik.
"Ha-ha-ha. Ngapain loe minta tolong sama tukang ojek?" tanya Raina.
__ADS_1
"Siapa yang minta tolong sama tukang ojek? saya minta tolong sama Direktur." jawab Erik.
"Loe belum lihat wajahnya?" tanya Raina.
"Belum" jawab Erik.
"Sayang, duduk disini deh. gak capek apa berdiri disitu?" sahut Raina tapi tidak digubris oleh Raihan.
"Hei Fulgoso mau kemari atau tidak?" Mode garang sudah diaktifkan
Raihan langsung berbalik "Mau dong sayang" jawabnya.
Erik langsung terkejut melihat sosok Direktur yang ada didepannya. Dia tidak menyangka jika orang yang dihinanya adalah Direktur Buana Group.
"Bagaimana? masih mau minta tolong sama tukang ojek?" tanya Raina.
"Saya minta maaf telah menghina anda" ucap Erik.
"Saya tidak masalah anda menghina saya tapi tidak ada pengecualian jika itu menyangkut wanita yang ada di sampingku ini. jangankan mengancamnya, membentak atau berkata keras saja saya tidak pernah. Apalagi jika tindakan anda diketahui oleh kakek saya, bisa-bisa nama keluargamu tinggal kenangan" ucap Raihan.
"Saya benar-benar menyesali tindakan saya. Itu saya lakukan karena terus ditolak oleh Raina dan membuat saya frustasi" sahut Erik.
Raihan kemudian mengambil HP nya lalu menghubungi nomer mamanya Erik.
"halo siapa ini?" jawaban dari seberang.
"Selamat pagi nyonya, anak anda datang memohon untuk mengembalikan keadaan perusahaan anda. saya akan mengembalikan perusahaan anda dengan syarat semua fasilitas yang Anda berikan untuk anak anda dicabut dan diganti dengan motor matic biar dia bisa ngojek dan saham 20% sebagai jaminan. Saya beri anda waktu 6 bulan. Jika dia bisa menjalani profesi itu tanpa bantuan anda saya akan mengembalikan saham anda. bagaimana nyonya?" tanya Raihan
"Baiklah saya setuju dengan persyaratan yang tuan berikan" jawab nyonya Riandy.
"Terimakasih Tuan" ucap nyonya Riandy.
"Sama-sama" Raihan langsung menutup telponnya.
"Ingat Erik jangan pernah kau mencoba untuk membodohi saya dan kau tidak diperbolehkan mendekati rumah orangtuamu selama 6 bulan. itu hukuman untukmu" ujar Raihan.
"Baiklah saya terima hukuman dari anda dan say minta maaf sekali lagi" ucap Erik.
"Ingat kak, jangan sampai karena tidak bisa menahan omongan sehingga membuat kamu hancur" ucap Raina.
"Maafkan saya, saya permisi" pamit Erik.
"Silahkan" ucap Raina.
Erik kemudian keluar dari ruangan Direktur.
"Sepertinya setan yang merasukimu sudah keluar sayang" ucap Raihan.
"Maksudnya?" tanya Raina.
"Itu tadi Raina waktu pertama saya kenal, lembut dan bijaksana" ucap Raihan lagi.
"Hei Fulgoso, jadi dari kemarin kamu mengira saya kerasukan? Awas ya kamu tidak akan kuampuni" omel Raina.
"Tuh kamu kerasukan lagi sayang, hei Sulastri keluar kau dari tubuh calon istriku." ucap Raihan lalu bertingkah seperti dukun yang lagi mengobati pasiennya.
"Ckckck" Raina berdecak "Kayaknya obatmu habis mas" ucapnya lalu memencet tombol untuk memanggil Anya.
__ADS_1
Anya membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan. "Ada apa pak?" tanya Anya.
"Siapa yang manggil kamu?" tanya Raihan.
"Saya yang manggil kenapa? omel Raina.
"Ampuni hamba baginda Ratu" ucap Raihan.
"Ada apa Nona?" tanya Anya.
"Tolong pesankan Jus alpukat dong sekalian untuk mbak juga" sahut Raina.
"Baik Nona perintah saya laksanakan. Permisi" ucap Anya.
"Saya juga ya" Pinta Raihan.
"Loh mau juga toh? Saya kira tadi bukan anda yang memanggil saya" canda Anya.
"Hei sekertaris gak ada akhlak, mentang-mentang sudah jadian kamu seenaknya ya" omel Raihan.
"Mbak Anya sudah jadian? Selamat ya. ah tidak jadi saya pesan saya mau langsung ke kantin. Mas disini saja ya saya pinjam mbak Anya dulu sama Aulia ya"Ucap Raina.
"Eh sayang. Kamu kesini mau nemuin saa atau Anya sih?" tanya Raihan.
"Tadinya mau ketemu mas tapi ada yang lebih seru jadi mas ditinggal dulu ya sayang cup." Raina mengecup bibir Raihan sebentar lalu pergi bersama Anya menuju kantin kantor.
"Dasar mode KEPOnya aktif lagi. Ditinggal deh" gumah Raihan lalu beranjak menuju meja kerjanya.
Sementara Raina turun menuju lantai 5 untuk memanggil Aulia di kubikalnya. Ting. Pintu lift terbuka mereka berdua berjalan mencari Aulia.
"Itu Nona Kubikalnya"Tunjuk Anya.
"Hei Marimar, ada berita hangat" ucap Raina.
"Hei Maria, bikin kaget saja. Apa beritanya?" Aulia penasaran.
"Mau tahu? Ayo kita pergi ke kantin" ajak Raina.
"Ayok lah" sahut Aulia.
"Hei anak magang selesaikan pekerjaanmu sebelum pergi" ucap salah satu karyawan. mereka tidak mengenal Raina dan Anya menunggu diluar.
"Saya mau jalan dulu. Kau selesaikan sendiri karena itu tugasmu" jawab Aulia.
"Kurang ajar, berani melawan kau ya" karyawan itu maju ingin menampar wajah Aulia.
"Hei kau, Bersikap baiklah jika masih ingin ingin bekerja di kantor ini" teriak Anya yang tiba-tiba muncul.
"Maaf mbak Anya dia ingin pergi meninggalkan tugasnya" lapor karyawan itu.
"Kau lihat Nona ini baik-baik, kenali baik-baik, Dia calon istri Direktur. Jadi jangan coba-coba untuk melarang nona memanggil temannya" sahut Anya tegas. membuat karyawan itu mulai takut.
"Mbak Anya sangat kalo marah" bisik Aulia ditelinga Raina dan dibalas anggukan.
"Ayok ngapain bisik-bisik" ajak Anya santai.
"Langsung ke kantin kita" ucap Raina sambil merangkul keduanya. Karyawan yang melihat tingkah ketiganya geleng-geleng kepala dengan kedekatan ketiga gadis itu. Mereka memang tidak kapok akan peringatan yang diberikan oleh Direktur waktu itu. Mereka mengira hanya sekedar ancaman saja padahal Ivan yang langsung memprosesnya tanpa lewat divisi keuangan.
__ADS_1