Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Akhirnya Raina Sadar


__ADS_3

Sudah dua hari ini Raihan tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan. dia lebih memilih untuk menunggu didepan ruangan ICU. Dia tidak ingin kecolongan lagi seperti kemarin yang membuat Raina kembali menjalani operasi.


Asisten Bobi hanya diam memperhatikan tuan mudanya itu, dia sudah beberapa kali membujuk Raihan agar mau beristirahat di kamar yang telah disiapkan tapi tetap saja dia menolak.


Tak lama mereka dikejutkan dengan munculnya dokter spesialis yang berlari menuju ruangan ICU tempat Raina berada. Dengan wajah khawatir Raihan langsung berdiri lalu melangkah mendekati pintu ruangan dan mencoba untuk masuk kedalam tapi ditahan oleh perawat jaga yang berada.


"Tuan tidak boleh masuk" tegur perawat itu sambil menahan Raihan.


"Biarkan saya masuk, saya ingin melihat keadaan istri saya" ucap Raihan.


"Maaf tuan tapi sesuai peraturan, anda tidak diperbolehkan masuk ketika dokter sedang menangani pasien" sahut perawat itu.


"Biarkan saya masuk jika tidak kupecat kau" emosi Raihan naik melihat perawat itu terus menahannya dipintu.


"Tuan muda sabar. dia hanya menjalankan tugasnya, jika anda masuk akan mengganggu dokter yang sedang mengambil tindakan" ucap asisten Bobi.


Tak lama dokter keluar dari ruangan itu. "Ada apa tuan?" tanya dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Raihan.


"Istri anda baik baik saja"


"Terus kenapa kalian berlari memasuki ruangan ICU?


"Oh itu, pasien yang kemarin masuk mengalami gagal jantung tapi sekarang sudah kembali normal" jawab dokter itu. "Oh tuan mengira nona Raina yang drop lagi? bukan tuan tapi pasien yang ada disebelah kanan Nona Raina lagian saya dokter jantung tuan bukan dokter saraf" jawab dokter itu tersenyum.


"Ah pergi sana, bikin kaget saja." ucap Raihan jengkel. Dokter itu kemudian pergi meninggalkan Raihan sementara asisten Bobi menahan tawanya melihat tingkah laku tuan mudanya.


"Tuan kami tidak dipecat kan? tanya perawat itu.


"Diam kalian, pergi sana kerjakan tugasmu" Omel Raihan. "Paman gak usah nahan tawanya, entar sakit lagi karena terlalu lama menahan tawa"


"ehem.. Maaf tuan muda, saya tidak tertawa" ucap asisten Bobi berusaha untuk santai.


Dari kejauhan terlihat papa Chandra dan mama Indi berjalan bersama menuju ruangan ICU. dibelakang berjalan dokter spesialis bersama beberapa orang perawat. Setelah sampai di depan ruangan, dokter Chandra memanggil Raihan.


"Rai. Raina mau dipindahkan ke ruang perawatan, kondisinya sudah membaik" ucap papa Chandra.

__ADS_1


"Kamu tidak pernah ganti pakaian? dari kemarin masih ini pakaian yang kamu kenakan. lihat penampilan berantakan begitu. " tanya mama Indi.


"Jangankan ganti pakaian mandi saja tidak pernah" ejek Asisten Bobi.


"Ah jorok kamu, mandi sana atau kamu saya larang untuk menemui Raina. Istrimu bisa komplikasi jika berdekatan dengan kamu yang banyak kuman. Ingat Rai, Raina gampang kena penyakit yang disebabkan oleh bakteri" seru papa Chandra, Raihan hanya menatap tajam ke arah asisten Bobi sementara asisten Bobi hanya cuek sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Baik pah saya mandi dulu" ucapnya lalu berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas dimana tempat istirahatnya yang sudah siapkan berada.


Dokter Chandra dan dokter spesialis beserta beberapa perawat masuk kedalam ruangan ICU untuk menyiapkan pemindahan Raina keruang perawatan.


20 menit kemudian Raihan sudah rapi berjalan menuju ruang ICU, sampai di sana dia tidak melihat asisten Bobi maupun mama Indi. dia kemudian menghubungi asisten Bobi.


📱"Paman dimana?" tanya Raihan.


📱"Diruang perawatan nona Raina" jawab Asisten Bobi.


Tampa menunggu lagi Raihan mematikan sambungan teleponnya dan berlari menuju ruangan perawatan istrinya.


Sementara diruang perawatan Mama Indi hanya diam menatap wajah putri kesayangannya itu yang masih tertidur dan enggan untuk membuka matanya.


"Siapa yang menelepon Anda asisten Bobi?


"Heran makin hari IQnya makin menurun sejak Raina sakit."Ucap mama Indi.


"Namanya juga bucin, dia takut meninggalkan ruangan ICU karena nanti Raina drop lagi" seru asisten Bobi.


"Terus kalau Raina drop dia mau ngapain? bukannya membantu malah ganggu dokter" seru mama Indi.


Pintu Ruangan perawatan terbuka dan muncul Raihan yang sudah membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Rai, kamu pulang saja istirahat, beberapa hari ini kamu kurang tidur biar mama sama papa yang jaga disini" ucap mama Indi.


"Gak usah mah, biar saya saja yang jaga mama pulang saja" tolak Raihan.


"Bisa-bisa nanti Raina sehat kamu yang dirawat. Sudah pulang sana sebentar baru kesini lagi. nanti kalau ada apa-apa mama hubungi kamu" ucap mama Indi dengan tegas.


"Raihan gak usah pulang mah, biar dilantai atas saja Raihan tidur" ucap Raihan.

__ADS_1


"Ya sudah kamu pergi tidur sana, lihat itu lingkaran mata sudah kayak panda." ucap mama Indi terus mengomel.


Raihan dengan wajah terpaksa kembali ke lantai atas untuk beristirahat. memang sejak kemarin dia belum tidur sama sekali mengingat kondisi Raina masih terus dipantau oleh team dokter.


"Wow, nyonya bisa juga mengendalikan Raihan. padahal dari pagi saya membujuknya tapi tidak bergerak dari tempat duduknya."Ucap asisten Bobi..


"Asisten Bobi perlu tahu, di dunia ini Raihan sepertinya hanya takut sama Tuhan dan mama mertuanya. hahahaha" Ucap dokter Chandra sambil tertawa. Asisten Bobi yang mendengarnya juga ikut tertawa.


Mama Indi yang sedang menggenggam tangan Rania merasakan jari tangan Raina bergerak. spontan dia memanggil suaminya.


"Pah, jarinya bergerak" ucap mama Indi.


"Apa, jarinya bergerak.? tanya dokter Chandra. dia kemudian segera memeriksa pupil mata Raina dengan senter lalu senter tersebut dia gerakkan untuk melihat reaksinya. "Sepertinya sebentar lagi dia akan sadar. hanya karena masih lemah jadi belum membuka matanya" ucap dokter Chandra.


"Serius pah, Alhamdulillah anakku akhirnya sadar juga" pekik mama Indi sambil mencium tangan anaknya itu.


"Mah.." Raina terbangun mendengar suara keras mamanya.


"Iya sayang mama disini" ucap mama Indi. Dokter Chandra memencet tombol agar dokter spesialis saraf segera datang.


"Mah.. Ha-haus..


Mama Indi segera mengambil air lalu menyendok air kemulut Raina beberapa kali.


"Mah kepalaku sakit sekali, mah sakitttt"


"Tunggu sayang, sebentar lagi dokter akan datang kesini memeriksa keadaan kamu" ucap mama Indi menenangkan putrinya.


Tak lama team dokter datang memeriksa keadaan Raina. setelah beberapa menit mereka pun selesai dengan pemeriksaan dan telah memberikan suntikan obat penghilang rasa sakit.


"Nona sudah sadar tapi masih lemah. Kami sudah menyuntikkan obat agar kembali beristirahat. 2 jam lagi dia akan bangun" seru dokter spesialis saraf.


"Terima kasih atas bantuannya Dok"


"Sudah tugas saya, kami akan memeriksa kembali setelah nona bangun. kami permisi dulu dokter Chandra, tuan Bobi dan nyonya" Mereka kemudian pamit lalu meninggalkan ruangan itu.


Mama Indi berencana menelpon Raihan tapi dicegah oleh papa Chandra "Biarkan dia istirahat dulu, baru beberapa menit dia tidur masa dibangunkan lagi" ucap dokter Chandra "Lagian Raina juga kembali tertidur setelah diberi obat oleh dokter." ucapnya lagi

__ADS_1


Asisten Bobi hanya mengirimkan pesan kepada Kakek Cakra dan memberi tahu jika nona sudah sadar tapi kembali tertidur karena pengaruh obat.


To Be Continued


__ADS_2