Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Rencana Besar Raihan


__ADS_3

Raihan sedang berada di depan rumah Raina. Menunggu kekasihnya itu didalam mobilnya untuk mengantarnya kekampus untuk kuliah pagi itu.


Setelah beberapa menit muncullah Raina dari dalam rumah "Pagi sayang" sapa Raina lalu berlari memeluk calon suaminya itu.


Raihan membalas pelukan dengan lembut "Pagi juga sayang, ayo kita berangkat" Balas Raihan lalu membukakan pintu mobilnya. Setelah Raina masuk, Raihan menutup pintu mobil dan Raihan pun naik dipintu seblah kanan.


Raihan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus Raina. "Sayang hari ini aku ada meeting habis makan siang, nanti kamu dijemput sama supir ya" ucapnya kemudian.


"Aku langsung pulang?"


"Jangan dong, kamu kekantor aja nanti kita kebutik nyari pakaian buat nikahan kita nanti" sahut Raihan.


Raihan meraih tangan Raina lalu mengecupnya "Fokus dong nyetir mobilnya tidak usah pegang-pegang segala" protes Raina karena Raihan asyik mengelus tangannya.


Raihan hanya tersenyum mendengar protes dari Raina. "Ini fokus kok, lihat mataku masih fokus menatap kedepan" sahut Raihan.


"Eleh, mata fokus kedepan tapi tangan juga fokus mengelus"


"Hahaha. Namanya juga usaha, biar romantis gitu" elak Raihan


"Iya kamu romantis sayang, Rombongan makan gratis" ejek Raina. "Kapan kakek akan datang sayang?" tanyanya lagi.


"Katanya Minggu depan dia datang, sudah gak sabar ya pengen ketemu kakek?" tanya Raihan.


Raina hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Dia sebenarnya penasaran dengan sosok dari kakek Cakra yang menurut orang-orang sangat tegas.


Mereka pun sampai diparkiran fakultas kedokteran. "Bentar pulang jam berapa?" Tanya Raihan yang masih enggan melepas tangan Raina.


"Hari ini aku mesti ngajuin proposal penelitian, gak tentu pulangnya. Nanti aku hubungi ya" jawab Raina lalu mencium tangan Raihan."Mas lepas dong, nanti telat masuknya" protesnya karena tangannya tidak dilepaskan


Raihan lalu mencium kening Raina "Jangan lupa hubungi kalau selesai semua urusan kamu" ucapnya lalu melepaskan tangan Raina.


Raina turun dari mobil "Hati-hati ya" ucapnya lalu melangkah meninggalkan Raihan menuju gedung kampusnya.


Raihan kemudian melajukan mobilnya menuju kantor. Sesampainya dikantor dia disambut oleh resepsionis "selamat pagi pak, ada yang menunggu bapak di ruang tunggu" ucap lestari.


Raihan menengok sebentar "Siapa? Apa sudah ada janji?" tanyanya.


"Belum janji pak, Namanya Renata perwakilan dari Grahadi Properti pak" jawab Lestari.


"Suruh keruanganku saja" ucapnya lalu melangkah menuju lift khusus. Sesampainya dilantai 20 dimana ruangannya berada, Raihan lalu berjalan menuju meja kerja sekertaris.


"Anya, sebentar ada perwakilan dari Grahadi, kamu ikut masuk kedalam ya sekalian panggil pacarmu." ucapnya.


"Baik Tuan" jawab Anya singkat.


Raihan berjalan memasuki ruangannya lalu duduk dikursi kerjanya "Mau apa lagi sibandot tua itu" gumahnya.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk" lalu masuklah Anya bersama Ivan dan seorang gadis cantik berpakaian seksi kedalam ruangan itu.


"Selamat Pagi, saya Renata perwakilan dari Grahadi Properti" ucapnya lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Raihan hanya menatap sebentar "Duduklah, silahkan bahas dengan asisten dan sekertaris saya tujuan anda ingin bertemu dengan Saya." ucapnya lalu kembali melanjutkan


pekerjaannya.

__ADS_1


"Ternyata memang susah didekati" batin Renata. Dia kemudian mengikuti Ivan dan Anya yang lebih dulu duduk disofa.


"Maaf sebelumnya kalau kedatangan saya mendadak, Grahadi Properti ingin bekerjasama dengan perusahaan anda untuk suplai material untuk perumahan yang anda bangun. Kami sudah menghubungi pihak Citra properti tapi mereka menolak" sahut Renata menjelaskan.


"Kami sudah memberikan kewenangan kepada pihak Citra properti untuk memilih Sub kontraktor. Jadi maaf kami tidak bisa membantu" ucap Ivan yang sudah mengetahui tentang masalah antara Raihan dengan Grahadi Properti.


"Sebagai pemilik proyek anda bisa mengajukan kepada pihak Citra agar menunjuk kami sebagai penyuplai material" bujuk Renata.


"Saya memang tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan yang licik seperti Grahadi kecuali bosmu mau berlutut meminta maaf kepada saya" potong Raihan yang melihat Renata agak memaksa. "Anda sudah lama bekerja di sana" lanjutnya.


"Saya sudah 5 tahun disana"


"Artinya anda pernah dengar karyawan yang dipecat karena dituduh menggelapkan dana padahal itu hanya untuk menutupi kebusukan anaknya" sahut Raihan dan Renata hanya mengangguk.


"Sayalah orangnya, jadi sampaikan salam ku sama tua Bangka itu dan katakan Raihan menolak kerjasama. Silahkan tinggalkan tempat ini" ucapnya tegas.


"Baik Tuan nanti saya sampaikan. Permisi" sahut Renata lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan jengkel karena ditolak oleh Direktur.


Ivan kemudian melaporkan kembali masalah perusahaan dan Anya membacakan jadwal seperti biasa. Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan Direktur


Raihan kemudian melanjutkan pekerjaan kembali. Karena perusahaan pusat masih tahap pembangunan jadi dia juga sibuk mengurus pembangunan kantor tersebut.


Skip


Sudah jam 12 tapi Raina belum juga menghubungi Raihan. Dia kemudian menelepon Raina


"Assalamualaikum sayang" ucapnya ketika sambungan teleponnya diangkat.


"Waalaikumsalam mas, kenapa?" tanya Raina.


"Belum sayang, paling sejam lagi baru keluar dari kampus" jawab Raina.


"Ya udah nanti kukirim sopir kesana biar kami gak perlu nunggu" sahut Raihan


"Oke. Saya tutup ya telponnya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawabnya lalu menutup telponnya. Raihan lalu menghubungi Anya untuk mengirimkan sopirnya kekampus Raina sekaligus memesan makanan.


Tok. tok. tok.


Anya bersama Ivan masuk kedalam ruangan Direktur untuk menemani makan siang. "Ivanovic, kamu kalau ngedate kemana saja" tanya Raihan.


"Dia mah kaku, masa setiap ngedate kalau bukan nonton ya makan di resto. Bukannya gak bersyukur ya tapi ini restonya itu terus gak pernah ganti" keluh Anya.


"Kamu kenapa gak bilang kalau gak suka restonya?" tanya Ivan.


"Kamu gak nanya" elak Anya.


"Kalau ngedate ajak dong jalan kemana gitu, jangan cuma nonton saja. Sesekali ajak kepantai atau ketaman hiburan gitu" Raihan menyela perdebatan keduanya. "Eh Anya, kamu udah kenalin sama mamamu?" tanyanya kemudian.


"Dia gak saya kenalin aja sudah kenal duluan waktu tuan perintahkan mama dipindahkan ke ruang VIP" jawab Anya.


"Gercep juga si Ivanovic ini" puji Raihan.


"Kalau urusan itu paling penting jadi harus gercep" Senyum Ivan mengembang di bibirnya ketika dipuji.


"Terus kapan nikahnya" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Masih lama, saya masih ingin membahagiakan mama, kami kan masih muda. Biar kami bisa menikmati masa-masa pacaran dulu" jawab Anya.


"Iya Tuan biarkan saya ngumpulin uang dulu buat beli rumah masa depan kami" lanjut Ivan.


"Kalau rumah gampang nanti tinggal pilih saja yang mana cocok, Atau kita buat komplek yang isinya kita-kita saja gimana?" tiba-tiba Raihan punya ide untuk membuat komplek yang isinya dia dan sahabatnya.


"Boleh tuh biar nanti saya gak jauh-jauh jika mau ketemu nyonya bos" sambut Anya antusias.


"Ivanovic catet ya, ini planning kedepan untuk buat komplek isinya 8 unit mansion." sahut Raihan.


"Baik Tuan" jawab Ivan.


"Desainnya unitnya nanti terserah pemilik saja. Kamu hubungi teman-teman groupmu, biar mereka saja yang milih desainnya" ujar Raihan


Ivan hanya mengiyakan saja kan kalau sudah keinginan bos besar harus dituruti yang punya uang dia jadi yang lain ikut saja.


Setelah makan siangnya selesai Raihan bersama Ivan mengikuti rapat dengan team perencanaan pembangunan perumahan.


Setelah berada didalam ruangan rapat, wajah-wajah tegang tampak terlihat dari peserta rapat tersebut.


"Selamat siang. Bagaimana sudah siap dengan persentasinya? tanya Raihan.


"Sudah pak" Jawab manajer perencanaan.


"Silahkan mulai persentasinya" ucap Raihan. salah satu staf perencanaan maju untuk mempresentasikan rancangan perumahan yang sudah dibuatnya.


Raihan menatap serius presentasi tersebut sambil tersenyum. "Saya ingin nantinya ada tambahan fasilitas umum seperti fasilitas olahraga, lapangan basket, bulutangkis, tennis dan sepakbola. Untuk rumah ibadah dan taman saya rasa cukup" lanjutnya.


"Bisa saja diwujudkan akan tetapi hanya 20% lahan yang diperuntukkan untuk fasum pak" jawab manager.


"Tambahkan untuk fasum, jadi unit rumah 70% Fasilitas umum dan jalan 30%" sahut Raihan.


"Baik pak, jadi ditambahkan 10% untuk fasum" ujar manager.


"Ya itu sudah cukup. Nanti desain finalnya laporkan secepatnya. saya harap dalam 3 bulan proyek ini bisa berjalan." sahut Raihan


"Baik pak"


"Saya rasa meeting kali ini cukup. Saya tunggu Final desainnya" ucapnya lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian keluar dari ruangan. Staff perencanaan bernafas lega karena selamat dari amukan Direktur.


Sementara itu Raina ditemani Anya sedang berada didalam ruangan Direktur. Raihan yang baru selesai rapat masuk kedalam ruangannya. "Sudah lama sayang?" tanyanya lalu duduk disamping Raina.


"Baru beberapa menit, mas sudah makan? tanyanya


"Mas sudah makan dengan pasangan kaku" jawab Raihan.


"Eh kata Anya mas mau buat komplek yang isinya kita-kita saja?" tanya Raina.


"Masih rencana sayang, soalnya kalau tinggal di mansion kakek letaknya jauh dari kantor" jawab Raihan.


"Asyik bisa tetanggaan bareng sama sahabat" ucap Raina dengan gembira.


"Sejam lagi kita kebutik nyari gaun ya sayang, ajak sekalian sahabatmu"


Raina lalu menghubungi sahabatnya agar nantinya bisa bertemu dibutik untuk memilih gaun pengantin.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2