Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Raina pulang


__ADS_3

"Sebenarnya kakek sakit hati dengan kelakuan adik Kakek yang serakah dengan harta yang bukan haknya padahal selama ini kakek sudah membantu meningkatkan kehidupan mereka. Baiklah besok antar kakek menemui mereka sebelum kamu menyerahkan kepada pihak kepolisian. untuk istri dan cucunya biarkan mereka kembali ke Surabaya" ucap kakek Cakra. "Tapi kamu siapkan tempat tinggal dan membuatkan usaha agar kebutuhan sehari-hari mereka dapat terpenuhi" lanjutnya.


Raihan hanya mengangguk ketika mendengar ucapan Kakek Cakra yang memintanya untuk membantu kehidupan keluarga Ganendra.


Awalnya dia berfikir jika kakek melarangnya memenjarakan saudaranya, dia akan mengasingkan keluarga mereka di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota dan akses kesana hanya berjalan kaki.


Tapi sepertinya rencana itu harus disingkirkan karena kakeknya tidak melarangnya memasukkan saudara kandungnya ke penjara hanya saja istri dan anak mereka harus dia bantu untuk bisa bertahan hidup.


"Aku pergi dulu kek, besok pagi akan aku jemput" Raihan kemudian pamit kepada kakeknya.


"Hati-hati dijalan, salam sama istrimu" Sahut kakek Cakra. Raihan kemudian mencium tangan kakeknya lalu berjalan meninggalkan mansion itu menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit dia memarkirkan mobilnya lalu berjalan menuju ruangan perawatan istrinya. Dikoridor dia bertemu dengan Rindi yang akan meninggalkan rumah sakit.


"Selamat siang tuan" sapa Rindi ketika berpapasan dengan Raihan.


"Hai Rin, kamu habis menjenguk Raina?" tanya Raihan.


"Iya tuan, kalau begitu saya permisi pulang dulu" pamit Rindi kepada Raihan.


"Kamu pulang sendiri?" tanya Raihan


"Mas Satrio sebentar lagi datang menjemput tuan"


"Baiklah, hati-hati dijalan" ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya ke tujuan awalnya.


Sampai di ruangan perawatan istrinya dia membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu.


Tampak Raina sedang duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk ditempat tidur sambil tersenyum menyambut kedatangannya.


"Ada angin apa nih sampai dia menyambut kedatanganku dengan senyuman manisnya? apa kepalanya kepentok lagi?" Raihan bermonolog dalam hati melihat tingkah laku istrinya.


"Selamat siang sayang, selamat siang mah" Raihan menyapa istrinya dan mertuanya yang lagi duduk bersantai di sofa.


"Selamat siang mas" sapa Raina dengan senyum manisnya.


"Kamu dari mana? kata Asisten Ivan kamu tidak kekantor" tanya mama Indi.


"Kamu dari mana? kamu selingkuh yah? ketemu dengan cewek lain diluar? Awas aja kalau sampai selingkuh" Belum Raihan menjawab pertanyaan mama Indi Raina sudah mencecarnya dengan pertanyaan.


"Aku dari markas mah mengurus tikus kantor yang menggerogoti perusahaan." Raihan menjawab pertanyaan mama Indi. Dia kemudian mendekati istrinya itu. "Aku tidak selingkuh sayang, lagian buat apa selingkuh kalau wanita paling cantik ada disini" Raina langsung merona mendengar pujian dari suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa? mukanya merah begitu" Raihan menyentuh pipi Raina sambil pura-pura tidak tahu jika istrinya sedang malu.


"Ih apaan sih" Raina menepis tangan Raihan yang menyentuh pipinya.


"Ih istriku malu-malu" goda Raihan membuat Raina memalingkan wajahnya.


Raihan terus saja menggoda Raina yang menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Raihan menarik tangan istrinya lalu mengecup pipinya membuat Raina melotot tajam kearah Raihan.


"Kenapa cium-cium? Mah ini mas Raihan nyium pipi Raina" Raina mengadu seperti anak kecil kepada mamanya.


"Gak apa-apa, lagian kalian berdua belum pacaran saja sudah berani ciuman apalagi sekarang sudah jadi suami-istri, pasti sudah biasa ciuman bahkan lebih buktinya kamu sudah hamil" ucap mamanya santai tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel yang ada di tangannya.


"Ih mama, aku kan gak ingat. malah aku merasa ini pertama kalinya dicium laki-laki selain ayah" ucap Raina cemberut.


"Jadi tidak mau dicium?" tanya mama Indi dengan nada tinggi membuat Raina terkejut.


"Mau eh tidak"


"Kalau begitu sini saya cium lagi" ucap Raihan mendekatkan wajahnya ke wajah Raina. Raina refleks mendorong wajah Raihan menjauh dari wajahnya.


"Sana ah, malu ada mama" ucap Raina..


"Jadi kalau gak ada mama boleh dong nyium kamu"


"Kok gak boleh kan kita udah sah sebagai suami istri jadi boleh dong"


"Ih kamu kok jadi mesum, kemarin-kemarin gak mesum gini"


"Gak apa mesum sama istri sendiri" ucap Raihan dengan senyum genitnya.


"Rai, kata dokter besok Raina boleh pulang, keadaannya sudah membaik." ucap mama Indi.


"Ra, kamu mau pulang kerumah atau ke mansion?" tanya Raihan


"Pulang kerumah mama saja dulu, kan supaya nanti bisa tiap hari dipantau sama papa" ucap Raina. Dia masih belum bisa jika hanya tinggal berdua dengan suaminya tanpa ada keluarganya.


"Baiklah jika itu keinginan kamu, mas ikut saja" ucap Raihan. "Besok siang kita pulang ke rumah"


"Kenapa bukan besok pagi?"


"Besok pagi mas ada urusan penting dengan kakek Cakra."

__ADS_1


"Lebih penting dari aku?


"Oke aku nyerah, mas antar kamu pulang dulu baru kemudian pergi dengan kakek. bagaimana?"


"Setelah pemeriksaan besok pagi kita pulang kerumah" ucap mama Indi.


*****


Keesokan paginya, setelah mendengar dari dokter spesialis saraf dan spesialis kandungan yang datang memeriksa tentang kondisi Raina dan dokter sudah memperbolehkan untuk pulang, Raihan bersiap-siap untuk mengantarkan Raina kerumah mertuanya.


"Aku ganti baju dulu mas" ucap Raina lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi. Raihan yang melihat Raina berjalan langsung memapah menuju kamar mandi "Sudah, mas tunggu diluar saja" lanjutnya.


"Kenapa? Aku udah lihat semuanya" sahut Raihan.


"Mas pernah ngintip aku ya?


"Kok ngintip sih, kan kita udah pernah..


"Mas keluar dulu" potong Raina sambil mendorong tubuh suaminya keluar dari kamar mandi. Raihan keluar dari kamar mandi sambil tersenyum, dia sangat senang melihat ekspresi wajah istrinya malu-malu.


Setelah berganti pakaian, Raina membuka pintu kamar mandi, Raihan langsung membantunya berjalan keluar dari kamar mandi kemudian mendudukkan dikursi roda yang telah disiapkan untuknya.


Dibantu oleh Mark dan Bams yang membawa tas pakaian, Raihan mendorong kursi rodanya menuju parkiran mobil. Disana juga sudah menunggu sopir yang datang untuk menjemputnya. Mama Indi menunggu kedatangan Raina dirumah setelah Raihan melarangnya untuk datang menjemput dirumah sakit.


Raihan menggendong tubuh istrinya dan mendudukkan dikursi belakang mobil Alphard lalu menutup pintunya. Dia kemudian naik ke mobil lewat pintu sebelahnya. Sopir melajukan mobilnya menuju rumah Raina dengan kecepatan sedang.


Setelah berkendara hampir 30 menit, mobil yang ditumpangi Raina dan Raihan memasuki pekarangan rumah milik dokter Chandra. Raihan terlebih dahulu turun dari mobil kemudian menurunkan kursi roda lalu mengangkat tubuh istrinya kemudian mendudukkan dikursi roda tersebut.


Dia kemudian mendorong kursi roda menuju pintu utama. Setelah mengetuk pintu mama Indi kemudian membuka pintu rumah.


"Welcome home" Teriakan dari mama Indi dan sahabatnya menyambut kepulangan Raina. Mama Indi langsung memeluk anaknya.


"Kalian ada disini?" tanya Raina melihat kedua sahabatnya bersama pasangannya ada dirumahnya.


"Kami sengaja datang untuk menyambut kepulangan kamu dari rumah sakit" seru Aulia sembari memeluk Raina karena senang karena sahabatnya telah keluar dari rumah sakit.


"Welcome home Ra." sambut Kristina yang kemudian memeluknya dengan erat


"Makasih ya kalian sudah repot-repot datang menyambutku"


"Masuk kedalam dulu yuk, kita ngumpul di ruang keluarga biar Raina bisa duduk istirahat disana" sahut Raihan kemudian mendorong kursi roda menuju ruang keluarga.

__ADS_1


Sampai di ruang keluarga Raihan memindahkan tubuh istrinya ke sofa panjang biar lebih nyaman. Raihan bersama dengan Anton dan Rahmat memisahkan diri dan membiarkan ketiga sahabat itu berkumpul bersama.


__ADS_2