Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Mengunjungi calon mertua


__ADS_3

Ivan berjalan dengan gontai menuju kamar mandi untuk menuntaskan misi penting. Anya hanya tersenyum melihatnya, Tingkah lucu Ivan yang sekarang berbanding terbalik dengan sifat dia yang bermuka dingin seperti dulu waktu pertama kali bertemu. Walau dia akui dirinya yang jatuh cinta pada pandangan pertama namun menaklukkan hati Ivan adalah pencapaian terbesarnya.


Setelah itu Anya berjalan menuju ruang makan, dia kemudian mengambil belanjaan diatas meja lalu memasukkan sebagian kedalam kulkas.


Dia kemudian memasak makanan untuk dibawa kerumah sakit, dia berencana makan siang bersama Ivan dan ibunya dirumah sakit karena hanya weekend Ivan punya banyak waktu bersama ibunya.


Ivan yang baru selesai mandi dan berganti pakaian keluar dari kamarnya. Dia melihat sekeliling mencari keberadaan Anya. Setelah melihat Anya berada di dapur, dia pun mendekatinya dan memeluknya dari belakang.


"Aku gak bisa masak kalau kamu gak melepaskan pelukannya"


"Tapi aku masih ingin menghirup wangi tubuhmu sayang" ucap Ivan sambil mencium leher Anya.


"Geli sayang, Sudah ah. Hentikan, bisa-bisa keperawananku hilang jika kamu begitu terus"


"Gak akan sayang, sebelum kita menikah tidak akan ku sentuh itu sayang. Palingan yang ini saja yang disentuh" ucap Ivan seraya meremas dada Anya.


"Aw.. Tanganmu mulai nakal" ucap Anya lalu berbalik menghadap kearah Ivan dan mencium bibir Ivan. Tangannya mengarahkan tangan Ivan untuk meremas bukit kembarnya.


"Kuisisnkan kamu memilikinya tapi jangan melewati batas. Setelah kita menikah akan kuijinkan ini untuk memasukinya" ucap Anya yang mengelus senjata milik Ivan.


"Ah sayang, kamu juga nakal." ucap Ivan yang kembali ******* bibir Anya. Kancing bajunya mulai terlepas satu persatu, Ivan membenamkan wajahnya diantara dua bukit kembar itu.


"Sayang, Akhh.. ******* lolos dari mulutnya. sudah sayang nanti pertahanan ku runtuh" ucap Anya.


Ivan kemudian berdiri kembali lalu mengecup bibir Anya. Resleting celananya terbuka, dia mengarahkan tangan Anya untuk mengelusnya.


"Bantu aku menyelesaikannya"pinta Ivan.


Anya yang pernah nonton video panas mengerti maksud Ivan "Disini?" tanya Anya. Ivan hanya mengangguk.


Skip.


Mereka berdua berjalan memasuki Rumah sakit dengan bergandengan tangan. Beberapa dokter dan perawat yang berpapasan dengan mereka menunduk hormat.


Asisten Ivan dan sekertaris Anya adalah pasangan yang sangat dikenal oleh dokter dan perawat, apalagi mereka berdua adalah orang kepercayaan dari direktur Buana Group Jakarta dan mereka terkenal tegas membuat dia disegani.

__ADS_1


Setelah masuk kedalam lift. Anya menekan angka 3 dimana disanalah ruangan VIP ibunya dirawat. Setelah sampai di lantai 3, mereka pun keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan ibunya dirawat. "Siang suster, ini dibagikan ya dengan teman-temannya" ucap Anya seraya menyodorkan paper bag kedepan suster dan menaruh diatas meja.


"Ini apa nona? Kami dilarang menerima apapun dari keluarga pasien.


"Kalau begitu anggap aku sekertaris direktur yang sedang mengadakan kunjungan, Gampang kan?"


"Terima kasih nona, Terima kasih tuan" ucapnya sedikit takut melihat raut muka asisten Ivan


Anya menatap Ivan "Senyum dong, jangan pasang muka sangar begitu"


"Aku hanya tersenyum padamu" jawab Ivan.


"Maaf ya, bagaimana perkembangan ibuku?"


"Sudah membaik nona, Minggu depan bisa pulang menurut dokter. Hanya saja setiap Minggu harus cek up dengan dokter dan juga direktur hanya mengijinkan pulang jika betul-betul sembuh" jawab perawat.


"Baiklah, nanti saya bicara sama dokter Chandra" sahut Anya


"Baik Nona"


"Kalian jaga calon mertua saya dengan baik" ucap Ivan lalu meninggalkan mereka menuju ruangan ibunya Anya.


"Tidak apa-apa nona, saya kagum sama nona yang bisa bertahan dengan asisten Ivan."


"Namanya juga cinta, lagian nih dia itu bucin sama aku" bisik Anya "Udah ya aku masuk dulu" lanjutnya lalu berjalan menuju pintu ruangan VIP.


Sampai didalam kamar nampak pemandangan yang membuatnya tersenyum. Terlihat ibunya sedang duduk di sofa tamu sembari bercanda dengan Ivan. Mereka berdua seperti ibu dan anak yang sedang melepas rindu Setelah beberap hari tidak bertemu.


"Ibu jika sudah sama Ivan lupa sama anaknya"


"Anya, sopan kalau bicara, panggil mas Ivan. Kamu itu lebih muda dari nak Ivan" tegur ibunya.


"Mana mau dia manggil aku mas, ibu tau sendiri sudah beberapa kali aku meminta dia manggil mas tapi dia tidak mau Bu"


"Kamu jangan sembarang ya! bohong Bu, dia tidak pernah minta begitu"

__ADS_1


"Pokoknya ibu mau kamu memanggil calon suamimu dengan panggilan mas. Jangan membantah"


"Baiklah Bu, aku akan manggil dia mas Ivan. Ibu mau makan sekarang?


"Sekarang saja, kalian sudah makan?


"Kami sengaja mau makan bersama dengan ibu, katanya kan kangen sama mas Ivan jadi Anya bawa dia kesini untuk makan siang, kan katanya ibu kesepian" jawab Anya.


"Ibu kesepian disini? Apa perawat jarang menemani ibu? Apa perlu aku tambah perawat yang menemani ibu disini biar lebih ramai" cecar Ivan yang khawatir calon mertuanya tidak diperhatikan oleh perawat.


"Perawat selalu menemani ibu jika Anya belum datang. Mereka tidak pernah bosan menjaga dan merawat ibu. Gak usah ditambah, ibu gak mau jika ditemani oleh orang baru kenal"


"Baiklah Bu, aku tidak akan mengganti dan menambah perawat untuk ibu. Yang penting sekarang ibu jangan berpikiran macam-macam. Aku beberapa sangat sibuk sehingga jarang menemui ibu, aku juga gak bertengkar sama anak ibu. Mana berani Bu, tau sendiri bagaimana kalau anak ibu marah. Langsung lapor sama nyonya muda" sahut Ivan.


Anya hanya tersenyum mendengarkan percakapan mereka berdua sementara dirinya dicuekin.


"Jadi kamu takut sama anak ibu atau nyonya muda?


"Dua-duanya Bu. Bos aja gak berani marahin keduanya apalagi saya yang cuma asisten" jawab Ivan.


"Mas Ivan gak pernah kok marahin Anya Bu, palingan negur jika aku salah" Anya menimpali ucapan Ivan.


"Bu, cepat sembuh ya biar aku sama Anya bisa cepat nikahnya"


"Mas Ivan kenapa sih gak sabaran? Aku juga gak akan kemana-mana"


"Ibu juga gak sabar lihat kalian menikah, jadi kapan rencana kalian menikah?


"Rencananya bulan depan bu, tapi itu jika ibu sudah sembuh karena aku sama Anya mau ibu menghadiri pernikahan kami" Ivan tersenyum kearah Anya yang duduk disampingnya, perlahan tangannya menggenggam tangan Alya seakan tidak ingin melepaskannya.


Ibunya hanya tersenyum melihat kedekatan keduanya "Ibu sudah baikan, tetap jalankan rencana kalian berdua"


"Iya Bu, ibu harus sehat terus supaya nanti bisa jagain cucu ibu dirumah" ucap Ivan.


"Tapi dokter Chandra belum mengijinkan ibu untuk keluar dari rumah sakit sampai ibu benar-benar sembuh. Dan ibu harus rajin minum obat agar tidak terjadi komplikasi" Ivan mengingatkan calon mertuanya.

__ADS_1


Prov Ivan end.


To Be Continued


__ADS_2