
Mereka sudah berada diruang makan, Diruang makan terdapat meja makan besar yang dikelilingi kursi 20 buah. Diatas meja makan tersusun rapi hidangan mewah yang sudah disajikan koki hotel bintang lima.. Raina mendorong kursi roda menuju tempat kepala keluarga bisanya duduk dan Raina menarik kursi diseblah kiri kakek Cakra dan pandangan mereka tertuju pada Raina yang menurut mereka dia sudah seperti dekat sekali. Kakek Cakra mempersilahkan mereka untuk duduk dikursi yang sudah disediakan.
Mereka sudah duduk dikursi yang sudah disediakan, Kakek cakra mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan sementara Raina melayani Kakek Cakra dengan telaten sehingga membuat Raihan merasa disepelehkan.
“Calonnya siapa sih sebenarnya kenapa kakek yang dilayani” gumahnya pelan namun bisa didengar oleh orang disampingnya.
“Ada yang cemburu nih” Bisik Anton yang duduk disamping Raihan.
“Siapa yang cemburu? Gue santai saja” elaknya.
“Jujur saja deh, gak usah ngelak begitu” Bisik Anton lagi.
Raihan hanya mendengus jengkel mendengar ucapan Anton. Dia kemudian mengambil makanannya dengan malas, Mama Indi yang melihat adegan itu tersenyum “Raina, layani juga calon suamimu. Dia sepertinya cemburu sama kakeknya sendiri” Goda Mama Indi.
“Eleh, sama kakek sendiri cemburu. Mau saya batalkan pernikahannya?” sahut kakek Cakra.
“Jangan dong dibatalkan kek. Maaf sudah cemburu sama kakek” ucap Raihan yang takut jika pernikahannya sampai batal padahal kakeknya hanya bercanda saja.
“Makanya kamu jangan macam-macam sama kakek”
“Mas apa-apaan sih, biar begitu dicemburuin. Sini piringnya saya ambilkan” geram Raina melihat tingkah Raihan.
Raihan yang mendengarnya bergidik ngeri dan menyesali tindakan yang dilakukan sebelumnya. “Mampus gue, kayaknya bakal kena hukuman lagi nih” gumah Raihan.
“Makanya jangan bikin ulah, loe tau sendiri kalo singa betina bangun bakal ngamuk” bisik Anton.
“Ngapain kalian bisik-bisik?” tanya mama Indi
“Enggak ma, gak ada apa-apa” elak Raihan.
__ADS_1
“Ini makan gak usah bisik-bisik segala, awas nanti kamu sudah buatku malu” Bisik Raina.
Mereka makan dengan tenang sambil menikmati makanan lezat yang terhidang dihadapan mereka , hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring memecah kesunyian dimeja makan. Raihan sebenarnya tidak menyukai suasana itu tapi takut nantinya Raina tambah marah sehingga ikut diam seperti yang lain.
Setelah menikmati makan malam , mereka melanjutkan dengan mengobrol santai diruang keluarga sementara para calon pengantin bergeser ketaman belakang untuk memisahkan diri dari orang-orang dewasa.
Mereka memilih mengobrol santai sembari menikmati the hangat yang disediakan pelayan dirumahnya. Raihan memperhatikan Raina yang sejak tadi diam saja menatap kedepan dengan tatapan kosong “Kenapa sayang? Apa ada masalah?” tanya Raihan.
“Apa keputusan menikah denganmu sudah tepat atau tidak?” Raina balik bertanya membuat Raihan mengerutkan keningnya heran mendengar pertanyaan Raina. Sahabat-sahabatnya hanya menatap diam mendengar pertanyaan itu.
“Kenapa bertanya seperti itu? Apa tidak yakin dengan jika aku sangat mencintaimu?” tanya Raihan kembali.
“Aku yakin tapi melihat sikapmu tadi yang cemburu buta biar dengan kakekmu sendiri, bagaimana nanti jika nanti aku coas dan kerja dirumah sakit terus memeriksa pasien laki-laki pasti kamu cemburu juga. Jadi mending dari pada nanti membuat langkahku dibatasi bagaimana jika pernikahan ini dibatalkan saja sebelum semuanya terlanjur terlaksana. Aku tidak bisa menikah dengan lelaki yang suka cemburu buta dan tidak bisa memisahkan mana yang pantas dicemburui mana yang tidak” oceh Raina panjang lebar.
Raihan terdiam memikirkan perkataan Raina sementara yang lain juga hanya menatap Raina tanpa berani mengeluarkan kata-kata, mereka takut jika Raina serius dengan ucapannya maka mereka juga akan kena imbasnya.
“Kamu mencintaiku dan akupun begitu juga. Tapi cinta tanpa kepercayaan hanya isapan jempol semata dan tidak akan memunculkan kebahagiaan. Kamu tidak bahagia karena terus curiga dan takut jika aku selingkuh sedangkan aku tidak bahagia dengan kecemburuan dan sifat posesifmu yang tidak beralasan. Pikirkan baik-baik sebelum melanjutkan pernikahan kita” ucap Raina dengan nada santai tapi menusuk.
“Emang kalau aku melayani kakek akan berpaling gitu?" Bentak Raina "Tindakanmu saat makan malam bersama orangtua kita membuatku malu, mana mungkin aku mendahulukanmu sementara ada kakek yang lebih dituakan
duduk disana. Mana sopan santunku sebagai cucu menantu jika mendahulukanmu” Raina masih dengan muka tegangnya menahan emosinya yang sejak tadi ingin dikeluarkan. Seandainya dia datang sendiri tanpa orang tuanya dia sudah dari tadi pergi dari tempat itu.
“Maaf bukan bermaksud membela siapa-siapa ya, tapi kamu memang tidak bisa menahan rasa cemburumu saat makan bersama keluarga. Walau menurutmu Cuma bercanda tapi raut muka kesalmu sampai dilihat mama Indi” Anton menimpali.
Raihan menyesal sekali telah bersikap seperti itu, dia mau embantah tapi semua yang diucapkan Raina dan sahabatnya benar adanya.
“Tingkat kedewasaan seseorang bukan hanya dilihat dari umur. Memang umur mas Raihan masih diatas aku yang baru 22 tahun 3 bulan lagi tapi sikap mas seperti anak SMA yang baru mengenal cinta” ucap Raina.
“Maaf atas kesalahanku, aku tidak bisa berjanji tapi aku akan berusaha untuk lebih baik lagi” ucap Raihan.
__ADS_1
“Pikirkan dan cerna semua kata-kataku dengan baik, aku hanya seorang perempuan yang kedepannya harus mengikuti segala keinginan suamiku. Kami para perempuan hanya bisa mengikuti tanpa bisa menentang kehendak suami”
“Betul itu. Laki-laki sebelum menikah harus memikirkan Apakah nanti membebaskan istrinya berkarir atau tidak karena kami perempuan juga ingin berkarir dan menjalankan pasion kami” Ucap Aulia menyetujui pendapat Raina.
“Yang pastinya bagi saya tidak akan menghalangi istriku nanti untuk menggapai cita-citanya” Rahmat memberikan pendapatnya.
“Aku juga. Asal dia bisa membagi waktunya antara keluarga dan karir” sahut Anton.
“Aku mengerti. Apapun keinginan istriku aku akan mendukungnya yang penting dia bisa membagi waktu antara keluarga dan karier seperti yang dikatakan Anton” Ucap Raihan yang sudah mengerti maksud dari Raina.
“Yang penting nantinya kamu mas bisa menahan cemburunya dan kalau ada apa-apa jangan emosi dulu tapi bicarakan baik-baik karena hanya satu kesalahan bisa membuat semua kebaikanmu hilang. Laki-laki yang dipegang adalah kata-katanya jangan sampai ada kata-katamu yang menyakitiku maka aku akan meninggalkanmu” sahut Raina memperingatkan.
“Aku akan berusaha yang terbaik sayang untuk membahagiakanmu” ujar Raihan.
“Kupegang kata-katamu” sahut Raina.
“Semua sudah clear kan? Gue dari tadi bingung mau ngomong apa. Pembicaraanmu terlalu memusingkanku”
sahut Kristina yang baru mulai berbicara.
“Dasar Boncel, jadi dari tadi loe nyimak tapi gak ngerti juga toh?” Tanya Aulia.
“Emang bahas apa sih? Yang gue bisa ngerti hanya masalah kebebasan berkarir yang lainnya gue gak ngerti” keluh Kristina.
“Nanti bakalan dijelaskan lagi sama Aulia atau bang mamat, tenang saja” ucap Raina.
“Tenang sayang nanti aku akan menjelaskannya” sahut Rahmat.
Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang pelayan memberitahukan jika orangtua mereka sudah berniat untuk pulang karena malam telah larut.
__ADS_1
To Be Continued