
Raihan melongo tidak percaya dengan ucapan Raina “Bicara salah, diam lebih salah. Betulan lagi dapet ni cewek, barusan disuruh diam sekarang ditanya lagi kenapa diam” ucapnya dalam hati.
Raina mendengus kesal “Tuh diam saja, emang sepertinya sudah bosan berbicara sama saya” ucapnya dengan mata mulai berembun dan mimik muka yang sendu.
“Bukan sayang, tadi kan disuruh diam jadi aku diam. Takutnya kamu marah” elak Raihan.
“Jadi aku yang salah begitu?” ucapnya mulai meneteskan air mata.
Raihan yang melihat itu merasa bersalah “Maaf bukan begitu, maafin aku ya sayang. Aku gak akan pernah bosan sayang” ucapnya hati-hati.
Mereka pun sampai diparkiran bandara. Raihan melirik Raina lalu menariknya masuk kedalam pelukan hangatnya. “Aku sangat mencintaimu jadi jangan pernah berfikiran seperti tadi ya.” Ucapnya kemudian.
“Maafin aku juga, gak tau kenapa hari ini sepertinya moodku berubah-ubah”
“Iya sayang. Ayo kita turun nanti kakek menunggu lama” Ucap Raihan lalu melepas pelukannya dan kemudian menghapus air mata yang jatuh dipipi Raina dengan jarinya. Mereka kini sudah berada didalam bandara menunggu kedatangan kakek Cakra, Raihan melihat kakenya duduk diatas kursi roda dan didorong oleh Asisten Bobi.
Raihan meraih tangan Raina dan mengajaknya menemui kakek Cakra. Kakek tersenyum melihat Raihan bersama seorang gadis berjalan mendekatinya. “Kakek” ucap Raihan selaya meraih tangan kakek Cakra lalu
menciumnya. “Kakek kenalkan ini Raina calon istriku” ucap Raihan memperkenalkan.
Raina kemudian mendekat lalu mencium tangan kakek Cakra. “Selamat datang kek, senang bisa bertemu kakek. Bagaimana kabar kakek?” ucap Raina.
“Alhamdulillah kakek sehat, kakek senang ternyata calon istri Raihan cantik” ucap kakek Cakra sambil tersenyum bahagia.
Raina melirik Asisten Bobi “Selamat datang Asisten Bobi. Bagaimana kabar Anda? Senang bisa bertemu lagi” sapa Raina.
“Kabar baik nona. Saya juga senang beremu nona kembali” jawab Asisten Bobi.
“Mari kek. Kita pulang kerumah” ajak Raihan lalu mereka merjalan keluar bandara. “Tunggu disini sebentar, saya ambil mobil dulu” Ucap Raihan lalu pergi kearah parkiran untuk mengambil mobilnya.
Kini mereka telah sampai dimansion kakek Cakra yang dijakarta. Mereka disambut pelayan yang bekerja disana, kakek cakra sudah lumayan lama tidak datang kemansion itu sejak kesehatannya mulai memburuk.
“kakek istirahat dulu, nanti kita ngobrol lagi” ucap Raihan.
“Baiklah, kakek istirahat dulu. Nak, kamu jangan pulang dulu ya, nanti kita makan malam bersama” ucap kakek Cakra kepada Raina.
“Baik, kakek istirahat dulu karena pasti capek naik pesawat” balas Raina dengan sopan. Kakek Cakra diantar oleh asisten Bobi dan pelayan menuju kamarnya dilantai 1 untuk beristirahat. Sedangkan Raina diajak ketaman
belakang oleh Raihan. Mereka kemudian duduk disalah satu bangku taman yang ada disana.
__ADS_1
“Kamu udah gak marah kan sama mas?” tanya Raihan.
“Siapa bilang, aku masih marah ya. Cuma tadi ada kakek saja jadi harus sopan dong depan kakek.” Jawab Raina.
Ting. Sebuah pesan masuk diaplikasi chat Raina.
Aulia “Rindi sekarang lagi dirumah sakit, tadi pingsan diruangan kak Anton. Kata dokter dia lagi hamil”
Kristina ”Sekertaris Rindi hamil? Selamat ya @Sekertaris Rindi”
Alya “Selamat juga untuk Rindi”
Raina “Nanti kita sama-sama jenguk kerumah sakit, Selamat untuk @Sekertaris Rindi jangan terlalu capek dan istirahat yang cukup.”
Rindi ”Terima kasih semuanya”
Raihan menengok Raina yang tersenyum melihat Hpnya.”kenapa sayang? Kok senyum-senyum, emang chat siapa sih?”
“Sekertaris Rindi sedang dirumah sakit. Dia pingsan di ruangan kak Anton karena efek dari kehamilan” jawab Raina sambil terus mengetik membalas chat di HPnya.
“Wah pasti Satrio senang banget tuh, dia pengen banget punya anak” sahut Raihan menimpali.
“Akrab banget sama Suaminya Sekertaris Rindi mas.”Tanya Raina sambil menatap wajah Raihan.
“Dasar, ikut-ikutan saja. Tapi baguslah jika bisa akrab biar kita kalo ngumpul tidak ada yang merasa terasingkan” sahut Raina.
Raihan merengkuh tubuh Raina dan mencium pucuk kepalanya. “Aku suka jika kamu selalu tersenyum dan bahagia. Jangan marah lagi ya, mas sayang sama kamu” sahutnya kemudian.
“Maaf jika aku selalu marah-marah abisnya mas selalu buat ulah. Aku juga sayang sama mas Raihan dan aku marah juga karena takut mas berpaling” ucap Raina yang membalas pelukan hangat Raihan.
Mereka berdua menikmati indahnya langit sore hari ditaman itu. Sementara dirumah sakit Rindi diharuskan bedrest selama trimester pertama karena kandungannya agak lemah sehingga dokter melarangnya beraktifitas. Untuk tiga hari kedepan dia harus dirawat dirumah sakit agar dokter bisa memantau kondisinya.
Satrio dengan setia terus berada didekat istrinya “Sayang, nanti mas ajukan cuti buatmu ya. Pak Anton pasti mengerti kondisimu”
“Tapi mas. Apa nanti aku masih bisa kembali kerja lagi? Soalnya mas tau kan kalau aku masih harus membantu keluargaku dikampung. Takutnya Pak Anton nyari penggantiku” sahut Rindi dengan sedih.
“Kamu tenang saja, kamu masih bisa kembali bekerja. Mas juga kan bantu keluargamu dikampung. Mas kan hanya punya kamu jadi jangan khawatir dengan mereka. Aku juga sudah mengabari bapak dikampung dan mereka bahagia mendengar kamu hamil” Bujuk satrio. “Istirahat saja gak usah berpikir macam-macam, kasihan anak kita kalo kamu stress. Mas pulang dulu ambil pakaian dirumah ya” lanjutnya.
“Iya, kamu hati-hati mas. Sekalian belikan bakso mang Ucup didepan komplek” ucap Rindi. Satrio kemudian pamit dan berjalan keluar kamar perawatan. Setelah menitipkan istrinya kepada perawat dia bergegas pulang
__ADS_1
kerumahnya.
Satrio anak yatim yang dibesarkan dipanti asuhan, dia bisa menempuh pendidikannya dengan mengandalkan beasiswa dan bekerja sebagai cleaning sevice di Citra Properti. Dia berpacaran dengan Rindi sejak mereka
masih kuliah, Rindi juniornya dikampus beda 3 angkatan. Perkenalan mereka sejak masa orientasi kampus, sebagai sesama anak kuliahan yang pintar dan mengandalkan beasiswa membuat mereka dekat karena sering bertemu diperpustakaan dan akhirnya berpacaran. Setelah selesai kuliah Satrio melamar jadi pegawai tetap di
Citra Properti, dengan kinerja dan dedikasinya membuat dia hanya butuh 3 tahun untuk menjadi manager pemasaran.
Sementara Rindi yang direkomndasikan oleh Satrio menjadi sekertaris ketika Citra Properti mencari sekertaris wakil direktur. Setelah 5 tahun berpacaran dan bisa mempunyai rumah walau kecil dia akhirnya melamar
Rindi menjadi istrinya.
Siang telah berganti malam, kini Raihan bersama Raina, kakek Cakra dan Asisten Bobi duduk mengitari meja makan sambil menikmati makan malam. Raina yang baru pertama kali makan bersama kakek Cakra merasa canggung dan hanya diam menikmati makananya.
“Kalian besok akan fitiing gaun pengantin untuk resepsi di butik tempat kalian pesan gaun untuk akad, kakek sudah pesan dari jauh hari dan katanya sudah selesai” kakek Cakra membuka obrolan agar suasana tidak canggung.
“Besok paling bisanya agak sore kek, soalnya Raina kuliah sampai siang dan kita juga mau jenguk teman dirumah sakit” jawab Raihan.
“Siapa temanmu yang sakit?” tanya kakek penasaran.
“Itu sekertarisnya Anton yang dirawat karena kandungannya lemah dan harus bedrest” jawab Raihan.
Kakeknya kaget sekaligus bangga dengan kerendahan hati Raihan, hanya karena sekertaris temannya dia mau meluangkan waktunya untuk menjenguk. “Oww. Lagi hamil, sampaikan ucapan selamat dari kakek dan beri tahu kepada Dokter Chandra untuk memberi pelayanan yang baik. Ah kakek lupa ada anaknya disini.” Ucapnya sambil tersenyum. “Bagaimana kabar papamu? Kakek sudah lama tidak bertemu dengannya” lanjutnya.
“Alhamdulillah kek, papa sehat.”
“Syukurlah, Bobi. Kamu nanti hubungi keluarga dokter Chandra dan keluarga teman-teman Raihan untuk meluangkan waktunya makan malam bersama disini besok lusa” sahut kakek Cakra.
“Baik tuan, nanti akan saya berikan undangan kepada mereka” jawab Asisiten Bobi.
“Nak. Kenapa kamu mau sama tukang ojek ini? Dulu kan katanya kamu belum tahu kalau dia cucu kakek tapi kamu setuju menikah dengannya” tanya kakek Cakra.
“Mau bagaimana lagi kek. Saya dipaksa sama mama untuk menikah dengannya” jawab Raina ceplos.
“Hahahaha. Kasihan kamu Rai, istrimu ternyata hanya terpaksa.” Tawa kakek Pecah mendengar ucapan Raina.
“Iya kek, malah kami belum pacaran dan baru pertama kali jalan-jalan eh ketangkap basah sama mama ya sudah dipaksa kawin deh soalnya saya melanggar janji untuk tidak jatuh cinta sama siapapun sebelum selesai
kuliah, ketemu tukang ojek ini langsung jatuh cinta jadi pasrah saja kek.” Seloroh Raina yang sudah kembali mode ceplas-ceplosnya.
__ADS_1
“Hahahaha. Kakek harus berterima kasih kepada mamamu yang sudah mewujudkan impianku melihat cucu kakek ini menikah” ucap kakek Cakra disela tawa riangnya. Asisten Bobi tersenyum bahagia karena akhirnya bisa melihat kembali tawa khas dari kakek Cakra yang sudah lama tidak didengarnya.
To Be Continued