
Malam telah larut, waktu menunjukkan pukul 3 dinihari. Kristina terbangun dari tidurnya karena merasa lapar. Dia kemudian membangunkan suaminya yang sedang tidur dengan nyenyak.
"Sayang bangun, aku lapar" ucap Kristina.
"Pergilah makan jika lapar sayang" ucap Rahmat seraya menarik kembali selimutnya.
"Tapi aku mau makan yang ada di cafemu sayang" ucap Kristina.
Rahmat membuka matanya kembali dan melirik ke arah jam yang tergantung di dinding kamar.
"Sayang, ini baru jam 3, Cafe sudah tutup" ucap Rahmat.
"Tapi anakmu mau makan itu" ucap Kristina.
"Nanti pagi baru kita kesana, lagian mereka juga palingan sudah tidur" ucap Rahmat.
"Kamu sudah tidak sayang sama aku dan anakku" ucap Kristina sambil berurai air mata.
Rahmat kemudian bangun lalu duduk disamping istrinya yang sedang menangis.
"Aku sayang sama kamu tapi kamu juga harus mengerti ini jam berapa sekarang? mereka sudah tidur semua." ucap Rahmat membujuk istrinya sambil mengelus punggungnya untuk menenangkan.
"Kamu kan bisa buatkan yang biasa kumakan dicafemu." Ucap Kristina sambil terisak-isak..
"Baiklah ayo kita kedapur untuk membuatnya" ajak Rahmat.
"Ayo" ucapnya dengan sumringah.
"kalau bukan karena anakku gak bakalan gue bangun subuh untuk masak" gumahnya dalam hati.
Rahmat mengetahui kehamilan istrinya ketika dia menjemput istrinya dirumah sakit...
Flashback on.
Setelah pulang dari cafe, Rahmat menjemput istrinya yang sedang berada di rumah sakit menjenguk Raina.
Sesampainya di rumah sakit dia berjalan dengan santai seperti biasa menuju ruang rawat inap. Sesampainya di ruangan itu dia disambut oleh mama Indi yang langsung memberinya ucapan selamat.
"Selamat ya mat, kamu hebat" ucap mama Indi.
Rahmat hanya berdiri terpaku karena bingung apa yang dimaksud oleh mama Indi.
Mama Arini mendekati Rahmat kemudian menjabat tangannya "Selamat ya Nak, jaga baik-baik kadang permintaannya macam-macam tapi itu bukan keinginannya" ucap mama Arini.
Rahmat makin bingung dengan ucapan mereka yang ambigu. Giliran Aulia mendekatinya "bang Mamat jangan gampang emosi ya, nanti dia ikut stress dan berdampak buruk pada perkembangannya" ucap Aulia makin ambigu.
Ketika Anton akan mendekatinya Rahmat langsu menahannya dengan mengangkat tangan "Lo kalau mau ngeprank atau mau ikut ngerjain gue mendingan urungkan niatmu. Gue pusing maksud mama dan istri Lo itu" ucap Rahmat.
__ADS_1
"Siapa yang mau ngeprank, gue cuma mau bilang selamat Lo emang tokcer" ucap Anton.
Rahmat makin bingung dan mengacak-acak rambutnya. Raihan yang melihat sahabatnya itu makin pusing mendekatinya "lo mesti harus bisa tahan diri, jangan terlalu memaksanya" ucap Raihan sambil tersenyum.
"Ahhkkk.. Mama Indi, ini ada apa? mama Arini tolong jelaskan apa maksudnya? Sayang, ada apa ini?" ucap Rahmat dengan wajah memelas.
Kristina mendekati suaminya "Jawabannya ada didalam amplop ini" ucap Kristina sambil memberikan amplop putih kepada suaminya.
Rahmat dengan gugup dan gemetar membuka amplop itu dan mengeluarkan foto hasil USG 4D yang diberikan oleh dokter. Rahmat yang melihatnya makin bingung.
"Ini foto apaan, gelap dan hanya gambar segitiga. ini apa? foto air" ucapnya kemudian.
"Hadeu. Anak siapa sih ini? bloon Banget. Ini foto hasil USG istrimu dan yang kayak kacang janin yang ada didalam perut istrimu" ucap mama Arini sambil menjelaskan detail foto itu.
"Oww foto USG, bilang dong." Ucapnya santai "APA? jadi kamu hamil" seketika ekspresi wajahnya berubah sumringah.
"Hei jangan teriak-teriak" tegur Kristina.
"Heh maaf, gue terlalu bersemangat. Han sorry ya" ucap Rahmat.
"Gak apa-apa santai, wajar jika kamu bahagia. Raina juga pasti bahagia mendengar berita itu, gue aja bahagia" ucapnya Raihan santai.
"Mat, gak apa-apa. Kita semua harus bahagia, anakku juga gak mau jika sahabatnya bersedih" ucap mama Indi.
Mereka kemudian kembali duduk bersama di ruangan itu sambil mendengarkan penjelasan dari mama Indi tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat kehamilan.
Flashback end.
Kristina meraih piring makanan kemudian menyendok kemulutnya. Baru satu sendok dia makan Kristina menggeser piringnya "Aku sudah tidak mau makan ini, aku mau makan mie instan punyamu" ucap Kristina lalu mengambil mangkuk yang ada didepan Rahmat.
"Sayang itu punyaku, baru sesendok kok sudah diambil" protes Rahmat.
"Anakmu maunya makan ini, kamu makan yang itu saja" ucap Kristina sembari menyendok mie instan kemulutnya.
"Ugh tau gitu gue bikin aja mie instan 2 mangkok" gumahnya dalam hati.
"Kamu bilang apa sayang?" tanya Kristina.
"Eh, enggak sayang. ini enak" ucapnya "Lagi hamil kok bisa baca pikiran".
Setelah mie instan di mangkuknya habis dia melirik ke makanan yang sedang dimakan oleh Rahmat.
"Enak ya mas?" tanya Kristina dengan wajah polosnya.
"Enak dong" jawab Rahmat santai.
Kristina langsung menarik kembali makanan itu lalu memakannya.
__ADS_1
"Sayang kok diambil lagi? aku masih mau makan itu" ucap Rahmat.
"Masak lagi sana, anakmu mau makan yang ini" ucapnya cuek.
"Dasar, alasannya anak terus. Anak belum tahu apa-apa malah dijadikan alasan. Ughh. untungnya sayang kalau tidak gue makan juga nih" ucapnya dalam hati karena gemas melihat tingkah laku istrinya.
Setelah selesai makan Kristina langsung berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan suaminya. sementara Rahmat hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya masuk kedalam kamar karena sudah kenyang dan langsung meninggalkannya sendirian di ruang makan.
Sembari menahan rasa kesalnya dia berjalan mengikuti langkah istrinya masuk kedalam kamar tapi baru mau membuka handle pintu ternyata sudah dikunci dari dalam. Rahmat makin kesal, dia mengetuk pintu dan memanggil istrinya tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Kristina yang lupa dengan suaminya langsung berbaring dan terlelap karena kekenyangan.
Rahmat yang gusar mengacak acak rambutnya lalu berjalan menuju ruang keluarga dan membaringkan tubuhnya di sofa panjang.
Dipagi hari Kristina terbangun dari tidurnya, sambil meraba-raba tempat tidur disampingnya mencari keberadaan suaminya itu. Dia membuka matanya lalu melihat ternyata suaminya tidak ada didalam kamar "Pasti dia pergi kerja tanpa membangunkanku" ucapnya kesal.
Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai dia berjalan menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Dia kemudian berjalan menuju pintu kamar.
Setelah sampai dia memutar handle pintu ternyata terkunci, dia melirik ke arah kunci yang tergantung "Jangan-jangan gue kunciin suami diluar" ucapnya mulai panik.
Dengan cepat dia memutar kunci dan membuka pintu lalu bergegas untuk mencari keberadaan suaminya itu. Baru akan melangkah mama Dira memanggilnya "Tina, kamu bertengkar dengan suamimu?" tanya mertuanya itu.
"Eh enggak mah" elaknya.
"Terus kenapa suamimu tidur diruang keluarga? perasaan kalian berdua masuk bersamaan kedalam kamar" tanya mama Dira penasaran.
"Anu mah, tadi malam aku kebangun karena lapar dan ngidam makan makanan cafe jadi nyuruh mas Rahmat masak, setelah makan lupa kalau mas Rahmat ikut keluar jadi pas masuk kamar langsung aku kunci pintunya maaf ya mah, Anak mama jadi tidur di sofa" ucap Kristina.
"Hahahaha, kamu lucu sekali, masa sama suaminya sendiri lupa. ya udah bangunkan dia, sudah siang" ucap mama Dira sambil tersenyum.
Kristina melangkah menuju ruang keluarga, sampai disana dia melihat suaminya sedang pulas dengan tidurnya. Dengan hati-hati dia membangunkan suaminya itu "Mas bangun sudah siang" ucapnya pelan karena masih takut nanti suaminya marah.
"Hmm.." Rahmat kemudian bangun dari tidurnya dan melirik ke arah istrinya "Udah bangun? Nyenyak tidurnya sayang? Lega tidur sendiri?" ucap Rahmat yang masih sedikit kesal.
"Maafin aku mas, aku lupa kalau kamu masih diluar." ucap Kristina.
"Hah, bisa-bisanya lupa sama suami"
"Mas sendiri yang salah, harusnya itu mas duluan masuk kamar jadi aku tidak lupa kalau mas masih ada diluar" ucap Kristina.
Rahmat hanya terdiam sambil menatap istrinya itu. "Jadi mas yang salah?" ucapnya sambil menunjuk dirinya...
"Iya mas yang salah" jawab Kristina dengan nada kesal dan meninggalkan suaminya menuju dapur..
"kok gue yang salah? kan dia yang ninggalin gue diruang makan" ucapnya dalam hati.
"Sabar mat, emang begitu kalau istri lagi hamil di tiga bulan pertama" sahut mama Dira yang tiba-tiba muncul.
"Kalau bukan keempat sudah tidak begitu lagi ya mah?" tanya Rahmat.
__ADS_1
"Makin parah, Hahahaha" ucap mama Dira lalu meninggalkan Rahmat yang stress..
To Be Continued