Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Membicarakan Resepsi pernikahan


__ADS_3

Sementara itu Raina menjadi topik hangat pembicaraan di grup karyawan tentang bagaimana calon istri direktur mampu membuat tangan Renata terkilir karena dipelintir gara-gara ingin menggoda direktur. Berita itu tersebar karena karyawan melihat Renata dibawah oleh ambulans dengan tangan yang dipakaikan penyangga, mereka kemudian menanyakan hal tersebut kepada Anya sekertaris direktur.


Berita itupun sampai ditelinga Aulia yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Dia jengah dengan obrolan rekan kerjanya tentang kejadian diruangan Direktur “Apa kalian tidak ada kerjaan lain selain menggosipkan calon istri direktur?” omel Aulia yang dibalas cibiran rekan-rekannya.


“Mentang-mentang sahabatnya jadi ngebelain” sahut rekan kerjanya yang membenci Aulia.


Aulia tidak menangapi dia langsung mengambil HP-nya dan menelpon Raina. Tut. Tut.


“Halo, kenapa nelpon?” tanya Raina . suaranya terdengar karena Hpnya dia loudspeaker


“Hei apa yang kau lakukan sehingga jadi perbincangan dikantor ini? Tanya Aulia dengan suara keras membuat rekannya mulai takut jika dilaporkan kepada Raina.


“Apa yang loe bicarakan Maria? Gue kagak ngerti maksudmu?” tanya Raina bingung dengan maksud pertanyaan Aulia.


“Maksud gue, loe apain perwakilan Grahadi sehingga dibawa pakai ambulans” sahut Aulia menjelaskan maksud pertanyaannya.


“Oh itu, gue plintir tangannya sampai terkilir. Masa dia berani ganggu calon suami gue pakai baju seksi bikin gue naik darah aja” sahut Raina.


“Jadi dia gangguin Direktur pakai baju seksi? Kenapa loe gak bilang? Kalo gue bukan buat dia terkilir tapi bikin tangannya patah semua, seenaknya gangguin calon suami orang” Aulia jadi berapi-api mendengar cerita Raina.


“Émang loe dengar ceritanya bagaimana?”


“Gue denger loe itu katanya kejam karena langsung melabrak orang tanpa alasan” jawab Aulia sambil melirik kearah rekan kerjanya yang sedari tadi membicarakan Raina.


“Bilang siapa yang ngebicarain gue seperti itu? Gue patahin juga tangannya atau gue robek mulutnya sekalian” Ucapan raina yang seperti orang emosi membuat rekan kerja Aulia tambah ketakutan.


“Nanti loe cerita lagi ya, gue kerja dulu” sahut Aulia.


“Iya bentar loe cerita ke gue siapa yang ngomongin gue ya” ucap Raina


“Iya nanti gue cerita, gue matiin dulu telponnya. Bye.” Ucap Aulia langsung mematikan telponnya. Dia kemudian melirik rekan kerjanya itu “Loe denger kan dia bilang apa? Jadi siapa yang jahat disini? Cewek itu atau calon istri bos?” tanya Aulia sambil menunjuk rekan kerjanya.


“Gue ngaku salah, loe jangan laporin ke temanmu” sahut rekannya. Auliah hanya diam saja dan berbalik menghadap meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sementara diruangan Direktur, Raina yang baru menutup telponnya menatap Raihan dengan kesel "Masa karyawan mas cerita jelek tentang aku" Adu Raina.


"Nanti mas ngasih peringatan kepada mereka jika masih menggosip" sahut Raihan.

__ADS_1


"Tapi Aulia gak mau bilang siapa orangnya" keluh Raina yang masih kesal mendengar cerita Aulia.


"Artinya dia juga tidak enak buat ngelaporin rekan kerjanya sayang, berfikir positif dong" Sahut Raihan.


Raina yang cemberut kembali termenung mendengar ucapan Raihan, dia juga merasa terlalu berfikiran negatif dan langsung emosi.


Skip


Kini Raihan bersama Raina sudah tiba bersamaan dengan Aulia yang menyusul dengan mobilnya. Sementara Anton dan Kristina belum menampakkan batang hidungnya sementara Rahmat yang sejak pagi berada dicafe sedang menunggu kedatangan mereka.


“Lama baget sih? Gue udah nunggu dari pagi loh disini.” Sahut Rahmat menyambut kedatangan mereka.


“Hei Rahul durjana. Kau dari pagi disini karena bekerja disini.” Bentak Raina yang menanggapi candaan temannya itu. “Tina dimana Rahul? Kenapa belum tiba?” tanyanya kemudian.


“Dia sedang mengurus sesuatu, sebentar lagi pasti dia datang” jawab Rahmat. Mereka kemudian duduk dikursi masing-masing lalu memesan minuman sambil menunggu kedatangan Anton dan Kristina.


“Marimar, siapa yang cerita jelek tentangku dikantor?” tanya Raina to the point.


Aulia berfikir mencari alasan yang tepat “Gue hanya dengar dari beberapa orang tentang cerita itu, lagian sudah gue klarifikasi jadi loe tenang aja karena ga akan ada yang cerita jelek loe lagi” elak Aulia.


“Ya udah kalo loe gak mau ngomong, gue juga gak bakalan maksa loe untuk ngasih tau siapa orangnya” sahut Raina yang tau ekspresi sahabatnya jika menyembunyikan sesuatu.


“Emang Loe dari mana sampai telat pulang kantor? Biasanya loe juga yang paling duluan” sahut Raihan.


“Gue habis meeting dengan suplier proyek perumahan loe juga. Gue udah nemuin suplier yang akan kerjasama tapi nanti loe juga bisa memilih” jawab Anton.


“Loe yang nentuin karena gue udah ngasih kepercayaan penuh kepada Citra Properti dengan pembangunan proyek perumahan itu” balas Raihan.


“Eh malah cerita proyek, kan janjinya kemarin ada yang meu dibicarakan” sela Aulia.


“Nunggu Tina dulu baru kita bicara” sahut Raina. “Nanti kalau kita bicarakan sekarang malah diulagi lagi ketika Tina datang” lanjutnya.


“Tuh siboncel nongol juga” ucap Auliah yang melihat Kristina memasuki café dengan wajah lelah namun senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya. “Capek banget keliatannya, emang dari mana loe?” lanjutnya.


Kristina duduk di kursi kosong dekat Rahmat “Gue habis dari rumah murid gue, dia udah beberapa hari gak masuk sekolah” jawabnya.


Raihan melirik kristina “Emang sakit atau kenapa anaknya?” tanyanya kepada Kristina.

__ADS_1


“Keluarganya kesusahan biaya karena orang tuanya di PHK dari tempat kerjanya padahal anaknya pintar” Jawab Kristina.


“Nanti saya kasih note buat disampaikan kepada kepala sekolah biar anak itu dapat beasiswa, kasian jika harus putus sekolah hanya karena tidak ada biaya” sahut Raihan.


“Beruntung banget ya gue kenal dengan pemilik sekolah, segala permasalahan gampang diselesaikan” canda Kristina


“Udah sekarang kita bicarakan tentang masalah kakek Raihan, Apa yang diinginkan oleh kakek Cakra sehingga kita dikumpulkan disini?” potong Rahmat.


“Begini, kemarin aku ditelpon kakek soal pernikahan kita, dia protes karena hanya akad nikah saja tanpa resepsi karena kata kakek dia ingin segera diadakan resepsi secepatnya” Raihan menjelaskan.


“Emang kenapa kalau hanya akad nikah saja? toh nantinya akan diadakan juga jika kami sudah wisuda”


“Maksudnya Kakek ingin kita adakan resepsi tertutup dan hanya dihadiri para kolega dan keluarga saja. Ini juga menyangkut kesehatan kakek, dia takutnya tidak bisa menghadiri resepsi kita nantinya” lanjut Raihan “Tapi keputusan ada ditangan kalian jika tetap hanya mau mengadakan akad nikah tanpa resepsi juga kakek akan ikuti keputusan kalian” lanjutnya.


“Kayaknya seru deh kalo kita bertiga diatas pelaminan bareng-bareng” sahut Kristina


“Ini anak dari kemarin maunya bareng melulu, sampai mau lahiran bareng juga. Dasar boncel” sahut Aulia.


“Boncel emang sahabat sejati gue” ucap Raina menanggapi ocehan Kristina. “Kalau memang nantinya resepsi tertutup gue akan ikut keputusan kakek” lanjutnya.


“Kalo gue terserah calon istri tersayang dong” Anton menimpali.


“Gue juga terserah Tina aja, mau resepsi sekarang tau nanti juga sama saja Cuma bedanya kalo nanti resepsinya gregetnya akan berbeda” sahut Rahmat.


“Gue nanti bicarakan sama mami dulu gimana enaknya” sahut Aulia.


“Mami udah setuju dengan keinginan kakek, karena mereka sudah bicarakan dibelakang kita” sahut Raihan.


“Ya udah kalo gitu kita resepsi saja Cuma harus tertutup ya dan hanya orang-orag penting aja biar gak ganggu kuliah kita aja” sahut Raina.


“Asyik alhirnya kita nikah bareng, resepsi bareng nantinya juga hamilnya bareng ya” Kristina Heboh sendiri.


“Hei boncel, hamil itu kehendak Tuhan bukan kita yang ngatur.” Potong Raina.


“Padahal gue ingin kita periksa kedokternya bareng-bareng” ucapnya sedih.


“Iya kalo Tuhan menghendaki kita hamil bareng-bareng ya” hibur Auliah yang melihat raut sedih dimuka Kristina.

__ADS_1


Akhirnya mereka menyepakati mengadakan resepsi tertutup yang hanya dihadiri kolega dan keluarga dekat sesuai keinginan kakek Cakra.


To Be Continued.


__ADS_2