
Dirumah mama Indi sedang ramai dengan kedatangan sahabat-sahabatnya beserta ibu dari sahabat anaknya. Mereka berkumpul semua membahas rencana pernikahan anak-anak mereka.
"Bagaimana, Kita pakai gedung yang disiapkan kakeknya Raihan atau dirumah saja?" Tanya mama Indi.
"Saya ngikutin keputusan kalian aja. Enaknya sih digedung kalau dirumah sempit apalagi nantinya mereka maunya tidak langsung resepsi" sahut mama Arini.
"Kenapa mereka kompak tidak mau mengadakan resepsi?" tanya mama Rani.
"Mereka masih kuliah nanti mereka terganggu dengan berita pernikahan mereka. Apalagi Raina, privasinya otomatis berkurang dengan adanya status suaminya" jawab mama Indi. "Tapi bagaimana dengan Arini dan Dira? Apa kalian setuju dengan keputusan calon mantu kalian?" lanjut mama Indi.
"Iya Dira, jangan sampai gara-gara keputusan Kristina tidak sesuai dengan rencananu" sahut mama Stella.
"Kalau Arini pasti banyak rekan bisnis suamimu yang ingin kamu undang, kalau ingin mengadakan resepsi nanti saya bicara sama Aulia" timpal mama Rani.
"Aku itu sudah sangat sayang sama anakmu, jadi aku ikuti maunya saja. Nanti kita maksa malah dibatalkan. Batal dong harapan bisa cepat nimang cucu" balas mama Arini.
"Aku setuju sama Arini. Aku juga mau cepat nimang cucu, Stella mah enak sudah punya, saya belum" mama Dira ikut nyahut.
"Wah harapan kita sama. Aku juga pengen cepat-cepat punya cucu. Anakku kan cuma satu, papanya dulu gak mau punya anak lagi. Padahal aku maunya punya anak lagi" ucap mama Rani.
"Pokoknya nanti kalau bisa cucu kita jangan cuma satu" mama Indi meminta pendapat sahabatnya.
"Aku mau 2 cucu aja" sahut mama Dira.
"Assalamualaikum" Raina mengucapkan salam membuat pembicaraan mereka terpotong.
"Waalaikumsalam" balas mereka.
"mama-mama gaul lagi bahas apa nih?" tanya Raina sambil menyalami semua mama-mama yang ada disana.
"Bahas cucu sayang" jawab mama Arini.
"Uhuk" Raina langsung tersendat ludahnya sendiri dan wajahnya langsung memerah mendengar ucapan mama Arini.
"Mama ih. Emang tidak ada pembahasan lain?" tanya Raina.
"Kenapa memang? Kan kita lagi membayangkannya sayang" jawab mama Indi.
"Jangan sampai alasan memaksa cepat menikah karena pengen cepat punya cucu?" tanyanya kembali.
"Iya dong. Waktu Arini bilang mau melamar langsung kuiyakan" jawab mama Rani.
"Mama juga?" tanya Raina kembali
"Mana mungkin mama mau ketinggalan" jawab mama Indi.
"Mama, aku mau jadi dokter. Trus gimana kalau aku hamil trus melahirkan, aku gak bisa ikut coas dong?"protes Raina.
"Tenang nanti mama yang jagain anakmu" sahut mama Indi "Mama kan gak ada kegiatan jadi kalau ada cucu mama ga kesepian lagi" ucap mama Indi.
"Iya aku aja yang sudah punya masih mau nambah lagi" sahut mama Stella.
"Ya sudah teruskan pembicaraannya aku mau istirahat dulu" ucap Raina lalu meninggalkan mereka semua dan berlalu menuju kamarnya.
Sementara mama-mama gaul melanjutkan pembicaraan mereka dengan diselingi tawa riang.
-----
Hari ini Aulia sedang ijin tidak masuk magang, dia bersama sahabatnya sedang berkumpul dihalaman belakang rumahnya.
__ADS_1
"Ramai juga, loe ngundang tamu?" tanya Kristina kepo.
"Hanya keluarga saja. Mami tuh yang heboh manggil semua keluarga datang katanya biar mereka ikut merasakan kebahagiaan" jawab Aulia.
"Bagus kan, gue setuju sama nyokap loe" sahut Raina.
"Iya. Waktu lamaran Raina kan cuma kita-kita aja yang heboh. Gak asyik" ucap Kristina.
"Iya juga sih, eh mbak Anya dan mbak Rindi datang gak ya?" tanga Aulia.
"Nanti Ivan datang sama mbak Anya, sedangkan mbak Rindi juga bersama suaminya" jawab Raina.
"Emang mbak Rindi udah nikah? tanya Kristina.
"Katanya baru dua bulan sudah menikah. Manajer diperusahaannya Babang semut" jawab Aulia.
"Kalian enak punya mata-mata dikantor, gue gak punya. Kadang gue khawatir nanti banyak yang dekati babang mamat" keluh Kristina.
"Kenapa gak berteman dengan pegawainya, ada tuh yang pendek dan pendiam. Orangnya baik dan sopan" saran Aulia.
"Oww. Gue pernah kenalan namanya Sinta dia orang Jawa tengah" Sahut Raina.
"Kok kalian bisa kenal?" tanyanya.
"Waktu itu tidak sengaja nabrak ditoilet, dia kayak ketakutan jadi saya ajak kenalan" Raina bercerita.
"Kalau gue waktu nungguin kalian dia datang membawakan pesanan lalu kuajak ngobrol. Tapi orangnya tertutup" sahut Aulia.
"Nanti gue cari kolega yang bisa dipercaya" ucap Kristina dengan penuh percaya diri.
"Jam berapa babang semut datang? tanya Kristina.
"Habis magrib katanya" jawab Aulia.
"Iya nih, gue kan juga harus praktek mengajar" timpal Kristina.
"Ha-ha-ha. Jadi sahabat jangan setengah-setengah dong. Masa gue gak masuk kerja kalian mau santai dirumah? tidak semudah itu Maria" ucap Aulia dengan tawa jahatnya
"Padahal gue kangen ma babang ojek kesayangan gue" ucap Raina.
"Emang udah berapa hari loe gak ketemu?" tanya Aulia.
"Udah 2 jam. Kan tadi dia yang nganter kesini" jawab Raina.
"Kirain sudah berhari-hari gak ketemu. Dasar Maria, Baru dua jam gimana ditinggal kalo seminggu loe? Bisa langsung masuk RSJ kali ya" sahut Aulia.
"Siapa yang mau masuk RSJ. Emang sakit apa?" Tanya Kristina
"Emang kalau masuk RSJ sakit apa coba?" tanya Aulia.
"Ya banyak, semua penyakit seperti kanker jantung kecelakaan banyak pokoknya" jawab Kristina.
"Emang loe tau RSJ itu apa?" tanya Aulia.
"Taulah, Rumah Sakit Jakarta yang di Sudirman" Jawab Kristina.
Hahahaha. Aulia dan Raina tertawa terbahak-bahak mendengar Jawaban Kristina.
"Kenapa ketawa?" tanya Kristina.
__ADS_1
"Kamu lucu, RSJ itu Rumah Sakit Jiwa bukan Rumah Sakit Jakarta. Kalau Rumah Sakit Jakarta disingkat RS Jakarta" jawab Aulia.
"Oww. Baru tau gue" ucap Kristina dengan polosnya.
"Ra. Ini temen loe?"
"Bukan, temen loe kali" jawab Raina.
"Kalian gak mau lagi berteman sama gue?" tanya Kristina dengan muka sedih.
"Loe sih becanda terus" sahut Raina.
"Sorry gue becanda Tina" ucap Aulia.
"Ha-ha-ha. Ternyata kalian bisa tertipu juga." Sahut Kristina.
"Dasar boncel, ngerjain gue ya" omel Aulia lalu menyerang Kristina dengan gelitikannya.
Halaman belakang ramai diwarnai tawa canda mereka.
Sementara Anton yang berada di kantornya menjadi tidak tenang. Dia sama seperti Raihan ketika akan melamar Raina.
"Loe bisa tenang gak sih?" protes Raihan.
"Kayak loe gak aja, gue gugup nih" sahut Anton.
"Emang loe kenapa sih?" tanya Rahmat.
"Gue gugup, gue gak tau harus ngomong apa sebentar" jawab Anton.
"Lah gampang, ungkapin aja yang ada didalam hati elo itu" sahut Rahmat.
"Tenang aja, nanti juga meluncur sendiri dari Mulut loe itu" timpal Raihan.
"Begitu ya" sahut Anton.
"Tenang nanti kita temani disana" ucap Rahmat.
"Atau kalo memang loe takut nanti gue aja yang ngelamar Aulia" goda Raihan.
"Hei. Jangan sekate-kate loe. Berani ganggu permata hati gue, gue bikin perkedel loe" ancam Anton.
"Hahahaha. Bisa marah juga ini kunyuk satu, eh loe gak undang mantan loe itu?" tanya Raihan yang sudah mendengar cerita tentang kedatangan Sisil.
"Loe jangan bicara sembarangan, nanti sekertaris gue dengar. Bisa dimutilasi gue sama Aulia" sahut Anton.
"Loe takut sama sekertaris loe itu" tanya Rahmat.
"Dia mata-mata nya Aulia ogeb" jawab Anton.
"Kita senasib bro, sekertaris kita berdua lebih takut sama nyonya ya daripada bosnya sendiri" sahut Raihan dengan nada sendu.
"Hahahaha. Untungnya gue gak punya sekertaris" Rahmat tertawa bahagia.
"Bentar lagi juga ada tu mata-mata dicafe loe. Mereka itu kompak gak mungkin membiarkan target lolos begitu saja tanpa mata-mata yang mengikuti" sahut Raihan.
"Rahul, Gue Doain biar Tina bisa cepet dapat tuh mata-matanya." ledek Anton.
"Rese loe berdua. Tapi gue mah tenang aja, karyawan gue orangnya setia dengan bosnya" Sahut Rahmat.
__ADS_1
"Ketiga gadis itu pasti punya cara bro. apalagi kalo calon istri gue turun tangan, kelar hidup loe" ejek Raihan.
mereka terus ngobrol sampai lupa jam makan siang tiba. mereka kemudian berangkat menuju kediaman keluarga Anton.