
Mama Indi berencana menelpon Raihan tapi dicegah oleh papa Chandra "Biarkan dia istirahat dulu, baru beberapa menit dia tidur masa dibangunkan lagi" ucap dokter Chandra "Lagian Raina juga kembali tertidur setelah diberi obat oleh dokter." ucapnya lagi
Asisten Bobi hanya mengirimkan pesan kepada Kakek Cakra dan memberi tahu jika nona sudah sadar tapi kembali tertidur karena pengaruh obat.
Hari sudah berganti menjadi malam, diruang perawatan Raina tampak orangtua Raina, asisten Bobi dan sahabatnya ditemani suami mereka.
Mereka mendengar kabar jika Raina sudah sadar dan mereka langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Raina. sampai dirumah sakit mama Indi menjelaskan jika Raina masih tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.
Tak lama muncullah Raihan yang baru bangun dari tidurnya. dia belum mengetahui jika Raina sudah kembali sadar.
"Malam semua, ada apa nih sampai malam-malam ramai begini?" tanya Raihan yang heran dengan kedatangan mereka.
"Lo belum tahu?" tanya Anton yang heran dengan ekspresi Raihan.
"tau apa?
"Raina tadi sempat sadar. hanya saja kepalanya sangat sakit jadi dokter menyuntikkan obat penghilang rasa sakit dan kembali Raina tertidur" Jawab papa Chandra.
"Kok gak ngabarin aku pah?"
"Sengaja biar kamu istirahat dulu" jawab mama Indi.
Raihan hanya diam saja tidak bisa protes jika mama Indi sudah bicara, dengan langkah gontai dia berjalan menuju kursi yang berada di samping tempat tidur Raina.
"Sayang, katanya kamu sudah bangun? kok tidur lagi? kan belum bertemu dengan masmu ini" ucap Raihan sendu sementara yang lain hanya memperhatikan saja. Sudah lewat dari perkiraan dokter tapi Raina masih tertidur.
Tiba-tiba Raihan merasakan pergerakan jari tangan Raina. "Sayang kamu sudah sadar? sayang ayo buka matamu" seru Raihan dengan gembira.
"Ughh.. Ma-mama" Raina memanggil mamanya. mama Indi dengan cepat mendekati putri kesayangannya itu. sementara dokter Chandra langsung memanggil dokter spesialis saraf.
"Iya sayang mama disini" jawab mama Indi.
Raina membuka matanya dan mencoba melihat sekelilingnya. disana ada teman dan keluarganya tapi ketika mencoba mengangkat tangan kanannya Raina merasa ada yang memegangnya. Raina melirik kesamping dan melihat Raihan yang sedang memegang tangannya dengan tersenyum. Raina langsung menarik tangannya.
"Mah, dia siapa?" pertanyaan itu keluar dari mulut Raina seperti tombak yang menghujam jantung Raihan.
"Sayang, ini aku Raihan Suamimu" seru Raihan.
__ADS_1
"Raihan? Suami?" Nada bicara yang seperti tidak mengenal Raihan.
"Kamu tidak mengenal Raihan? tanya mama Indi.
"Tidak mah" jawabnya dengan suara lemah tapi seperti petir yang menyambar ditelinga Raihan.
"Sayang, kamu jangan becanda, ini aku suamimu" Ucap Raihan mencoba untuk mengingatkan Raina.
"Ma.. kepalaku sakit, tolong jauhkan dia" ucap Raina membuat Raihan lesu. Istri yang sangat dicintainya tidak mengingatnya lagi. Papa Chandra kemudian memberikan kode kepada Raihan agar menjauh dulu. Raihan kemudian pindah ke sofa dengan wajah kecewa.
Sahabat-sahabatnya kemudian mendekat.
"Ra, kamu masih kenal dengan kami kan?" tanya Aulia.
"Masih" jawabnya singkat
Dokter spesialis saraf datang memeriksa kondisi Raina. Dia kemudian menanyakan beberapa pertanyaan yang dijawab oleh Raina. Dokter kemudian mendekati dokter Chandra.
"Sepertinya nona Raina amnesia, Jenis amnesia Retrograde. dia melupakan ingatan yang masih baru dan hanya mengingat yang lama. kalau saya perkirakan dia melupakan ingatan yang dialami beberapa tahun terakhir. Biasanya itu terjadi karena adanya benturan keras dikepala yang menyebabkan cedera otak yang parah" ucap dokter menjelaskan.
"Apa dia masih bisa mendapatkan ingatannya kembali" tanya Raihan.
"Untuk lebih jelasnya kami akan melakukan pengujian dengan menggunakan MRI, CT dan EEG yang dapat memberikan informasi rinci tentang struktur otak tertentu dan mengidentifikasi daerah otak yang terkena dan tingkat kerusakan yang menyebabkan RA" lanjutnya menjelaskan.
Raihan hanya terdiam mendengar penjelasan dokter, bukan apa-apa. dia sama sekali tidak mengerti tentang maksud dokter tersebut.
"Pah, apa harus membantu dengan mencoba untuk mengingatkan atau menceritakan semua yang dialaminya beberapa tahun terakhir?"
"Bisa saja anda menceritakan tapi itu tidak membantunya mengingat." sahut dokter spesialis saraf.
"Kalau dipukul kembali kepalanya seperti di film-film?"
"Kamu mau bunuh anak saya? bentak papa Chandra.
"Itu hanya terjadi di film. pada kenyataannya jika terjadi kembali benturan keras dikepala maka bisa mengakibatkan otaknya tambah rusak dan pendarahan"
"Maaf pah, kan cuma nanya" elak Raihan. dia kemudian melirik Raina yang berbicara dengan mama Indi serta sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kami permisi dulu, besok akan dijadwalkan pemeriksaan MRI dan yang lain" ucap dokter spesialis saraf.
"Terima kasih dok" ucap papa Chandra.
Rahmat kemudian mendekati Raihan "Sabar bro, Bukan Lo aja yang dilupain, gue juga" seru Rahmat.
"Dia lupa sama elo biarin aja kan Lo bukan siapa-siapanya. nah gue suaminya dilupain, entar kalo tau dia hamil terus bilang gue dituduh perkosa dia gimana? atau dituduh jadi laki-laki gak bertanggung jawab terus disuruh nikah lagi kan hancur reputasi gue" sahut Raihan.
Sementara itu Raina yang masih bingung siapa Raihan dan kenapa dia ada disini bertanya sama mamanya.
"Mah, emang siapa dia?"
"Dia suamimu, kamu menikah beberapa bulan yang lalu" jawab mama Indi.
"Mama ngarang. Aku baru 19 tahun dan masih kuliah" seru Raina sambil melirik kearah Raihan. QS
"Betul Ra. kita menikah bersamaan. Gue sama mas Anton, Kristina sama Mas Rahmat yang disana itu dan kamu sama mas Raihan" sahut Aulia. Raina hanya menatap tidak percaya mendengar ucapan sahabatnya itu, dia menatap mereka bergantian berharap ada jawaban berbeda tapi semuanya mengatakan hal yang sama.
"Ya udah kamu istirahat saja dulu, nanti kepalamu tambah sakit." ucap mama Indi.
"Iya mah tapi mama temani aku disini." ucap Raina.
"Iya mama temani" ucap mama Indi lalu memperbaiki selimut Raina. Dia kembali memejamkan matanya yang sudah mulai berat.
Mama Indi kemudian mendekati Raihan yang sedang duduk bersama Rahmat. "Rai, maafkan Raina ya jika tidak mengingat kamu. kamu yang sabar ya dan malam ini biar mama yang jaga Raina, kamu pulang saja. takutnya dia bangun terus melihat kamu dia jadi marah dan kepalanya sakit lagi" ujar mama Indi dengan lembut agar Raihan bisa mengerti.
"Baik mah, tapi besok saya bisa kemari?" tanya Raihan.
"Lebih baik biarkan dia tenang dulu, jika terlalu memaksa malah berakibat fatal seperti kata dokter" ucap papa Chandra.
"Tapi pah, bagaimana bisa aku gak ketemu sama istriku sendiri."
"Ini demi kebaikan istrimu" ucap papa Chandra
"Tapi pah.." protes Raihan
"Bagaimana jika dia marah lalu mengamuk dan terjadi lagi pendarahan. apa kamu mau itu?" Seru papa Chandra yang sudah tidak bisa menahan diri. "Ini demi kebaikan istrimu, biarkan dia tenang dan perlahan kamu mendekatinya kembali. sabar dan tunggu perlahan dia pasti luluh juga." lanjutnya.
__ADS_1
Raihan hanya membuang nafas panjang. Dia mengingat bagaimana tatapan istrinya yang seperti menatap orang asing membuat hatinya sakit.
To be continued