Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Tingkah aneh Kristina


__ADS_3

Rahmat sedang berada di cafe memeriksa pembukuan. Beberapa hari terakhir pemasukan cafenya agak menurun sehingga dia harus memutar otak untuk meningkatkan kembali pengunjung cafe. Dia fokus memikirkan solusi apa yang harus diambilnya. Sementara itu Kristina yang baru saja tiba melangkahkan kakinya menuju ruangan Rahmat, dia disapa oleh karyawan kafe yang dilewatinya.


Tok. Tok. Pintu diketuk tapi tidak ada jawaban dari dalam..


Kristina membuka pintu yang tidak terkunci masuk kedalam ruangan lalu duduk di sofa yang disediakan diruangan itu. Sementara Rahmat yang sedari tadi serius tidak mengetahui jika Kristina sudah ada di ruangan itu.


Sudah 15 menit dia duduk didalam ruangan itu, rasa kesal dan amarahnya mulai meninggi akibat siklus bulanan yang datang hari ini. Kristina Lalu menghubungi Raina via video call.


Tut. Tut.


"Raina" Teriak Kristina ketika Raina menjawab sambungan video call membuat Rahmat kaget dengan kehadiran gadis yang dicintainya.


"Loe kenapa kok mukanya dilipat begitu? tanya Raina yang melihat sahabatnya itu cemberut.


"Gue masih terlihat kan?" tanya Kristina.


"Kenapa sih pertanyaannya aneh banget?" tanya Raina yang melihat kelakuan aneh sahabatnya.


"Gue dari pertama masuk diruangan ini sampai gue duduk 15 menit disini belum terlihat dan masih dicuekin, gak ditengok, asyik dengan kerjaan. Masih pacaran aja diginiin apalagi kalo udah nikah?" keluh Kristina dan didengar jelas oleh Rahmat,dia kaget melihat keberadaan kekasihnya itu membuat dia beranjak dari tempat duduknya Lalu berjalan menuju tempat duduk Kristina.


Dia kemudian duduk lalu memeluk tubuh Kristina "Maaf sayang, tadi pusing karena ada masalah jadi gak dengar kamu masuk" Rahmat memberikan alasan.


Suara gelak tawa dari Raina terdengar karena sambungan video call masih berlangsung "Kalau loe ragu masih ada waktu buat batalin rencana pernikahan" ucap Raina cekikikan.


"Hei, jangan sekate-kate loe ya. Enak aja batalin, udah matiin aja telponnya" Omel Rahmat lalu mengambil HP Kristina dan memutuskan sambungan teleponnya.


Kristina masih betah dengan diamnya, berkali-kali Rahmat memohon akan tetapi dicuekin seakan dia tidak mendengar suara pria yang ada disampingnya.


"Udah dong sayang marahnya, serius tadi kakak lagi pusing mikirin omset cafe yang menurun" ujarnya sambil memohon.


Kristina kemudian bangkit dan hendak berjalan keluar tapi dengan cepat tangannya ditahan oleh Rahmat "Kamu mau kemana sayang?" tanya Rahmat.


"Aku mau pulang, capek mau istirahat dirumah. Lepasin gak tangannya atau aku gak maafin" ancamnya. Dengan terpaksa Rahmat melepaskan cekalan tangan Kristina.


"Bentar saja pulangnya, disini dulu aja nanti mas antar" Rayuan Anton hanya dianggap sebagai angin lalu yang tak mampu menggoyahkan tembok pertahanannya.


"Pokoknya aku mau pulang" bentak Kristina yang membuat Rahmat mengalah.


Kristina lalu berjalan meninggalkan Rahmat yang hanya bisa diam saja tanpa bisa menahan kepergian sang kekasih. "Huff. Perempuan memang mahluk susah ditebak" gumahnya.


Drtt. Drtt. HP-nya berdering. Dia mengerutkan keningnya melihat ID sipemganggil.


"Halo Sayang" jawabnya setelah menggeser icon jawab.


"K**amu udah gak sayang lagi?" tanya Kristina.

__ADS_1


"Masih sayang, masih sayang banget" jawab Rahmat yang heran dengan sikap Kristina.


"Kok gak ngejar?" tanya Kristina.


Rahmat langsung bergegas menuju parkiran mobil. Dia melihat Kristina berdiri disamping mobilnya."Aku kejar kok ini sudah ada disamping kamu" ucapnya dengan masih menempelkan hpnya ditelinga.


Kristina langsung menengok kesamping, dilihatnya Rahmat berdiri dengan gagahnya. Kristina langsung menghamburkan pelukannya. Rahmat yang heran hanya diam tak membalas pelukan itu "Kok gak di balas pelukannya? Kakak jahat" ucapnya lalu melerai pelukannya.


Rahmat langsung memeluk erat kekasihnya dan tak melepaskannya. "Didalam saja yuk" Rahmat mengajak kekasihnya masuk kedalam cafe.


"Aku mau pulang, mas masuk aja" ucapnya kemudian melepaskan pelukannya lalu masuk kedalam mobilnya. Rahmat menahannya tapi tapi ditolak oleh Kristina sehingga dia membiarkan Kristina pulang.


Setelah mobil bergerak menjauh dari parkiran cafenya, Rahmat lalu meraih HP-nya dan menghubungi sahabatnya. Tut. Tut. Nada sambung terdengar.


"Halo" jawab Raihan.


"Kita harus ngumpul, ini darurat" ucapnya.


"Baiklah, jam makan siang Royal Resto jangan telat" sahut Raihan.


Dan disinilah mereka sekarang. Disebuah restoran terkenal dengan hidangan laut tepatnya di ruangan VIP, Berkumpul 5 laki-laki tampan. Mereka sedang membahas koalisi untuk melawan kelompok yang mereka anggap sebagai ancaman.


Rahmat melihat semuanya "Aku bingung harus bagaimana cara menghadapi perempuan itu, dia yang memaksa pergi dan tak lama dia menelpon marah-marah karena tidak dikejar. Perubahan emosi seperti ini harus kita antisipasi" ucapnya dengan semangat.


"Sayapun merasakan hal yang sama dengan anda pak Raihan" sahut Anton dengan muka sedih dan tertekan dengan keadaannya sekarang.


"Setiap hari saya harus laporan posisi dan sedang mengerjakan apa. Seperti lagunya kangen band kamu dimana dengan siapa semalam berbuat apa" Sahut Ivan.


"Anda mungkin hanya merasa tertekan berada didekatnya, bagaimana dengan nasib saya yang harus berada dalam pengawasan 24 jam penuh. Pagi berangkat bersama, pulang juga sama-sama dan tidur pun aku yang menemani setiap malam." sahut Satrio.


"Nasib saya dan Anton lebih parah, kami berdua seperti anak angkat dirumah sendiri, kami berdua seperti terancam kehilangan hak waris dari orangtua karena posisi yang hampir tergeser" ucap Rahmat.


"Untuk itu, sebelum koalisi mereka semakin kuat dan muncul gangguan dari poros tengah kita harus membuat koalisi baru sebagai bentuk perlawanan terhadap kediktatoran koalisi kanan" sahut Raihan.


"Untuk permasalahan dari pak Rahmat sepertinya saya tahu penyebabnya, sepertinya kekasih anda sedang PMS sehingga moodnya berubah-ubah. Sedikit saja anda berbuat salah maka akibatnya bisa fatal" Satrio yang sudah menikah memberikan sedikit pengalamannya.


Rahmat yang serius mendengarkan ucapan Satrio pun kembali bertanya "Apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi serangan itu?" lanjutnya.


"Anda cukup memberikan perhatian dan kasih sayang, jangan menolak apapun yang mereka inginkan dengan begitu anda akan terhindar dari serangan itu" ucap Satrio.


"Kira-kira berapa kali dalam sebulan muncul serangan itu" tanya Raihan.


"Sekali dalam sebulan selama seminggu dan serangan terparah itu muncul dihari pertama dan kedua, selanjutnya hanya serangan kecil dan tidak berpengaruh besar." jelas Satrio.


"Pak Satrio lebih berpengalaman, kita angkat dia sebagai penasehat koalisi. Yang lain bagaimana?" sahut Raihan.

__ADS_1


"Kami setuju karena hanya pak Satrio yang sudah menikah." sahut Anton.


"Terimakasih sudah mempercayakan saya sebagai penasehat, kedepannya saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu Anda semuanya" ucap Satrio.


"Jika pak Satrio butuh sesuatu nanti kami bantu" sahut Rahmat.


"Terimakasih, berteman dengan kalian sudah menjadi anugerah tersendiri buat saya. Dengan status saya yang jauh dibawah anda semua sudah pasti akan susah kugapai sendiri" ucapnya merendah.


"Pak Satrio pernah naih ojek online tidak?" tanya Rahmat.


"Pernah, itu sering dulu saya gunakan jika buru-buru kekantor" jawab Satrio.


"Bapak percaya jika saya bilang mereka berdua dulunya driver ojek online?" yang dijawab gelengan kepala oleh Satrio. "Mereka sebelum mendapat posisi seperti sekarang dulunya hanya ojek online pak, tiap hari nongkrong di warung kopi jika penghasilan kurang datang kecafe ngutang. Ha-ha-ha" Sahut Rahmat.


"Kami tidak pernah ngutang ya" protes Anton.


"Iya kami tidak ngutang cuma minta makan saja, buktinya kami tidak pernah ditagih jadi artinya itu adalah pemberian gratis" sahut Raihan menimpali.


"Saya betul tidak menyangka ternyata kalian adalah ojek online" ucap Satrio. "Saya juga awalnya begitu, masa tuan muda buana ngojek" sahut Ivan.


"Tapi kami bangga dulu jadi tukang ojek, saya dulu banyak belajar mengenal karakter orang dari penumpang yang mengorder" ucap Raihan.


"Sekalian mengenal calon istri dari ngojek juga" ejek Rahmat.


"Ha-ha-ha. Pertama ketemu langsung jatuh cinta" sahut Anton.


"Cinta pada pandangan pertama memang berbeda hanya bertemu beberapa kali langsung lamaran tanpa status pacaran" sahut Rahmat.


"Tinggal Ivan yang belum pasti kapan menikah" sahut Raihan.


"Belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat Tuan" jawab Ivan.


"Kalau gue saranin nih, mendingan loe cepat lamar Anya. Dia gadis yang baik, Raina dan teman-temannya gak mungkin dengan cepat akrab jika bukan gadis baik" sahut Raihan.


"Betul sekali, Kamu tau sendiri gimana bar-barnya calon istriku, dia hanya punya teman 2 orang dan baru kali ini saya lihat dia akrab dengan gadis lain selain kedua sahabatnya, jadi kamu harus secepatnya menikahi gadis itu." seru Anton


"Anya hanya tinggal dengan ibunya, dia juga bekerja keras demi perawatan ibunya. Takutnya dia belum mau menikah karena masih fokus dengan ibunya" balas Ivan.


"Ah iya saya lupa itu, Ivan kamu minta ibunya dipindahkan keruang VIP dan berikan perawatan terbaik supaya di bisa fokus bekerja" perintahnya kepada Ivan.


"Baik Tuan" ucap Ivan.


Percakapan mereka berlanjut sampai jam makan siang berakhir, mereka kemudian berpisah dan berangkat menuju tempat kerja masing-masing.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2