
Raina kini berada didalam kamar yang ditempati oleh Raihan. Desain kamar dengan warna gelap menandakan jika pemilik kamar itu adalah seorang pria.
"Kamu lihat apa sayang? tanya Raihan yang masih berdiri menatap sekelilingnya.
"Kamarmu auranya gelap seperti tidak ada keceriaan sama sekali" ucap Raina.
"Begitulah diriku. Hanya kesedihan yang ada didalamnya, berbeda dengan diriku yang kamu kenal" sahut Raihan lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Nanti jadi kan kita kerumah papa? Soalnya masih mau ngerjain tugas. Besok mau kuliah lagi" tanya istrinya.
"Setelah kakek berangkat baru kita kerumah papa" jawab Raihan. "Istirahat dulu, kopernya disimpan saja nanti kalau nginap di sini pasti kamu butuhkan" lanjutnya.
Mereka kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk mengusir penat setelah kemarin mereka seharian lelah dengan semua prosesi pernikahan. Setelah beberapa menit mereka berdua terlelap sambil berpelukan, Raina mendapatkan kenyamanan dalam pelukan hangat suaminya.
Tok. tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya akan tetapi sepasang suami istri itu masih berada di alam mimpi. Bruk. Bruk. Bruk. kini bukan lagi ketukan tapi gedoran terdengar membuat mereka terbangun dari tidurnya.
Raihan berjalan dengan gontai menuju pintu kamar lalu membukanya. Tampak Asisten Bobi berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ada apa paman? tanya Raihan.
"Setengah jam lagi kami berangkat menuju bandara. Kami menunggu diruangan keluarga, kalian berdua siap-siap saja dulu" ucap Asisten Bobi lalu meninggalkan Raihan yang masih berdiri dipintu kamarnya.
Raihan kemudian berbalik dan berjalan menuju tempat tidur untuk membangunkan istrinya. "Sayang, Bangun dong. Kakek sebentar lagi akan berangkat" ucapnya sambil mengelus wajah istrinya.
"Eugh. Kenapa sayang?
"Bangun. Kakek sebentar lagi akan berangkat, mandi dulu" ucapnya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Huff bangunin tapi duluan pergi mandi. Untungnya sudah jadi suami kalo tidak sudah kubikin rempeyek dia. Kan bisa setelah mandi baru bangunin." gerutu Raina melihat suaminya duluan kekamar mandi.
Dia kemudian duduk bersandar di headboard lalu meraih HP-nya lalu membuka aplikasi Instagramnya. Dia menscroll untuk melihat postingan teman-temannya.
"Alhamdulillah tidak ada postingan tentang pernikahan aku" gumahnya.
Raihan yang baru keluar dari kamar mandi mendengar gumahan Raina "Alhamdulillah kenapa sayang?.
"Ini mas Alhamdulillah tidak ada postingan tentang pernikahan kita" jawab Raina.
__ADS_1
"Emang kenapa kalau ada yang tau tentang pernikahan kita? tanya Raihan.
"Ya gak apa-apa tapi kan aku gak maunya dirahasiakan dulu mengingat identitas mas itu nanti orang mikirnya aku nikah karena mas kaya raya" ucap Raina.
"Ya udah mandi dulu sana keburu kakek berangkat" ucapnya menyuruh istrinya untuk mandi. Raina membuka kopernya dan mengambil pakaian gantinya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit Raina keluarga dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya memakai handuk. Raihan kemudian menarik tangan istrinya lalu mendudukkan diranjang. Dia lalu mengambil hairdryer lalu mengeringkan rambut istrinya itu.
Raina tersenyum melihat perlakuan suaminya itu yang menurutnya sangat romantis. "Kenapa senyum-senyum sendiri? tanya Raihan.
"Masa senyum ngajak-ngajak, ya pasti sendiri lah" jawab Raina asal membuat Raihan berdecak.
"Udah kering, ayo turun atau mau dandan dulu? tapi kalo menurut mas biar tidak dandan tetap cantik kok" Sahut Raihan.
"Ayo turun. nanti kakek nunggu lama" ajak Raina.
Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan menuju ruang keluarga karena kakek sedang berada di sana sambil mengobrol dengan keluarga Asisten Bobi.
Kakek melihat Raihan dan Raina berjalan sambil bergandengan tangan "Ini pengantin baru gandengan terus, emang mau nyebrang? ledek kakek Cakra.
"Pengantin baru bikin iri aja. Jangan terlalu mengumbar kemesraan kak, hargai dong aku ini yang masih jomblo" Melani ikut menimpali.
Raihan dan Raina duduk di kursi kosong "Jangan pacaran, mendingan ta'aruf saja kayak kakak ini yang gak pacaran tapi langsung nikah" sahut Raihan.
"Serius, mana sempat kami pacaran. Baru sekali jalan sudah digrebek sama mama mertua dan langsung dipaksa melamar." ucap Raihan.
"Hahahaha ternyata nikahnya terpaksa?
"Bukan terpaksa tapi dipaksa. Kalo nikahnya ma biar ga di paksa juga mau saya" elak Raihan.
"Raina. Kamu baik-baik ya sama Raihan, kalo dia nakal tinggal hubungi kakek nanti kakek coret dari daftar penerima warisan" Sahut kakek Cakra.
"Iya kek. kalo dia nakal tinggal Raina pergi tinggalkan dia. Biar dia kapok bikin ulah lagi" ucap Raina sambil mendelik tajam kearah Raihan.
"Hehehe kak Raihan takut ya sama kak Raina?
"Bukan takut dalam konteks takut yang sebenarnya tapi takut karena cinta, Karena cinta sangat besar sehingga aku takut ditinggalkan, takut buat kecewa, takut melihat dia menangis, takut nanti cintanya berkurang dan masih banyak ketakutan yang lain" jawab Raihan.
"Tuan, Sudah waktunya kita berangkat." Asisten Bobi mengingatkan.
__ADS_1
Mereka pun siap-siap untuk berangkat ke bandara. "Kalian tidak usah mengantar, kalian berdua pasti masih lelah" ucap kakek Cakra.
Raihan dan Raina mengantar sampai diteras mansion. Memandang kearah mobil yang sudah meninggalkan pekarangan mansion itu.
"Kita kerumah papa Chandra sekarang atau nanti saja? tanya Raihan yang masih melihat istrinya berdiri menatap mobil yang sudah jauh
"Terserah kamu mas, mau sekarang atau nanti" ucap Raina sambil berjalan masuk ke dalam mansion diikuti oleh Raihan.
Mereka berdua telah berada dirumah Raina. Raihan dan Raina berjalan memasuki rumah sambil menarik koper yang berisikan pakaian Raihan.
"Eh anak mama sudah datang? kalian berdua nginap disini kan?" tanya mama Indi antusias.
"Nanti kami bagi waktu ma. untuk beberapa hari kedepan kami akan nginap di sini" ucap Raihan.
"Terserah kalian berdua mau tinggal di mana, kalian berdua sudah menikah jadi kewajiban istri mengikuti kemana suami membawanya" nasehat bijak mama Indi.
"Lagian disini juga lebih dekat dengan kampus Raina ma dan kakek juga sementara kembali ke Jogja karena ada masalah yang harus diselesaikan disana" Raihan menjelaskan.
"Untuk selamanya juga mama senang karena rumah bakalan ramai" seru mama Indi bahagia.
"Papa mama ma? kok gak keliatan ma? "tanya Raihan.
"Biasa papa lagi mancing sama teman-temannya" ujar mama Indi dengan nada lesu. "Sudahlah kalian berdua kekamar saja dulu. Nanti kita makan malam bersama" lanjut mama Indi.
Raihan dan Raina berjalan bersama menuju kamar Raina dilantai 2. Sesampainya didepan pintu berwarna coklat tua Raina membukanya lalu masu kedalam. Raihan ikut masuk dan melihat sekelilingnya, nampak kamar yang luas dengan desain yang girly khas cewek dengan dinding warna pink lembut dipadukan dengan furnitur berwarna putih.
Raihan menarik kopernya kedalam kamar dan menyimpannya dekat sofa. "Kamarmu bagus juga, tapi tidak sesuai dengan karakter yang punya" seru Raihan.
"Maksudnya apa? pekik Raina.
"Kamarnya bernuansa lembut tapi yang punya bar-bar" ejek Raihan.
"Biarin saja bar-bar tapi kamu tetap cinta kan? goda Raina.
"Ini koleksi film kamu semua? tanya Raihan yang melihat deretan DVD dirak dekat tivi.
"Itu yang dalam bentuk DVD. masih banyak yang sudah di download didalam laptop." jawabnya sambil mendekati Raihan yang memeriksa koleksi filmnya
"Ini mah banyakan film India, Kamu suka film DC juga?" tanya Raihan.
__ADS_1
"Semua sih, tapi banyakan film DC kalo dari Marvel banyakan didownload sama teman" jawabnya.
Mereka kemudian duduk di sofa. Raihan menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.