
Prov Anton.
Pagi ini Anton bangun dengan malas mengingat hari ini dia harus melaksanakan hukuman yang diberikan oleh kekasih sahabatnya.
"Sit. Apa gue harus pake gaun si***n ini" umpatnya sambil menatap gaun yang diberikan oleh asisten Ivan kemarin.
Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia memakai gaun itu dengan perasaan bercampur aduk.
Dia kemudian turun kemeja makan untuk sarapan. Sampai disana disambut dengan tatapan aneh dari orangtuanya dan pelayan yang ada di ruangan itu.
"Hahahaha. Kenapa kau memakai gaun itu" tanya papanya yang tidak bisa menahan tawanya.
"Ih putri mama cantik sekali. Ha-ha-ha" mamanya ikutan menertawakan dirinya.
"Nona muda, sarapan sudah siap" kini ejekan datang dari pelayan dirumahnya yang sedari tadi menahan tawanya.
"Tertawaan saja anakmu ini" ucap Anton dengan muka jengkel.
"Ha-ha-ha. Sayang kamu ganti jenis kelamin?" tanya mamanya.
"Ini semua gara-gara papa yang menyuruh menangani proyek kerjasama dengan Buana Group" sahut Anton.
"Kenapa papa yang salah?" tanya papanya heran.
"Raihan ternyata jadi direktur di Buana Group, Kemarin ketahuan berbohong dengan kekasihnya sehingga aku juga dapat hukuman dari kekasihnya" jawab Anton.
"Apa hubungannya?" tanya papanya.
"Jadi kemarin itu Raihan ketahuan kalau dia menyembunyikan identitasnya dari calon istrinya nah kebetulan saya lagi meeting disana jadi ikut terlibat deh" Anton menjelaskan.
"Kamu kan bisa nolak sayang. Ha-ha-ha" mamanya masih terus menetawainya.
"Gimana bisa nolak kalau jaminannya kontrak kerjasama" sahut Anton lemas.
"Hahahaha, Siapa nama kekasihnya?" tanya mamanya kembali.
"Raina anaknya mama Indi" jawab Anton.
"Ha-ha-ha. Ternyata anak sama mama sama saja" mamanya sampai memegang perutnya yang sakit karena tertawa. Dia kemudian mengambil HP-nya lalu memotret Anton.
"Mama kenapa ambil foto segala sih?" protes Anton.
"Mama mau kirim ke Indi biar dia lihat kelakuan anaknya" dia lalu mengirimkan foto itu kenomer mama Indi.
"Mama sama papa puas-puasin ya ketawanya saya mau berangkat kerja" ucap Anton lalu berjalan keluar rumah.
"Hahahaha. Anak mama lucu, kayaknya papa harus berterimakasih kepada Raina sudah ngasih hiburan pagi hari" ucap papanya.
"Ini mama lagi chatting sama Indi dia katanya tidak bisa menahan tawanya." ucap mamanya.
Sementara Anton masih duduk dikursi penumpang mobilnya menuju kantornya. "Pak tidak usah tahan ketawanya" ucapnya yang melihat sopirnya berusaha menahan tawanya.
"Hahahaha. maaf Tuan" sahut sopirnya.
Anton lalu mengambil HP-nya untu menghubungi Raihan. Tut. Tut. Tut.
"Halo" jawab Raihan
"Tidak bisakah hukuman dibatalkan" sahut Anton.
"Kenapa? Malu dengan pakaian itu?" tanya Raihan.
"Papa sama Mama gue kompak nertawain ditambah pembantu gue juga ikut-ikutan nertawain." jawab Anton.
"Tenang, gue bakal tanda tangani proyek kerjasama kita" ucap Raihan.
"Tanpa ini juga gue bakal dapat proyek itu" ucap Anton jengkel.
"Udah ya mendingan terima nasib aja, gue juga pakai ini" sahut Raihan yang langsung mematikan teleponnya.
"Dasar Suami istri gak ada akhlak, eh belum ya calon suami istri maksudnya" gumahnya sendiri.
"Nona bicara dengan saya" ucap sopirnya.
"Kau berani juga ikut-ikutan ya manggil nona"
__ADS_1
"Maaf nona eh Tuan" sahut sopirnya.
"Argggggghhh.. Diam" teriaknya jengkel.
"Ha-ha-ha maaf Tuan, kapan lagi saya dapat hiburan gratis" sahut sopirnya yang sudah mengenal Anton dari masih remaja.
Mereka akhirnya sampai diperusahaan. Anton turun dari mobil dan disambut dengan tawa dari sekertarisnya. "Kamu mau dipecat" sahut Anton.
"Maaf Nona eh Tuan" ucap sekertarisnya lalu mengambil HP-nya dan merekam.
"Argghh.. Kamu juga kenapa ikutan manggil nona? Eh Kenapa direkam?" tanya Anton.
"Maaf saya hanya punya kesempatan hari ini untuk meledek tuan dan saya hanya menjalankan tugas mulia dari nona Raina. Ha-ha-ha" ucapnya penuh kemenangan, dalam hatinya kapan lagi bisa ngerjain bosnya itu.
"Lanjutkan saja bulan ini gajimu dipotong" sahut Anton sambil berjalan masuk kedalam perusahaannya
"Tidak apa-apa Tuan nanti saya minta sama nona Raina" balas sekertarisnya yang mengikuti sambil merekam.
"Enak ya punya bekingan?" sahut Anton.
"Enak banget Tuan, apa lagi saya juga mendapat misi dari nona Aulia" balasnya lagi.
Setiap Karyawan yang melihatnya langsung tertawa seraya menutup mulutnya. Pemandanga itu sangat menghibur mereka tapi tidak ada yang berani merekam selain sekertaris karena takut dipecat
Mereka sampai didalam lift "Kamu dapat tugas apa dari Aulia?" tanyanya kepada sekertarisnya.
"Oww rahasia nona eh Tuan, Ini kesepakatan antara dua wanita" jawab sekertarisnya dengan berani.
"Awas kamu nanti saya pecat" ancam Anton.
"Gampang Tuan saya tinggal minta kerjaan sama nona Aulia. Dia menjamin kelangsungan hidup saya" Jawab sekertarisnya.
"Argggggghhh. Kalian para wanita sengaja ya bersekongkol" emosi Anton.
"Jangan ragukan the power of woman Tuan Ha-ha-ha" sahut sekertarisnya yang tertawa jahat.
"Sial. Akan kubalas kalian semuanya" teriak Anton. lift terbuka mereka berdua berjalan menuju ruangan wakil direktur.
"Balas saja kalau bisa Tuan" sarkas sekertarisnya.
"Anda terlambat Tuan. Saya sudah dimasukkan kedalam grup WA mereka Tuan. Hahahaha" sekertarisnya tertawa penuh kemenangan.
Mereka memasuki ruangan wakil direktur. Sekertarisnya mengirimkan rekaman kepada Raina melalui grup chat yang kemarin dibuat oleh Raina yang isinya ada Raina, Aulia, Kristina, Sekertaris Anya dan sekertaris Rindi tentunya.
"Sial. Hari ini nasibku sungguh sial. Oh Tuhan tolonglah hambamu, saya sudah menjadi korban keganasan perempuan" dia Anton.
"Amin" jawab sekertarisnya.
"Eh kau malah aminkan lagi" sahut Anton.
"Jadi sekarang Tuan harus baik-baik sama saya biar Tuan aman" tawar sekertarisnya.
"Baiklah saya akan baik-baik sama kamu, jangan laporin macam-macam ya" Pinta Anton.
"Nah gitu dong Tuan. Biar kita sama-sama enak" jawab sekertarisnya.
"Iya kamu enak saya yang eneg" timpal Anton.
"Sekarang kita kembali keperjaan tuan, Hari ini ada meeting dengan team pelaksana dan orang gudang tuan membahas proyek kemarin" sahut sekertarisnya.
"Kamu sudah jadwalkan?" tanya Anton.
"Kemarin setelah rapat disana tuan" jawab sekertarisnya.
"Baiklah, terus apa lagi.?" tanya Anton.
"Nanti siang ada meeting dengan perusahaan Handika tuan" sahut sekertarisnya.
"Pembahasan apa kali ini?" tanyanya kembali.
"Mereka ingin mengajukan kerjasama pengadaan barang tuan" jawab sekertarisnya.
"Batalkan, saya tidak mau kerjasama dengan musuh Raihan. Bisa digoreng saya nanti" ucap Anton.
"Baik Nona saya permisi" Goda sekertarisnya.
__ADS_1
"Kamu!" Anton mengeraskan rahangnya.
"Eits tidak boleh marah nanti nona Aulia bisa ngamuk" sahut sekertarisnya.
"Keluar kamu" usir Anton.
"Baik Nona saya permisi. Ha-ha-ha, hari ini indah sekali" tawa sekertarisnya lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Tok Tok Tok.
"Masuk" sahut Anton dari dalam.
"Hahahaha, selamat pagi nona" Rahmat datang untu meledek Anton karena mendapat kabar dari pacarnya.
"Pergi loe, sebelum gue panggilkan sekuriti" usir Anton yang melihat sahabatnya tertawa sambil tertunduk memegang perutnya yang sakit akibat tertawa terbahak-bahak.
"Sekuriti gak berani ngusir gue Nona. Gue udah dapet ijin dari nyonya besar dirumah. Hahahaha" sahut Rahmat penuh kemenangan.
"Sial. Kalian semua berkomplot, kenapa tidak kau ganggu saja si tukang ojek itu" sahut Anton.
"Ini saya lagi ganggu tukang ojeknya" sambil memperlihatkan HP-nya yang ternyata terhubung dengan panggilan video.
"Pagi nona, bagaimana pagi ini?" kali ini bukan Raihan tapi Raina yang memegang HP-nya Raihan.
"Loe akan terima pembalasan dari gue. Tunggu tanggal mainnya" ancam Anton.
"Uuu . Takut, tapi gue mah tenang aja kan ada ranger pink yang akan menjagaku" sahut Raina lalu mengarahkan kamera HP-nya kearah Raihan yang sedang bekerja dengan memakai kostum ranger pink.
"Ha-ha-ha kalian lucu, gimana dengan Aulia? tanya Rahmat.
"Tunggu sebentar gue sambungan kenomer lestari dulu karena dia yang dapet tugas ngerekam Aulia" sahut Raina lalu mengubungi nomer HP Lestari.
"*Halo eh nona" jawab Lestari.
"Kamu dimana? Masih ditempat Aulia*?" tanya Raina.
"Masih nona, ini nona Aulia" ucap Lestari sambil mengarahkan kamera HP-nya kearah Aulia.
"Ha-ha-ha. Baru kali ini gue bisa lihat Superman berjodoh dengan Elsa" sahut Rahmat.
"Hei kunyuk, diam loe. Awas nanti gue bakar kompor di cafe loe" omel Aulia yang tiba-tiba mengambil HP-nya Lestari.
"Kak Rahmat hati-hati, Superman lagi ngamuk" sahut Raina.
"Kalian berdua awas ya" ancam Aulia.
"Lia kakak disini menderita dengar ocehan mereka berdua" ucap Anton yang kini memegang kendali HP nya Rahmat.
"Tenang kak nanti kita balas" sahut Aulia.
"Gue ikutan" teriakan Raihan tadengar.
"Mau ikutan apa sayang?" kini terdengar suara Raina.
"Ngak sayang saya kira mau makan siang bareng" suara Raihan kembali terdengar.
"Udah ya gue mau balik kecafe. Gue matiin telpon ya" Rahmat pamit lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Bro siapkan skenario balas dendammu, saya tunggu. Hahahaha" ucap Rahmat.
"Pergi loe gue eneg liat muka loe itu" usir Anton.
"Ha-ha-ha hari ini indah sekali. Semoga besok dan seterusnya gue bisa sebahagia ini. Ha-ha-ha" ucap Rahmat di iringi tawa yang menggema.
"Pergi gak loe. Tunggu pembalasan gue" usirnya lagi.
"Gue pergi dengan membawa kemenangan hahahaha" ucap Rahmat lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
"Argggggghhh. Raina, Rahmat tunggu pembalasan gue" teriak Anton frustasi.
Anton kembali melanjutkan pekerjaannya
Prov Anton end
To Be Continued
__ADS_1