
Raihan berjalan dengan tatapan mata yang dingin. Aura dingin yang dipancarkan membuat karyawan hanya menunduk hormat ketika Raihan melewati mereka.
Sampai di ruangannya Raihan langsung dihadapkan dengan berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
Asisten Ivan memasuki ruangan kemudian berdiri di depan meja kerja Raihan "Tuan, Besok pengangkatan tuan Alvin menjadi direktur NCS Tech. Apa anda akan hadir?" tanya Asisten Alvin.
"Kamu wakili saja" ucapnya singkat. "Apa jadwalku hari ini?" lanjut bertanya.
"Hanya memeriksa dan menandatangani berkas yang sudah menumpuk didepan tuan" ucap Asisten Ivan.
"Selain rapat penting, kamu yang handle semuanya." titah Raihan kepada asisten Ivan. "bagaimana dengan pembebasan lahan"
"Sudah beres tuan, team desain sedang merancang siteplan"
"Minta mereka untuk menyelesaikan secepatnya" sahut Raihan.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu"
"Baiklah"
Asisten Ivan kemudian meninggalkan ruangan Direktur menuju ruangannya. setelah Ivan keluar Raihan kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Sesekali menanyakan kepada pengawal apa saja yang dikerjakan oleh istrinya serta siapa yang menjenguknya.
Tak terasa sudah dua jam dia berkutat dengan berkas yang tidak ada habisnya itu. Tak lama ponselnya berdering tampak nama Anton muncul dilayar.
"Ya ada apa?" tanya Raihan setelah telponnya tersambung.
"Polisi memastikan akan segera bergerak untuk menangkap orang-orang itu" jawab Anton.
"Perintahkan Kapten bergerak malam ini, besok pagi mereka sudah harus berada di markas" Raihan memberikan perintah.
"Baiklah," ucap Anton lalu mematikan sambungan teleponnya.
Sejak kecelakaan yang Menimpa istrinya, Raihan berubah menjadi lebih dingin dan jarang tersenyum. Pribadi hangat yang dulu melekat seakan hilang dari hidupnya.
***
Diruang perawatan Raina, Raina kini sudah lebih baik. walau masih sering mengeluhkan sakit di kepalanya. Kondisinya yang sedang hamil membuat dokter lebih berhati-hati dalam meresepkan obat penahan rasa sakit.
Ruang perawatan sedang diramaikan dengan kedatangan Kristina beserta mertuanya yang datang menjenguknya.
Kristina banyak bercerita tentang apa yang pernah mereka lakukan sebelum sebelum kecelakaan. Dia juga menceritakan tentang Raina yang pernah galau karena Raihan menghilang seminggu.
"Tina, Bagaimana dengan kandunganmu?" tanya Raina.
"Semua Lancar. walau masih sering mual tapi semua masih tahap wajar. Hanya gue kasihan sama suami yang kadang harus mengikuti kemauan gue yang aneh-aneh" ucap Kristina.
__ADS_1
"Wajarlah namanya juga lagi hamil" sahut Raina.
"Kamu gak mual muntah atau ngidam aneh-aneh?" tanya Kristina.
"Gak, biasa aja. malah gue kayak gak hamil aja. makan seperti biasa, malah mungkin lebih banyak sih" jawab Raina.
"Lo Belu ingat tentang suami lo itu?" Tanya Kristina.
"Belumlah Lo kira gue ngerjain dia? kepalaku aja sering sakit jika berusaha untuk mengingat dia" ucap Raina.
"Lo kan emang sering ngerjain suamimu jadi wajar kalo gue curiga" jawab Kristina.
Terdengar suara ketukan di pintu. terlihat mama Indi membukakan pintu kemudian mempersilahkan kakek Cakra beserta asisten Bobi masuk.
Raina hanya menatap heran dengan kedatangan seorang kakek berambut putih bersama seseorang yang pernah dilihatnya.
"Bagaimana kabarnya cucuku?" tanya Kakek Cakra sambil duduk di kursi samping tempat tidur Raina.
"Kakek siapa? Apa kita pernah bertemu? perasaan kakekku sudah meninggal semua" tanya Raina penasaran karena merasa tidak pernah kenal dengan kakek yang datang menjenguknya sekarang.
"Saya Kakeknya suamimu. Kakek Cakra Buana" jawab kakek Cakra sambil memegang tangan cucu menantunya itu.
"Maaf kek kalau saya tidak mengenal anda" ucap Raina sembari menatap sendu.
"Kamu tidak usah sedih, kan bisa kenalan ulang jadi tidak masalah. Kakek bahagia kamu bisa kembali sadar dari Koma." sahut kakek Cakra sambil tersenyum.
"Iya ini rumah sakit kakek" jawab kakek.
"Wah artinya kakek lebih kaya dong dibandingkan dengan cowok yang mengaku suami aku? kek apa tidak berniat mengadopsi cucu perempuan? kalau berniat, aku siap jadi cucu Kakek." ucapnya dengan sumringah.
"Terus cucuku nanti dikemanakan? tanya kakek kembali.
"Biarkan saja dia. Nanti aku beri sedikit warisan" Ucapnya sambil tersenyum menatap kakek Cakra
"Hahaha, kamu paling bisa buat kakek tertawa. kakek juga tidak suka sama dia, nanti kakek wariskan rumah sakit ini buat kamu." ucap kakek Cakra.
"Serius kakek, Wah aku nanti jadi pemilik rumah sakit dong" seru Raina sambil mengetuk dagunya dengan telunjuk membayangkan dirinya menjadi pemilik rumah sakit.
Mama Indi yang sedang duduk bersama sahabatnya Dira bersama Kristina hanya tersenyum melihat interaksi antara kakek Cakra dan Raina yang dengan cepat akrab seperti sudah lama saling mengenal.
****
Malam telah larut, Waktu sudah menunjukkan angka 9 Raihan baru pulang dari markas Darkside. Dia berjalan menyusuri koridor Rumah sakit menuju ruang perawatan Raina. Sampai di depan pintu dia kemudian mengetuk lalu membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu.
Didalam ruangan hanya ada mama Indi dan Raina yang sedang duduk bersandar ditempat tidur dengan tatapan mata yang tajam kearah Raihan.
__ADS_1
Raihan yang ditatap seperti itu menjadi canggung "gue salah apa lagi ya? perasaan tadi pagi baik-baik saja" Ucapnya dalam hati lalu berjalan menuju kursi disamping tempat tidur.
"Siapa yang suruh duduk" Raihan tersentak lalu mengurungkan niatnya untuk duduk di kursi itu.
"Ada apa sayang? kenapa kamu marah?" tanya Raihan penasaran.
"Kamu bukan suami bohongan kan?" tanya Raina.
Raihan kaget dengan pertanyaan itu. "Bukan sayang, saya benar-benar suami kamu"
"Terus kenapa seharian kamu gak nelpon atau kirim pesan menanyakan kabarku. Kamu juga gak ngabarin kalau pulang terlambat." omel Raina.
"Saya sudah tanya kepada penjaga diluar keadaanmu sayang. Hari ini saya sibuk banyak pekerjaan dikantor."
"Istrimu saya atau penjaga itu? kenapa kamu tanya dia bukan aku? kamu tidak sayang lagi sama aku karena amnesia?"
"Maaf aku hanya tidak mau mengganggu waktu istirahatmu."
"Alasan, Sudah sana ganti pakaian, aku gak suka kamu pakai jas, kelihatan tua. ganti baju kaos sama pakai jeans" ucap Raina.
"baiklah tunggu sebentar aku ganti pakaian dulu" ucap Raihan kemudian berjalan menuju pintu.
"Kamu mau kemana?" teriak Raina
Raihan berbalik "Mau ganti baju sayang" ucapnya kemudian kembali berjalan menuju pintu keluar.
"Tidak usah, duduk disini" ucap Raina.
Raihan menghentikan langkahnya lalu berbalik dan berjalan menuju kursi yang ditunjuk oleh Raina "Ada apa sayang" tanya Raihan.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku karena sudah jelek kan?" ucap Raina sendu.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? aku tidak akan meninggalkan kamu sayang" Ucap Raihan sambil menggenggam tangan Rania.
"Kalau begitu mulai besok kamu harus menghubungiku tiap jam. paling tidak mengirimkan pesan" ucap Raina.
"dia kenapa lagi sih, kemarin dulu ngusir, kemarin siang sikapnya lembut, tadi malam cuek. tadi pagi biasa saja sekarang malah jadi posesif begini" Raihan bergumah dalam hati karena bingung dengan sikap Raina yang berubah ubah.
"Kenapa diam saja?"
"Baik sayang, nanti aku hubungi tiap jam" ucap Raihan
Raihan kemudian melirik mertuanya, sepertinya dia butuh penjelasan kenapa Raina seperti ini.
"Kamu yang sabar, sepertinya bawaan bayi. perempuan yang lagi hamil itu sifatnya berubah ubah" ucap mama Indi.
__ADS_1
To Be Continued