Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Sekertaris Rindi Pingsan


__ADS_3

Sementara itu Anton sedang berada diruangannya bersama Rindi sang sekertaris sekaligus mata-mata Aulia. “Ini laporan keuangan yang bapak minta kemarin” ucap Rindi sambil menyerahkan berkasnya.


“Sudah kamu periksa laporan ini?” tanya Anton


“Sudah pak, tidak ada masalah dengan laporan itu, hanya saja sepertinya kita akan kekurangan dana jika memaksa mengerjakan proyek dari Buana Group dalam waktu dekat. Ada investor yang mundur pak.” Jawab Rindi.


“Kenapa bisa mundur?” tanya Anton kembali.


“Karena bapak menolak bekerja sama dengan Grahadi Properti. Mereka masih ada hubungan keluarga jadi investor mengalihkan dananya ke Grahadi pak” jawab Rindi.


“Nanti kita bicarakan dengan Buana masalah ini. Coba buatkan janji dengan pihak Buana untuk masalah ini” sahut Anton. “Rin. Kamu sehat? Kenapa mukamu kayak pucat begitu” tanya Anton yang melihat perubahan raut wajah Rindi.


“Saya baik-baik saja pak cuman sedikit pusing saja” jawab Rindi.


“Kalau kamu sakit istrahat saja nanti kamu kenapa-kenapa lagi.”


“Saya baik-baik saja pak, kalau saya libur yang ngawasin bapak siapa?” elak Rindi.


“Rin. Kamu itu bekerja untuk siapa sebenarnya?” tanya Anton.


Rindi yang ditanya seperti itu langsung menatap heran “Saya bekerja untuk bapak lah, kan saya sekertaris bapak” jawab Rindi.


“Kamu bekerja untuk saya tapi jadi mata-mata Aulia. Kamu gak loyal sama saya?”


“Eits itu beda dong. Kalau pekerjaan saya akan loyal kepada bapak dan perusahaan tapi kalau masalah pribadi bapak ya saya loyal kepada nona Aulia” jawab Rindi.


“Haisshh. Kamu pintar ngeles kayak bajai. Harusnya itu dalam hal apapun kamu harus setia pada bosmu”


“Oww tidak bisa, demi menjaga keamanan dan kelangsungan karir, saya juga butuh jaminan dong. Bisa saja bapak mecat saya tapi jika saya setia juga sama nona dan nyonya ada yang menjamin jika saya tidak akan dipecat” elak rindi.


“Haisshh. Mama ikut-ikutan lagi. Dibayar berapa sih kamu hingga mau jadi mata-matanya?”


“Nona Aulia tidak membayar saya, hanya saja nona Aulia dan nyonya Arini menjamin kelangsungan hidup saya kedepannya.” Jawabnya.


Anton mendelik “Tapi jangan sembarang ngelaporin, setiap ada tamu perempuan dilaporkan”


Rindi tersenyum “Ini sudah menjadi tugas saya untuk terus melaporkan setiap kegiatan anda”


“Dasar sekertaris gak ada Akhlak.” Umpat Anton.


Tok. Tok. Tok.


“Masuk” teriak Rindi.


“Hei, yang mesti nyuruh masuk itu saya” bentak Anton.

__ADS_1


“Hehehe. Sama saja kan nantinya bapak juga nyuruh masuk”


Rahmat yang berjalan mendekati Anton yang lagi ngomel “Pagi-pagi udah ngomel-ngomel aja loe”


“Ini nih sekertaris durjana, mau dipecat tapi gak bisa karena bekingannya kuat bro” jawab Anton.


“Emang siapa yang pegang dia? Bokap loe?” tanya Rahmat penasaran.


“Mama sama Aulia”


“Wah itu mah sulit bro. Eh gue mau bicara penting nih” ucap Rahmat kemudian berjalan menuju sofa dan duduk disana.


Anton kemudian berdiri dari tempatnya dan pindah duduk didepan Rahmat “Ada hal penting apa yang ingin loe bicarakan? Eh Rin, ambilin minum” Rindi kemudian meninggalkan ruangan untuk mengambil minuman.


“Ini mengenai akad nikah, loe nanti ngasih mahar ke Aulia kan? Gue pengen tau mahar loe berapa karena takutnya nanti mahar kita beda-beda nanti pasangan kita malu lagi karena maharnya ada yang banyak dan ada yang sedikit. Kalau bisa sih ngasih maharnya perhiasan saja”


 Anton berfikir “Kayaknya kita nanti bicarakan dengan Raihan juga” ucap Anton. Kemudian pintu terbuka dan masuklah Rindi membawa minuman. Setlah menyajikan minuman rindi berjalan menuju pintu ruangan sambil memegang kepalanya. Brukk, belum sampai pintu Rindi sudah pingsan duluan. Anton dan Rahmat langsung panik, mereka kemudian mendekati Rindi yang terbaring dilantai.


“Rin, bangun Rin. Jangan bikin gue panik dong” teriak Anton.


“Pindahin dulu ke Sofa” Sahut Rahmat. Anton kemudian menggendong Rindi dan membaringkan disofa. “Cepetan panggil dokter, gue hubungi suaminya” lanjut Rahmat lalu menelpon Satrio.


Anton meraih Hpnya menghubungi dokter keluarganya untuk datang kekantor segera. “Loe nelpon siapa? Bokapya Raina? Tanya Rahmat.


“Iya, bukan lah, dokter Chandra sudah jadi direktur jadi dokter keluarga gue diganti sama bawahannya namanya dokter Mila” jawab Anton kemudian dia berusaha membangunkan Rindi dengan menepuk-nepuk pipinya. Pintu


“Hei, istrimu pingsan bukan meninggal. Ogeb juga ini kunyuk satu” bentak Rahmat.


“Kenapa bisa pingsan pak? Tadi berangkat kantor baik-baik saja” tanya Satrio.


“Mana gue tau. Tadi istri loe keliatan pucat, dia bilang sedikit pusing katanya gue suruh istirahat dia gak mau” jawab Anton.


Setelah 30 menit dokter pribadi keluarga Anton datang dan kenudian memeriksa Rindi yang belum sadar dari pingsannya. “Istri saya kenapa dok?” tanya Satrio penasaran dengan keadaan istrinya yang belum sadar.


Dokter Mila menghela nafas “Sepertinya istrimu hamil. Tapi untuk lebih jelasnya lebih baik dibawa kerumah sakit biar ditangani dokter spesialis kandungan” ucap dokter Mila. Satrio tersenyum mendengar ucapan dokter Mila, dia kemudian mengelus wajah Rindi dengan lembut.


“Hei. Ayok kita bawa istri loe kerumah sakit dulu, entar dia kenapa-kenapa lagi” ucap Rahmat yang melihat Rindi belum sadar.


“Biarkan istirahat dulu, saya akan memberikan Cairan infus setelah sadar bawa segera kerumah sakit” ucap Dokter Mila yang kemudian memasang infus ditangan Rindi, setelah itu dia pamit untuk kembali kerumah sakit. Tak lama kemudian Rindi sadar dan melihat suaminya duduk disamping sambil memegang tangannya.


“Sayang, mana yang sakit? Tanya satrio melihat istrinya sudah sadar. Rindi kemudian heran melihat tangannya sudah terpasang selang infus.


“Mas. Aku kenapa?”


“Kamu pingsan tadi sayang, ayok kita kerumah sakit. Kata dokter kamu hamil jadi harus segera diperiksa dokter kandungan” ucap Satrio dan membuat Rindi kaget sekaligus senang. Satrio kedian membawa Rindi keruha sakit

__ADS_1


untik memeriksakan kandungannya.


Siang ini Raihan sedang menunggu Riana diparkiran kampusnya untuk pergi bersama menjemput kakek yang akan tiba di Jakarta. Dia berdiri disamping mobilnya sambil menatap layar ponselnya, dia memeriksa beberapa email tentang pekerjaaan yang dikirimkan oleh Anya dan Ivan.


Beberapa mahasiswi yang lewat memperhatikan dengan tatapan kagum akan ketampanannya dan banyak yang bergerombol dikoridor sambil mmenatap dari jauh seakan bertanya siapa pria tampan yang berdiri diparkiran itu.


Raina yang baru keluar dari kelasnya berjalan dikoridor menatap orang bergerombol “Mungkin ada Artis yang datang sampai ramai begitu ”gumahnya dan terus berjalan. Sesampainya di parkiran dia melihat Rihan berdiri


disampng mobilnya. “Pantas gadis-gadis bergerombol, ternyata ini penyebabnya. Awas kau Fulgoso berani tebar pesona dikampusku” Ucapnya dalam hati sambil menatap sinis.


Raihan menegakkan kepalanya dan melihat Raina berjalan mendekatinya. Senyummnya mengembang melihar Raina tapi setelah dekat dan melihat tatapan sinis Raina senyumnya langsung surut “Mampus aku. Sepertinya


aku salah lagi tapi apa ya” gumahnya.


Dia merentangkan tangannnya untuk memeluk Raina dan Raina menyambutnya dengan memeluk Raihan. Mahasiswi yang melihatnya langsung melongo tidak percaya jika pria tampan yang mereka kagumi ternyata kekasih dari Raina.


“Kamu tunggu hukuman dariku Fulgoso” Bisik Raina lalu mengurai pelukannya dan naik keatas mobil. Raihan masih bertanya-tanya dalam hati apa kesalahannya kali ini. Dia kemudian naik ke mobil dan mengemudi menuju


bandara.


“Sayang, kesalahan apa lagi kali ini? Tanya Raihan dengan hati-hati jangan sampai menyinggung perasaan.


Raina menengok dengan tatapan tajam “Kamu sengaja ya untuk tebar pesona dikampusku, mahasiswi-mahasiswi mengagumimu dari jauh.” Sahutnya dengan muka cemberut.


“Tidak sayang, aku tidak tebar pesona seperti yang kamu tuduhkan. Aku hanya menunggumu saja” jawab Raihan mengelak akan tuduhan Raina. “Apa salah berdiri menunggu diluar, didalam mobil dan diluar apa bedanya” gumahnya dalam hati.


Raina mendelik “Lalu kenapa tidak menunggu didalam mobil? Malah berdiri diluar dengan gaya sok keren lagi. Kalau bukan tebar pesona lalu apa namanya?” omel Raina.


“Eh tidak begitu sayang. Saya tidak mengetahui jika mereka mengagumi, Aku kan aku lagi sibuk memeriksa email pekerjaan. Lagian kalo mereka kagum juga kan aku gak bisa melarang” elak Raihan.


“Hei Fulgoso, kamu senangkan jika mereka mengagumimu? Pacaran saja sama mereka semua biar kamu tambah senang dan bahagia dibandingkan denganku yang suka ngomel.” Raina cemberut karena marah mendengar kata-kata Raihan.


“Jangan marah Maria, di drama Amerika Latin maria itu sosok wanita lembut dan.


“Dan menyedihkan begitu maksudmu” potong Raina.


“Bukan sayang, lembut dan cantik maksudku” elak Raihan. “Sayang. Kamu cemburu ya?” Tanya Raihan sembari mengulas senyum.


“Cemburu? Enak saja. Ngapain juga cemburu sama mereka.” Elak raina sambil menatap keluar jendela.


 “Ternyata gadis manisku bisa juga cemburunya, makin sayang deh sama kamu” Goda Raihan.


Raina menoleh “Berhenti menggodaku atau aku akan mendiamkanmu” Ancam Raina.


Raihanpun diam mengunci mulutnya takut dia kena omel lagi dari Raina. Mereka pun diam tanpa ada yang berbicara hingga Raina kembali berucap “Kenapa diam saja? apa sudah bosan berbicara denganku?”

__ADS_1


Rihan melongo tidak percaya dengan ucapan Raina “Bicara salah, diam lebih salah. Betulan lagi dapet ni cewek, barusan disuruh diam sekarang ditanya lagi kenapa diam” ucapnya dalam hati.


To Be Continued


__ADS_2