Ojek Tampan Kesayangan

Ojek Tampan Kesayangan
Sikap tegas Raina


__ADS_3

Sudah satu Minggu berlalu sejak lamaran dirumah Kristina. Raihan masih setia mengantar jemput Raina ketika Raina ada kuliah. Sekarang ketiga sahabat itu lagi berkumpul dicafe milik Rahmat.


Dikarenakan kesibukan yang padat sehingga membuat mereka tidak punya waktu untuk bertemu. Raihan yang paling sibuk karena banyak proyek pembangunan yang telah berjalan mengalami kendala di lapangan.


Dia duduk dengan wajah yang tidak seperti biasanya "Kenapa loe? Ada masalah sama Raina?" tanya Anton yang sadar dengan perubahan sahabatnya itu.


"Gue lagi ada masalah diperusahaan, beberapa proyek pembangunan yang sudah berjalan mengalami kendala di lapangan" Jawab Raihan.


"Kendalanya dimana? Masa Buana Group bisa mengalami kendala." sahut Anton.


Dia melirik Anton dengan tatapan tajam "Emang loe kira Buana Group itu tidak akan mengalami masalah karena perusahaan besar?" Emosi Raihan agak meninggi akibat mendengar kata-kata Anton.


"Maaf bukan maksudku ngomong begitu, Masalahnya dimana? Ada yang bisa saya bantu menyelesaikan masalahmu" sahut Anton.


"Proyek di Tangerang sedang berhenti karena mendapat penolakan warga padahal sebelumnya tidak ada masalah trus proyek pembangunan Apartemen di Sulawesi saya hentikan karena laporan keuangan proyek itu bermasalah" jawab Raihan.


"Tenang gue bantu, gue punya link di Sulawesi nanti saya minta untuk menyelidiki project manager disana, sedangkan ditangerang sepertinya loe harus turun tangan menghadapi warga disana supaya loe tau mereka maunya apa." saran Anton.


"Kayaknya loe harus lebih memperhatikan karyawan yang dilapangkan, peluang mereka untuk korupsi lebih terbuka apalagi yang diluar kota"Sahut Rahmat.


Raihan mendengar saran dari sahabatnya itu, terlihat olehnya Raina datang bersama kedua sahabatnya. "Hii sayang" sambutnya. sambil mempersilahkan dudud dikursi yang ada disampingnya.


"Mas kenapa kusut begitu mukanya?" tanya Raina yang melihat wajah Raihan seperti ada masalah.


Raihan menghela nafasnya "Banyak masalah dikantor sayang. Tp sudah dapat solusi dari Anton dan Rahmat tadi. Rencana besok mau ke Tangerang melihat proyek disana." Jawab Raihan.


Raina melirik kearah Anton yang sedang ngobrol berdua dengan pasangan. Anton melihat kearah Raina dan mendapat tatapan dingin dari Raina "Bisa gak tatapan matanya biasa aja? Gue masih trauma dengan hukuman dari Raina" sahut Anton.


"Kak Anton temani mas Raihan besok ke Tangerang, sepertinya ini bukan masalah kecil. Gue percaya kamu bisa bantu dia nantinya" ucap Raina.


"Iya gue temani, loe tenang aja" sahut Anton.


"Makasih kak" sahut Raina "Eh pesankan minuman dong, masa tega melihat gadis cantik kehausan" lanjutnya.


Rahmat kemudian memanggil pelayan cafenya "Buatkan minuman kepada ketiga gadis ini, apa aja kalau perlu air kran sekalian" perintah Rahmat yang dibalas senyuman oleh karyawannya.


"Hei Rahul. Ngapain loe ngasih kita air kran? Emang loe kira gue sapi yang biasa minum air mentah" protes Raina.


"Iya nih, gak liat gue udah cetar membahana begini melebihi Sahroni loe masih ngasih air kran" sahut Aulia.

__ADS_1


"He-he-he maaf gue cuma becanda jangan ditatap begitu dong sayang" elak Rahmat melihat tatapan tajam dari Kristina.


Kristina hanya mendengus kesal dengan candaan calon suaminya itu. "Becanda jangan sampai kelewatan entar gak bisa balik lagi" sindirnya.


Rahmat melirik kekasihnya "Iya sayang maafkan aku" sahut Rahmat sambil merangkul Kristina.


Seorang pelayan mendekati mereka dengan membawa beberapa gelas minuman dan makanan. Pelayan tersebut menyajikan minuman dan makanan tersebut diatas meja. "Silahkan menikmati" sahutnya.


"Terimakasih mbak" sahut Aulia setelah pelayanan itu menyajikan minuman. pelayan itu tersenyum dan mengangguk kemudian meninggalkan mereka.


"Senyum dong sayang, jangan pikirkan masalah perusahaan sekarang nanti setelah masuk bekerja baru dipikirkan lagi." Bujuk Raina.


Raihan kemudian menengok kearah Raina lalu tersenyum "Maaf sayang, sudah membuat suasana tidak enak" sahut Raihan.


"Jangan diulangi lagi, jika ada masalah cerita denganku jangan disembunyikan. Jangan membawa stress dan sikap emosionalmu didepanku jika tidak ingin aku meninggalkanmu." ucap Raina dengan tegas, Raihan baru melihat sisi lain dari calon istrinya selain manja, konyol dan kini bisa jadi orang tegas menakutkan.


Raihan mengubah posisi duduknya menjadi tegap "Maafkan aku jika bersikap seperti itu. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak mengulangi tapi aku akan berusaha untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi kedepannya." ucap Raihan dengan tulus.


Raina mencari kebohongan Dimata Raihan tapi tidak menemukannya. "Aku percaya kata-katamu bisa dipercaya" ucapnya dengan senyuman manis di bibirnya.


"Berat amat pembicaraan kalian, santai dong. kita kesini untuk mencari hiburan dalam kepenatan pekerjaan bukan tegang begini" sahut Anton.


"Maaf tidak akan ku ulangi lagi" sahut Raihan.


"Serius amat loe, udah sekarang kita lupakan soal kerjaan, sekarang waktunya menikmati hari libur." ucap Anton


Mereka kemudian mengobrol santai bersama menikmati hari libur.


 


Raihan dan Anton sementara dalam perjalanan menuju Tangerang untuk memeriksa proyek pembangunan yang bermasalah disana.


Setelah perjalanan panjang mereka sampai gerbang proyek yang masih ditutup oleh masyarakat sekitar.


Raihan kemudian turun dari mobil dan melihat sekitar, beberapa orang mendekati Raihan, "Hei dilarang berhenti disini, proyek ini kami tutup dan tidak akan dibuka sebelum mereka membayar keamanan disini" Sahut salah satu orang yang datang.


"Saya pemilik proyek ini, saya hanya bicara dengan orang penting dan bukan dengan orang suruhan macam kalian" Raihan memprovokasi mereka. Anton turun dari mobil dan mendekati Raihan.


Dia berdiri disamping Raihan sambil menatap orang-orang itu. "Hanya preman biasa" sahut Anton.

__ADS_1


" Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini atau bayar uang keamanan jika mau proyek ini berjalan" sahut preman itu.


"Gue gak Sudi ngasih kalian uang biar cuma 100 perak" jawab Anton.


"Mau mati ya, serang dia" perintah orang itu.


"Loe jangan ikut campur, gue udah lama gak mukul orang" Raihan hanya mengangkat kedua tangannya. Anton maju kedepan dia sudah dikelilingi 4 preman. Satu orang maju menyerang tapi "Bughh" hanya satu tendangan membuat preman itu terjatuh.


Mereka maju bersama ketika melihat temannya terjatuh "Bugh, bugh, bugh" suara pukulan terdengar "Akhhh" terdengar suara teriakan dari salah satu preman yang sudah dikunci pergerakannya oleh Anton. "Panggil bosmu kemari sebelum ku patahkan seluruh tulangnya" Anton mengeratkan kunciannya "Akkhhh" teriakan kesakitan terdengar.


"Baik saya panggilkan" ucap orang yang memerintah tadi sambil mengambil HP-nya lalu mengubungi bosnya.


Setelah 15 menit seorang pria dengan badan tegap dan berwajah bengis mendekat "Siapa yang berani menantang ku?" teriaknya sambil menatap Anton yang masih mengunci preman itu "Kamu yang menantangku?" tanyanya lagi.


"Belum kapok juga kau setelah kuhajar habis-habisan. Menyesal saya melepasmu, seandainya ku kubur saja"ucap Raihan dengan tenang berjalan mendekati pria itu.


"Tanganmu sudah sembuh? Apa mau kupatahkan lagi?" Kata-kata Raihan yang tenang tapi orang itu langsung berlutut.


"Ampuni saya, maaf saya tidak tau kalau anda yang menghajar anak buahku" ucapnya.


"Saya hanya mau bertanya, siapa yang membayarmu menutup proyek ini?" tanya Raihan.


"Saya tidak dibayar, ini wilayah saya dan mereka tidak mau membayar uang keamanan... bugh.. Satu pukulan mendarat sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.


"Ini proyek milikku, saya direktur Buana Group jika kau tidak tau. Anton, apa perlu panggil ambulans? Kita perlu persiapkan takutnya nanti mereka terlambat sampai rumah sakit" teriak Raihan.


"Gue telpon ambulans sekarang" sahut Anton lalu pura-pura seperti orang menelpon.


"Ampuni saya tuan. Kami hanya disuruh oleh wakil direktur Grahadi Properti" jawab pria itu.


"Kau jadi anak buahnya si Brian Hadinata. Hahaha" tawa Raihan pecah mendengar nama itu.


"Maafkan kami. Kami tidak akan mengganggu lagi" pinta pria itu.


"Saya akan melepaskan kamu tapi sampaikan kepadan Brian Hadinata jika masih menggangguku maka akan kucabut nyawanya dari tubuhnya" ancam Raihan. "Pergilah sebelum kesabaranku habis" usir Raihan. Membuat preman itu langsung pergi dari tempat itu.


Raihan lalu berjalan mendekati gerbang yang terkunci dari luar, menatap sekelilingnya. "Sepertinya mereka memang sengaja mengusir pekerja" ucap Raihan.


"Orang-orang pasti takut bekerja dibawah ancaman preman" Sahut Anton.

__ADS_1


Mereka kemudian meninggalkan proyek tersebut menuju kantor cabang proyek yang ada di kota Tangerang.


__ADS_2