
Sudah 4 hari berlalu sejak mama Indi memaksa Raina dan Raihan untuk menikah. Raina masih menjalani aktifitas seperti biasa. Saat ini Raina sedang santai mengobrol dengan Nisa. Terdengar suara pintu dibuka dan muncul orang yang tidak diharapkan datang.
"Hai Raina" Sapa Erik yang datang bersama Rey.
"Hai juga" kali ini bukan Raina yang membalas sapaan tapi Nisa.
"Gue nyapa Raina bukan orang-orangan sawah" protes Erik.
"Gue juga wakilin Raina, iyakan Ra?" tanya Nisa.
"Loe pindah deh, gue mau ngomong sama Raina" usir Erik.
"Gue rasa kita tidak ada yang perlu dibicarakan" sahut Raina.
"Banyak yang harus kita bicarakan seperti mau ngedate kemana, makanan kesukaan masing-masing, banyak kan?" Jawab Erik
"Gue gak tertarik sama loe dan gue udah punya pacar" seru Raina.
"Apa sih buang bisa diandalkan dari orang miskin kayak tukang ojek itu?" tanya Erik dengan emosi.
"Biarpun miskin tapi nyokap gue suka" sahut Raina bangga.
"Gue akan buat loe nyesel nolak gue" ancam Erik.
"Gue gak bakalan nyesel nolak loe" sahut Raina.
"Loe liat aja nanti" ancam Erik lalu meninggalkan Raina sambil mengepalkan tangannya. Harga dirinya tercabik-cabik setelah ditolak Raina.
"Bro. Kayaknya kunci Ferrari bisa pindah tangan nih."celetuk Rey yang berjalan disamping Erik yang masih emosi.
"Diam loe, masih ada waktu buat dapatin dia bagaimanapun caranya" sahut Erik.
"Loe gak ada rencana jahat kan?". tanya Rey. Tapi tidak dijawab oleh Erik. Entah apa yang direncanakan oleh Erik hanya dia dan author yang tau.
Sementara itu Raina mulai agak takut dengan ancaman Erik, dia takut jika Erik kembali berulah dan mencelakai Raihan.
"Hei ngapain loe bengong? Anak ayam tetangga gue kemaren bengong hari ini mati dia" ucap Nisa
"Mati kenapa?" tanya Raina.
"Mati digigit anjing. ha-ha-ha" tawa Nisa meledak melihat temannya cemberut.
"Si*l*n kirain apa, lagian beg*nya gue pake nanya lagi" sahut Raina.
"Emang kenapa loe bengong kayak Ayam lagi mengerami telurnya" ucap Nisa.
"Gue nolak Erik lagi trus dia ngancam gue" curhat Raina.
"Loe kabarin dong babang Rai" Nisa memberi saran.
"Iya ya, kok gue ketularan lalot sih" ucap Raina lalu mengambil HP-nya lalu menelpon Raihan.
__ADS_1
"Assalamualaikum cantik" suara Raihan terdengar.
"Waalaikumsalam. Kakak apaan sih" ucap Raina malu-malu seolah-olah Raihan ada didepannya.
"Kamu kangen ya?" tanya Raihan.
"Bukan itu kak, ada yang mau aku bicarakan" jawab Raina
"Apa itu?" tanya Raihan penasaran.
"Kaka, Erik ngancam aku karena nolak jadi pacarnya. Aku takut nanti dia akan berbuat macam-macam sama kakak" ucap Raina.
"kamu tidak usah khawatir dengan keselamatan kakak yang perlu dikhawatirkan itu keselamatan kamu, mulai besok aku akan antar jemput" sahut Raihan.
"Kakak kan sibuk jadi gak usah deh, nanti bos Kakak marah" tolak Raina halus.
"Gak apa-apa, Bos Kakak tidak suka marah." ucap Raihan
"Baiklah, terserah kakak saja" ucap Raina pasrah.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Raihan
"Siang kak jam 2 pulangnya. emang kenapa kak?" tanya Raina.
"Kakak jemput ya, kita harus membeli sesuatu" ucap Raihan
"Tapi aku naik mobil kak" sahut Raina.
"Kan dimatiin lagi, kebiasaan deh" ucap Raina dengan kesal.
"Kenapa lagi tuh muka? Tadi senyum Sekarang bengkok" sahut Nisa yang memperhatikan perubahan raut wajah temannya.
"Ini kak Rai main matiin aja telponnya" Jawabnya sambil cemberut.
"Baguslah, dosen juga udah nongol tuh" ucap Nisa sambil menunjuk dosen yang berjalan didepan kelas.
Pembicaraan mereka pun terhenti karena perkuliahan sudah dimulai.
Sementara itu Aulia yang lagi sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk akibat seniornya memberikan tugas mereka itu dikagetkan dengan kedatangan Direkturnya.
"Selamat pagi pak" sapa Aulia.
"Bagaimana dengan tugas yang saya berikan kenapa belum ada laporanmu?" Suara Raihan agak meninggi.
"Maaf pak saya sibuk rencananya weekend baru saya kerjakan" Sahut Aulia.
"Apa! Panggilkan manager keuangan" perintah Raihan kepada karyawan lain yang ada di ruangan itu. tak lama muncullah manager yang dimaksud.
"Ada apa pak direktur kemari? tanya manager keuangan.
"Kenapa kau memberikan banyak pekerjaan kepada pegawai magang? Padahal saya memberi dia tugas khusus." protes Raihan kepada manager keuangan.
__ADS_1
"Maaf pak saya tidak tahu" ucap manager mulai gemetar.
"Pokoknya mulai hari ini berikan tugas sesuai porsinya, lihat ini kenapa cuma meja pegawai magang yang berkasnya menumpuk. Apa kalian lagi mengadakan perpeloncoan?" tanya Raihan dengan emosi. Bukan tanpa sebab karena mendengar keluhan didalam lift tentang perlakuan berbeda terhadap pegawai magang. Sebab itu Raihan lagi mengadakan sidak ke departemen yang menerima pegawai magang.
"Dan buat karyawan yang dengan sengaja melemparkan tugasnya kepada pegawai magang akan dikenakan pemotongan gaji 30% selama 3 bulan" Ancaman pemotongan gaji membuat mereka mulai ketakutan.
"Dan kamu pegawai magang, setelah jam istirahat lakukan tugas yang saya berikan" perintah Raihan sambil memberi kode kedipan mata.
"Baik pak" jawab Aulia sambil tersenyum tipis. Dia senang karena hari ini pekerjaannya lebih ringan. Sebenarnya dia ingin melaporkan kepada Raihan tapi takut nanti dianggap memanfaatkannya.
Waktu terus berlalu. Saat ini Raihan sedang menunggu Raina diparkiran. Dengan pakaian seperti biasa duduk diatas motornya dengan santai.
Dari kejauhan Erik melihat saingannya duduk diatas motornya mengumpulkan teman-temannya.
Raihan belum menyadari jika ada 10 orang yang mendekatinya dari belakang.
"Hei orang miskin, disini tidak menerima tukang ojek miskin" hina Erik.
"Ha-ha-ha. Emang sekaya apa loe sehingga berhak menghina gue miskin?"tanya Raihan.
"Bokap gue pemilik Riandy Group" sahut Erik bangga.
"Bokap loe kan dan itu bukan loe. Sekarang gue tanya sama loe, sudah berapa banyak duit yang loe dapat dari hasil keringat loe sendiri tanpa minta bokap loe?" Erik diam tak menjawab.
"Ha-ha-ha. Ternyata yang miskin disini bukan gue tapi loe" pernyataan Raihan bagaikan pukulan telak bagi Erik.
"Kenapa kalian diam saja, habisi dia!" perintah Erik kepada teman-temannya. Salah seorang yang badannya paling besar maju dengan sombongnya.
Dia mendekat kemudian mengarahkan pukulan kearah Raihan "Bugh, bugh" suara pukulan yang mendarat membuat teman Erik langsung terkapar. Melihat itu teman-temannya yang lain maju bersamaan menyerang Raihan.
Bugh. bugh. terdengar beberapa kali pukulan yang mendarat. Tiba-tiba muncul 2 orang berpakaian hitam dan berbadan kekar membantu Raihan. Membuat teman-teman Erik terkapar. Kini hanya tinggal Erik sendiri berdiri dengan ketakutan.
"Kalian pergilah, yang disini biar saya yang selesaikan dan bawa motor kesayanganku" perintah Raihan kepada bodyguardnya sambil memberikan kuncinya.
"Loe ganggu gue, gue gak masalah tapi loe udah berani ngancam Raina itu yang jadi masalah" Raihan maju dan akan memukul Erik tapi dari belakang seseorang memeluk dan menahannya.
"Kak sudah, aku takut" ucap Raina disela-sela tangisnya. Raina sudah melihat Raihan dikeroyok dan ingin mendekat tapi ditahan oleh Nisa.
"Gue harap loe masih bisa nikmati kekayaan orang tua loe besok" ancam Raihan dengan penuh emosi yang membuat Erik kaku tidak bisa berkata-kata. Raihan kemudian berbalik memeluk Raina.
"Sudah jangan nangis kakak tidak apa-apa, gak ada yang luka. Ayo kita pergi" sahut Raihan sambil menghapus air mata di pipi Raina.
Mereka pergi meninggalkan Erik yang diam tak bergerak. Raihan mengemudikan mobil Raina menuju mall XX. Raina terus memperhatikan wajah Raihan.
"Jangan dilihatin terus dong, nanti kamu bisa jatuh cinta" ucap Raihan.
"Kakak gak terluka kan?" tanya Raina.
"Kakak ini jago beladiri jadi mereka gak bisa nyentuh sedikitpun. Kakak ini sabuk hitam karate dan taekwondo. Jadi menghadapi mereka bukan apa-apa" jawab Raihan.
Tak terasa mereka pun tiba dimall XX.
__ADS_1
To Be Continued