
"Aku, Frederick Von Erlang. Raja Kerajaan Erlang. Memutuskan menjatuhkanmu hukuman mati saat ini juga."
Sean, Zayden dan Semua pasukan terkejut mendengar ucapan Raja Erlang. Batin mereka berkata. "Bukankah Yang Mulia Raja sangat menyayangi adik angkatnya ?"
Mozark tersenyum menyeringai setelah mendengar ucapan Raja Erlang. Ia lalu berkata. "Aku tak menyangka, kakakku yang terhormat berani menjatuhkan hukuman mati terhadap adik angkat kesayangannya."
Raja Erlang berubah ke Mode Apinya. Melihat Raja mereka yang sudah ke dalam mode itu, bertanda kalau Raja Erlang sendirilah yang akan langsung turun tangan untuk mengeksekusi Mozark.
Semua pasukan berdiam, karena tak ada yang berani mengganggu Raja Erlang. Namun, saat akan melangkahkan kakinya, Sean dan Zayden menghalanginya. Raja Erlang menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Ayah, biarkan kami yang mengeksekusi paman Mozark." ucap Zayden, dan Sean mengangguk kepalanya.
"Tidak, biarkan ayah sendiri saja yang melakukannya." balas Raja Erlang.
"Tidak ayah, biarkan kami berdua. Ayah adalah Raja Kami, maka kami tidak akan membiarkan ayah mengotori tangan ayah sendiri." jawab Zayden.
Mode Apinya pun berhenti, Raja Erlang berubah kembali sosok normal. Ia bersuara. "Baiklah, jika itu mau kalian. Aku Raja Frederick Von Erlang. Memerintahkan kalian berdua untuk mengeksekusi Mozark !!"
"Baik Yang Mulia." jawab Zayden dan Sean bersamaan sambil sedikit menundukkan tubuhnya.
Zayden dan Sean berjalan mendekati Mozark yang kini berdiri dengan bantuan pedangnya. Disisi Dr. Alex, ia melihat Sean yang begitu patuh terhadap besannya. "Ahh, benar besanku adalah seorang Raja."
Zayden dan Sean kini berdiri bersampingan dan menatap Mozark yang berdiri dihadapan mereka. Zayden mengeluarkan pedangnya, dan Sean mengepal kuat tangan logam kirinya.
Mozark tersenyum melihat Zayden. "Lakukanlah keponakanku. Bunuhlah aku, agar aku tak bertindak lebih gila lagi."
lalu pandangan beralih ke arah Sean. "Dan kau, pastikanlah aku benar-benar mati agar istrimu dan aku tidak saling bertemu hahahahah...."
Sling....!!
Dengan gerakan cepat, Zayden menebas leher Mozark.
BUGH...!!
Wuuuusss....!!
__ADS_1
Tak ada satu detik setelah Zayden menebas leher Mozark hingga terpisah dengan tubugnya, seketika Sean langsung memukul kepala Mozark hingga terpental dan menghantam sebuah batu besar.
Craattt !!
Kepala Mozark hancur setelah menghantam batu besar. Tubuh Mozark yang masih utuh di hadapan Zayden dan Sean, pun terjatuh tergeletak di tanah. Banyak darah keluar dari luka tebasan di lehernya.
Raja Erlang yang melihat pemandangan adik angkatnya di eksekusi seperti itu, ia hanya memenjam kedua matanya. Dalam hatinya ia terus berusaha melawan rasa bersalahnya atas kematian adik angkatnya.
Disisi Dr. Alex, ia menatap kagum kepada Putranya yang mengeksekusi musuhnya seperti itu. Raja Erlang berjalan mendekati Putranya dan menantunya, setelah berdiri dibelakang mereka berdua, ia menyentuh pundak mereka berdua masing-masing.
"Zayden, Sean, ayo kita kembali ke Kerajaan." lalu ia menatap Sean. "Antarkan ayahmu ke tempat Kerajaan kita, Sean." ucapnya, dan Sean mengangguk kepalanya.
Mereka bertiga berjalan mendekati Dr. Alex dan Pasukan mereka. Raja Erlang memerintahkan semua untuk kembali ke Kerajaan Erlang. Raja Erlang juga tak lupa mengajak besannya. Dengan senang hati Dr. Alex menerimanya.
Mereka semua pun kembali ek Kerajaan Erlang untuk kembali pulang. Dan tak lupa, Raja Erlang meminta beberapa prajurit untuk membawa jasad Mozark yang tanpa kepala itu. Ia ingin memakamkan jasad adik angkatnya dengan layak.
.....
Semua sudah kembali ke dalam Kerajaan Erlang. Semua pasukan yang tadi mengikuti Raja Erlang pun kembali bertugas. Raja Erlang juga memerintahkan para prajurit untuk mencari pelaku yang sudah berkhianat dalam membebaskan Mozark dari tahanan.
Banyak sekali orang-orang memperhatikan mereka berdua. Bahkan ada yang beranggapan mereka berdua seperti adik kakak, karena wajah mereka hampir sama. Namun yang membuat mereka mengerut dahi, adalah penampilannya.
Penampilan Sean memang memakai pakaian Ksatria Kerajaan. Dan penampilan Dr. Alex, ia mengenakan jas dan pakaian serba hitam dengan kedua lengan pakaiannya dan celana panjangnya robek.
Yah.., itu pun robek karena ia merubah kedua tangan dan kedua kakinya menjadi perlengkapan senjatanya. Tapi, Dr. Alex masa bodoh dengan penampilannya.
Namun, hal yang mengganggu pikiran Sean, bagaimana ayahnya masih hidup ? Bagaimana ayahnya bisa melintasi Dunia barunya ? Dan kenapa penampilan ayahnya seperti seumuran dengannya ?
Ia ingin sekali bertanya, tetapi ia urungkan. Sean berfikir lebih bertanya jika telah sampai dikediamannya
.....
Beberapa lama kemudian, akhirnya mereka berdua telah sampai di kediaman Sean. Sean langsung melempar Kapaknya, dan menancap di batu besar disamping rumahnya. Sean meminta Ayahnya untuk menunggu di depan rumah.
Dr. Alex menyetujuinya, Sean pun masuk ke dalam rumahnya. Ia mencari keberadaan istrinya dan ibunya yang kini sedang bersembunyi di ruang bawah tanah.
__ADS_1
Sean pun menemui mereka berdua. Rosalyn memeluk Sean. Sean membalas pelukan istrinya yang kini tengah hamil, ia berkata. "Semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Rosalyn melepas pelukannya. Liona pun bertanya. "Sebenarnya apa yang telah terjadi Sean ?"
"Akan kuceritakan, tapi sebelum itu, ayo kita ke depan rumah, ada seorang yang tengah menunggu kita." jawab Sean tersenyum kepada ibunya.
"Siapa ?" sahut Liona dan Rosalyn bersamaan.
"Makannya, ayo kita keluar." ajak Sean yang berjalan meninggalkan mereka terlebih dahulu.
Liona dan Rosalyn pun berjalan menyusul Sean dibelakangnya. Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah. Telihat seorang pria yang berdiri membelakangi mereka.
"Dia siapa ?" tanya Liona dan Rosalyn bersamaan.
Sean tersenyum, ia merangkul istrinya, dan menjawab. "Untuk istriku, kamu tidak akan mengenalnya. Tapi untuk ibu, kau pasti sangat mengenalnya."
Rosalyn tak menjawab, dan Liona, ia mengerut dahinya. Lalu pria itu membalikkan tubuhnya, dan menatap ke arah mereka bertiga. Pria itu melempar senyumannya. Tatapannya ke arah Liona.
Deg..!!
Jantung Liona berdetak hebat ketika melihat sosok pria itu. Ia perlahan berjalan mendekatinya. Ya..., pria itu tak lain Dr. Alex, alias suaminya yang telah dinyatakan meninggal karena Bom bunuh diri demi meloloskan Putra mereka.
Kini Liona dan Dr. Alex saling berhadapan sangat dekat. Perlahan tangan Liona bergerak ke arah wajah Dr. Alex.
Plak...!!
Sean dan Rosalyn terkejut melihat Liona menampar pipi Dr. Alex. Dan Dr. Alex sendiri pun juga tak kalah terkejutnya. Saat akan menyentuh pipinya bekas tamparan Liona, kedua tangan Liona lebih dulu menyentuh kedua sisi wajah Dr. Alex.
"Ini benar-benar kamu ?" tanya Liona, kedua matanya sudah memerah dan berkaca-kaca.
Dr. Alex tersenyum, kedua tangannya menyentuh kedua tangannya Liona dan menurunkannya dari wajahnya. Lalu ia menjawab "Tentu saja ini aku, Liona. Suamimu yang selama ini telah lama terpisah darimu."
Liona tak bisa berkata apapun. Ia menangis, lebih tepatnya ia menangis bahagia. Dr. Alex bersuara. "Aku kira istriku akan lupa dengan wajahku."
Liona dengan menangis terisak menjawab. "Mana mungkin aku melupakan wajah suamiku !!" tanpa aba-aba, ia langsung memeluk erat tubuh suaminya. Dr. Alex pun juga membalas pelukan istrinya.
__ADS_1