
Tak terasa hari telah sore.
Tiba-tiba muncullah halangan, sesuai dugaan Sean dan yang lainnya. Perjalanan mereka dihalangi oleh sekelompok bandit. Kelima kereta kuda berhenti. Para pedagang mulai ketakutan. Arron, Brian, dan yang lainnya segera turun dari kereta kuda. Hanya Sean yang tidak turun.
Sean membiarkan ke-9 anggotanya untuk mengatasi sekelompok bandit itu. Ia memilih diam. Memilih diam bukan berarti ia malas, melainkan, ia ingin ke-9 anggotanya menaikan Level mereka. Jika mereka kesulitan, maka ia akan langsung turun tangan untuk mengatasi kesulitan anggotanya.
"Tuan Petualang, mengapa a-anda tidak ikut bersama anggotamu ?" tanya pedagang yanh merupakan kusir kereta kuda yang Sean tumpangi.
"Aku hanya ingin melihat ke-9 anggotaku mandiri. Jika mereka membutuhkanku, maka aku akan langsung turun tangan." jawab Sean datar.
"Te-tetapi, sepertinya ke-9 anggotamu melawan 4 bandit yang kuat." kata pedagang itu lagi.
Ya, yang menghalangi perjalanan mereka ada 4 bandit. Sean hanya membalas. "Benar, kelima bandit itu terlihat kuat. Tapi aku akan diam sampai mereka benar-benar sudah kesulitan."
Sean berkata kepada pedagang itu. "Dan kamu, kenapa kamu tidak membawa senjata atau semacamnya untuk menjaga diri jika dalam perjalanan jauh ?"
Pedagang itu tertawa kecil sambil mengaruk-garuk kepalanya. "Hehe, menggunakan senjata, itu bukan keahlian saya, Tuan Petualang. Jadi biasanya kami tidak membawanya."
Sean memutar bola matanya dan mendengus kesal. Lalu dengan tatapan dinginnya, ia berbicara dalam hatinya. "Kenapa gak latihan bela diri, kek. Minimal latihan fisik."
"Lalu, sebelum-sebelumnya apa kalian mengalami hal ini ?" tanya Sean.
"Hampir setiap kami dalam perjalanan jauh, pasti akan ada bandit yang menghalangi jalan kami." jawabnya.
Sean bertanya lagi. "Lalu, siapa yang mengatasi bandit-bandit itu selama kalian pergi ?"
"Biasanya, ada beberapa Petualang yang ikut menumpang kami, dan mereka selalu berjasa membantu mengatasi para bandit itu."
"Kalau tidak ada Petualang, bagaimana ?" sahut Sean bertanya lagi.
"Kami terpaksa memberikan koin atau barang-barang dagangan kami yang kami punya, itu pun jika sesuai dengan kemauan mereka."
Sean mengerut dahinya. "Kalian tidak memberi perlawanan ?"
"Tidak, setidaknya dengan memberi koin atau barang-barang kami yang mereka butuhkan, kami bisa melanjutkan perjalanan."
Sean memijit pelipisnya setelah mendengar jawaban salah satu pedagang yang menjadi kusirnya. "Apakah semua para pedagang di dunia ini lemah atau malas untuk berlatih ?"
Sean tak bertanya lagi, ia memilih untuk melihat ke-9 anggotanya tengah bertarung dengan Ke-4 bandit itu. Semua tidak hanya menyerang dengan senjata saja, tetapi juga dengan Sihir mereka.
"Semburan Bola Api !!"_Arron.
__ADS_1
"Hantaman Pusaran Angin !!"_Darold.
Disisi Arron dan Darold tengah bertarung dengan bandit1. Arron dan Darold terlihat hebat dalam serangan bergantian. Bahkan lawan mereka terlihat terdesak.
"Semburan Api Naga !!"_Brian.
"Serangan Hujan Tanah !!"_Rin.
Lalu Sean memandang Brian dan Rin. Mereka berdua melawan bandit2. Brian selalu mengutamakan serangan, sedangkan Rin, ia mengutamakan pertahan. Jadi Brian dan Rin saling melengkapi.
"Pedang Angin !!"_Erza.
"Hujan Pisau Air !!"_Lisa.
"Semburan Air Naga !!"_Elif.
Isla dan Marie_"Serangan Sinar Perusak !!"
Pandangan Sean beralih ke arah bandit3 dan bandit4 yang bertarung melawan Erza, Lisa, Elif, Isla, dan Marie. Kedua bandit itu terlihat bisa mengimbangi ke-5 anggotanya. Tetapi masih bisa diatasi.
Tiba-tiba datanglah seseorang berbadan besar dan menunggangi kuda. Ia kuluar dari hutan yang ada di sisi kanan jalur jalan. Orang itu melajukan kudanya untuk menyerang Brian.
Brian segera melompat menghindar. Rin yang melirik ke arah Brian, ia memilih fokus melawan bandit2, jika ia menghampiri Brian, maka ia bisa lengah dan terkena serangan bandit2.
"Habisi mereka !! Kira rampas semuanya !!" ucap pria berbadan besar itu.
Sean yang melihat itu, tak diam saja. Ia segera mengeluarkan senapan BARRETT M89 dari cincin penyimpanannya. Lalu ia membidiknya dengan teropong ke arah orang itu.
Dor !!
Bruukk !!
Boss para keempat bandit itu terjatuh. Di dahinya terdapat luka seperti lubang, lalu keluar darah dan mengalir. Ke-4 bandit terkejut melihat boss mereka tiba-tiba mati.
Melihat pandangan ke-4 bandit itu beralih ke boss mereka, Arron, Bria, dan yang lainnya tidak mensia-siakan kesempatan. Mereka ber-9 menyerang ke-4 bandit itu dengan serangan penghabisan.
"Semburan Bola Api !!"_Brian, Erza, Arron, dan Darold.
"Hantaman Angin ternado !!"_Lisa, dan Elif.
"Serangan Sinar Perusak !!"_Rin, Isla, dan Marie bersamaan.
__ADS_1
Woosssss
DUAR..!! DUAR..!!
.....
Pada akhirnya para bandit itu mati. Setelah membakar kelima mayat bandit, mereka semua melanjutkan perjalanan mereka. Tanpa mereka semua sadari, sudah ada sepasang mata yang melihat pertarungan mereka hingga berakhir.
Orang itu terlihat memakai jubah berwarna hijau muda. Ia kini melompat-lompat dari dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Ia bersembunyi mengikuti rombongan pedagang dan Party Sang Petualang.
.....
Sudah lama dalam perjalanan, dan telah malam. Semua rombongan memilih berhenti dan istirahat kembali. Tak ada yang membeda-bedakan para pedagang dan para petualang itu.
Mereka menyalakan api unggun, Sean mengeluarkan banyak daging kelinci hasil buruan dan sudah ia bersihkan sebelumnya.
Dengan bahan-bahan yang ada, karena ingin menghemat makanan cadangan. Sambil menunggu matang, mereka sesekali berbicara dan bergurau.
Dan Sean memilih diam saja dan hanya memperhatikan Api unggun yang tengah membakar daging kelinci mereka.
"Tuan-tuan dan nona-nona Petualang, apa benar tentang berita pertunangan Tuan Putri Rosalyn ?" tanya salah satu pedagang.
"Aku penasaran, dengan siapa Putri Raja bertunangan ?" Brian yang masih penasaran.
Darold bersuara. "Aku pun tak menyangka kalau Putri Rosalyn benar-benar bertunangan dengan seorang Petualang. Padahal sudah banyak sekali pemuda-pemuda Bangsawan, termasuk kakakku yang melamarnya, tapi Putri Rosalyn menolak semuanya."
"Ahh, benar juga, kamu 'kan anggota keluarga Bangsawan Kruger. Berarti kamu tau gimana reaksi kakakmu saat mendengar Putri Rosalyn bertunangan ?" kata Arron kepada Darold.
Darold menjawab. "Terakhir, aku melihat dia terlihat murung, dia benar-benar patah hati. Hahahaha..."
Semua tertawa mendengarnya kecuali Sean. Arron pun membalas. "Kamu terlihat senang sekali melihat kakakmu begitu."
"Ya, karena aku tidak suka sifatnya yang Sombong." jawab Darold.
Arron tertawa, lalu menatap Sean dan bertanya. "Sean, menurutmu siapa yang menjadi tunangannya Putri Rosalyn ?"
"Aku tidak tau." jawab Sean datar, rasanya ingin sekali pergi dari tempat itu.
Tak lama kemudian makanan mereka telah matang. Mereka segera memakan dan menikmati daging bakar mereka bersama-sama.
Setelah beberapa lama kemudian, mereka telah menghabiskan makanan mereka. Meski sudah malam, mereka melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Arron, Darold, Erza, Lisa, dan Marie telah tertidur, karena mereka sudah tak kuat menahan kantuk mereka. Sedangkan sisanya memilih untuk tetap berjaga dan fokus melihat jalan perjalanan mereka.