
Langit mulai gelap, bertanda hari mulai malam. Saat ini, Sean dan Sang Ibu, yang tak Lain Liona, tengah dalam perjalanan menuju kediaman Aratohrn dengan kendaraan kereta kuda.
Di dalam kereta, Sean masih berfikir kalau dirinya itu anak kandung Liona atau bukan. Masalah, Liona itu terlihat masih muda layaknya seorang gadis berumur 20 tahunan.
Liona sudah menjelaskan kalau dirinya terlahir sebagai Ras Campuran, yang dimana ayahnya dari Ras Elf, dan ibunya dari Ras Manusia. Dia bisa terlihat muda juga karena Darah Elf mengalir pada dirinya.
Karena keistimewaan Ras Elf adalah berumur panjang dan terlihat awet muda. Bagi seseorang yang merupakan berRas Elf atau terlahir memiliki darah Elf pada dirinya, maka ia juga bisa berumur panjang dan awet muda.
Namun Sean masih tak percaya, maka ia bertanya. "Apa di dunia ini ada peralatan teknologi untuk melakukan Tes DNA seperti di dunia asalku ?"
Liona mengerut dahinya. "Hah ? Tes DNA, apa itu ?"
Sean pun menjelaskan. "Katakanlah tes DNA adalah untuk memeriksa genentika, dan protein pada darah kita untuk mengetahui kita ini sepasang ibu dan anak yang memiliki hubungan darah. Kata lain untuk mengetahui kalau ibu adalah ibu kandungku."
Liona mengangguk-angguk kepalanya. Ia paham dengan apa yang dijelaskan oleh Sean. "Kalau semacam alat teknologi seperti itu di duniamu, sepertinya tidak ada. Tetapi untuk mengetahui kita adalah keluarga kandung, di dunia ini juga bisa melakukannya."
Sean mengerut dahinya. "Benarkah ?"
Liona mengangguk kepalanya. "Di Kediaman Aratohrn, ada alat semacam itu."
Sean mengangguk kepalanya. Ia tak bertanya lagi. Meski ia masih ragu wanita yang telihat muda ini adalah ibu kandungnya, tetapi ia berharap kalau wanita memang ibu kandungnya.
.....
Beberapa lama kemudian, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Aratohrn. Kereta kuda mereka melewati pintu gerbang kediamann. Setelah berhenti, Sang Kusir membuka pintu kereta dan mempersilahkan Liona dan Sean untuk segera turun.
Liona dan Sean berjalan bersampingan. Mereka melewati halaman taman yang ada di depan rumah yang cukup besar dan mewah. Sean sendiri dalam hatinya aja kagum melihatnya
Tapi Sean agak sedikit ragu untuk masuk, tetapi Liona menggenggam tangannya dan menariknya untuk ikut dengannya. Ia hanya pasrah. "Anjirr...., dulu biasanya aku membaca buku tentang keluarga Bangsawan. Dan sekarang, jika memang aku anak kandungnya, berarti aku keturunan Bangsawan."
__ADS_1
.....
Mereka berdua telah masuk ke dalam. Beberapa maid dan pelayan pria sedikit membungkukan tubuhnya untuk memberi hormat kepada Liona.
Sean melihat Para Maid wanita dan para pelayan pria itu, ada yang bertelinga lancip dan ada juga yang tidak. Maka berarti mereka campuran Elf dan Manusia. Namun ada satu maid yang bertelinga hewan rubah.
Terlihat para maid perempuan melirik Sean. Mereka membeku melihat wajah Sean yang asing tetapi tampan. Segera cepat mereka menepis pikiran mereka, dan fokus akan kesadaran mereka.
Liona membawa Sean ke ruang tamu. Ruang tamu itu cukup mewah. Sean dipersilahkan duduk di sofa terlebih dahulu, sedangkan Lioan pergi untuk memanggil keluarganya.
Sean duduk sendirian. Ia hanya melirik-lirik sekitar. Lalu ada seorang maid perempuan membawa nampan berisi makanan ringan, dan menuangkan teh di cangkir mewah untuknya.
"Silahkan dinikmati Tuan." ucap maid itu. Sean mengangguk kepalanya, lalu maid itu pergi meninggalkannya sendiri.
Sean tak menyentuh makanannya maupun minumannya. Saat ini, isi pikirannya adalah kebingungan. Karena sekelilingnya serba mewah. "Apa semua orang-orang Bangsawan maupun Kerajaan, semuanya serba mewah ?"
Sean masih terdiam tak makanannya dan minumannya. Ia menatap ke arah jendela ruangan itu, ia melihat langit yang sudah malam. Beberapa saat kemudian ia mendengar suara beberapa langkah kaki mendekat.
Sean membantin. "Siapa dia ?"
Pria itu menghentikan langkah kakinya. Hanya Liona yang menghampiri Sean. Ia menggenggam tangan Sean dan menariknya. Sean hanya menurut saja.
Liona membawa seorang pria bertelinga lancip itu. "Ayah, kenalkan dia Sean Alexander, dia adalah Putra kandungku yang selama ini kurindukan."
Dia adalah Ayahnya Liona bernama Lison Aratohrn, ia adalah pemimpin Keluarga Bangsawan Aratohrn setelah kematian kakek palsunya Liona memimpin.
Lison melangkah mendekati Sean yang berdiri di samping Putrinya. Kini Lison dan Sean saling berhadapan. Tak terduga Lison memeluk Sean. "Akhirnya, kau datang juga cucuku..!!"
Sean terbelalak diperlakukan oleh Pria yang merupakan pemimpin Keluarga Aratohrn. Ia menatap Liona, Liona hanya tersenyum. "Pria ini kakekku ? Yang benar saja, dia tidak terlihat tua sama sekali."
Lison pun melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Sean. Ia menatap Sean dengan tatapan bahagia. "Kau tau ? Semenjak aku menjadi pemimpin Keluarga ini, selama ini aku berjuang mati-matian melakukan percobaan membuat Ring untuk melintasi Dunia lain. Kamu tau untuk apa ? Aku ingin menjemputmu dan ayahmu !!"
__ADS_1
"Karena kamu sudah disini, maka usahaku sia-sia. Tetapi tidak apa-apa, aku senang karena kamu bisa terkirim ke sin, entah bagaimana caranya. Jadi, aku menghentikan percobaanku yang membuatku gila." tambahnya.
"Siapa namamu, cucuku ?" tanya Lison dengan wajah bahagia.
"Sean Alexander, panggil saja Sean." jawab Sean. tersenyum kaku.
"Wah, nama yang bagus..!!" sahut Lison.
Liona segera berdehem. "Ehem, Ayah..., sebentar lagi waktu makan malam akan tiba. Apa lebih baik biarkan Sean untuk membersihkan dirinya dan ikut makan malam bersama kita."
Lison pun tersadar, ia menarik kedua tangannya dan menatap Liona. "Ahhh.., kau benar Putriku." lalu ia kembali beralih ke arah Sean. "Kamu bersiaplah, disini banyak kamar kosong, salah satu maid disini akan mengantarmu."
Setelah mengatakan itu, Lison pamit untuk kembali ke ruang kerjanya. Setelah melihat Lison menjauh, salah satu maid mendekat, ia bermaksud untuk mengantarkan Sean ke salah kamar kosong di kediaman itu.
"Tuan Muda, kamar untuk anda telah kami siapkan." ucap si maid.
Sean menurutinya, lalu ia mengikuti maid itu setelah berpamitan kepada Liona. Setelah sampai di kamarnya, maid itu pergi meninggalkan Sean. Sean pun segera mandi membersihkan dirinya.
Setelah mandi, ia membuka lemari yang ada di ruangan itu. Ia melihat pakaian formal, layaknya seorang Bangsawan. Ia pun teringat, ia juga pernah membeli pakaian formal serba hitam di toko pakaian di kota Kerajaan Erlang.
.....
Semua kini tengah berkumpul di ruang makan. Ruangan tiu cukup luas. Terlihat 12 orang yang tengah menikmati makan malam mereka. Tak ada pembicaraan saat makan, karena itulah sikap seorang Bangsawan dan juga Kerajaan.
Beberapa lama kemudian mereka selesai. Lison mengajak semua untuk berkumpul di ruang keluarga utama. 9 orang yang dari tadi diam, sebenarnya mereka memiliki banyak pertanyaan tentang pemuda asing yang dibawa Liona.
Ke-9 orang itu terdiri 5 perempuan dan 4 laki-laki. Dari ke-9 orang itu, bertelinga lancip semua. Sean tak tau mana yang paling tua dan mana yang paling muda. Wajah mereka muda semuanya.
Batin Sean mengumpat. "Yang Benar Saja ?"
Setelah semua telah duduk di sofa mereka masing-masing, Lison mempersilahkan Sean untuk berdiri disampingnya. Lalu Lison merangkul pundak Sean. "Kenalkanlah, dia adalah cucuku dari Liona dan suaminya yang berasal dari dunia lain."
__ADS_1