
"Kamu tenang saja, setiap masalah pasti ada solusinya. Seperti siluman ini, memiliki kemampuan regenerasi, pasti memiliki kelemahan." jawab Sean.
"Apa kamu cara mengalahkannya ?" tanya orang bertopeng.
"Ini hanya kemungkinan, karena aku pernah melawan seseorang yang memiliki kemampuan regenerasi. Jadi ada kemungkinan kelemahan mereka sama." jawab Sean mengasal, ia tak mungkin memberitahu kalau dirinya memiliki kemampuan regenerasi pada orang yang belum dikenalnya.
"Kamu pernah melawan seorang yang memiliki kemampuan seperti itu ?" kata orang bertopeng terkejut.
Sean menjawab. "Ceritanya nanti saja. Sekarang, ikuti kata-kataku, kita terus menyerangnya sihir kita tanpa henti, kuras habis darahnya !!"
Terlihat siluman itu berjalan mendekat. Ia menatap Sean. "Siapa kamu ? Dengan seenak saja datang dan langsung menyerangku !!"
Siluman itu menambahkan. "Tapi tidak masalah, entah apa yang kalian rencanakan. Tapi tetap saja, kalian berdua takkan bisa mengalahkanku."
Siluman itu berlari, dan mengangkat gadanya. Sean dan orang bertopeng melompat terpisah untuk menghindari serangan siluman.
Sean sudah menghindar, posisinya telah siap untuk menyerang. Ia mengarahkan tinjunya ke arah siluman. Seketika, keluarlah semburan Api dari tangannya.
Woosssss....!!
Siluman itu menahan serangan Sean. Serangan yang ia dapat, melukai bulu-bulunya. Sean tetap terus melancarkan serangan Api Birunya tanpa henti.
Orang bertopeng juga melancarkan Sihir Petirnya.
Serangannya terus menyambar tanpa henti. Serangan mereka berdua mampu membuat siluman itu berlutut.
Siluman itu berlutut sambil melindungi wajahnya dengan kedua lengannya. Tiba-tiba ia berdiri, dan membuat hembusan angin yang kuat dan mampu membuat Sean dan orang bertopeng menghentikan Serangan Sihir mereka berdua.
Sean dan orang bertopeng terdorong beberapa langkah. Orang bertopeng segera bersiaga dengan pedangnya, ia menyalurkam Sihirnya ke pedangnya. Pedangnya menyala kebiru-biruan serta ada percikan listrik.
Hap..!!
Orang bertopeng bergerak cepat ke arah siluman yang sedang bangun berdiri.
Tang...!!
Serangan orang bertopeng di tahan. Orang bertopeng terkejut, karena luka siluman telah sembuh pulih.
Sreeett..!! Sreeett..!!
Craattt..!! Craattt..!!
Dari belakang, Sean menyerang siluman dengan kedua belatinya yang ia keluarkan dari cincin penyimpanannya.
Sreeett..!! Sreeett..!!
Craattt..!! Craattt..!!
__ADS_1
Sreeett..!! Sreeett..!!
Craattt..!! Craattt..!!
Sreeett..!! Sreeett..!!
Craattt..!! Craattt..!!
"Aggrrhhh..!!" siluman berteriak.
Sean terus menyerang punggung siluman berkali-kali tanpa henti. Siluman itu berputar, dan bersamaan melayangkan gadanya. Sean melompat mundur.
Sreeett..!! Sreeett..!!
Craattt..!! Craattt..!!
"Aggrrhhh..!!" siluman berteriak lagi.
Kini orang bertopeng yang menyerang punggung siluman dengan pedangnya. Ia terus menyerang tanpa henti seperti yang dilakukan oleh Sean sebelumnya.
Dan benar saja, banyak sekali darah yang keluar dari luka yang diterimanya. Meski luka-luka pada siluman itu perlahan menutup, tetapi tidak secepat sebelumnya.
Siluman itu kini melindungi dirinya dengan berlutut dan kedua lengannya. Sean dan orang bertopeng itu menyerang terus-terusan dengan menyilang.
Sean maju melewati siluman sambil meninggalkan luka, lalu disusul oleh orang bertopeng. Setelah orang bertopeng itu meninggalkan luka, Sean kembali mendekat dan memberi luka.
Mereka berdua lakukan itu berkali-kali. Dan benar saja, siluman itu terlihat lemas, pasalnya kedua lututnya sudah terjatuh, dan nafasnya terengah-engah.
DUAR...!!
Tendangan Sean membuat siluman itu terpental jauh hingga mendekati danau yang ada di taman tengah kota.
Orang bertopeng mengarahkan pedangnya ke arah langit, ia menyalurkan Sihir Petirnya ke arah langit.
Jederrr....!!
Dari langit, petir muncul dan menyambar siluman. Siluman terkena dan gerakkan terjeda di udara karena terkena Serangan Petir.
Bersamaan juga, Sean melancarkan Sihir Bola Apinya ke arah Siluman itu.
(Format Gif)
Dan....
BOOOMMM...!!!
__ADS_1
Terjadilah sebuah ledakan besar di danau yang ada di taman tengah kota. Tentu saja, ledakan itu menjadi pusat perhatian semua orang-orang kota.
Namun sebelum terjadi ledakan, sebenarnya sudah menjadi pusat perhatian karena ada sambaran Petir yang tiba-tiba muncul dari langit.
Semua orang bertanya-tanya, pasalnya mereka tiba-tiba melihat sebuah Petir besar yang disusul ledakan Sihir Api Biru yang luar biasa.
Sean dan orang bertopeng segera melarikan diri agar tidak telibat oleh orang manapun atau pasukan khusus dan pihak lainnya. Setidaknya mereka berdua telah berhasil membunuh siluman itu hingga tak tersisa.
Sean dan orang bertopeng melompat-lompat tinggi dari atap gedung ke atap gedung lainnya. Sean meminta orang bertopeng ini mengikutinya.
.....
Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya mereka telah sampai di bukit yang biasanya Sean menginap. Mereka berdua langsung merobohkan tubuh mereka duduk di tanah.
Orang bertopeng itu terlihat bernafas terengah-engah. Wajar saja, karena dia sudah lebih awal melawan siluman tadi sebelum Sean datang membantu.
Dia sendiri tak menyangka bisa bertahan sejauh ini. Masih sempat-sempatnya merelakan sisa-sisa energi mananya untuk melarikan diri agar tak menjadi pusat perhatian.
Orang bertopeng itu melihat sekelilingnya. Ia melihat sebuah tenda yang terbuat dari tanah, dan ada juga peralatan masak.
"Kamu tinggal disini ?" tanyanya.
Sean mengangguk kepalanya. "Ya, karena tak ada tempat tinggal yang gratis."
"Ahh, sebelumnya Terimakasih telah membantuku." balas orang bertopeng.
Sean mengangguk kepalanya. Ia melihat ke arah orang bertopeng. "Tidak masalah, karena kamu juga terlihat kewalahan melawan musuh seperti tadi."
Orang bertopeng itu melihat-lihat Sean, seakan ia melihat penampilannya. "Apa kau yang selama ini yang membatu para murid keadilan dan para pasukan khusus ?"
"Ahh.., saat itu, aku hanya kebetulan lewat saja." jawab Sean.
"Tapi, dari berita yang kudengar, banyak membantu mereka." balas orang bertopeng.
"Aku membantu mereka, ketika mereka terlihat kewalahan, sekalian saja, aku mencari pengalaman disini." jawab Sean.
"Sebenarnya kamu berasal dari mana ?"
"Aku tak bisa memberitahu asal tempatku." jawab Sean. Lalu ia menyalakan Api, untuk membakar kayu yang sudah siap sejak awal. "Apa kamu mau teh ?" tanya Sean, yang akan memanaskan air. Sebenarnya, Sean hanya mengalihkan pembicaraan agar.
Orang bertopeng itu mengangguk kepalanya. "Boleh."
.....
Kini mereka berdua tengah duduk di dekat pohon besar. Dari tempat itu, mereka bisa melihat pemandangan kota dari puncak di sore hari, Suasana semakin lengkap, karena dua cangkir teh menemani mereka.
Sean dan orang bertopeng itu duduk bersebelahan, tetapi mereka masih berjaga jarak sepanjang 3 meter.
Sean membuka kain penutup sebagian bawah wajahnya. Lalu ia meminum tehnya. "Ahh nikmat sekali."
Sean menoleh kepalanya. Ia melihat orang bertopeng itu tak membuka topengnya. "Apa kamu bisa meminumnya tanpa melepaskan topengmu ?"
__ADS_1
Belum sempat dijawab, Sean bersuara lagi. "Tenanglah, aku takkan memberitahu siapapun tentangmu."