
Orang bertopeng itu membuka topengnya, dan kain jubahnya yang menutupi kepalanya. Orang ini memiliki rambut berwarna putih, dan kedua matanya berwarna merah.
_______________________________________
Visual.
Peter Rodriguez.
_______________________________________
"Albino ?" pikir Sean saat melihat sosok orang itu. Dan ia berfikir kalau orang ini, sepertinya jauh lebih muda darinya.
Setelah tak ada lagi yang menutupi wajah dan kepalanya, orang ini meminum tehnya.
Mereka berdua sama-sama saling diam. Diam menikmati teh hangat dan memandang langit yang sudah berwarna jingga.
"Sebenarnya kamu siapa ?" tanya orang itu setelah meminum tehnya.
Sean meletakan cangkirnya di sampingnya. Pandangannya setia memandang depan. "Aku Sean Alexander. Aku hanyalah orang yang kebetulan yang tinggal disini selama beberapa bulan."
"Apa tujuanmu ingin tinggal disini ?" tanyanya.
"Astaga, aku seperti diintrogasi." kata Sean lirih. Lalu ia menjawab. "Bisa dikatakan, aku sedang mencari pengalaman bertarung disini." Lalu Sean menoleh dan menatap orang itu. "Lalu, kamu siapa ?"
"Namaku Peter Rodriguez, kamu bisa memanggilku Peter." jawab orang ini yang ternyata bernama Peter.
Sean mengangguk-angguk. "Yah, dan kamu juga bisa memanggilku Sean." dalam batinnya berkata. "Nama depan orang ini sama dengan nama dari tokoh superhero Marvel."
"Dari semua serangan Sihirmu, aku melihat kalau kamu sangat hebat." kata Peter memuji.
Sean terkekeh. "Tak perlu berkata seperti itu. Sebenarnya masih ada yang lebih kuat dariku. Ibaratkan diatas langit, masih ada langit."
"Begitu ?" sahut Peter sambil memegang dagunya. Lalu menatap ke arah Sean. "Tapi tetap saja, kamu terlihat hebat, pasalnya tak hanya Sihir Api Birumu, tetapi pengetahuanmu saat di tengah-tengah pertarungan."
Sean tersenyum. "Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, aku tinggal disini selama beberapa bulan untuk mencari pengalaman."
Peter mengangguk-angguk kepalanya. "Bisakah kamu mengajariku mengendalikan Sihir Api Biru sepertimu ?"
Sean membalas. "Untuk apa kamu ingin bisa mengendalikan Sihir Api Biru sepertiku ? Padahal kamu bisa menggunakan Sihir Petir."
"Aku merasa harus lebih kuat. Saat ini, aku masih lemah. Aku harus benar-benar kuat agar aku bisa melindungi semua orang." jawab Peter serius sambil menatap tangannya yang mengepal kuat-kuat.
__ADS_1
Lalu Peter memandang Sean. "Saaf pertarungan tadi, aku melihat serangan Sihir Api Birumu sungguh memiliki efek yang luar biasa."
Sean sedikit berfikir. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum. "Kamu sekarang bisa menggunakan Sihir Apa ?"
"Aku hanya bisa menggunakan Sihir Angin, dan Sihir Petir." jawab Peter.
Sean mengangguk-angguk kepalanya. "Jika kamu ingin bisa menggunakan Sihir Api Biru, kamu harus bisa menguasai Sihir Api terlebih dahulu. Karena dasarnya Sihir Biru bisa dikuasai jika penggunanya bisa menggunakan Sihir Api dan Pengetahuan."
"Baiklah, aku bersedia. Jadi ajarkanlah padaku." balas Peter.
Sean bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Peter.
Kini Sean telah berdiri di hadapan Peter, dan menatapnya sambil tersenyum. "Sebagai gantinya, aku ingin kamu juga mengajariku Sihir Petir." katanya sambil mengulurkan tangannya.
Peter pun berdiri dari duduknya.
Kini ia dan Sean berdiri saling berhadapan. Peter menerima uluran tangan Sean. Mereka berdua saling berjabatan.
"Ya, aku setuju."
Setelah melakukan perjanjian, mereka beralih bercerita. Disini Peter menjelaskan tentang Kota kelahiran pada Sean. Sedangkan Sean sendiri, ia setia mendengarkannya. Disini Sean bisa menilai, kalau Peter adalah orang yang baik.
Rupanya Peter juga salah satu murid akademi keadilan. Semua orang tak ada yang tau kalau dirinya adalah Ksatria Misterius yang selalu diam-diam membasmi Siluman dan penjahat.
.....
Langit sudah mulai gelap.
Peter dan Sean menyudahi pembicaraannya. Peter mengajak Sean untuk tinggal di tempatnya, tetapi Sean menolak karena ia sudah sangat betah tinggal dibukit.
Sebelum berpisah, Sean dan Peter berbuat janji untuk ketemuan di sore hari di bukit. Peter juga mengatakan, ia akan melakukan kegiatannya sehari-harinya sebagai Ksatria Misterius setelah pulang dari akademi.
Peter pun segera pergi dari sana. Ia terbang menggunakan Sihir Anginnya, karena selagi langit sudah gelap, jadi ia takkan terlihat jika terbang.
Tinggallah Sean, disana. Ia bersenderan di pohon. "Ibu, sedang ngapain ya disana ?"
"Rosalyn juga, sedang ngapain ya ?"
"Andai saja, di aku punya ponsel. Lagian kalau ada ponsel, juga mana bisa menghubungi orang lain dari Dunia Lain."
Ia segera menyudahi pikiran berandai-andainya. Sean segera bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati tendanya. Sudah malam, ia segera tidur untuk istirahat.
.....
__ADS_1
Kini sudah terhitung 3 bulan Sean tinggal di Dunia D-25. Selama tinggal, Sean menghabiskan waktunya bertarung melawan siluman, tetapnya membantu para pasukan khusus saat kewalahan.
Jika tidak kewalahan, Sean memilih diam menonton, atau cari tempat lain.
Dan belakang ini, semenjak mengalahkan siluman berbulu merah, hampir setiap hari di sore hari, Sean mengajari Peter tentang Sihir Api Biru. Begitu sebaliknya, Peter juga mengajari Sean Sihir Petir.
Terkadang, Peter sibuk memerankan perannya sebagai Ksatria Misterius. Kadang juga, Peter merasa geli mendengar julukan penyamarannya.
Pernah sesekali, Sean membantu Peter. Itu pun juga saat Sean sedang jalan-jalan mencari siluman. Ketika melihat Peter bertarung, Sean pun mendekat untuk membantunya.
Kini tersebarlah berita tentang 2 orang Ksatria Misterius. Sean sendiri merasa geli mendengar nama julukan itu. Tak hanya dia, Peter pun juga semakin geli.
.....
Setelah beberapa lama berlatih, akhirnya Peter bisa menggunakan Sihir Api, dan juga bisa menggunakan Sihir Api Biru. Bahkan daya hancurnya mengimbangi milik Sean.
Sedangkan Sean ? Ia pun juga bisa menggunakan Sihir Petir. Tetapi sementara, Sean tak pernah menggunakannya saat bertarung melawan siluman Karena ia sendiri belum sepenuhnya bisa mengendalikannya.
Pernah ia sekali menggunakannya. Di luar dugaan, karena Sihir Petir milik Sean lebih kuat dari Petir milik semua orang di Dunia D-25. Daya hancurnya bisa dikatakan sangat luar biasa.
Tapi anehnya, Sean menggunakan Sihir Petirnya untuk menjalankan kendaraan Mobil, Tank dan Motor yang ia curi dari salah satu organisasi jahat.
Sean mengambil ketiga kendaraan itu, setelah sendirian ia membasmi organisasi tersebut. Bahkan ia juga mengambil salah satu kendaraan lagi yang terlihat sangat hebat dimatanya.
******
Sementara Disisi Lain, Di Dunia D-31, di wilayah terbuka, terlihat semua Petualang dan para Ksatria Kerajaan Erlang, Roux, dan Wagner tengah kewalahan melawan orang-orang dari salah satu Kerajaan yang datang dari benua lain.
Bahkan 3 Raja Kerajaan, juga ikut bertarung melawan seorang Raja muda serta kedua bawahannya yang merupakan Pahlawan dari dunia lain.
Terlihat juga, seorang wanita muda membantu seseorang wanita juga yang baru saja terjatuh setelah menerima serangan dari salah satu orang yang disebut-sebut sebagai Pahlwan dari dunia lain.
"Aku tidak apa-apa, Putri Rosalyn. Sebaiknya kamu pergi dari sini." ucap Liona yang dibantu berdiri oleh Rosalyn.
"Tidak !! Aku tidak akan meninggalkanmu, nyonya Liona. Aku akan ikut bertarung bersamamu." jawab Rosalyn dengan tegas.
Seorang pemuda berjalan ke arah mereka. Ia berkata. "Lebih baik kalian berdua menyerahlah. Tuan Putri Rosalyn, serahkanlah dirimu untuk Rajaku. Dan kau Ksatria Liona, serahkanlah dirimu untukku. Hahahahaha..."
Tak hanya Rosalyn, Liona menatap tajam ke arah salah satu Pahlawan ini. Bahkan disisi Richard, Sinta, Zayden dan semuanya juga bertarung bersama melawan Pahlawan ke-4 berserta pasukannya.
Pasukan Aliansi benar-benar merasa sangat tidak suka ke semua orang-orang Kerajaan dari benua lain ini.
Mereka semua dari ketiga Kerajaan beraliansi tak menganggap ketiga orang yang disebut-sebut sebagai Pahlwan dari dunia lain sebagai Pahlwan. Melainkan mereka semua menganggap adalah musuh yang harus dikalahkan.
__ADS_1
Dalam hati Liona dan Rosalyn, mereka bertanya-tanya dimana seseorang yang disayangi mereka berdua. Karena sudah lebih dari 3 bulan, orang ini tak diketahui keberadaannya.