
Sean dan Richard telah sampai di depan pintu gerbang Istana Kerajaan. Melihat saja, itu sudah membuat Sean kagum, selama ini ia melihat Istana Kerajaan hanya dari jarak jauh lewat jendela kamar inapnya.
Setelah diizinkan masuk, Richard dan Sean mulai memasuki halaman istana Kerajaan. Goro yang terikat, pun ikut ketarik saat Sean menarik ujung tali yang mengikatnya.
Goro terlihat pucat. Sejak awal berangkat dia sudah seperti itu. Rasanya ingin mati saja, tetapi ia masih sayang nyawanya. Ia hanya berharap semoga kerabatnya yang menjadi petinggi di Kerajaan membantunya untuk dilepas.
Richard mendekati salah satu pengawal penjaga pintu istana Kerajaan. Ia berbicara kepada salah satu pengawal yang berjaga. Lalu pengawal itu pergi, Richard kembali mendekati Sean dan Goro. Richard berbicara kepada Sean untuk bersama-sama menunggu.
Sean melirik sekeliling halaman istana. Di balik pagar yang melindungi istana terdapat banyak sekali pohon besar yang mengelilingi istana. Sean menatap dingin ke arah Goro.
"Aku harap kamu tidak mendadak mati." ucap Sean.
Richard yang mendengar, ia mengerut dahinya. Dan Goro menelan salivanya lalu ia bersuara. "Apa maksudmu ?"
Sean tak menjawab, ia terus menatap dingin ke arah Goro. Pria berambut aneh itu merasa ketakutan, wajahnya juga pucat. "Apa mungkin aku akan mati ?"
Sean bersuara. "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, sebelum kamu membongkar semuanya. Meskipun itu tidak mudah, tetapi aku memiliki cara."
.....
Sementara Disisi Lain, di sebuah taman yang terletak di belakang istana, terlihat ada seorang pria dewasa berumur 36 tahun. Dikepalanya memakai mahkota dan mengenakan jubah Kerajaannya. Ya, dia adalah Raja Kerajaan Erlang, yang bernama Frederick Von Erlang.
Kita sebut saja Raja Erlang. Kini ia sedang bersantai dengan Sang istri, tepatnya Ratu Kerajaan Erlang yang bernama Anne Maldin, dia juga seusia dengan suaminya, dia adalah Putri dari Bangsawan Maldin.
Tempat ini lah biasanya Sang Raja bersantai bersama istrinya bila tidak ada kegiatan. Raja Erlang dan istrinya duduk di sebuah gazebo yang di taman yang ada belakang istana. Mereka berbicara santai dan mesra. Dan tak lupa ditemani beberapa cemilan dan teh-nya.
Mereka tak berdua, ada satu seorang gadis cantik berambut panjang yang sudah menginjak remaja. Dia mengenakan gaun mewah. Gadis cantik itu berusia 16 tahun. Dia adalah Putri Raja, yang bernama Rosalyn Von Erlang.
__ADS_1
Saat sedang berbicara santai-santainya, tiba-tiba Raja Erlang mengingat sesuatu. "Putriku, apa kamu melihat kakakmu ?"
"Seperti biasa ayah, dia sedang menjalankan misi Petualangnya bersama party-nya." jawab Putri Rosalyn.
"Ahh, anak itu selalu saja menyibukan diri untuk menghindariku." kata Raja Erlang menghela nafasnya.
"Itu pun karena kamu, sayang. Kamu yang selalu mendesaknya untuk segera menikah dengan jodoh pilihanmu." ucap Ratu Anne.
"Yah, mau bagaimana lagi, sayang. Dia adalah penerus kita. Di usianya yang ke-18, dia seharusnya sudah menikah." kata Raja Erlang. "Padahal aku ingin sekali memiliki cucu." lanjutnya dalam hatinya.
"Sayang, sudahlah jangan memaksanya. Dia pasti sedang mencari jodohnya dengan caranya sendiri." ucap sang istri lemah lembut.
Raja Erlang lalu menatap Putri Bungsunya. Belum sempat akan berbicara, Putri Rosalyn sudah lebih dulu bersuara. "Ayah, jangan menanyakan tentang jodohku !! Meskipun aku sudah berusia 16 tahun, aku sedang tidak ingin dulu memikirkan tentang itu."
Raja Erlang kembali menghela nafasnya. Lalu sang istri menatap tajam ke arah suaminya. Raja Erlang terdiam tak berani berkata apapun lagi.
Yah, memang di Dunia ini, semua orang-orang yang di dalamnya, jika menikah di umur 18 tahun, itu hal yang wajar. Terlebih lagi di Keluarga Kerajaan atau Keluarga Bangsawan, biasanya mereka menikahkan Putra-Putrinya di usia 15 -16 tahun.
Tentang perjodohan sudah biasa terjadi di semua kalangan. Jika Putra-Putrinya belum menemukan jodoh mereka sendiri, maka orang tua yang akan mencari jodohnya. Bahkan ada juga sudah dijodohkan anaknya setelah lahir atau belum lahir.
Pengawal itu menjawab. "Saya ingin menyampaikan bahwa tuan petinggi Richard datang ingin menemui Yang Mulia. Dan dia tidak sendiri, ia datang bersama pemuda asing dan seseorang seperti tahanan."
Raja Erlang mengangguk kepalanya, ia paham orang siapa yang dibawa Richard. Namun ia juga penasaran orang satunya lagi yang dikatakan seperti tahanan.
Lalu Raja Erlang meminta pengawal itu untuk segera mempersilahkan Richard dan kedua orang lainnya untuk datang menghadap di taman. Memilih melakukan pertemuan di taman, karena ia tak ingin berlama-lama datang ke ruang tahtanya.
Karena dia juga sedang ingin bersantai-santai, ia juga ingin sejenak menenangkan pikirannya yang selalu memikirkan kerjaannya sebagai Raja.
Pengawal itu pergi setelah berpamitan dan menjalankan perintah Sang Raja. Raja Erlang meminta pengawal yang menjaga taman untuk membawa kursi kebesarannya untuk meletakannya di taman dekat gazebonya.
.....
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, Richard datang ke taman belakang istana. Di belakangnya ada Sean yang mengekorinya sambil menyeret Goro. Mereka bertiga dikawal beberapa pengawal untuk berjaga.
Terlihat Raja Erlang sudah duduk di kursi kebesarannya di depan gazebo dan sudah ada 2 Ksatria Tingkat Berlian yang berdiri di sisi kanan dan kirinya.
Ratu Anne dan Putri Rosalyn masih berada di dalam gazebo dan duduk di kursi mereka. Tempat itu sudah ada 10 pengawal untuk berjaga-jaga demi keamanan keluarga Kerajaan, karena Raja melakukan pertemuan di luar istana.
Richard pun datang. Ia sedikit menundukkan tubuhnya memberi hormat. "Salam Sang Raja, saya datang dengan membawa seorang Petualang yang ingin anda temui."
Raja Erlang mengangguk kepalanya, lalu pandangan beralih ke arah seorang pemuda di belakang Richard. Pemuda itu memakai jubah hitam yang juga menutupi kepalanya dan sebagian bawah wajahnya.
Richard berdiri dan menatap ke arah Sean. Tatapan Richard seakan memberi tanda. Sean yang paham, ia pun berjalan maju dan berdiri di samping Richard. Sean mendunduk tubuhnya.
Tak hanya pengawal, Ratu Anne dan Putri Rosalyn penasaran dengan laki-laki berpakaian serba hitam ini. Raja Erlang bersuara. "Bisakah kamu memperkenalkan dirimu ?"
"Saya Sean Alexander, seorang Petualang." jawab Sean, lalu ia mengembalikan posisinya.
"Apa kamu bisa membuka kain yang menutupi kepalamu dan penutup wajahmu ?" tanya Raja penasaran.
Sean mengangguk kepalanya. Semuanya penasaran dengan wajah Sean. Bahkan Richard juga penasaran, karena semenjak awal bertemu, ia belum pernah melihat wajah Sean sepenuhnya.
Sean membuka penutup kepalanya. Lalu ia melepas penutup yang menutupi hidung dan mulutnya. Setelah melepasnya, semua seketika membeku melihat ketampanan wajah Sean yang selalu ia tutupi.
Saat mereka terdiam melihat wajah Sean, tiba-tiba Sean bergerak mundur cepat ke arah Goro. Dengan tangan logam kirinya, Sean menangkap sebuah belati yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Goro saja langsung terduduk di tanah, wajahnya sudah sangat pucat. Ada sebuah belati datang yang ingin membunuhnya. Semua orang langsung tersadar melihat Sean yang tiba-tiba bergerak seperti itu.
Semua pengawal langsung bergerak cepat melingkari gazebo untuk melindungi Ratu Anne dan Putri Rosalyn. Beberapa pengawal dan Richard maju melindungi untuk Raja.
"Ada apa ?" tanya Raja tekejut, dan berdiri dari duduknya.
"Yang Mulia mohon tenang, kami akan menjaga Yang Mulia Raja, Ratu, dan Tuan Putri." ucap Richard, Raja Erlang mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Disisi Sean, ia melihat seseorang yang tengah bersembunyi di balik pohon besar dekat istana. Sean langsung mengeluarkan DESERT EAGLE miliknya, dan ia arahkan ke target.
Dor..!!