OVERSOLDIER

OVERSOLDIER
BAB 61


__ADS_3

Dalam diamnya, Gabrio terkejut, bahkan kedua matanya terbuka lebar. Tak hanya dia, semua yang disana juga kaget bukan main melihat Sean membentak Gabrio.


Tak hanya membentak, Sean tanpa sadar dan murni mengeluarkan aura membunuhnya, karena itu semua masih terdiam. Gabrio sendiri, ia berwajah pucat, ia berkeringat dingin, dan tubuhnya terlihat sedikit gemetaran ia merasa sesak untuk bernafas.


Lalu terdengar datanglah Liona yang sudah mengenakan gaun putih indahnya, layaknya wanita Bangsawan. Kedatangannya tak terlihat, ia langsung muncul di samping Sean dan menyentuh pundaknya.


"Sean.., cukup..!!" ucap Liona memerintahkan Sean agar tidak bertindak berlebihan.


Sean tersadar, seketika aura membunuhnya menghilang. Ia segera menoleh ke dan menatap Liona yang sudah menatapnya dengan tajam. Sean segera sedikit menunduk kepalanya. "Maafkan aku, ibu."


Liona tidak menjawab, ia menoleh ke arah salah satu keponakannya yang bernama Gabrio ini. Gabrio langsung bersuara. "Bibi, sebaiknya bibi berhati-hati dengan orang ini. Firasatku mengatakan, kalau dia adalah penipu. Bukankah tadi bibi juga merasakan aura membunuhnya ? Mungkin ia..."


"Keponakanku, aku tidak suka penilaianmu terhadap Putraku." kata Liona memotong kata-kata Gabrio.


Liona menambahkan. "Kau memang keponakanku, tetapi sifatmu sangat-sangat buruk. Dan itu semakin membuatku tidak suka. Jika kamu tak menerima keberadaan Putraku, lebih baik kamu diam."


Gabrio menunduk kepalanya, ia tak berani menatap bibinya. Dalam posisi ini, ia tak berani membalas perkataan bibinya yang satu ini, jika saat marah. Karena mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, hingga ia tak berani berhadapan langsung dengan Liona yang dalam kondisi marah.


Sesekali Gabrio melirik ke arah Sean yang memasang wajah acuhnya. Liona kembali bersuara. "Kamu hanyalah keponakanku, kamu memang sangat hormat padaku. Tetapi saat ini, kamu tidak menyukai Putraku, maka dari itu jangan pernah berbicara atau menyapa pada bibimu ini."


Gabrio masih menunduk kepalanya. Ticia, Claudia, Elisa, Iola, dan Natalia berdiam. Meski Claudia adalah ibu kandung Gabrio, ia tak akan membela anaknya jika memang bersalah.


Pada dasarnya Gabrio memang memiliki sifat yang buruk, dia terlalu meremehkan seseorang yang baginya tak layak. Claudia dan Suaminya juga sudah sering menasehatinya agar Gabrio menghilangkan sifat jeleknya.


Tapi tetap saja. Kalau ada seseorang yang baru ia lihat, dengan blak-blakan Gabrio melontarkan kata-katanya yang tak nyaman didengar.


Padangan Liona beralih ke arah Sean. "Sean, ayo kita berangkat."


Sean mengangguk kepalanya.

__ADS_1


Mereka berdua segera pergi meninggal tempat itu setelah berpamitan kepada Ticia, Claudia, dan yang lainnya.


.....


Sean dan Liona kini tengah dalam perjalanan menuju ke istana Kerajaan Roux. Mereka berdua mengenakan kereta kuda, seorang kusir mengendarai kereta kuda mereka.


"Apa tidak masalah ibu berkata seperti itu terjatuh keponakankumu ?" tanya Sean yang duduk berhadapan dengan Liona.


Liona menatap Sean. Ia terkekeh mendengar ucapan Putranya. "Kanapa kamu bertanya seperti itu ?"


"Bukankah biasanya seorang laki-laki maupun perempuan yang sudah dewasa, bersikap hati-hati dan berbicara terhadap keponakannya yang berbuat masalah." jawab Sean.


Liona mengerut dahinya sambil tersenyum. "Jangan samakan semua hal yang ada di dunia ini dengan dunia asalmu."


Sean menatap sang ibu dengan wajahnya yang kebingungan. Liona berkata lagi. "Di dunia ini, seorang anak, bahkan dari kalangan Bangsawan juga, jika melakukan kesalahan sudah sewajarnya orang dewasa memberi nasehat tegas. Entah mau anak sendiri, entah itu keponakan, atau anak orang lain."


"Bahkan jika Putra kandungku sendiri, melakukan kesalahan, tentu saja, aku akan melakukan hal yang sama." tambahnya.


"Bahkan beberapa tahun yang lalu, Gabrio pernah pernah membuat ibu marah. Ibu pernah menghajarnya hingga membuatnya koma." kata Liona.


Sean terkejut. "Kesalahan apa yang dia perbuat, sampai-sampai ibu harus menghajarnya hingga seperti itu ? Padahal dia keponakan ibu sendiri."


Liona terkekeh melihat reaksi Putranya, lalu ia menjawab. "Saat itu, Gabrio mencoba mendekatkan beberapa teman laki-laki seusianya pada ibu. Tentu saja, ibu langsung menghajar mereka tanpa ampun."


Sean mengedip-edip kedua matanya. Ia tak menyangka kalau ibunya ini cukup hebat. Liona kembali bersuara. "Kalau saja kakekmu tidak datang dan tak menghalangi ibu, mungkin Gabrio dan teman-temannya sudah mati ditangan ibu." tambahnya sambil tersenyum.


Sean membeku mendengarnya. Dirinya semakin tak menyangka kalau ibunya bisa bertindak berlebihan. Batin Sean mengatakan. "Kenapa aku mempunya ibu seperti macam ini ? Ayah...., apa kau tak tau, wanita yang kamu nikahi ini sungguh menyeramkan."


Tiba-tiba ia teringat pembicaraannya dengan Ticia saat di berkebun tentang mengenai Putrany. Ia bertanya kepada Sean. "Sean, ada yang ingin ibu tanyakan padamu."

__ADS_1


"Apa itu, bu ?" sahut Sean.


"Apa benar kamu bertunangan dengan Putri Rosalyn ?" tanya Liona.


"Kenapa ibu bisa tau ?" jawab Sean bertanya.


"Tentu saja ibu tau. Berita tentang pertunangan Rosalyn sudah menyebar. Awalnya ibu juga tak tau. Tetapi kemarin, sebelum pertandingan dimulai, ibu tak sengaja mendengar pembicaraan ketiga Raja, yang awalnya Putrinya menyukai seorang pemuda. Jadi karena itu, Yang Mulia Raja Erlang menjodohkan Putrinya kepada pemuda tersebut. Dan pemuda itu bernama Sean. Apa itu kamu ? Karena yang benama Sean hanya kamu saja."


Sean tersenyum kaku. "Hehe, iya."


"Apa kamu menerimanya ?" tanya Liona.


Sean tegang, lalu ia mengangguk kepalanya. Liona bertanya lagi. "Apa kamu terpaksa menerimanya ? Kalau terpaksa, ibu bisa membantumu untuk membatalkan pertunanganmu deng..."


Sean memotong kata-kata ibunya. "Tidak perlu, Bu !! Awalnya aku memang terpaksa, karena aku tidak mau terkena masalah, dan menambah beban pikiranku, karena aku tak tau apa-apa tentang dunia ini, ditambah aku belum menemukan keberadaan ibu. Tetapi aku mencoba untuk menerimanya. Semakin mengenal Putri Rosalyn, dan entah kapan aku mulai memiliki rasa terhadap Rosalyn."


Liona tersenyum. Lalu ia membalas. "Syukurlah kalau kamu menerimanya, dan sudah memiliki perasaan kepada Putri Rosalyn. Ibu mendukungmu. Apa kamu sudah menyatakan perasaanmu ?"


Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. Liona berpindah duduk di samping Putranya, lalu ia bersuara. "Segeralah nyatakan perasaanmu. Pasti Putri Rosalyn sangat senang. Ibu cuma berpesan, jagalah perasaannya, dan jangan pernah melepaskannya. Ibu tak ingin kamu bernasib dengan ibu dan ayahmu."


Sean memeluk ibunya. "Baik Bu."


Liona membalas pelukan Putranya. "Ibu berdoa untukmu dan Putri Rosalyn, semoga kalian berdua berbahagia hingga maut memisahkan."


Liona juga mengalami hal yang sama saat pertama kali bertemu dengan Alex. Mereka saling bersama, sehingga benih-benih cinta pun tumbuh. Kerena terbiasa, maka cinta datang begitu saja.


.....


__ADS_1


Beberapa lama kemudian kereta kuda mereka telah sampai, dan melewati pintu gerbang istana Kerajaan Roux. Setelah sampai di depan istana, mereka berdua segera turun dan memasuki istana.


__ADS_2